Pseudosains dan Ancaman bagi Ilmu Pengetahuan

blank

Pada kesempatan ini penulis akan mengungkapkan keresahan yang mungkin juga dirasakan pembaca yakni pseudosains dalam ilmu pengetahuan. 

Sering terjadi di kehidupan masyarakat,  tidak berfungsinya ilmu pengetahuan sebagai dasar atau pijakan seseorang untuk berpikir. Terkadang disfungsional ini dipakai untuk memberikan pendapat mengenai suatu hal yang terkesan memaksa. Para Ilmuwan biasa menyebut fenomena ini  dengan pseudosains. 

 Apa Itu Pseudosains?

Jika Anda sedang browsing di internet, ada beberapa artikel yang memuat suatu uraian yang terkesan ilmiah tetapi jauh dari kata ilmiah, contohnya antara lain “Alien kuno” (Mengusulkan bahwa alien telah mengunjungi Bumi di masa lalu dan memengaruhi peradaban kita)1 , “Apollo Moon Landing Hoax” (Menganggap pendaratan di bulan hanyalah kebohongan semata)2, segitiga Bermuda  (Suatu daerah di mana banyak peristiwa yang tidak dapat dijelaskan, seperti hilangnya kapal dan pesawat terbang, telah terjadi)3, “Cryptozoology” (Pencarian untuk Bigfoot (Yeti), monster Loch Ness, El Chupacabra, dan makhluk lain yang menurut ahli biologi tidak ada)4, “Teori Bumi Datar” (Klaim bahwa, karena Bumi terlihat dan terasa rata, itu harus datar dan berbentuk cakram).5

Dari beberapa contoh diatas merupakan hal yang aneh bukan? karena pernyataan tersebut tidak ada dasar ilmiah yang memperkuatnya tetapi masyarakat khususnya di indonesia percaya dengan hal tersebut. Dari contoh tersebut bisa kita simpulkan bahwa fenomena ini sudah menjadi hal yang lumrah dan biasa.

Peradaban ilmu pengetahuan juga dihadapkan dengan  kehadiran mistisme, takhayul, maupun berita bohong (hoaks). Seperti contoh diatas yaitu muncul nya alien, konspirasi pendaratan di bulan, teori bumi datar dll. Padahal hal tersebut sudah jelas dibuktikan oleh para ilmuwan

Mulai dari kehidupan sehari-hari hingga bidang yang bersifat ilmiah pun terkena fenomena ini, jadi apa sih pseudosains itu?

Pseudosains (Pseudoscience) adalah suatu istilah yang digunakan untuk merujuk pada suatu bidang yang menyerupai ilmu pengetahuan namun sebenarnya bukan merupakan ilmu pengetahuan. Sesuatu yang menyerupai ilmu pengetahuan ini tidak valid dan memiliki banyak kekurangan, tidak rasional dan cenderung dogmatis. Dengan kata lain pseudosains adalah ilmu-palsu8

Pseudosains bisa juga dikatakan kumpulan pandangan yang berada di luar lingkup ilmiah. seni, nilai, kreatifitas, spiritualitas, sugesti, dan bagi banyak orang, merupakan aspek yang sangat penting dari eksistensi manusia. Subyek non-sains biasanya mudah dipisahkan dari sains.

Pseudo-sains terjadi ketika hal-hal non-sains dicoba untuk dinyatakan sebagai sains ketika terjadi masalah atau keraguan. Pseudo-sains muncul ketika ada yang mengklaim bahwa telah dibuktikan secara ilmiah, padahal sebenarnya tidak. Keyakinan dan kepercayaan kadang-kadang menjadi pseudo-sains ketika ada orang yang berusaha mempopulerkan suatu keyakinan atau kepercayaan sebagai sesuatu fakta yang sudah terbukti secara ilmiah . Argumentasi seperti ini seringkali muncul ketika sains belum dapat menemukan jawabannya

Karakteristik kunci dari pseudosains adalah bahwa hal itu tidak sesuai dengan metode ilmiah. Ini berarti bahwa klaim ilmu ini terhadap suatu hal tidak dapat diuji, dan tidak mengikuti urutan logis. Banyak konsep-konsep ilmiah tidak dapat diuji dengan peralatan yang ada. Pseudosains tidak memiliki dukungan ilmiah, dan tidak dapat diuji.

