Sparganosis, Sebuah Penyakit Zoonosis Yang Terabaikan

Tahun 2020 dimulai dengan berbagai peristiwa yang menarik perhatian masyarakat global, salah satu yang paling menarik perhatian dan empati kita […]

blank

Tahun 2020 dimulai dengan berbagai peristiwa yang menarik perhatian masyarakat global, salah satu yang paling menarik perhatian dan empati kita semua di bidang kesehatan adalah kasus wabah COVID-19 yang awalnya terjadi di Wuhan, Tiongkok, namun sayangnya menyebar ke berbagai negara di seluruh dunia termasuk Indonesia. Salah satu pernyataan yang membuat publik menjadi sangat waspada adalah sumber penularan coronavirus diduga dari satwa liar yaitu ular dan kelelawar dengan risiko lebih besar terjadi pada manusia yang sering memanfaatkan satwa-satwa liar sebagai bahan pangan. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini terjadi perubahan pola hidup masyarakat khususnya di bidang kuliner, bahan-bahan pangan yang tidak umum seperti daging atau darah satwa liar semakin digemari dengan berbagai alasan mulai dari hanya ingin coba-coba, sudah menjadi kebiasaan, bahkan sampai dipercaya untuk pengobatan berbagai penyakit tertentu. Walaupun penularan coronavirus akibat manusia mengonsumsi satwa liar masih sebatas “suspect” namun kita harus tetap waspada karena faktanya tidak hanya virus, agen infeksius yang lain seperti bakteri dan parasit juga bisa bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia) akibat kebiasaan mengonsumsi satwa liar. Salah satu penyakit parasit yang bersifat zoonosis yang perlu diwaspadai kejadiannya di Indonesia adalah sparganosis.

Apa itu sparganosis? Pernakah kalian membaca atau mendengar tentang sparganosis?

Apakah pernah ada laporan sparganosis di Indonesia?

Sparganosis merupakan jenis penyakit infeksius yang disebabkan oleh parasit cacing pita dari Genus Spirometra dan bersifat zoonosis. Nama sparganosis diambil dari stadium infektif cacing pita Spirometra yaitu plerocercoid atau lebih dikenal secara umum dengan sebutan “spargana”. Cacing pita Spirometra sendiri mempunyai siklus hidup yang terbilang kompleks dimana melibatkan berbagai jenis satwa liar sebagai inang perantara dan juga hewan peliharaan sebagai inang utamanya. Tidak hanya itu, hewan renik yang hidupnya di lingkungan akuatik seperti copepod juga berperan sebagai inang perantara dalam penularan sparganosis. Manusia merupakan inang paratenik dimana stadium infektif Spirometra yang menginfeksi akan tetap bertahan dalam stadium spargana dan tidak berkembang menjadi cacing dewasa. Manusia dapat tertular sparganosis melalui dua jalur, yang pertama karena meminum air yang terkontaminasi copepod dimana dalam tubuh copepod tersebut juga mengandung stadium procercoid, apabila procercoid tersebut masuk dalam tubuh manusia maka akan berkembang menjadi plerocercoid (spargana) yang bisa melakukan migrasi dan menyebabkan perubahan patologis pada berbagai organ. Jalur yang kedua disebabkan karena manusia memakan hewan yang bertindak sebagai inang perantara yaitu jenis reptil (ular, kadal, biawak, dll.), amfibi (kecebong, katak, kodok), berbagai jenis burung, dan hewan pengerat termasuk tikus. Hewan-hewan tersebut selain berperan sebagai inang perantara juga berperan sebagai inang paratenik yang artinya parasit tidak berkembang menjadi cacing dewasa namun tetap bisa menimbulkan penularan ke sesama hewan atau dari hewan ke manusia. Inang utama dimana cacing pita bisa berkembang menjadi stadium dewasa dan menghasilkan ribuan atau bahkan jutaan telur, justru hewan domestik yang sangat dekat dengan manusia yaitu anjing dan kucing.

Gambaran siklus penularan tersebut seharusnya meningkatkan perhatian dan kewaspadaan kita bersama terkait dengan kebiasaan masyarakat di beberapa wilayah tertentu yang akhir-akhir ini lebih memilih kuliner atau terbiasa dengan bahan dasar daging hewan-hewan liar seperti ular, katak, dan biawak. Alasan utama fenomena tersebut bisa terjadi karena berbagai alasan seperti faktor budaya yang menyatakan secara empiris bahwa daging hewan liar mempunyai khasiat sebagai obat tradisional, di sisi lain ada yang beralasan lebih menyukai rasa dan tekstur dari daging hewan liar, dan sisanya hanya karena faktor coba-coba atau ikut-ikutan suatu hal yang dianggap “trending” dan memacu adrenalin. Terlepas dari berbagai faktor tersebut, faktanya di berbagai wilayah di Indonesia baik kota besar maupun sekitar desa banyak kita jumpai rumah makan yang secara terang-terangan menjual kuliner hewan liar tersebut dan tidak bisa dipungkiri juga jika setiap harinya tempat-tempat tersebut selalu ramai dikunjungi konsumen. Stadium infektif Spirometra dapat bertahan hidup di dalam daging, apabila daging hewan liar tersebut tidak dimasak secara matang. Mirisnya, sebagian besar penikmat kuliner ekstrim tersebut lebih menyukai sajian daging yang setengah matang maupun mentah karena mereka berpikir bahwa akan lebih menimbulkan “khasiat” apabila dimakan secara mentah. Selanjutnya, jika daging yang mengandung spargana sampai termakan oleh manusia, maka bisa menimbulkan penyakit. Gejala klinis sparganosis pada manusia adalah timbulnya nodul atau benjolan pada bagian bawah kulit yang mirip dengan tumor dan dapat ditemukan di paha, bahu, leher, dan kemudian menyebar ke bagian organ vital lainnya seperti mata dan otak.

Dibanding dengan penyakit zoonosis yang lain, sparganosis memang lebih jarang terdengar, hal ini dikarenakan kurangnya data dalam aspek epidemiologi dan prioritas pengendalian penyakit strategis, oleh karena itu sparganosis termasuk dalam kategori penyakit tropis yang terabaikan atau secara global dikenal dengan sebutan NTD (Neglected Tropical Disease). Di Indonesia sendiri khususnya dalam bidang veteriner yang mencakup kesehatan hewan liar, angka kejadian sparganosis pernah dilaporkan di beberapa spesies ular seperti ular jali (Ptyas mucosus) sebesar 68%, ular talipicis (Dendrelaphis pictus) sebesar 50,85%, ular cobra jawa (Naja sputatrix) sebesar 56,7%, dan ular hijau (Trimeresurus insularis) sebesar 100% dari total sampel yang diteliti di berbagai wilayah yang ada di Provinsi Jawa Timur. Dari beberapa data yang pernah dilaporkan, menunjukkan angka kejadian yang terbilang tinggi, padahal tercatat hanya dari satu wilayah Provinsi saja. Menariknya, jenis ular-ular tersebut bukan hanya dijadikan sebagai hewan peliharaan eksotik namun juga ada jenis yang dikonsumsi dagingnya seperti ular jali dan cobra. Oleh karena itu, berbagai pihak yang berwenang perlu membuat sebuah regulasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan mengendalikan sparganosis. Justru ketika jumlah kasus yang terdata masih sedikit seharusnya tindakan pengendalian lebih efektif dibanding ketika sudah menjadi wabah, Di samping itu, cakupan transmisi sparganosis ini juga luas karena melibatkan regulasi perdagangan satwa liar dan sistem jaminan keamanan pangan yang tentunya berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.

Jadi, sinergitas berbagai pihak sangat berperan secara signifikan jika ingin bergerak untuk melakukan pengendalian penyakit. Langkah-langkah pengendalian sparganosis secara konkrit bisa dimulai dari: (1) penguatan aturan yang meregulasi pemanfaatan satwa liar sebagai bahan pangan, (2) inspeksi berkala pada pasar maupun tempat-tempat yang menjual daging satwa liar, dan (3) edukasi kepada para pemelihara satwa liar agar lebih care terhadap status kesehatan hewan dan pentingnya melakukan konsultasi maupun medical check-up ke pihak yang berkompeten yaitu dokter hewan. Jelas sekali bahwa peran dokter hewan disini menjadi prioritas karena aspek zoonosis dari sebuah penyakit bisa secara tepat dikendalikan sebelum menular ke manusia mengingat sumber utama penularan sparganosis ini adalah hewan yang status kesehatannya terabaikan. Kesimpulannya adalah “yang menjadikan sparganosis ini penting adalah karena sparganosis itu sendiri dianggap tidak penting.” Bisa juga diartikan secara eksplisit yaitu jika kita tetap menganggap penyakit yang terabaikan ini tidak penting untuk dikendalikan, maka tidak menutup kemungkinan suatu saat akan bisa menjadi wabah dan menimbulkan permasalahan kesehatan global baik pada hewan maupun manusia akibat kurangnya pengawasan dan data terkait dengan penyakit tersebut. Jadi, dengan kita menjaga kesehatan hewan yang ada di sekitar kita secara konsisten maka secara tidak langsung kita juga berperan dalam menjaga kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.    

Penulis,

Aditya Yudhana, drh., M.Si.

Referensi :

Hong, Q., Feng, J.P., Liu, H.J., Li, X.M., Gong, L.R., Yang, Z., Yang, W.M., Liang, X.F., Zheng, R.J., Cui, Z.C., Wang, W.L. and Chen, D.X. 2016. Prevalence of Spirometra mansoni in dogs, cats, and frogs and its medical relevance in Guangzhou, China. International Journal of Infectious Disease, 53: 41–45.

Pranashinta, G.T., Suwanti, L.T., Koesdarto, S. and Poetranto, E.D. 2017. Spirometra in Ptyas mucosus snake in Sidoarjo, Indonesia. Veterinary Medicine International Conference.

Samosir, H., Putriningsih, P.A., and Suartha, I.N. 2019. Case Report: Sparganosis in Domestic Cat. Indonesia Medicus Veterinus, 8(1): 26-33.

Yudhana, A., Praja, R.N., and Supriyatno, A. 2019. The medical relevance of Spirometra tapeworm infection in Indonesian bronzebacksnakes (Dendrelaphis pictus):A neglected zoonotic disease. Veterinary World, 12(6): 845-848.

Yudhana, A., Praja, R.N., Yunita, M.N., Wardhana, D.K., and Fikri, F. 2020. Prevalence of Spirometra in white-lipped green pit viper (Trimeresurus insularis) in Indonesia. Journal of Veterinary Parasitology, 34(1): 12-16.

Yudhana, A., Praja, R.N., Wardhana, D.K., Yunita, M.N., Fikri, F., Fransiska, E.M., and Ismail, W.A. 2020. Public health relevance of sparganosis in javan spitting cobra snakes (Naja sputatrix): A neglected zoonotic disease in Indonesia. Indian Journal of Public Health Research and Development, 11(3): 2302-2307.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *