Film Joker (2019): Analisis Penyebab Gangguan Jiwa Pada Arthur Fleck

Film Joker (2019): Analisis Penyebab Gangguan Jiwa Pada Arthur Fleck

Film Joker kembali menyadarkan kita bahwa gangguan jiwa itu sangat bahaya dampaknya, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Dalam film tersebut, diceritakan bahwa Arthur Fleck mengalami pseudobulbar affect, yang didefinisikan sebagai episode tertawa atau menangis secara tidak sengaja, tiba-tiba, tidak terkendali, dan sering terjadi berulang yang umumnya tidak proporsional atau tidak sesuai dengan situasi. Selain itu, ibunya yaitu Penny Fleck, mengalami gangguan kepriadian narsisistik dan gangguan delusional. Terlepas dari apakah mungkin rekam medis Penny dipalsukan oleh Thomas Wayne untuk menutupi kisah masa lalunya dengan Penny atau memang benar Penny mengalami gangguan jiwa, kita akan lebih fokus ke gangguan jiwa tersebut.

Pengertian dari gangguan jiwa adalah sindroma yang ditandai oleh gangguan klinis yang secara signifikan mengganggu kognitif individu, regulasi emosi atau perilaku yang mencerminkan disfungsi psikologis, proses biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental. Kita perlu menandai di bagian kata “sindroma” dan “disfungsi”. Sindroma adalah kumpulan dari symptom atau gejala. Lalu, bagaimana cara kita mengukur disfungsi psikologis, proses biologis, atau perkembangan yang mendasari fungsi mental? American Psychiatric Association (APA) sudah mengembangkan kuesioner sebagai alat diagnosis untuk gangguan jiwa atau psikiatri yaitu Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-5 (DSM-5).[1]

Manusia merupakan hasil interaksi antara badan, jiwa, dan lingkungan (fisik dan sosial). Ketiga unsur ini saling memengaruhi sejak saat pembuahan. Oleh karena itu, dalam memecahkan masalah yang berkaitan dengan manusia, kita harus memperhatikan dan mempertimbangkan segala aspek tersebut sebagai suatu kesatuan, yang disebut pendekatan holistik. Apa pentingya pendekatan holistik? Dalam hal ini, pendekatan holistik juga diperlukan dalam menganilisis penyebab gangguan jiwa pada seseorang.[3]

Selain itu, menurut Hendrik L. Blum (1974), faktor-faktor yang mempengaruhi derjat kesehatan ada empat, yaitu: gaya hidup, lingkungan (sosial, ekonomi, politik, budaya); pelayanan kesehatan, dan faktor genetik (keturunan). Keempat determinan tersebut saling berinteraksi dan akan mempengaruhi status kesehatan seseorang. Arthur Fleck menderita sakit jiwa karena keempat determinan itu ada yang tidak terpenuhi, terpenuhi tetapi tidak cukup, atau semuanya tidak terganggu.[4]

Diambil dari: https://bastamanotes.wordpress.com/2017/11/24/teori-h-l-blum/

Sumber stres psikologi yang dapat dibagi menjadi tiga yaitu:

  1. Frustasi

Frustasi muncul ketika ada hambatan antara kita dan tujuan kita. Frustasi dapat muncul karena stressor dari dalam maupun dari luar tubuh, sehingga penilaian diri sendiri menjadi buruk. Frustasi yang muncul dari dalam tubuh misalnya cacat fisik atau kegagalan dalam usaha dan yang timbul dari luar antara lain, bencana alam, persaingan yang berlebihan, pengangguran, kecelakaan, kematian orang tercinta, dan lain-lain. Dalam kasus Arthur, ia mengalami frustasi ketika ia sangat ingin tampil sebagai pelawak yang lucu dan mampu membuat setiap orang bahagia saat mendengar leluconnya, namun ia justru memiliki pseudobulbar affect yang membuatnya tertawa tanpa sebab, sehingga membuatnya ditertawakan bukan karena ia lucu, tetapi lebih karena dianggap menyedihkan. Selain itu, ia harus menjadi pengangguran karena dikhianati oleh sahabatnya sendiri, dan membuatnya gagal untuk menggapai mimpinya.[3]

  1. Konflik

Konflik terjadi jika kita tidak dapat memilih antara dua atau lebih macam kebutuhan atau tujuan.[3]

  1. Tekanan

Tekanan juga dapat menimbulkan masalah penyesuaian. Tekanan sehari-hari yang terlihat kecil, jika dibiarkan menumpuk dan berlangsung lama, dapat menimbulkan stres yang hebat. Seperti yang kita saksikan di film, hidup Arthur memang sebuah tragedy yang di dalamnya banyak tekanan. Kehidupannya mendapat tekanan dari berbagai pihak, walaupun ia sudah merasa melakukan yang terbaik dalam kehidupannya. Mendapat keluhan dari atasan, diganggu oleh anak-anak iseng di jalanan saat ia bekerja, dan ia semakin tidak dihargai orang-orang dan dianggap aneh karena tertawa tanpa sebab. Bahkan saat ia belum sempat menjelaskan apa penyakitnya, orang-orang justru memilih untuk tidak sabaran dan memukulnya, ini di adegan kereta bawah tanah ketika akhirnya ia memutuskan untuk menembak tiga pegawai Wayne yang mengganggu seorang wanita dan memukulinya habis-habisan.[3]

  1. Krisis

Krisis adalah keadaan karena stressor mendadak dan besar yang menimbulkan stress pada seseorang individu atau pun suatu kelompok. Misalnya: kematian, kecelakaan, penyakit yang memerluka operasi, atau masuk sekolah untuk pertama kali. Dalam hipotesis saya, krisis yang terjadi pada Fleck adalah ketika ia mendengar pernyataan dari Thomas Wayne yang menyatakan bahwa ibunya mengalami gangguan delusional dan hubungan antara ia dan ibunya hanyalah delusi semata. Kemudian, ternyata hal itu didukung oleh rekam medis yang ia curi di rumah sakit jiwa yang menyatakan ibunya menderita gangguan delusional dan gangguan kepribadian narsisistik. Ibunya dulu menganiaya anaknya sendiri, yaitu dirinya, karena anaknya menangis, padahal sebelumnya selalau terlihat bahagia. Kejadian ini bahkan sampai mengakibatkan trauma otak berat pada Arthur kecil. Usai membaca rekam medis itu, Arthur yang sebelumnya sudah terganggu jiwanya, mendapatkan stressor yang lebih besar dan mendadak, sehingga membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidup ibunya saat itu juga karena merasa penderitaan yang selama ini ia alami adalah karena kesalahan ibunya.[3]

Individu yang melakukan perilaku abnormal atau dinyatakan sakit jiwa, ketika ia tidakmampu atau gaga luntuk melakukan kompensasi stres terhadap masalah yang dihadapinya. Hal ini disebut dekompensasi mental. Biasanya, hal ini terjadi ketika stressor terus menerus menempa seseorang kita, sampai pada nilai ambang stress (frustration threshold) yang dimiliki seseorang. Frustration threshold setiap orang berbeda-beda tergantung keadaan somato-psiko-sosial seseorang. Setiap orang mepunayi cxara sendiri untuk menysuaikan diri terhadap stres, karena penilaian terhadap stressor dan stress berbeda (faktor internal) dan karena tuntutan tiap individu berbeda (faktor eksternal). Hal ini tergantung pada usia, seks, kepribadian, inteligensi, emosi, status sosial, dan pekerjaan individu.[3]

Sebelum masuk ke tahap dekompensasi mental, individu pasti sudah berusaha melakukan kompensasi stres dengan cara penyesuaian (task oriented) atau mekanisme pembelaan ego (ego defense oriented) untuk mempertahankan kesehatan mentalnya. Task oriented bertujuan untuk menghadapi tuntutan keadaan yang menjadi stressor. Akan tetapi, jika stress itu mengancam kemampuan dan harga dirinya, maka reaksi yang muncul akan cenderung ego defense oriented, yang tujuan utamanya untuk melindungi diri sendiri terhadap rasa evaluasi diri yang buruk secara berlebihan dan meringankan ketegangan serta kecemasan yang menyakiti.[3]

Joker memutuskan untuk melakukan salah satu mekanisme pembelaan ego (MPO) yaitu rasionalisasi. “Orang jahat adalah orang baik yang disakiti.” Katanya. Faktanya, ia hanya melakukan pembenaran atau rasionalisasi atas perbuatan-perbuatan jahat yang ia lakukan dengan mengatakan bahwa ia orang baik yang sudah disakiti banyak orang. Lalu, apakah pernyataannya sepenuhnya salah? Tentu tidak. Namun, rasionalisasi berlebihan akan membuat seseorang justru akan semakin lari dari kenyataan dan tidak mau mengahadapi masalahnya. Ia juga melakukan displacement, yaitu saat melampiaskan kemarahannya pada tempat sampah untuk mengurangi kecemasan dan kekecewaannya. Selain itu, ia juga menyalahkan pejabat publik dan orang-orang kaya karena mereka hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pernah memedulikan rakyat kecil seperti dirinya.[3]

Dari sisi teori hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan manusia ada lima macam yaitu: kebutuhan fisiologis (physiology), rasa aman (safety), cinta (love), rasa percaya diri (esteem), dan self-actualization. Seperti yang kita tahu, kebutuhan fisiologis Joker saja sudah tidak terpenuhi dengan baik, ia memiliki badan yang kurus kering dan saya mempunyai hipotesis bahwa Body Mass Index (BMI) Joker masuk dalam kategori underweight atau bahkan malnutrisi. Hal ini tentunya semakin memperparah kesehatan mental Joker.[4]

Diambil dari: https://www.coachilla.co/blog/the-new-hierarchy-of-needs

[1] Science In The News (SITN) Harvard Integrated Life Sciences (HILS), diakses 12 Oktober 2019 pukul 23.25 WIB <http://sitn.hms.harvard.edu/wp-content/uploads/2015/04/Psych_DayCon_060315.2.pdf>

 [2] Sadock BJ, Sadock VA, dan Ruiz V, 2015, Contribution of The Psychososial Sciences, In : Pataki CS, Sussman N (Eds.), 11th edn, Synopsis of Psychiatry Behavioral Science/Clinical Psychiatry.

[3] Maramis WF & Maramis AA, 2012, Ilmu Kedokteran Jiwa, Edisi Kedua, Airlangga University Press

[4] Setiawan FEB, 2018, Ilmu Kedokteran Keluarga, UMM Press