The Demon Haunted World

blank

Ada satu buku yang membahas perihal pseudosains yang bisa kita renungkan dan cermati yaitu buku karangan Carl Sagan “The Demon-Haunted World.

Carl Sagan berkata dalam bukunya bahwa setiap cabang sains memiliki pseudosains pasangannya sendiri. Ahli geofisika menghadapi bumi datar, Bumi dengan sumbu naik-turun dengan liar,benua-benua yang timbul dan tenggelam dengan cepat, belum lagi peramal gempa , Ahli fisika , segerombolan amatir penyangkal relativitas, dan barangkali fusi dingin. Ahli kimia menghadapi alchemist. Ahli psikologi menghadapi banyak bagian psikoanalisis dan nyaris seluruh parapsikologi

Carl Sagan menulis di dalam bukunya ini bahwa sains merupakan jawaban untuk menangkal segala sesuatu yang berhubungan dengan pseudosains. Karena sains memuat  literatur-literatur ilmiah yang ditulis oleh para ilmuwan setelah melewati tahap yang tidak singkat . Untuk menciptakan literatur harus ada peer review. Terdapat standar yang ketat untuk kejujuran dan akurasi. Dalam pseudosains,  literatur-literatur yang ada tidak mengalami proses yang panjang yang dimulai dari review sampai publikasi, hal ini membuat pernyataan yang ditujukan tidak terdapat adanya standar untuk mencapai pernyataan yang valid.

Produk-produk ilmiah dapat direproduksi. Masyarakat menuntut hasil yang dapat diandalkan. Segala eksperimen yang dilakukan harus dapat dijelaskan dengan tepat sehingga eksperimen tersebut  dapat diulangi secara presisi. Pengulangan ini dilakukan dalam rangka perbaikan hasil atau penerapan dalam kasus atau peristiwa lainnya. Sedangkan dalam pseudosains,  produk-produk psudo tidak dapat direproduksi atau diverifikasi. Meskipun ada studi atau eksperimen, tetapi begitu samar-samar digambarkan. Studi atau eksperimen tersebut pun prosedurnya kurang jelas sehingga masyarakat umum tidak mengetahui apa yang sebenarnya dilakukan dalam studi atau eksperimen atau bagaimana hal itu dilakukan dalam studi atau eksperimen.

Dalam sains, kegagalan dalam satu studi memang selalu dicari, karena teori-teori yang salah seringkali dapat membuat prediksi yang tepat meskipun itu karena faktor kebetulan. Dengan kegagalan ini akan tercipta teori yang benar. Ketika teori yang benar telah ditemukan prediksi yang dibuatkun tidak akan salah. Dalam pseudosains kegagalan akan selalu diabaikan, dimaafkan, disembunyikan, tidak dihitung,  dirasionalisasikan agar selalu benar, dilupakan, dan dihindari.

Sagan mewariskan sikap skeptisisme kepada para pembaca yang tampaknya menjadi hal yang hangat dan positif: alat yang digunakan untuk mengungkap keajaiban nyata dunia di sekitar kita, serta untuk menghilangkan delusi. Dalam perjalanan pembedahan kebodohan manusia yang menyenangkan, ia menceritakan beberapa anekdot yang indah. Dia cukup percaya diri untuk berbicara secara berpengetahuan tentang kenyataan yang sebenarnya dan dia mengkritisi sikap budaya Amerika dan lainnya yang mengabaikan pendidikan dan menolak keingintahuan sistematis.

Jangkauan rujukannya sangat fenomenal. Dalam satu esai ia menerangi sejarah konstitusi AS pada masa Thomas Jefferson; uji coba sihir dari Wurzburg, Jerman, pada 1631; manipulasi ingatan bersejarah di Rusia di bawah Stalin (dia mengaku penyelundupan Sejarah Revolusi Rusia ke dalam Uni Soviet Trotsky); monopoli kepemilikan media; Linus Pauling dan perjanjian larangan uji tahun 1963; dan antusiasme Edward Teller untuk bom hidrogen.9

Kasus di Indonesia

  1. Teori aktivasi otak tengah: mengklaim bahwa aktifasi otak tengah dapat meningkatkan kecerdasan berfikir, emosi dan motivasi seseorang. Kenyataannya adalah: otak tengah tidak memiliki fungsi berpikir, emosi, dan motivasi. Otak tengah yg merupakan bagian dari batang otak memiliki fungsi otak primitive yaitu mekanisme pertahanan diri dan refleks-refleks pada fungsi vegetative. Sedangkan kemampuan berpikir, proses belajar, dan memori terutama terletak pada korteks dan subkorteks10
  2. Terapi urin : menjadi tren 10 tahun yang lalu, sampai buku terapi urin banyak diterbitkan dan dipajang di Gramedia. Namun sekarang tampaknya trennya sudah berakhir, tidak ada lagi orang yang mau minum urin paginya. Pada kenyataannya urine (air kencing) adalah hasil eksresi (buangan) dari tubuh manusia yang tidak lagi dibutuhkan oleh tubuh manusia.
  3. Food combining dan diet berdasar golongan darah: Whitney dan Rolfes (2005) dalam bukunya Understanding  Nutrition menyebutkan bahwa food combining adalah mitos. Seni mengatur pola makan dalam food combining yang  sebenarnya adalah menekankan pada pemisahan makanan, melambangkan logika yang salah dan underestimation terhadap kemampuan tubuh. Kenyataannya, makanan yang dikonsumsi bersama-sama dapat meningkatkan penggunaannya di dalam tubuh. Contohnya vitamin C dalam jeruk atau nanas dapat meningkatkan absorbsi besi (Fe) yang terdapat dalam daging, ikan atau bahan-bahan makanan lain yang mengandung besi yang dikonsumsi bersamaan. Pencetus food combining juga kurang mengenal dengan baik komposisi bahan makanan dan proses pencernaan zat gizi di dalam tubuh. Kemampuan beberapa enzim yang terkait dalam pencernaan zat gizi seperti enzim-enzim golongan amilase (enzim yang mencerna hidrat arang), protease (mencerna protein), dan lipase (mencerna lemak) telah diabaikan. Penekanan lebih pada lama waktu makanan berada di lambung. Walaupun selama ini dikenal penggolongan bahan makanan berdasarkan kandungan zat gizinya, seperti sumber protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, namun bukan berarti bahwa bahan-bahan makanan yang kita konsumsi sehari-hari hanya mengandung satu jenis zat gizi saja. Contohnya, ketika kita mengonsumsi nasi sebagai sumber karbohidrat, di dalamnya terkandung protein, lemak, dan zat gizi lain dengan kadar yang bervariasi. Demikian halnya daging, susu dan sumber protein lainnya, juga mengandung karbohidrat dengan kadar yang bervariasi.11
  4. Beberapa pengobatan alternative lainnya seperti iridologi (diagnosis penyakit sistemik dengan melihat warna dan tekstur dari iris mata), palpasi pada bagian tubuh tertentu untuk mendiagnosis adanya kelebihan asam urat, fungsi liver, fungsi ginjal, dll, merupakan pseudosains yang tidak didukung oleh langkah-langkah berpikir ilmiah dan evidence based.

Kemudian apa yang harus kita lakukan sebagai generasi penerus bangsa melihat pseudosains?

  1. Cara Pertama adalah melawan segala bentuk pseudosains dengan sains itu sendiri (ilmu Pengetahuan). Gagasan maupun ide harus dilawan dengan gagasan atau ide yang sesuai dengan metodologi keilmuan dari berbagai aspek epistemologis, aksiologis, hingga ontologis. Sains dibangun dari sumber-sumber fisis yang dapat dikaji ulang oleh orang lain dan semua yang bersifat sains bermula dari premis-premis empiris dan bebas dibuktikan oleh siapapun. Perhatikan saja, ketika seorang saintis memulai segala sesuatu, maka ia berangkat dari makna filosofis yang didasari norma-norma profesionalisme yang selalu digelutinya.
  2. Cara Kedua adalah seperti yang Carl Sagan tuliskan dalam bukunya, Sagan kemudian mengingatkan akan dua sikap yang perlu dirawat dan dilakukan dalam memahami sains, yakni berupa berpikir kritis dan bersikap skeptis. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan akan hakikat dari sains itu sendiri. Sains bukan sebatas kumpulan data maupun fakta, melainkan ia adalah sebuah cara berpikir. Frasa “cara berpikir” inilah yang kemudian harus ditekankan dan menjadi perhatian pada ruang-ruang diskursus pengetahuan. Di luar itu, ketika ditarik pada periodisasi peradaban keilmuan, ada tiga masa yang telah berjalan, yakni zaman iman (faith age), zaman nalar (reason age), dan zaman tafsir (interpretation age). Dan pada saat ini peradaban berada pada zaman tafsir. Tidak salah ketika meminjam aforisma yang pernah diungkapkan oleh Friedrich Nietzsche—tak ada fakta, yang ada hanyalah interpretasi. Mafhum, orang kemudian mudah melakukan penafsiran tanpa memperhatikan otoritas keilmuan yang ada. Dilema ini kemudian melahirkan jurang pemisah antara ilmuwan dan non ilmuwan, antara tirai ketakpahaman dan persoalan komunikasi.
  3. Cara Ketiga memberikan pemahaman atau menyampaikan manfaat dari sains itu sendiri ke berbagai media seperti radio, tv, surat kabar. dll supaya masyarakat sadar akan pentingnya sains. Pemahaman mendasar mengenai sains dan metodenya harus tersedia dengan seluas-luasnya. Terlepas dari banyaknya kesempatan penyalahgunaan sains dapat membantu masyarakat keluar dari kemiskinan dan kemunduran pemikiran. Sains juga mengingatkan kita mengenai bahaya-bahaya yang diperkenalkan oleh teknologi. Sains mengajari kita tentang masalah-masalah terdalam terkait asal-usul, hakikat dan nasib spesies.

Sains sangat diperlukan pada zaman sekarang ini untuk membantu menemukan kebenaran yang jarang terlihat dan banyak yang hilang dalam sebuah kebingungan. Diperlukan sebuah dedikasi dan keberanian untuk menanamkan sikap saintis yang senantiasa berpikir kritis serta terbuka untuk menghilangkan segala tipu muslihat yang para penipu dunia ciptakan.

REFERENSI

  1. http://www.history.com/shows/ancient-aliens  diakses pada 10 April 2021.
  2. https://www.livescience.com/24310-flat-earth-belief.html diakses pada 10 April 2021.
  3. https://www.britannica.com/place/Bermuda-Triangle diakses pada 10 April 2021.
  4. https://www.livescience.com/11328-rumor-reality-creatures-cryptozoology.html diakses pada 10 April 2021.
  5. https://www.livescience.com/24310-flat-earth-belief.html diakses pada 10 April 2021.
  6. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2405844017321795 diakses pada 10 April 2021.
  7. http://www.tampabayskeptics.org/v17n2rpt.html diakses pada 10 April 2021.
  8. Ridwan, Fendy. 2011. Pseudosains. artikel dalam http://www.filsafatilmu.com. Diakses tanggal 19 juli 2020. Jam 21.00
  9. Carl Sagan.1996.the demon-haunted world.Jakarta:KPG
  10. Yulian, Arif Virkill. 2011. Membongkar Aktivasi Otak Tengah. Galang Press: Yogyakarta)
  11. Whitney, Ellie, & Rolfes Sharon R, 2008, Understanding Nutrition, 11 th Edition, Thomson, United States of America.
  12. https://scientificliteracymatters.com/2015/04/what-is-pseudoscienceins-dan-fenomena-otak-atik-gathuk diakses pada 10 April 2021.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 1

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Teuku Rizky Ramadhan
Artikel Berhubungan:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *