Peran Komunikasi Sains Sebagai Penanggulangan Penyebaran Hoaks

Ditulis oleh Slamet Fauzi

Hoaks merupakan sebuah rencana untuk menipu seseorang yang dikarenakan dengan maksud dan tujuan tertentu. Menurut Cambridge Dictionary, bahwa Hoaks disebutkan sebagai suatu pesan yang dirancang untuk mengelabuhi seseorang atau “a plan to deceive someone” [1]. Hal ini bukanlah hal yang baru, melainkan sudah ada sejak abad ke-19 dengan kemunculan “Great Moon Hoax“[2].

Kemunculan informasi Hoaks di abad 21 telah menjadi hal yang umum dan berpotensi lebih berbahaya daripada sebelumnya. Sementara itu, Hoaks di masa lalu memiliki jangkauan terbatas di luar surat kabar. Saat ini media sosial adalah alat yang paling mudah digunakan untuk membuat Hoaks menjadi global dalam sekejap yang didukung oleh pendukung anti-sains yang berusaha menabur keraguan dalam sains agar sesuai dengan mereka sendiri [3].

Bagaimana para ilmuwan dapat menanggapi lautan informasi yang salah ini ? sebelum menjawab hal tersebut, penting untuk ditekankan mengapa kita harus melawan berita Hoaks. Hal ini dikarenakan konsekuensi dari tidak melakukan apa-apa bisa menjadi bencana besar. Kurangnya informasi yang dapat dipercaya, seperti masalah kesehatan yang dapat mengakibatkan munculnya penyakit berbahaya yang dapat dihindari dan bahkan kematian. Contoh yang paling terkenal adalah studi ilmiah palsu dari Andrew Wakefield [4], yang menyindir bahwa vaksin MMR menyebabkan penyakit autisme. Penyebaran terus menerus dari ide penipuan ini, terutama melalui media sosial, telah menyebabkan kecemasan di tingkat global dan juga memicu perkembangan ‘keraguan vaksin’ di banyak negara. Contoh ini saja menunjukkan bagaimana Hoaks dapat mengubah persepsi dan sikap publik terhadap ilmu pengetahuan yang sudah mapan sekalipun [5]. Oleh karena hal itu, peran ilmuan dalam menanggapi disinformasi mengenai informasi, terutama sains sangat diperlukan.

Para ilmuwan saat ini masih tetap menjadi salah satu profesi yang paling dipercaya publik di seluruh dunia, seperti di Inggris pada tahun 2018 sekitar 83% dari ilmuwan dipercaya publik [6] dan ini memberi kita posisi unik yang harus dimanfaatkan untuk membantu menyebarkan fakta dan bukan fiksi. Lalu, bagaimana para ilmuwan dapat mengomunikasikan ilmu pengetahuan mereka? Melalui komunikasi sains secara terbuka, kita menempatkan manusia pada bidang yang pada tempatnya. Ilmuwan dihormati, tetapi masyarakat tidak banyak mengerti tentang apa yang dilakukan para ilmuwan [7]. Melalui penggunaan media sosial abad ke-21 ini, para ilmuwan harusnya dapat membuat konten persuasif yang menjangkau khalayak luas dengan cepat untuk menceritakan kisah beragam dan penuh warna di balik sains dan para peneliti yang melakukannya [8]. Para ilmuwan harus angkat bicara ketika mereka melihat informasi palsu dan bersikap proaktif. Pada akhirnya, ini akan mendorong lebih banyak literasi ilmiah di masyarakat luas serta pertahanan utama, yaitu ketidakmampuan individu yang rentan untuk secara kritis memeriksa informasi di hadapan mereka dan mencapai kesimpulan berdasarkan bukti dan alasan.

.

Referensi

[1] https://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/hoax diakses pada 19 Juni 2021.

[2]“The Long and Brutal History of Fake News.” Politico Magazine.

[3]‘Science audiences, misinformation, and fake news’ Dietram A. Scheufele and Nicole M. Krause, PNAS, 2019, 116 (16), 7662-7669; https://doi.org/10.1073/pnas.1805871115

[4]“Wakefield’s article linking MMR vaccine and autism was fraudulent” Fiona Godlee, Jane Smith and Harvey Marcovitch, BMJ, 2011, 342:c7452

[5]https://www.who.int/immunization/newsroom/new-measles-data-august-2019/en/

[6] https://wellcome.ac.uk/what-we-do/our-work/public-views-science-and-health

[7] https://www.britishscienceassociation.org/public-attitudes-to-science-survey

[8]https://www.independent.co.uk/news/science/pseudoscience-fake-news-social-media

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 5 / 5. Banyaknya vote: 2

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Warung Sains Teknologi
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *