Membongkar Mitos Negative Pricing Listrik Jerman

Bagikan Artikel ini di:

Di media sosial, meme tentang Jerman “membayar” pelanggan untuk menggunakan listrik kembali beredar. Klaimnya, hal itu merupakan keberhasilan dari “energi terbarukan,” yang kemudian membuat publik berkhayal hal tersebut bisa diterapkan di Indonesia. Meme tersebut bukan meme baru, tetapi entah kenapa kembali bersirkulasi.

Gambar 1. Meme tentang kelebihan pasokan listrik berlebih yang disalahpahami.

Pertanyaannya, benarkah isi meme tersebut? Ramainya penyebaran meme tentang negative pricing dengan sentiment positif mengisyaratkan bahwa publik sama sekali tidak paham tentang sistem kelistrikan di Jerman.

Pertama, patut dipahami dulu bahwa sistem kelistrikan di Jerman terprivatisasi total [1]. Artinya, mulai dari sektor hulu sampai hilir sama sekali tidak dipegang oleh negara, melainkan oleh swasta. Pembangkitan listrik, transmisi listrik, distribusi listrik, bisa dipegang oleh perusahaan yang berbeda-beda. Negara tidak hadir dalam bentuk BUMN, perannya hanya sebagai regulator [2].

Baca juga: Meluruskan Salah Kaprah Tentang Membaca Kapasitas Pembangkit Listrik

Kedua, penguasaan total oleh swasta berarti penyediaan layanan kelistrikan berbasis pada untung-rugi, bukan murni pelayanan masyarakat [3]. Semua perusahaan yang terlibat pasti mengharapkan keuntungan, dan akan menjual “elektron” ke perusahaan di level di bawahnya dengan margin keuntungan.

Sebagai ilustrasi, misalkan harga listrik dari pembangkit seharga USD 3 sen/kWh. Perusahaan pembangkit kemudian menjual ke perusahaan transmisi seharga USD 6 sen/kWh. Lalu, perusahaan transmisi menjual ke perusahaan distribusi seharga USD 9 sen/kWh. Masyarakat kemudian membayar USD 15 sen/kWh ke perusahaan distribusi setelah melewati perusahaan jasa sales listrik. Jadi, harga keluar dari pembangkit ke pengguna naik 500%! Belum termasuk berbagai pajak dan biaya yang harus dibayarkan.

Ketiga, jika listrik dikuasai swasta dan jelas bahwa orientasi mereka adalah keuntungan, maka dari mana ceritanya mereka bisa membayar masyarakat untuk memakai listrik? Jawabannya sederhana: SUBSIDI [4]. Negara memberi subsidi, melalui berbagai jenis peraturan dan regulasi  Subsidi ke siapa? Perusahaan energi! Khususnya yang mau menggunakan “energi terbarukan,” yang notabene menjadi bahasan meme tersebut.

Walau sering digembargemborkan murah, nyatanya “energi terbarukan” itu tidak murah dan sulit untuk berharap bisa benar-benar murah. Berita-berita tentang panel surya dan turbin angin harganya semakin lama semakin turun adalah bagian dari How to Lie with Statistics [5]. Harga pembangkit lebih murah tidak secara langsung menyebabkan harga listrik murah, karena masih tergantung pada aspek-aspek lain, entah itu usia pakai, faktor kapasitas, maupun integrasi dengan jaringan listrik.

“Energi terbarukan” sangat tergantung pada belas kasih cuaca yang tidak selalu stabil. Karena keandalannya yang rendah dan site-limited, “energi terbarukan” akhirnya menjadi mahal [6]. Ini merupakan sifat melekat dan tidak bisa diakal-akali menggunakan teknologi lain. Masalah fisika, bukan engineering.

Berdasarkan alasan tersebut, maka wajar jika perusahaan swasta harus diiming-imingi insentif dan subsidi dulu supaya mau berinvestasi di “energi terbarukan.” Kalau tidak ada subsidi, ekspansi “energi terbarukan” tidak akan seperti sekarang. Warren Buffett, miliuner yang berinvestasi di energi bayu, mengakui terang-terangan bahwa satu-satunya alasan membangun turbin angin adalah karena adanya subsidi dari negara [7].

Baca juga: Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Lokal

Kelima, kenapa bisa terjadi negative pricing? Listrik yang terprivatisasi penuh membuat hukum pasar bekerja: suplai berlebih, harga jatuh. Sifat sistem kelistrikan adalah produksi dan konsumsi harus sama, kalau tidak jaringan listrik bisa terganggu bahkan jebol. Negative pricing terjadi ketika produksi dari “energi terbarukan” berlebih tetapi permintaan rendah. Bauran “energi terbarukan” dalam jaringan listrik dapat menimbulkan power surge utamanya ketika matahari sedang bersinar sangat terang atau angin berembus kencang [8]. Hal ini menyebabkan pembangkitan listrik jadi sangat berlebih dan tidak sesuai dengan kebutuhan, sehingga membahayakan jaringan. Untuk mencegah gangguan pada sistem pembangkit maupun jaringan listrik, perusahaan yang mendapat subsidi dari negara menggunakan subsidi itu untuk “membayar” masyarakat agar menggunakan listrik.

Jadi pada hakikatnya, negative pricing tidak pernah disebabkan oleh harga “energi terbarukan” yang murah, melainkan subsidi negara/pemerintah pada perusahaan kelistrikan yang kemudian diberikan pada masyarakat.

Keenam, harga wholesale tidak sama dengan harga retail. Dalam pasar kelistrikan yang terliberalisasi, harga listrik berubah dari waktu ke waktu [9]. Dari harga sangat mahal menjadi sangat murah bahkan negatif. Pertanyaannya, berapa lama negative wholesale price itu terjadi? Apakah lebih lama atau lebih sebentar dari expensive wholesale price?

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Realitanya, negara-negara yang banyak mengintegrasikan “energi terbarukan” ke jaringan listrik mereka memiliki retail price, alias harga riil, paling mahal. Denmark, sebagai contoh, retail price listrik mereka mencapai EUR 31,23 sen/kWh, sementara Jerman mencapai EUR 30 sen/kWh. Angka-angka tersebut merupakan harga tertinggi di Eropa. Sementara, negara-negara dengan bauran “energi terbarukan” lebih rendah, seperti Inggris Raya dan Prancis, memiliki retail price lebih rendah (EUR 20,24 sen/kWh dan EUR 17,99 sen/kWh) [10].

Gambar 2. Harga listrik rumah tangga di Eropa. Tampak bahwa Denmark (DK) dan Jerman (DE) termasuk yang paling mahal. (sumber: Eurostat)

Di Amerika Serikat, California memiliki bauran “energi terbarukan” cukup tinggi. Namun, harga listriknya lebih tinggi daripada rerata negara-negara bagian Amerika Serikat lain dengan bauran “energi terbarukan” lebih rendah. Padahal, California juga mengalami negative pricing [11].

Gambar 3. Harga listrik di California lebih tinggi dari rerata Amerika Serikat (sumber: Environmental Progress)

Dengan demikian, walau terkesan bahwa masyarakat “dibayar” untuk menggunakan listrik, dibandingkan dengan negara lain yang sistem kelistrikannya tidak serumit Jerman (dan negara dengan bauran “energi terbarukan” tinggi lain), harga yang harus dibayarkan masyarakat untuk listrik justru lebih mahal! Bauran “energi terbarukan” lebih dari 25% dalam jaringan listrik akan meningkatkan probabilitas terjadinya negative pricing secara eksponensial, dan ini jelas bukan hal yang sehat [12].

Memahami informasi secara setengah-setengah memang memiliki kecenderungan menyesatkan. Untuk menilai secara adil, harus dipahami sistem kelistrikan yang berlaku secara keseluruhan. Terkait kasus negative pricing, maka pemahaman menyeluruh membuktikan pada kita bahwa realitanya sama sekali berbeda dengan pemahaman publik. Bahwa “energi terbarukan” memang menyebabkan negative pricing, tetapi tidak membuat harga listrik keseluruhan lebih murah, malah sebenarnya lebih mahal.

Referensi

  1. Matthias Heddenhausen, 2007. Privatisations in Europe’s liberalised electricity markets – the cases of the United Kingdom, Sweden, Germany, and France. Berlin: Research Unit EU Integration.
  2. Torsten Brandt, 2006. Liberalisation, privatisation and regulation in the German electricity sector. Dusseldorf: Wirtschafts- und Sozialwissenschaftliches Institut.
  3. Hannes Weigt, 2009. A Review of Liberalization and Modeling of Electricity Markets. Available online at https://mpra.ub.uni-muenchen.de/65651/
  4. Andrei Morch et al, 2016. Post-2020 framework for a liberalised electricity market with a large share of renewable energy resources. Norway: Market4Res.
  5. Darrell Huff, 1954. How to Lie with Statistics. New York: W. W. Norton & Company.
  6. Andika Putra Dwijayanto, 2017. Let’s Run the Numbers: Menguji Klaim Antara Energi Nuklir dan “Energi Terbarukan”. Available online at http://bit.ly/letsrunnumber
  7. Nancy Pfotenhauer. Big Wind’s Bogus Subsidies. Accessed from https://www.usnews.com/opinion/blogs/nancy-pfotenhauer/2014/05/12/even-warren-buffet-admits-wind-energy-is-a-bad-investment
  8. Liam Stoker. ‘Unprecedented’ events send UK power market into negative pricing for six hours straight. Accessed from https://www.current-news.co.uk/news/unprecedented-events-send-uk-power-market-to-negative-pricing-for-six-hours-straight
  9. International Energy Agency, 2005. Lesson from Liberalised Electricity Markets. Paris: IEA.
  10. Electricity Price Statistics. Accessed from https://ec.europa.eu/eurostat/statistics-explained/index.php/Electricity_price_statistics
  11. Environmental Progress. California. Accessed from http://environmentalprogress.org/california
  12. Milou J. Saraber, 2016. Negative Electricity Prices in the German Electricity Market. Thesis, Rotterdam School of Management, Erasmus University.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Proses Reaksi CO2 Menjadi Metanol

Bagikan Artikel ini di:

Pada tulisan sebelumnya tentang Bahan Katalis yang mengubah CO21 menjadi methanol. Maka kali ini akan dibahas apa yang sebenarnya terjadi dalam reaksi kimia tersebut.

Perlu dikatahui bahwa katalis adalah bahan yang dapat mempercepat reaksi. Reaksi kimia dapat diibaratkan sebagai sebuah rooler coaster. Maka, sebelum rooler coaster dapat bergerak secara otomatis melewati lintasan naik turun. Dia perlu energi untuk membawa “bola” menuju titik awal reaksi. Energi ini dalam ilmu kimia disebut dengan energi aktivasi. Sekali energi aktivasi terlampaui, maka bola akan menggelinding mengikuti lintasan. Jika menemukan turunan akan semakin cepat dan jika mengalami tanjakan yang lebih tinggi bisa berhenti kalau tidak diberi tambahan dorongan.

Contoh energi aktivasi misalkan kalau ingin menyalakan lilin. Lilin terbakar karena ada lilin dan udara. Namun agar lilin bisa menyala kita perlu menggunakan korek api. Memanaskan atau membakar lilin dengan menggunakan api dari korek api. Secara kimia, kita memberikan energi atau membawa lilin agar bisa menggelinding seperti rooler coaster tadi.

Fungsi dari katalis adalah menurunkan energi aktivasi atau memperendah ketinggian awal rooler coaster sehingga energi yang digunakan untuk mengangkat bola lebih rendah.

Pada proses reaksi CO2 menjadi methanol2. Setelah energi aktivasi lebih rendah oleh katalis Cu4. Reaksi akan berjalan lebih cepat. Dalam perjalanannya, ternyata ada persimpangan 2 lintasan. Satu lintasan menuju hasil akhir methanol (warna biru), satu lintasan menuju hasil akhir gas CO3 (warna hitam). Akan tetapi, hasil penelitian menunjukkan bahwa lintasan menuju CO lebih tinggi (terdapat tanjakan) dibandingkan dengan lintasan menuju methanol dengan nilai 1,08 dan 0,18 eV. Maka, reaksi akan berjalan menuju lintasan reaksi methanol. Lebih jelas lihat Gambar.

Proses Reaksi Kimia CO2 jadi Methanol

Dalam perjalanan selanjutnya, terdapat 2 persimpangan. Satu jalan menuju hasil reaksi CH44 (warna merah) dan satu lintasan menuju hasil reaksi methanol. Karena energi aktivasi lintasan CH4 lebih tinggi (1,69 eV) maka reaksi akan berjalan menuju hasil reaksi methanol.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses diatas akan terjadi jika suhu reaksi berada dibawah 225 °C. Sedangkan diatas 325 °C maka akan terjadi reaksi menjadi CO atau CH4 karena saat melintasi persimpangan, energi dari “bola” cukup besar sehingga bisa melampaui energi aktifasi atau tanjakan.

Kalau dilihat secara menyeluruh dari titik awal dan titik akhir, reaksi CO2 menjadi CH4 lebih rendah titik akhirnya namun, karena reaksi merupakan suatu proses. Maka produk yang dihasilkan bisa direkayasa.

1 CO2 adalah gas rumah kaca hasil pembakaran yang menyebabkan pemanasan global

2 methanol memiliki rumus kimia CH3OH dikenal pula dengan sebutan spiritus

3 CO adalah gas berbahaya yang dapat menyebabkan kekurangan oksigen dalam darah

4 CH4 adalah gas methane yang ada dalam LNG

Referensi:

Liu dkk, J. Am. Chem. Soc., 2015, 137 (27), pp 8676–8679

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: