Mengunggah Pikiran atau Mind Uploading, Apakah Dapat dilakukan?

blank

Setiap hari manusia membuka Internet, tentu tidak asing lagi dengan upload data, upload foto, upload tugas dan upload lainnya. Tentunya kita sendiri pun melaksanakan kegiatan tersebut saat bermain game, medsos, memutar Spotify, menonton YouTube, mengunggah jurnal dan masih banyak lagi aktivitas yang berakitan dengan hal tersebut.

Namun pernahkah terpikirkan oleh kita, data alami yang kita miliki yakni isi pikiran manusia itu bisa diunggah atau upload ke komputer dan dijadikan format digital? Terdengar sangat futuristik dan seolah-olah teknologi sudah pada tahap tertinggi. Mungkin hal ini sudah sering terlihat pada film atau game bergenre Sci-Fi. Salah satunya game yang akhir tahun 2020 kemarin rilis, yakni Cyberpunk 2077.

Game bertema futuristik ini menghadirkan sebuah teknologi science yang cukup menarik, yakni Mind Uploading. Dalam game ini tentu saja Mind Uploading sudahdapat dilakukan karena teknologi yang digunakan sudah melampaui manusia itu sendiri. Ketika sudah ada cyborg, tubuh manusia bukan lagi benda yang mustahil untuk di modifikasi semau kita. Tetapi sebenarnya apa itu Mind Uploading? Apakah hanya sekedar memindahkan isi pikiran manusia? dan apakah hal ini benar-benar dapat dilakukan? Apa saja hambatan dalam melakukannya? Untuk itu mari kita bahas penjelasannya lebih rinci.

Mind Uploading

blank
credit : Lifeboat Foundation/Trnasfer Pikiran

Kita awali dengan pengertian istilah Mind Uploading. Pengunggahan pikiran atau Mind Uploading adalah sebuah proses simulasi otak dengan memindahkan isi pikiran manusia yang berupa memori, harapan bahkan kesadaran manusia ke dalam format digital.[1]  Proses pemindahan ini biasnya akan melalui scanning dengan suatu alat untuk memindai otak manusia. Lalu pertanyaannya, bagian otak mana yang akan melalu proses scanning ini?

Otak manusia memiliki sekitar 100 miliar neuron (sel saraf) yang terhubung dengan sekitar 100 triliun sinapsis. Perlu kita ketahui kalau pola hubungan antar neuron beserta sinapsis ini disebut connectome.[2]Masing-masing dari pola hubungan ini memiliki karakter dan fungsi yang berbeda-beda. Terdapat pola hubungan yang lambat, stabil dan cepat. Selain itu juga neuron memiliki semacam alat pengirim pesan yang bernama neurotransimtter.

Semua interaksi yang tersebut harus mampu manusia petakan dengan sangat jelas agar dapat menyalin pikiran. Sebenarnya masih banyak misteri otak manusia yang belum benar-benar terpecahkan. Dapat kita asumsikan kalau sekarang manusia belum dapat menentukan bagian otak mana yang akan bisa melalui proses scanning.

Baiklah, mungkin pengetahuan manusia dalam bidang neurosains belum sampai pada taraf yang tepat untuk melakukan Mind Uploading. Namun mari kita asumsikan kalau manusia sudah berada di tahap tersebut. Kira-kira, alat apa yang dapat manusia gunakan untuk melakukan scanning otak manusia? Sekarang ini alat scanning yang bisa mungkin cocok adalah Magnetic Resonance Imaging (MRI).[3]

Scanning dan Replikasi

 Apa sebenarnya Magnetic Resonance Imaging (MRI) itu? adalah  suatu alat kedokteran di bidang diagnostik radiologi, yang menghasilkan rekaman gambar potongan penampang tubuh / organ manusia dengan menggunakan medan magnet berkekuatan antara 0,064 – 1,5 tesla (1 tesla = 1000 Gauss) dan resonansi getaran terhadap inti atom hidrogen.[4]

Untuk mendeteksi sinapsis kita perlu  resolusi sekitar satu mikron atau 1/1000 mm. Jika kita ingin melihat lebih detail lagi jenis sinapsis maka resolusi lebih kecil lagi dari yang sebelumnya. Hanya saja karena Magnetic Resonance Imaging bergantung pada medan magnet maka untuk resolusi sekecil itu kemungkinan dapat membakar jaringan seseorang.[5] Lagi-lagi kita masih membutuhkan teknologi pemindai yang lebih mutakhir agar dapat melakukan proses scanning

Selain masalah alat scanner, ternyata masih ada hambatan lain dalam proses Mind Uploading, yakni replikasi data dari otak. Masalahnya ialah komputasi dan ruang penyimpanan data informasi. Kita perlu mengembangkan data untuk memetakan 100 miliar data yang berasal dari neuron dan ruang penyimpanan yang cukup besar untuk menyimpannya. Sebenarnya manusia sudah mampu menciptakan tiruan jaringan semacam ini seperti internet. Namun belum ada yang menciptakan jaringan tiruan sebesar 100 miliar neuron. [6]

Transhumanisme

blank
credit : New Atlas/Manusia Cyborg

Ketika kita membicarakan teknologi dan manusia, ada sebuah gagasan yang mungkin cukup jarang terdengar di masyarakat Indonesia yakni Transhumanisme. Apa transhumanisme itu? Sederhanya transhumanisme itu intellectual movement yang ketika manusia mampu mengatasi keterbatasan fisik dengan teknologi.[7] Salah satunya Mind Uploading yang termasuk salah satu wacana evolusi teknologi yang cukup penting.

 Bisa kita asmumsikan kalau Mind Uploading atau simulasi otak dapat terlaksana, manusia telah melangkah sangat jauh kedepan. Bagaimana tidak? Kemajuan dalam simulasi otak akan berpengaruh besar dalam kehidupan manusia dan teknologi. Bahkan jika Mind Uploading mampu mentransfer kesadaran, manusia dapat hidup abadi. Apakah hal tersebut dapat terjadi? Kita benar-benar tahu mengenai hal tersebut. Jika membahas keabadian maka akan sulit membahasnya karena dalam ajaran agama semua hal pasti akan mati.

Walaupun demikian, ilmuwan dan perusahaan teknologi tidak akan berhenti untuk mencoba gebrakan baru dalam Mind Uploading. Michio Kaku pernah mengatakan kalau terdapat teknologi luar biasa di luar bumi, dan kita manusia di bumi mungkin saja benar-benar masih primitif. Inilah salah satu besar harapan manusia, memodifikasi tubuh manusia demi kemajuan ilmu pengetahuan.


Referensi:

[1] Kaj Sotala and Harri Valpola, ‘Coalescing Minds: Brain Uploading-Related Group Mind Scenarios’, International Journal of Machine Consciousness, 4.1 (2012), 293–312 <https://doi.org/10.1142/S1793843012400173>.

[2] Olaf Sporns, Giulio Tononi, and Rolf Kötter, ‘The Human Connectome: A Structural Description of the Human Brain’, PLoS Computational Biology, 1.4 (2005), 0245–51 <https://doi.org/10.1371/journal.pcbi.0010042>.

[3] Michael S.A Graziano, ‘How Close Are We to Uploading Our Minds?’, TEDEd, 2019 <https://ed.ted.com/lessons/how-close-are-we-to-uploading-our-minds-michael-s-a-graziano>.

[4] Mulyono Notosiswoyo and Susy Suswati, ‘Pemanfaatan Magnetic Resonance Imaging (Mri) Sebagai Sarana Diagnosa Pasien’, Media Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 14.3 (2012), 8–13 <https://doi.org/10.22435/mpk.v14i3Sept.901.>.

[5] Michael S.A Graziano, ‘How Close Are We to Uploading Our Minds?’, TEDEd, 2019 <https://ed.ted.com/lessons/how-close-are-we-to-uploading-our-minds-michael-s-a-graziano>.

[6] Michael S.A Graziano, ‘How Close Are We to Uploading Our Minds?’, TEDEd, 2019 <https://ed.ted.com/lessons/how-close-are-we-to-uploading-our-minds-michael-s-a-graziano>.

[7] Pandu Sastrowardoyo, ‘Transhumanisme: Secepat Apa Itu Akan Datang? Niscaya Atau Utopia?’, Techfor.Id, 2019 <https://www.techfor.id/transhumanisme-niscaya-atau-utopia/> [accessed 10 January 2020].

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *