Arli Aditya Parikesit, Ilmuwan Inisiator NiBTM (Episode 2)

Bagikan Artikel ini di:

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Arli Aditya Parikesit.

Di episode pertama bertajuk “Mutiara dari Indonesia” telah dikisahkan tentang prestasi, mahakarya, pencapaian, serta visi besar sesosok Arli belia. Baca Arli Aditya Parikesit, Ilmuwan Inisiator NiBTM (Episode 1).  Intuisinya yang tajam membuatnya menekuni IT sehingga ia sukses menjadi pakar bioinformatika sekaligus perintis NiBTM (Nano-neuroimmunobiotechnomedicine) bersama rekannya, Dito Anurogo (penulis) dan Taruna Ikrar.

Episode Kedua: Lain Dulu, Lain Sekarang

Arli Aditya Parikesit

 

Penemuan Jatidiri

Sosok Arli kini berbeda dengan yang dahulu. Arli kini terlihat begitu berbeda. Tampak begitu dewasa dan pemikiran-pemikirannya yang out of the box tak perlu diragukan. Sebenarnya, bagaimana sifat Arli dahulu?

Dahulunya, Arli seorang yang introvert, cenderung menarik diri dan sangat selektif dalam bergaul. Hal itu yang terlihat dari hasil psikotesnya saat awal SMA. Seiring berjalannya waktu, Arli menjadi lebih terbuka seperti saat ini.

Semasa bersekolah dahulu, Arli seorang kutu buku. Masa di mana teman-temannya bermain bola dan berolahraga, Arli kecil ”melarikan diri” ke perpustakaan. Di sanalah Arli membaca pelbagai buku dan berimajinasi tentang dunia.

Arli remaja sibuk mendalami berbagai macam aliran spiritual, Kundalini, Yoga, hingga Tasawuf. Padahal remaja seusianya sedang asyik-asyiknya menikmati masa muda, berpacaran, dan hang out dengan lawan jenis. Karena sifatnya yang cenderung menarik diri itulah sehingga Arli sering dikerjain dan menjadi sasaran bullying teman-temannya.

Biarlah semua itu berlalu. Perlakuan mereka telah termaafkan. Hanya saja perlakuan mereka saat itu malah justru menambah Arli menjadi sosok remaja yang semakin introvert. Arli merasa amat kecewa karena apa yang dibacanya di berbagai buku (filsafat, agama, dsb) amat berbeda dengan realitas kehidupan. Arli beberapa kali berdialektika dengan psikolog untuk menemukan solusi. Namun tetap saja Arli belum menemukan sahabat sejati yang memahami pemikirannya.

Berawal Depresi, Berakhir Solusi

Namanya juga manusia. Arli merasa seolah depresi. Dunia ini mendadak menjelma gelap. Nuansanya lebih hitam dari hitam. Saat itu semua oarng cenderung menyalahkannya. Banyak pula yang berkata bahwa pemikirannya sulit dipahami. Beberapa waktu Arli bersahabat dengan depresi. Arli sering merasa terasing di tengah-tengah orang-orang yang tak mampu memahaminya.

Roda kehidupan berputar. Di dunia ini, tiada kesedihan maupun kebahagiaan yang abadi. Suatu ketika, hadirlah sang Dewi Fortuna di kehidupan Arli. Ya, benar. Ada sesosok perempuan yang memahami pemikiran serta keresahan hatinya. Arli bersyukur, karena berkat sosok itulah, hidupnya berubah. Semua terasa indah. Arli kini menjadi sosok ilmuwan yang lebih terbuka, hangat, dan dapat menerima orang lain apa adanya. Di kemudian hari, sosok itu menjadi pendamping hidupnya yang setia.

Berprestasi tetapi Multihobi

Tidaklah benar bila ilmuwan itu hanya suka membaca, menulis, berdiskusi dan riset. Arli mengakui kalau dirinya memiliki banyak hobi, seperti: berenang, traveling, berpetualang, dan berwisata kuliner. Tentang hobi traveling, Arli mengaku pernah menjelajahi pulau Bali, Lombok, Kalimantan, dan Sumatera. Tentu semua itu dilakukannya di waktu luang. Tak banyak memang orang yang mengetahui hal tersebut.

Arli merasa malu dengan orang bule yang dapat berkeliling Indonesia. Ironisnya,  bule itu sering mengunjungi daerah-daerah yang bahkan orang Indonesia pun juga tidak terlalu paham. Oleh karena itu, Arli berkomitmen ke depannya untuk menjelajahi setiap jengkal tanah air, tentu bersama pasangan.

Kebahagiaan Arli sebagai perantau di Jerman adalah memiliki banyak sahabat yang berasal dari Indonesia. Tentu saja, sebagai perantau dan “kaum minoritas”, Arli bersama kawan-kawan memiliki rasa senasib-sepenanggungan. Terjalinlah persaudaraan yang erat. Arli sering diajak mereka untuk berwisata berkeliling Eropa.

Menjadi Besar Mengingat Akar

Arli kini telah menjadi pakar. Meskipun demikian, ia tidak melupakan akar budaya dan tradisi. Arli mengakui kalau dirinya masih menyukai gudeg. Gudeg itulah makanan Indonesia favoritnya.

Mengapa Arli menyukai gudeg? Ceritanya begini. Saat Arli tinggal di Jakarta Selatan, di depan rumahnya terdapat warung gudeg. Namanya Gudeg Pak Atmo. Rasanya unik dan khas, sehingga orang non Jawa pun menyukainya. Di situlah kepiawaian pemilik warung sehingga membuat gudeg menjadi makanan universal.

Sementara saat berada di Jerman, Arli menyukai roti. Di Jerman tersedia berbagai macam roti, untuk beragam keperluan. Uniknya, roti itu terbuat gandum yang berbeda. Terkadang Arli menjadi bingung saat membeli roti di bakery saking bervariasinya roti yang tersedia. (Bersambung – dr. Dito Anurogo, M.Sc.)

 

Disclaimer:

Tidak ada conflict of interest di dalam penulisan kisah inspiratif ini.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Arli Aditya Parikesit, Ilmuwan Inisiator NiBTM (Episode 1)

Bagikan Artikel ini di:

Artikel ini ditulis berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Arli Aditya Parikesit.

Dr. rer. nat Arli Aditya Parikesit merupakan salah satu pakar bioinformatika asal Jakarta. Bersama rekannya, Dito Anurogo (penulis) dan Taruna Ikrar, Arli mengembangkan riset NiBTM (Nano-neuroimmunobiotechnomedicine) atau bahasa awamnya adalah konstelasi pengetahuan lintas-multidisipliner yang memadukan antara kedokteran, nanoteknologi, neurosains, neurologi, imunologi, biomedis, biologi molekuler, dan teknologi terkini. Kajian NiBTM begitu holistik, komprehensif, dan multiperspektif.

Episode Pertama: Mutiara dari Indonesia

Arli Aditya Parikesit merupakan seorang doktor bioinformatika lulusan Universitas Leipzig, Jerman. Studi doktoral tersebut disponsori beasiswa penuh oleh DAAD (Dinas Pertukaran Akademis Jerman). Arli juga masih tercatat sebagai anggota HKI (Himpunan Kimia Indonesia). Di Laboratorium Bioinformatika Universitas Leipzig, Arli menjadi satu-satunya anggota laboratorium yang berasal dari Asia Tenggara.

Selain membidangi bioinformatika, Arli juga seorang ilmuwan di bidang kimia dan vice editor-in-chief Netsains.com. Arli pernah meniti karir sebagai peneliti di Laboratorium Bioinformatika, Departemen Kimia, Universitas Indonesia. Saat ini, Arli berkarir sebagai kepala di Department of Bioinformatics, School of Life Sciences, Indonesia International Institute for Life Sciences (I3L). Berkat kepiawaiannya di dalam leadership dan manajemen, prodi yang dipimpinnya berhasil meraih akreditasi B dari Dirjen Dikti. Padahal I3L baru diresmikan pada tahun 2014. Profil resmi pria kelahiran 27 Juni 1979 ini dapat diakses di:  i3l.ac.id.

Tidaklah berlebihan jika penulis memberikan julukan Mutiara dari Indonesia kepada Arli. Arli pernah menjadi satu-satunya peneliti dari Asia Tenggara yang memberikan presentasi oral makalah hasil penelitian di forum bioinformatikawan paling bergengsi di Eropa, yaitu ‘German Conference of Bioinformatics 2010′ di kota Braunschweig, Jerman. Judul makalahnya adalah’ Quantitative Comparison of Genomic-Wide Protein Domain Distributions’.

Arli juga menjadi satu-satunya presenter dari Asia Tenggara pada seminar musim dingin ‘Institute of Theoretical Biochemistry, University of Vienna‘ di Bled, Slovenia, 2010, dengan tajuk presentasi ‘Domain Distribution of Transcription Factor’. Terakhir, Arli juga satu-satunya orang Indonesia yang mempresentasikan poster penelitiannya pada ‘Leipzig Research Festival 2010′, dengan judul poster ‘Quantitative Measurement of Genome-wide Protein Domain Co-occurrence of Transcription Factors’.

Dari sekian banyak publikasi Arli, topiknya adalah seputar NiBTM (Nano-neuroimmunobiotechnomedicine).

Prestasi lain yang juga diperoleh penulis adalah menjadi juara pertama pada Lomba penulisan pemanfaatan perangkat lunak sistem terbuka/Open Source Software (OSS) 2009, yang diselenggarakan oleh kementrian Ristek. Tulisannya telah diterbitkan oleh majalah Biskom, berjudul ‘Pendekatan multidisiplin dalam masyarakat untuk menggunakan OSS’.

Adapun sebagian karya tulisnya sudah menghiasi publikasi ilmiah internasional. Di antaranya ‘Detection of Protein Domains in Eukaryotic Genome Sequences. Proceedings of 5th Brazilian Symposium on Bioinformatics, BSB 2010, Rio de Janeiro, Brazil, August 31-September 3, 2010. Lecture Notes in Bioinformatic’ (sebagai author pertama) ,‘In Silico Analysis of Hemagglutinin, Neuraminidase, and Matrix2 of H5N1 Virus Indonesia Strain Related to Its High Pathgenicity. IIOABJ, 2010′ (sebagai co-author), dsb. Selain itu, tulisan-tulisannya sering menghiasi kolom telematika Detiknet. Arli juga memberikan kontribusi artikel sains populer pada Majalah Infokomputer, Biskom, PCPlus, dan Koran Sinar Harapan.

Visi Besar di Kota Besar

Nama panggilannya sederhana, yakni Arli. Lahir dan tinggal di kota besar, yaitu Jakarta. Sejak lahir, rumahnya di Gandaria Jakarta Selatan sudah berupa jalan besar. Namun ketika ayah Arli baru tinggal di sana, daerah itu masih berupa perkebunan dan hutan. Sejak kecil, Arli telah akrab dengan permainan elektronik, seperti: nintendo, sega, playstation, dan sejenisnya. Namun sekarang tidak lagi. Ditanya tentang pets, awalnya Arli tidak terlalu suka hewan peliharaan. Belakangan Arli memelihara kucing setelah dibujuk kakaknya.

Sewaktu SD, orangtua Arli membeli komputer IBM PC kompatibel untuk keperluan kerja mereka. Sejak saat itulah Arli kecil bersentuhan dengan IT, karena orangtua selalu memintanya untuk ‘mengoprek’ komputer. Tujuannya tidak lain adalah agar penggunaan PC tersebut selalu nyaman. Atas dukungan orangtua, Arli pun banyak belajar otodidak mengenai IT. Arli sejak SMP telah piawai sebagai ”teknisi komputer”.

Didorong visi dan intuisinya yang tajam, Arli merasakan bahwa untuk berkuliah bidang IT maka diperlukan basic di bidang matematika yang sangat kuat. Arli sadar kalau penguasaan atas Matematika biasa saja. Namun di sekolah, secara kebetulan nilai ilmu kimia Arli selalu bagus. Atas pertimbangan itulah, Arli memutuskan untuk mendalami bidang Kimia murni di Universitas Indonesia. Arli kecil melihat ini merupakan pilihan yang sangat tepat. Terbukti di kemudian hari, Arli dapat mendalami bioinformatika dan menjadi perintis NiBTM (Nano-neuroimmunobiotechnomedicine) bersama rekannya, Dito Anurogo dan Taruna Ikrar. (Bersambung – dr. Dito Anurogo, M.Sc.)

 

Disclaimer:

Tidak ada conflict of interest di dalam penulisan kisah inspiratif ini.

 

Baca juga kisah inspiratif lainnya: Christopher Farrel, Pelajar SMA Indonesia yang Meneliti Data Compression dan Diundang Google

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: