Bagaimana Cara Menulis Makalah Penelitian?

Bagikan Artikel ini di:

Ditulis oleh Septian Ulan Dini

“Bagaimana cara menulis makalah penelitian?” Pertanyaan ini mulai saya pikirkan secara luas dan mendalam ketika sudah mengenal dunia kampus. Walaupun sejak SMA sudah pernah mengenal nya dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah. Ketika di kampus, tentu kita sering berhadapan dengan tugas yang satu ini. Tugas menulis yang pada akhirnya menjadi bekal awal kita dalam menyelesaikan tugas akhir untuk sumbangsih kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Namun, pada akhirnya makalah penelitian tidak akan berarti apa-apa jika tidak dipublikasikan atau disebarluaskan. Salah satu wadah untuk mempublikasikan makalah penelitian adalah jurnal.

Selasa, 10 September 2019,  saya menghadiri kegiatan workshop yang dilaksanakan oleh Dr. Yogi Wibisono Budhi dalam program “World Class Professor” di Institut Teknologi Bandung. Pembicara yang dihadirkan dalam program ini adalah Dr. Manabu Miyamoto, beliau merupakan Associate Professor di Departemen Ilmu Kimia dan Biomolekuler, Gifu University. Salah satu topik yang dibawakan adalah tata cara menulis makalah penelitian untuk dapat dipublikasikan. Dr. Manabu Miyamoto, yang namanya memiliki arti sesuai dengan profesinya sebagai profesor ini merupakan reviewer untuk >20 jurnal international bereputasi.

Beliau membuka sesi dengan memperkenalkan diri dan rekam jejaknya dalam dunia pendidikan tinggi, lalu dilanjutkan dengan membahas garis besar prosedur untuk mempublikasikan makalah penelitian yang dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Prosedur untuk mempublikasikan artikel ilmiah

Tampaknya mudah dan singkat ya. Tapi faktanya tidak sesederhana itu. Berdasarkan cerita pengalaman Dr. Manabu Miyamoto sebagai reviewer yang telah memiliki banyak pengalaman untuk mengoreksi menolak makalah penelitian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan supaya naskah diterima oleh reviewer.

Makalah untuk Tujuan Publikasi sebagai Hasil Penelitian dan Paten

Hasil penelitian dan paten merupakan dua hal yang berbeda, walaupun luaran keduanya adalah publikasi. Perbedaan keduanya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.

Tabel.1 Perbedaan Hasil Penelitian dan Paten

Tabel 1. Perbedaan Artikel ilmiah untuk publikasi Hasil Penelitian dan Paten

Strategi Awal untuk Mempublikasikan Makalah Penelitian

Dr. Manabu Miyamoto mengajukan pertanyaan sebelum menyampaikan lebih jauh tentang strategi untuk mempublikasikan makalah penelitian. Pertanyaannya adalah “What is the most important thing for publishing your research work in scientifics journal?” /“Hal apa yang paling penting untuk mempublikasikan hasil penelitian Anda di jurnal ilmiah?”

Seketika yang saya pikirkan adalah “Manuscript/ naskah”, karena menurut saya kita tidak bisa mengirim makalah penelitian kalau tidak punya naskahnya :D. Ternyata, bukan itu jawabannya. Hal yang paling penting adalah novelty/kebaruan.

“The most important thing for publishing your research work in a scientific journal;

 1st is Novelty

2nd is Novelty

3rd is Novelty”

Setelah mendapatkan ide dengan unsur kebaruan, yang dilakukan adalah mencari makalah penelitian (dan paten) di bidang terkait. Cara ini dilakukan untuk memastikan bahwa ide Anda benar-benar baru. Memastikan tidak ada laporan ilmiah dengan ide serupa dan juga melihat isu yang saat ini sedang berkembang terkait bidang Anda.

Kedua, Menentukan langkah awal dan tujuan akhir dari penelitian yang akan Anda lakukan. Caranya dengan membuat kerangka kerja penelitian. Pada tahap ini yang harus dipahami adalah dimana posisi Anda saat ini, masalah yang dialami subjek penelitian Anda dan solusi terbaru terhadap masalah tersebut.

Ketiga, selesaikan eksperimen yang akan Anda lakukan untuk mencapai tujuan akhir penelitian.

Struktur Makalah Penelitian

Setelah menyelesaikan eksperimen dan pengolahan data sampai penarikan kesimpulan, maka menulis makalah ilmiah sudah dapat dimulai untuk diselesaikan.

Gambar 2. Struktur Penulisan Makalah Penelitian

Introduction/ pendahuluan. Bagian ini harus jelas, sederhana namun mencakup berbagai aspek terkait penelitian. Isi dari bagian ini meliputi latar belakang penelitian secara umum, latar belakang penelitian secara ilmiah, isu/ permasalahan yang sedang diselesaikan serta tujuan penelitian yang akan dilakukan.

Experiment Section/ Eksperimen. Bagian ini harus jelas, sederhana namun mudah untuk dapat diulangi oleh orang lain. Isi dari bagian ini meliputi hal-hal mendetail terkait alat dan bahan, syarat-sayarat dalam eksperimen, dasar teori dan persamaan matematis. Hal yang tidak kalah penting dari bagian ini dalah gambar.

“A picture is worth a thousand words”

Result and Discussion/ Hasil dan Pembahasan. Bagian ini harus masuk akal, konsisten dan mudah dipahami. Isi dari bagian ini harus mengklarifikasi temuan apa yang akan diklaim dengan menampilkan bukti hasil penelitian. Hal yang tidak kalah penting dari bagian ini adalah harus dapat membangun logika untuk mengarahkan pembaca pada suatu kesimpulan.

Your logic may be like a leaky bucket! once plug a leak, another leak may happent”

Hal penting yang harus diperhatikan dalam membangun logika pada bagian ini adalah:

a. Menyediakan data secara jelas.

b. Menyajikan argumen yang benar, karena jika argumen dalam logika Anda salah, argumen tersebut dapat menyebabkan asumsi yang salah.

c. Menghindari ambiguitas, karena ambiguitas dapat menyebabkan argumen yang salah.

d. Lakukan upaya untuk menghindari ambiguitas, dengan cara menggabungkan beberapa hasil dari berbagai sudut pandang dan rujuk hasil penelitian sebelumnya untuk mendukung hasil penelitian Anda.

Conclutions/ kesimpulan. Bagian ini harus jelas, sederhana dan menampilkan temuan Anda.

“Tips: Review your logic objectively, critism against, and be independent”

Berdasarkan penjelasan mengenai struktur makalah ilmiah di atas, maka kesimpulan yang dapat kita ambil diantaranya:

a. Buat semua bagian jelas dan sederhana.

b. Persiapkan gambar sederhana yang menarik dan mudah dipahami.

c. Gunakan pengutipan/ rujukan dalam pembahasan.

d. Hindari pengulangan dalam menyajikan tiap bagian.

e. Baca kembali makalah ilmiah Anda secara seksama sebelum dikirimkan.

Selamat membaca dan mencoba menulis makalah penelitian. Semoga artikel ini bermanfaat.

Referensi:

Semua isi dalam artikel ini merupakan terjemahan bebas penulis dari kuliah umum yang disampaikan oleh Dr. Manabu Miyamoto.

Bagikan Artikel ini di:

Perangkat Modern: Solusi Polusi di Masa Depan?

Bagikan Artikel ini di:

Pencemaran lingkungan adalah masalah yang telah lama berkembang di masyarakat. Namun sayang, berita ini kurang diwaspadai dan tidak bergema dalam headline surat kabar.  Masalah ini sangat serius, sehingga kini telah banyak dikembangkan sumber daya atau perangkat untuk memantau tingkat polusi di kota-kota. Bahkan, raksasa teknologi setingkat Google dan Apple melalui layanan peta menunjukkan hal yang sama di beberapa kota di dunia.

Dalam upaya memerangi polusi inilah, para ilmuwan berlomba-lomba untuk menghasilkan penemuan yang bisa menjadi obat polusi di dunia.

Benarkah Alat-Alat Ini Menjadi Solusi?

Salah satu penelitian bersumber dari ilmuwan di University of Antwerp dan University of Leuven, Belgia. Profesor Sammy Verbruggen bersama tim telah mengembangkan suatu perangkat yang memiliki peran ganda, yaitu menyerap polusi dan menghasilkan energi. Di dalam salah satu divisi sel perangkat ini, udara disaring dan dimurnikan menggunakan fotoanoda. Proses ini menghasilkan hidrogen yang kemudian akan disimpan oleh katoda pada bagian divisi yang lain. Hidrogen yang tersimpan inilah yang nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar.[1]

Sumber gambar: MakruvaTech/Repro

”Gas hidrogen ini dapat disimpan dan kemudian diubah sebagai bahan bakar, seperti yang sudah dilakukan di beberapa bus hidrogen[a],” kata Verbruggen mencontohkan.

 

[a] Bus hidrogen dalam ajang Asian Games 2018 di Indonesia

Meski perangkat ini masih sebatas prototype, tapi ia diyakini akan menjadi terobosan yang luar biasa di masa depan untuk memenuhi dua kebutuhan pokok manusia saat ini: udara bersih dan energi.

Electrees Karya Anak Bangsa

Lain halnya dengan penemuan di Indonesia. Sekelompok mahasiswa Universitas Brawijaya berhasil membuat Electrees[b], yakni alat penyerap polusi sekaligus menjadi alat penerang jalan raya.

[b]

Electrees (Electronic Trees) dibangun oleh tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) yang terdiri dari Muhammad Fatahilah (Teknik Elektro), Hasan (Teknik Elektro), Rosihan Arby (Teknik Elektro), Lutfiyatul Maftukhah (Teknik Industri), dan Hafiz Tandiyanto Putra (Teknik Kimia), serta didanai langsung oleh Kemenristek Dikti.

Prinsip kerja perangkat ini terdiri dari dua sistem, yakni sistem fotosintesis dan sistem respirasi. Sistem fotosintesis terdiri dari panel surya yang berfungsi mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik, yang akan menjadi energi dari alat tersebut. Sedangkan sistem respirasi berfungsi untuk menyerap polusi berupa CO2 maupun CO.[2]

Electrees dilengkapi dengan lampu sebagai penerangan malam, dan perangkat ini memakan daya sekitar 30 Watt.

Sistem respirasi dilengkapi oleh  silika aerogel berbentuk butiran(granul), yang berfungsi menyerap polusi CO2 serta zat lainnya, dan membiarkan udara bebas keluar melewatinya.

Menurut Hafiz yang bertanggung jawab dalam pengembangan sistem respirasi perangkat ini, silika aerogel memiliki keunggulan dibanding zat lain yang memiliki fungsi serupa seperti karbon aktif atau zeolit, karena silika aerogel mempunyai kapasitas penyerapan sebesar 1,2 gr CO2 per gadsorbent, sehingga daya serapnya lebih besar.[2]

Electrees karya anak bangsa

Kelebihan lain dari alat ini adalah kemudahan ketika digunakan. Ketika silika aerogel telah menyerap CO2 sampai titik jenuh, maka pengguna hanya perlu memanaskan kembali dan akan siap digunakan lagi.

Meski perangkat-perangkat tersebut masih jauh digunakan melawan polusi, inovasi semacam ini adalah kunci dari kemajuan. Faktanya, perubahan iklim tidak melambat, dan dibutuhkan tindakan untuk memberantasnya. Bisa jadi, inovasi seperti perangkat prototype temuan profesor di Belgia serta Electrees karya anak bangsa ini adalah bagian dari jawabannya.

 

Referensi:

[1]http://www.koran-jakarta.com/energi-dari-udara-yang-tercemar/

[2]https://malang.merdeka.com/kabar-malang/mahasiswa-ub-temukan-alat-penyerap-polusi-sekaligus-penerangan-jalan-1606082.html

Bagikan Artikel ini di:

Hobi Menyimpan Struk Belanja Ternyata Berbahaya Bagi Kesehatan

Bagikan Artikel ini di:

Seringkali kita menjumpai masyarakat atau bahkan kita sendiri yang senang menyimpan struk belanja di dompet dalam jangka waktu yang lama hingga menumpuk bahkan tulisan dikertasnya pun memudar. Sebaiknya hal ini sudah seharusnya dihentikan, karena ternyata menyimpan struk belanja terlalu lama bisa membahayakan kesehatan tubuh, salah satunya adalah bisa menyebabkan kanker. Hmm, bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Struk belanja

Penelitian yang terbit di tahun 2014 pada jurnal PloS one menemukan bahwa struk pembayaran mengandung kadar bisphenol A (BPA) yang tinggi. Dalam penelitian yang menjadi objek penelitian adalah kertas struk pembayaran di Amerika, namun diduga di negara lain pun tidak jauh berbeda [3].

Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa struk belanja bahkan bisa memicu datangnya autism, obesitas, hingga gangguan reproduksi. Hal ini disebabkan oleh adanya bahan kimia berbahaya berupa BPA dan BPS yang bisa memberikan dampak buruk bagi hormon, sistem metabolism tubuh, dan berbagai sistem lainnya. Metode penelitiannya adalah 207 sampel struk belanja yang berasal dari berbagai tempat layaknya restoran, supermarket, dan minimarket dikumpulkan di uji laboratorium. Ternyata struk tersebut  memiliki kandungan berbahaya BPA (bisphenol A) dan BPS (bisphenol S), kandungan yang biasanya lebih sering ditemukan di benda dengan bahan plastik. Kedua bahan kimia ini bisa langsung memberikan efek buruk bagi kesehatan begitu kita menyentuhnya, baik BPA ataupun BPS bisa memicu beberapa datangnya penyakit layaknya asma, kanker, hingga diabetes [4].

“Konsumen terpapar BPA saat penjual menyerahkan kuitansi.” Kata Ilmuwan senior Dr. Anila Jacob seperti dikutip dari AOL News. Struk ini menumpuk di dompet, atau tas belanja dan bercampur dengan makanan. Ketika di tangan, slip kertas termal itu dengan mudah dapat mencemari jari-jari, kemudian ke mulut atau kulit [1].

Zat kimia yang menyerupai hormon estrogen pada perempuan ini diketahui dapat menimbulkan risiko terhadap kesehatan, terutama untuk anak-anak muda. Jika seseorang memegang kertas struk pembayaran selama 10 detik, maka akan memindahkan 2,5 mikrogram BPA dari kertas ke jari. Sedangkan jika menggosoknya akan meningkatkan jumlah BPA yang berpindah ke jari sekitar 15 kali lipat [1].

Peneliti mengungkapkan sejak BPA ditemukan pada lapisan tepung dalam kertas termal, ilmuwan telah menemukan pula kandungan BPA di dalam objek-objek lainnya. BPA masih banyak digunakan dalam botol air plastik, kaleng minuman ringan, kasus telepon seluler dan juga computer [3].

Sementara peneliti dari Washington Toxics Coalition and Safer Chemicals menemukan bahan kimia pada 21-22 kertas tagihan yang diuji, meskipun kandungannya dalam tingkat yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan struk pembayaran. Lebih dari 130 penelitian selama decade terakhir menunjukkan tingkat BPA yang tinggi berhubungan terhadap masalah kesehatan serius, termasuk kanker payudara, obesitas dan pubertas dini [1].

Pada November 2010, Uni Eropa telah memberikan larangan penggunaan BPA dalam botol susu bayi. Karena hasil studi dari hewan uji menunjukkan zat tersebut mempengaruhi perkembangan saraf dan perilaku tikus laboratorium jika terpapar BPA saat masih di kandungan atau di awal kehidupannya. Sedangkan negara pertama yang melarang pemakaian BPA adalah Kanada [1].

Namun, hal ini berbeda dengan Indonesia, karena menurut Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Imran Agus Nurali mengatakan “Memang ada informasi kertas print dari ATM itu mengandung bisphenol A (BPA) yang mungkin berdampak buruk pada kesehatan.” Namun ia menambahkan perlu adanya informasi dari hasil kajian tentang bagaimana struk ATM berdampak pada kesehatan manusia.

“Uji klinis yang tidak mudah saya rasa, ini peranan lembaga penelitian atau akademisi untuk memfasilitasi. Mudah-mudahan dampaknya nanti ke kebijakan pemerintah terkait penggunaan plastik.” Katanya [2].

Untuk mengantisipasi, organisasi di bidang lingkungan dan kesehatan Safer Chemical, Healthy Families pun menyerukan masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memegang atau menyimpan struk belanja karena adanya hal ini. Para pakar bahkan menyebutkan bahwa ada baiknya sebelum kita berbelanja atau melakukan hal-hal lain yang berpotensi membuat kita akan menerima struk belanja, sebaiknya tidak menggunakan hand and body lotion  karena akan membuat kulit kita lebih cepat menyerap bahan kimia berbahaya dari struk tersebut. Selain itu, segeralah mencuci tangan setelah memegang struk tersebut untuk mengeceknya [4].

Daftar Pustaka

[1] Awas Bahaya Struk Belanja yang Wajib Kamu Waspadai. [https://www.bernas.id/55905-awas-bahaya-struk-belanja-yang-wajib-kamu-waspadai.html] Diakses pada 21 Maret 2019.

[2]Bahaya Struk ATM Perlu Dikaji. [http://www.depkes.go.id/article/view/19011700001/bahaya-struk-atm-perlu-dikaji.html] Diakses pada 21 Maret 2019.

[3] Hormann, A.M., Vom Saal, F.S., Nagel, S.C., Stahlhut, R.W., Moyer, C.L., Ellersieck, M.R., Welshons, W.V., Toutain, P.L. and Taylor, J.A., 2014. Holding thermal receipt paper and eating food after using hand sanitizer results in high serum bioactive and urine total levels of bisphenol A (BPA). PloS one9(10), p.e110509.

[4] Kebiasaan Menyimpan Struk Belanja Ternyata Bisa Berbahaya Lho. [https://doktersehat.com/kebiasaan-menyimpan-struk-belanja-ternyata-bisa-berbahaya-lho/] Diakses pada 21 Maret 2019.

Bagikan Artikel ini di: