Inilah 10 Tanda Orang Cerdas Menurut Sains, Apakah Tanda Tersebut Ada Dalam Diri Anda?

Bagikan Artikel ini di:

Allah SWT menciptakan akal sebagai salah satu kelebihan bagi manusia, makhluk paling istimewa di muka bumi. Kemampuan untuk memilih dan berpikir merupakan hal mendasar yang terus melekat dalam diri manusia sebagai pengimplementasi dari disematkannya akal tersebut. Pada artikel sebelumnya, Warstek telah membahas 9 cara untuk menjadi cerdas, baca juga  “Dijamin Berhasil, Sembilan Cara Melatih Otak untuk Menjadi Cerdas

Kecerdasan, merupakan suatu faktor yang dilatarbelakangi adanya akal pada manusia. Cerdas seringkali dijadikan sebagai indikator dalam membandingkan kemampuan berpikir setiap individu. Terkadang dalam menyikapinya kita memiliki penilaian tersendiri dalam menentukan tingkat kecerdasan seseorang.

Namun tak jarang apa yang kita pikirkan itu tidak sesuai dengan fakta sains. Karena perlu kita sadari banyak sekali fakta tersebut yang jauh dari apa yang kita pikirkan. Termasuk soal kecerdasan ini. Nah kali ini kami akan membahas 10 tanda orang cerdas yang mungkin tidak anda sadari. Lalu apa saja tanda-tanda tersebut?

1. Berani Mengkritik Diri Sendiri

Mengkritik orang lain, sepertinya merupakan hal yang cukup mudah bagi kebanyakan orang. Karena pada dasarnya kita lebih senang melihat kekurangan maupun kesalahan yang dilakukan orang lain. Nah bagaimana dengan mengkritik diri sendiri, suatu hal yang relatif tidak mudah.

Ya jelas terkadang kita tidak menerima kritikan dari orang lain, apalagi mengkritik diri sendiri. Namun tahukah anda apabila anda memiliki sifat yang satu ini, maka anda adalah orang yang cerdas. Hal ini dibuktikan dari riset dan penelitian dari Journal of Personality and Social Psychology.

Orang yang berani mengkritik dirinya sendiri adalah orang yang cerdas. Mereka akan mudah menerima kekurangan dalam dirinya ataupun karyanya untuk senantiasa diperbaiki di masa mendatang.

2. Rasa Penasaran

Tentu sifat yang satu ini sepertinya wajib dimiliki orang-orang cerdas. Rasa penasaran akan membuat seseorang atau individu lebih mengeksplor banyak hal. Pengetahuan mereka akan terus bertambah dan mereka akan terbukan dan menerima segala gagasan yang baru.

3. Melengkapi Kalimat Orang Lain

Nah sifat yang satu ini bisa dikatakan cukup unik dan terkadang luput dari perkiraan kita. Mungkin anda pernah melengkapi satu kata ataupun satu kalimat yang dibicarakan oleh orang lain. Kalau anda pernah melakukannya tanpa disadari berarti anda merupakan orang cerdas.

Ini sangat berhubungan dengan kecerdasan secara emosional. Bagaimana anda bisa menyelaraskan antara emosi orang lain dengan anda sendiri. Sehingga anda bisa melihat sesuatu hal berdasarkan sudut pandang dari orang tersebut.

4. Kontrol Diri

Mengontrol diri sepertinya hal ini merupakan sesuatu yang tidak mudah. Banyak orang cenderung mengikuti hawa nafsunya, terutama dalam segi emosional maupun berbagai aspek lainnya. Nah orang yang mampu mengendalikan dirinya adalah termasuk orang yang cerdas.

Nah pengujian pernah dilakukan pada beberapa orang yang menjalani tes dan ditawari sejumlah orang. Setelah tes tersebut, mayoritas dari yang diuji memilih langsung pulang dan mengambil uangnya. Sementara ada beberapa orang saja yang tetap menunggu.

Ternyata minoritas yang menunggu memiliki intelejensi yang lebih dibandingkan orang yang langsung pergi.

5. Berpikiran Terbuka

Orang cerdas cenderung berpikiran terbuka, maksudnya adalah ia akan mencari sesuatu yang ingin diketahuinya dari berbagai sudut pandang. Karena pada pada saat itu mereka akan mengalami proses penerimaan gagasan baru. Selain itu, mereka akan percaya diri dengan pendapatnya sendiri tetapi tidak manipulatif dan berpikiran subjektif.

6. Menyukai Cokelat

Mungkin banyak sekali orang yang menyukai cokelat. Tapi tahukah anda bahwa menyukai cokelat merupakan salah satu ciri dari orang cerdas. Ini dibuktikan oleh para peneliti dari Universities of Roma and L’Aquila, Italia. Dalam kandungan cokelat terkandung senyawa flavonoid yang dapat meningkatkan kerja kognitif.

Kognitif sendiri merupakan jenjang proses berpikir dari manusia. Sehingga orang yang senang dengan cokelat akan meningkat pula tingkat kecerdasannya.

7. Suka Menunda

Memang sifat yang satu ini merupakan sebuah kebiasaan buruk. Namun suka menunda merupakan salah satu ciri dan sifat dari orang yang cerdas. Biasanya orang cerdas selalu menyelesaikan tugasnya pada tenggat waktu yang ditentukan. Suatu penelitian mengungkapkan orang yang suka menunda berarti tidak terburu-buru untuk melompat ke sebuah kesimpulan.

Selain itu, mereka yang suka menunda waktu akan lebih memilih melakukan pekerjaan dianggap lebih berharga.

8. Tidak Tahan Akan Suara Bising

Kemudian orang yang cerdas tidak akan tahan dengan suara-suara bising yang mengganggu ataupun tidak relevan dengan langkahnya dalam berpikir. Ini dibuktikan dengan menguji 100 orang untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Beberapa dari mereka meminta untuk menghentikan suara bising yang terjadi.

Hasilnya orang-orang tersebut mampu memberikan sebuah solusi permasalahan yang lebih kreatif dan juga inovatif.

9. Mengaitkan dua hal yang berbeda.

Anda yang memiliki sifat yang satu ini bisa dikatakan anda kreatif dan juga cerdas. Biasanya orang seperti ini mampu layaknya membaca berbagai pola dengan lebih cepat dan menghubungkan dan menafsirkannya kepada suatu kesimpulan yang tepat.

Sifat ini menandakan anda memiliki cara pemikiran yang konseptual, dan juga berpikir terbuka.

10. Nyaman Akan Kesendirian

Sifat yang terakhir ini jangan juga ditafsirkan sebagai orang individualis. Namun apabila seseorang tidak masalah dengan kesendiriannya maka hal itu menandakan orang tersebut termasuk orang yang cerdas. Menurut British Journal of Psychology, orang yang lebih nyaman sendiri adalah orang yang lebih cerdas.

Kemudian penelitian tersebut juga menunjukkan apabila suka berbicara pada diri sendiri maka tanda kejeniusan ada dalam diri anda.

*Itulah 10 sifat yang menandakan bahwa orang itu ternyata cerdas. Ada beberapa hal sepele yang mungkin anda anggap tidak biasa. Namun ternyata hal tersebut merupakan sebuah tanda yang positif bagi kecerdasan seseorang. Selain itu mungkin anda memiliki salah satu sifat dari tanda-tanda tersebut.

Namun bukan berarti satu sifat tersebut sudah mewakili semua indikator yang menentukan anda ini cerdas atau tidak. Kalau pendapat saya minimal ada 3 ciri tersebut pada diri anda baru bisa dikatakan anda cerdas.

Perlu diingat juga bahwa kecerdasan seseorang juga ditentukan oleh diri anda sendiri. Bagaimana kemauan dan kemampuan anda dalam mengasah otak juga ikut mempengaruhi.

 

Referensi:

Bagikan Artikel ini di:

Polusi Cahaya Mempengaruhi Proses Migrasi Burung

Bagikan Artikel ini di:

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pemerataan listrik adalah masalah yang krusial sekarang. Dampaknya masih banyak daerah yang belum teraliri listrik sehingga ketika malam hari daerah tersebut gelap gulita. Dilansir dari Detik.com, di penghujung tahun 2017 Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) optimis mampu mengejar target menerangi 1.096 desa yang tersebar di seluruh Indonesia.

Ilustrasi permukaan bumi ketika malam hari

Lalu apa pengaruh elektrifikasi terhadap lingkungan?

Pengaruh persebaran listrik terhadap lingkungan tentu ada, jika kita melihat efek pemerataan listrik, maka tidak akan berjauhan dengan yang namanya polusi cahaya. Cahaya buatan yang berlebihan dapat mengganggu ritme sirkadian dan disorientasi selama migrasi burung terutama burung migran nokturnal seperti burung penyanyi, unggas air, dan burung pantai. Para burung ini dihadapkan masalah seperti polusi cahaya dan polusi udara. Seperti yang diulas di atas tadi polusi cahaya disebabkan cahaya buatan yang berlebihan dan arah cahaya yang salah arah.

Migrasi burung

Migrasi burung terbagi dua yaitu nokturnal (dilakukan pada malam hari) dan diurnal (dilakukan pada hari yang cerah/siang hari).  Spesies burung yang melakukan migrasi diurnal biasanya sejenis raptor, elang, dan pemakan serangga. Sedangkan spesies burung yang melakukan migrasi nokturnal biasanya sejenis burung kicau, unggas air, dan burung yang menghuni pantai.

Migrasi burung nokturnal

Beberapa penyebab migrasi nokturnal telah diketahui seperti struktur atmosfer yang nyaman, menghindari predator, dan perlunya pencarian makan di siang hari. Namun, prinsip umum yang menetukan kebiasaan migrasi nokturnal dan diurnal belum diketahui secara pasti. Terdapat beberapa keuntungan yang jelas bila migrasi di malam hari, seperti waktu makan dapat dimaksimalkan sebelum dan setelah migrasi berlangsung.

Solusi mengatasi masalah polusi cahaya terhadap migrasi burung

Demi mengurangi efek polusi cahaya terhadap manusia dan alam sekitar kita dapat melakukan beberapa hal berikut:

  1. Mengetahui sumber dan efek dari polusi cahaya. Mengetahui efek dan sumber polusi cahaya adalah kunci penting untuk anda agar tahu bagaimana cara meminimalisir efeknya tersebut.
  2. Menghadapkan lampu ke bawah dan menggunakan corong lampu. Menghadapkan lampu ke bawah dan penggunaan corong lampu dapat meminimalisir cahaya lampu tumpah ke angkasa sehingga dapat mengurangi dampak polusi cahaya.
  3. Meminimalkan penggunaan lampu apabila tidak diperlukan. Ini adalah cara termudah untuk mengurangi polusi cahaya selain itu cara ini dapat mengurangi biaya pembayaran listrik.
  4. Mengurangi penggunaan lampu hias juga sangat membantu untuk mengurangi polusi cahaya.
  5. Penggunaan lampu  kendaraan standart ketika malam hari dan tidak menggunakan lampu yang berlebihan sangat disarankan dalam hal ini. Selain untuk mengurangi polusi cahaya penggunaan lampu kendaraan yang standart dan tidak menggunakan lampu yang berlebihan dapat juga mengurangi tingkat kecelakaan di jalan raya.

Selain penjelasan diatas masih ada banyak lagi contoh,solusi dan penyebab dari polusi cahaya. Sebagai manusia sudah seharusnya kita bijak dalam memanfaatkan penggunaan lampu dan cahaya agar  dapat menjaga kestabilan alam.

 

Referensi:

  • https://finance.detik.com/energi/d-3719072/1096-desa-dapat-akses-listrik-tahun-ini. Diakses pada 13 Agustus 2018.
  • https://www.nature.com/articles/s41598-018-21577-6. Diakses pada 13 Agustus 2018.
  • https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19459237. Diakses pada 13 Agustus 2018.
  • https://www.conserve-energy-future.com/impressive-ways-reduce-light-pollution.php. Diakses pada 13 Agustus 2018.

Bagikan Artikel ini di:

Pentingnya Kebiasaan Membaca terhadap Performa Akademik Pelajar

Bagikan Artikel ini di:

Kebiasaan membaca merupakan suatu hal yang positif yang perlu menjadi suatu kebiasaan yang terus dilakukan oleh setiap orang terutama warga indonesia. Penelitian dari 2 mahasiswa yang berasal dari Ghana yaitu M. Owusu Acheaw dari Koforidua Polytechnic dan Agatha Gifty Larson dari University of Education Winneba pada 6 Mei 2014 mengenai pengaruh kebiasaan membaca terhadap performa akademik pelajar telah dilakukan. Metode yang dilakukan adalah dengan mengumpulkan data kuantitatif melalui distribusi questioner.

Sebelum membaca lebih lanjut, sebelumnya kita harus mengetahui apa itu membaca. Membaca adalah suatu tindakan untuk memahami suatu kata dari dokumen dan menghasilkan perkembangan pengetahuan pada pembaca. Dengan kata lain membaca merupakan suatu hal dalam merekam informasi yang dilakukan oleh suatu individu (Dadzie, 2008).

Manusia memiliki alasan dan tujuan membaca yang berbeda-beda seperti tujuan menambah ilmu, menghadapi ujian, menghilangkan bosan, kesenangan, dan sebagainya. Begitu juga dengan jenis yang dibaca seperti novel, buku pelajaran, catatan, dan sebagainya. Menurut hasil penelitian tersebut meliputi pentingnya membaca novel, jumlah novel yang dibaca per tahun pelajaran, bahan yang dibaca, waktu luang, keterlibatan dalam membaca, persepsi membaca, pengaruh membaca pada performa akademik, dan tantangan kebiasaan membaca.

Gambar 1. Pentingnya membaca novel atau fiksi

Dari gambar 1 terlihat bahwa alasan pentingnya membaca novel atau fiksi tertinggi adalah sebagai ekspresi diri lebih baik dengan persentase 62,5% dari 1000 responden. 14,9% mengindikasikan ingin belajar sesuatu yang baru, 10,1% sebagai ekspresi membayangkan sesuatu, 8,5% sebagai pelengkap belajar, dan 4% sebagai pengganti kebosanan.

Gambar 2. Jumlah novel atau fiksi yang dibaca

Dari gambar 2 terlihat bahwa 7.0% dari responden membaca 1-2 novel atau fiksi dalam satu tahun pelajaran, 11,1% membaca 3-5 novel atau fiksi, dan 81,9% mengindikasikan bahwa mereka tidak membaca fiksi atau novel dalam periode yang sama. Dari sini terlihat bahwa pembaca novel atau fiksi juga masih sedikit. Menurut Palani (2012), keberadaan media massa juga menjadi penyebab mengapa orang-orang banyak yang tidak tertarik pada membaca buku, novel, koran, dan sebagainya.

Gambar 3. Bahan yang dibaca di perpustakaan

Pada gambar 3. Dari 1000 responden didapat 62,0% opini bahwa mereka membaca catatan kuliah ketika mereka mengunjungi perpustakaan, 25% membaca textbook, 3% membaca novel, dan 10% mereka membaca bahan bacaan lainnya. Menurut Ogbodo (2010), Pelajar seharusnya terdorong untuk membaca majalah untuk relaks, mendinginkan otak, dan mencegah lelah mental.

Gambar 4. Waktu luang

Pada gambar 4 didapat bahwa pada saat waktu luang 62% responden lebih menggunakannya untuk mengunjungi situs social media, 13% membaca novel, 15% menonton film, dan 10% bermain musik.

Gambar 5. Keterlibatan dalam membaca

Pada gambar 5, dari 1000 responden didapat 75% keterkaitan mereka membaca karena alasan untuk lulus ujian, 5% untuk mendapat pengetahuan, 15% untuk memperbaiki dalam berbicara dan menulis bahasa inggris, dan 5% untuk mendapat hiburan dan kesenangan. Dari data tersebut terlihat bahwa memang benar tuntutan agar lulus ujian menjadi faktor utama dalam membaca.

Gambar 6. Persepsi membaca

Pada gambar 6, persepsi tentang membaca ternyata dari 1000 responden 10% membaca itu sulit, 10,1% merasa santai, 10,5% menarik, 12,5% bermanfaat, dan opini terbesar yaitu 56% merasa bahwa membaca sangat membosankan. Dengan ini kebiasaan membaca sangat sulit untuk dilakukan oleh setiap orang.

Gambar 7. Pengaruh membaca pada performa akademik

Pada gambar 7, didapat bahwa dari 1000 responden 56,7% sangat setuju bahwa membaca sangat berpengaruh pada performa akademik, 29,3% setuju, 7,1% tidak setuju, dan 6,9% sangat tidak setuju. Artinya dari survei yang dilakukan mereka menganggap bahwa dengan membaca performa akademik mereka akan lebih baik sehingga terdapat hubungan yang jelas antara membaca dengan performa akademik.

Gambar 8. Tantangan membaca

Pada gambar 8, membahas mengenai tantangan membaca. Didapat dari 1000 responden bahwa 30% dipengaruhi oleh lingkungan rumah, 10% status sosial orang tua, 3% tidak tertarik, dan 57% karena malas. Jadi benar sekali bahwa dari pembahasan sebelumnya bahwa membaca sangat sulit dilakukan terutama karena alasan malas dan sikap dari diri kita nya yang cenderung ingin senang, santai, bermalas-malasan, dan sebagainya.

Selain penelitian di atas, masih banyak lagi penelitian mengenai kebiasaan membaca yang lain seperti oleh Aliye Erdem mahasiswa Universitas Ankara, Turki. Dari penelitian tersebut dia membandingkan kebiasaan membaca dari 2 universitas yaitu Universitas Ankara dengan Erciyes. Dari keduanya memiliki kebiasaan membaca yang baik. Bahan bacaan yang banyak yaitu sejarah, psikologi, humor dan entertainment, dan lainnya. Sedangkan pada waktu luang banyak yang membaca novel, majalah, dan Koran.

Pada penelitian diatas banyak yang beropini bahwa membaca sangat membosankan. ada bebrapa tips agara membaca tidak membosankan. Seperti niat yang kuat, konsentrasi, menggunakan jari sebagai penunjuk, memberi warna tulisan, membaca paragraf yang penting, membuat rangkuman, istirahat setelah 30 menit atauterdapat waktu istirahat, dan masih banyak lagi tips yang lain.

Selain dari tips tersebut, kebiasaan membaca indonesia masih rendah sehingga perlu menengok dari negara maju. banyak negara maju yang budaya membaca sangat baik sehingga bidang pendidikan negara juga baik dan teknologi negara tersebut juga sangat maju seperti Finlandia yang terkenal sangat maju dalam dunia pendidikan hal ini disebabkan perpustakaan di mana-mana, budaya membaca didorong turun temurun, orang tua sering mendongeng, film asing tidak diterjemahkan tetapi diberi subtitle, dan bagi yang orang tua memiliki anak baru dibantu pemerintah dalam pendidikan. Selain Finlandia, kita juga perlu belajar dari kebiasaan membaca Amerika, Jepang, Australia, Jerman, dan negara maju lainnya.

Kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Namun lebih baik jika dibandingkan dengan Ghana sebab Ghana tidak masuk ke dalam 61 besar tersebut.

Menurut UNESCO pada tahun 2015, laju literasi Indonesia sebesar 93,9% sedangkan Ghana hanya 76,6%. hal ini menunjukan bahwa minat baca Indonesia yang rendah masih lebih baik jika dibandingkan Ghana.

Kesimpulan nya dengan membaca performa akademik pelajar akan semakin baik. Jadikan membaca benar-benar suatu kebiasaan bagi kita, terutama bagi pelajar indonesia bahkan untuk seluruh warga Indonesia. Dengan tingkat kebiasaan membaca yang tinggi maka Indonesia suatu saat akan menjadi Negara besar yang terus maju di bidang apapun.

Referensi:

[1] Owusu-Acheaw, M., Agatha, G.L. (2014). Reading Habits Among Students and its Effect on
Academic Performance: A Study of Students of
Koforidua Polytechnic. Library Philosophy and Practice (e-journal). 1130.

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwin5sfY-KTcAhVQAogKHb1VDQUQFggwMAE&url=https%3A%2F%2Fdigitalcommons.unl.edu%2Fcgi%2Fviewcontent.cgi%3Farticle%3D2908%26context%3Dlibphilprac&usg=AOvVaw1ExYJrJuD5JS6pEPscRsNd

[2] Erdem, A.(2014) research on reading habits of university students:
(Sample of Ankara University and Erciyes University).Procedia – Social and Behavioral Sciences 174 ( 2015 ) 3983 – 3990.

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwi77J3b-6TcAhWNAYgKHUW9A8cQFgg3MAI&url=https%3A%2F%2Fwww.researchgate.net%2Fprofile%2FAliye_Erdem%2Fpublication%2F277651526_A_Research_on_Reading_Habits_of_University_Students_Sample_of_Ankara_University_and_Erciyes_University%2Flinks%2F55a04fc208aef92d04ce3575%2FA-Research-on-Reading-Habits-of-University-Students-Sample-of-Ankara-University-and-Erciyes-University.pdf&usg=AOvVaw32M8Sk8cFJgPpYjCBBciLz

[3] https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjT88f9uKjcAhWVzmEKHUatDsYQFgg0MAI&url=https%3A%2F%2Fen.wikipedia.org%2Fwiki%2FList_of_countries_by_literacy_rate&usg=AOvVaw2vQ4_t_yaRfFrmWyKccLJV

[4] http://membacaagartidakmembosankan.blogspot.com/

[5] https://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data

[6] https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=4&ved=0ahUKEwiXkJ7NxajcAhWEZt4KHSUwAhsQFgg4MAM&url=https%3A%2F%2Fid.linkedin.com%2Fpulse%2Fmenengok-budaya-membaca-buku-di-beberapa-negara-jm-wilson-purba-&usg=AOvVaw3PhKa3ginBNJ3XAXOvSNIh

Bagikan Artikel ini di: