Benarkah Gempa dan Tsunami dapat Disebabkan oleh HAARP atau Blue Beam?

Gempa bumi pada Jumat (30/10/2020) dengan magnitudo 7.0 telah melanda Laut Aegea yang berdampak di Turki dan Yunani [1]. Gempa tersebut juga memicu “tsunami mini” yang menyebabkan jalan-jalan banjir di beberapa bagian provinsi Izmir di Turki, serta di pulau Samos, Yunani [2]. Per tanggal 3 November 2020, dilaporkan korban jiwa telah mencapai 102 orang dengan 100 kematian terjadi di kota Izmir dan 2 lainnya di pulau Samos.

blank
Episentrum Gempa Bimi yang melanda Turki dan Yunani pada 30/10/2020

Banyak pihak yang menyangkutpautkan gempa bumi dan tsunami tersebut dengan teori konspirasi HAARP atau Blue Beam. Hubungan Turki yang sedang memanas dengan Perancis juga menjadi bahan bakar bagi mereka yang mempercayai teori konspirasi bencana, dimana menurut logika konspirasi tersebut Perancis meminta bantuan Amerika (lokasi HAARP dan Blue Beam) untuk “menyerang” Turki menggunakan HAARP atau Blue Beam.

blank
Presiden Amerika bersalaman dengan Presiden Perancis

Namun, mereka yang mempercayai konspirasi bencana seolah menyangsikan bahwa bukan hanya Turki yang terkena dampak gempa bumi dan tsunami melainkan juga Yunani. Proses memilih data yang menyokong apa yang diklaimnya (Turki terkena gempa & tsunami) dan menghiraukan sebagian atau keseluruhan data yang justru membantah klaimnya (Yunani juga terkena gempa & tsunami) termasuk dalam kesesatan logika yang disebut Cherry Picking.

Cherry picking selanjutnya adalah mereka menghiraukan fakta bahwa Turki dilintasi garis patahan dan rawan gempa bumi. Pada 2011 lalu, lebih dari 500 orang tewas akibat gempa di kota Van Turki [7]. Sementara pada awal tahun ini, gempa juga menewaskan 41 orang di provinsi Elazig. Sementara itu, dua gempa kuat melanda Turki pada tahun 1999 dan menewaskan 18 ribu orang di Turki Barat [3].

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia turut menerangkan sumber gempa magnitudo 7,0 yang mengguncang Turki dan Yunani. Menurut analisis data BMKG, gempa Turki yang mengundang tsunami mini dipicu aktivitas Sesar Sisam di Laut Aegea. “Sejarah mencatat bahwa di sekitar Sesar Sisam sudah beberapa kali terjadi gempa kuat pada masa lalu seperti pada 1904 (6,2 M) dan pada 1992 (6,0 M),” ungkap Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Daryono di Jakarta, Sabtu 31 Oktober 2020 [4]. Sesar Sisam (Sisam fault) adalah sebuah sesar aktif dengan mekanisme pergerakan turun (normal fault) dengan panjang jalur sesar sekitar 30 kilometer [8]. Pada gempa Jumat (30/10/2020), sesar dekat Pulau Samos tersebut ‘pecah’ dekat menderes graben, satu wilayah yang sudah memiliki sejarah panjang gempa bumi akibat sesar turun. Graben atau slenk adalah hasil dari patahan pada kulit bumi yang mengalami depresi dan terletak di antara dua bagian yang lebih tinggi. Dikarenakan mekanisme patahannya yang bergerak turun dan hiposenter gempanya sangat dangkal (hanya sekitar 6 km) maka wajar jika gempa ini memicu terjadinya tsunami.

blank
Skema aktivitas sesar Sisam yang memicu gempa dan tsunami di Turki dan Yunani

Jadi klaim konspirasi bahwa gempa dan tsunami yang terjadi di Turki disebabkan oleh HAARP atau Blue Beam bersifat sesat logika (cherry picking) dan tidak memiliki landasan yang kuat serta valid.

Jika ada teori yang memilki landasan kuat dan bisa dibuktikan validitasnya, untuk apa mempercayai teori yang tidak memiliki landasan bahkan belum bisa dibuktikan validitasnya?

Selain gempa dan tsunami yang terjadi di Turki, banyak gempa dan tsunami yang dianggap disebabkan oleh HAARP.

Penjelasan singkat tentang HAARP dan Blue Beam

High Frequency Active Auroral Research Program (HAARP) atau Program Penelitian Aurora Aktif Frekuensi Tinggi adalah program penelitian ionosfer yang dibangun dengan tujuan untuk menganalisis ionosfer dan menyelidiki potensi pengembangan teknologi ionosfer baru untuk komunikasi radio dan pengintaian. Lapisan ionosfer disebut juga lapisan termosfer dan termasuk  lapisan atmosfer yang berada di urutan keempat dari bawah atau kedua dari atas. Secara umum, ada beberapa manfaat dari lapisan ionosfer yang dapat dirasakan oleh manusia secara langsung maupun tidak langsung yakni [9]:

  1. Memantulkan gelombang radio ke bumi
  2. Sebagai lapisan yang melindungi bumi dari jatuhnya meteor
  3. Sebagai lapisan yang menghasilkan cahaya indah, yakni aurora

Program HAARP yang meneliti ionosfer tersebut beroperasi di sebuah lahan milik Angkatan Udara dekat Gakona, Alaska, Amerika Serikat dan bersifat non-rahasia sehingga banyak institusi ilmiah prestisius turut berpartisipasi merancang dan membangun instrumen sekaligus terlibat dalam riset jangka panjang, seperti UCLA, Stanford University, John Hopkins University, Massachussets Institute of Technology, Polytechnic Institute of New York University dan bahkan dari mancanegara seperti University of Tokyo (Jepang) [6]. HAARP telah lama jadi target teori konspirasi, pusat spekulasi liar bahwa program tersebut dirancang untuk mengendalikan cuaca, bahkan lebih buruk lagi: gempa.

blank
Suasana di dalam lokasi HAARP

Terkait dengan gempa dan tsunami yang melanda Turki dan Yunani, gempa dengan nilai skala 7.0 skala Richter setara dengan pelepasan energi sebesar 476 kiloton TNT atau 1.990 trilyun Joule. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh [6], dengan energi HAARP sebesar 3,6 megawatt (3,6 juta Joule per detik) dan untuk melepaskan energi HAARP sebesar 1.990 trilyun Joule maka HAARP harus terus-menerus dinyalakan selama 2.760 trilyun detik atau setara 87 juta tahun! Sesuatu yang tidak mungkin karena HAARP baru dibangun pada tahun 1990.

Tidak hanya pada tahun 2020 HAARP dianggap dapat menyebabkan gempa. Sepuluh tahun yang lalu tepatnya pada 2010,  Presiden Venezuela saat itu, Hugo Chavez, menuding Amerika menggunakan HAARP atau semacam itu untuk memicu gempa 7,0 SR di Haiti yang merenggut 200 ribu jiwa. Chavez menuduh Amerika menggunakan gempa Haiti sebagai dalih untuk menduduki negara itu dengan cara mengirimkan tentara dengan dalih membantu korban gempa, padahal para ilmuwan menyebut bahwa gempa Haiti ternyata disebabkan oleh patahan (fault) yang belum pernah dipetakan [10].

Teori lain yang muncul dalam “bencana buatan yang seolah-olah hanya melanda Turki” ini yaitu Project Blue Beam (proyek kabut biru). Project Blue Beam adalah teori konspirasi yang mengklaim bahwa NASA bekerja sama dengan kekuatan “kuat” lainnya untuk memulai tatanan dunia baru, melalui “kedatangan kedua” Sang Juru selamat yang disimulasikan secara teknologi. [5]. Teori ini juga tidak memiliki landasan yang kuat dan valid.

Referensi

[1] https://www.cnbcindonesia.com/news/20201101130100-4-198399/gempa-turki-tsunami-39-orang-tewas-800-lebih-luka-luka diakses pada 4 November 2020.

[2] https://dunia.tempo.co/read/1401573/korban-meninggal-gempa-turki-tembus-80-orang-pencarian-terus-berlanjut/full&view=ok diakses pada 4 November 2020.

[3] https://www.medcom.id/internasional/eropa-amerika/8N0jqvrk-korban-gempa-turki-dan-yunani-lampaui-100-orang diakses pada 4 November 2020.

[4] https://tekno.tempo.co/read/1401159/top-3-tekno-berita-hari-ini-gempa-turki-hati-hati-sesar-aktif-dasar-laut/full&view=ok diakses pada 4 November 2020.

[5] https://www.kompasiana.com/hnirankara/5f9cd9db8ede485a133608c2/gempa-turki-yunani-dan-teori-konspirasi diakses pada 4 November 2020.

[6] https://langitselatan.com/2012/11/19/kisah-haarp-gempa-dan-badai-sandy/ diakses pada 4 November 2020.

[7] Fielding, E. J., Lundgren, P. R., Taymaz, T., Yolsal‐Çevikbilen, S., & Owen, S. E. (2013). Fault‐slip source models for the 2011 M 7.1 Van earthquake in Turkey from SAR interferometry, pixel offset tracking, GPS, and seismic waveform analysis. Seismological Research Letters84(4), 579-593.

[8] Ocakoğlu, N., Demirbağ, E., & Kuşçu, İ. (2004). Neotectonic structures in the area offshore of Alaçatı, Doğanbey and Kuşadası (western Turkey): evidence of strike-slip faulting in the Aegean extensional province. Tectonophysics391(1-4), 67-83.

[9] https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/meteorologi/lapisan-ionosfer diakses pada 10 November 2020.

[10] https://www.liputan6.com/global/read/2053633/penyebab-bencana-dunia-as-tutup-program-pemicu-teori-konspirasi diakses pada 10 November 2020.

Setelah selesai membaca, yuk berikan artikel ini penilaian!

Klik berdasarkan jumlah bintang untuk menilai!

Rata-rata nilai 0 / 5. Banyaknya vote: 0

Belum ada yang menilai! Yuk jadi yang pertama kali menilai!

Baca juga:
Nur Abdillah Siddiq
Sosial Media
Artikel Berhubungan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *