Mengejutkan! Kemungkinan besar kita hidup dalam simulasi komputer!

Mengejutkan! Kemungkinan besar kita hidup dalam simulasi komputer!

Selama ini, kita merasa bahwa segala hal yang terjadi begitu nyata, dan yakin betul bahwa kita dan semua orang lainnya pun memiliki “kesadaran” penuh atas segala yang terjadi di dunia ini. Lalu, bagaimana jadinya kalau ternyata selama ini kita hanyalah hidup dalam sebuah simulasi komputer layaknya di film The Matrix? Kasarnya, kita bukanlah hal yang benar-benar nyata, dan kesadaran kita hanyalah bagian dari program “simulasi” ini. Selain itu, hal ini berarti bahwa ada “sesuatu” yang lebih “tinggi” dari kita yang ternyata mengendalikan kita di balik semua ini, layaknya permainan The Sims.

Pemikiran ini disebut juga sebagai teori simulasi (simulation theory). Hipotesa ini pertama kali dikenalkan secara luas di sebuah jurnal yang ditulis oleh seorang ahli filosofi Oxford bernama Nick Bostrom pada tahun 2003. Dalam tulisannya, ia memaparkan pemikirannya bahwa sebenarnya ada banyak simulasi realita yang dibuat beserta dengan karakter dengan kecerdasan buatan di dalamnya. Dibahasannya, para karakter itu disebutkan tidak tahu bahwa mereka hanyalah tinggal di simulasi. Dan kemungkinan kita bukanlah satu-satunya simulasi yang “mereka” buat.

Sebenarnya, ide gila ini bukan murni ide baru. Bahkan sebelum teori simulasi ini dicetuskan, sudah ada banyak hipotesa baik secara saintifik maupun filosofis yang mengatakan bahwa realita ini hanyalah sebuah ilusi. (hanya saja waktu itu manusia belum mengenal kata “simulasi”). Hipotesa ini bahkan bisa dilacak kembali sampai ke zaman dahulu, seperti filosofi Maya yang terbentuk di masyarakat India.

Hipotesa ini pun menjadi terkenal semenjak adanya tulisan Bostrom itu. Bahkan, Elon Musk saja dapat dikatakan sependapat dengan hipotesa kontroversional ini. Elon Musk berpendapat, semakin kesini video game yang dapat kita buat kualitas grafiknya jadi semakin baik. Ia yakin suatu saat nanti, akan sampai di titik dimana kita tidak bisa membedakannya dengan “realita”.

sebuah grafik game yang sangat realistis
sebuah grafik game yang sangat realistis

Sampai sekarang, hipotesa ini belum terbukti kebenarannya karena kita tidak bisa membuktikan diri kita sendiri apakah kita hidup dalam simulasi atau bukan. Tapi, banyaknya bukti yang mendukung tentu akan membuat kita semakin penasaran akan kebenarannya.

Lalu, apa saja bukti kalau kita memang hidup di dalam sebuah simulasi layaknya The Sims?

1.DNA yang mengandung virus komputer.

DNA yang disisipi oleh virus komputer

Pada tahun 2017, para peneliti dari bidang berbeda di University of Washington menunjukkan bahwa mereka dapat menyisipkan virus komputer ke dalam DNA. Lalu susunan dari virus dan DNA ini dimasukkan ke dalam komputer sebagai suatu “malware“. Hasilnya, malware ini dapat menyerang komputer yang ditargetkan. Hal ini membuktikan bahwa realita biologis tidak lebih dari sekadar pengkodean komputer.

2. Adanya efek Mandela (Mandela Effect)

Coba perhatikan gambar di bawah ini! yang mana yang menurut Anda benar?

sebenarnya ekor pikachu tidak pernah memiliki warna hitam

Banyak orang yang ketika ditanya mana yang benar akan mengatakan gambar pertama(ekor dengan garis hitam), padahal sebenarnya ekor Pikachu tidak pernah terlihat seperti itu. Selain ekor Pikachu ini, ada juga false memory lainnya seperti di bawah ini

Lalu, bagaimana bisa banyak orang memiliki ingatan yang salah seperti itu? Dan bagaimana mungkin fenomena ini terjadi bukan hanya sekali dua kali saja.

3. Game Simulasi yang semakin nyata

virtual reality adalah contoh alat yang diciptakan untuk memberikan efek “nyata” dalam game/simulasi yang dibuat

Seperti yang telah Elon Musk ucapkan, video game yang bisa kita buat bisa makin nyata sampai akhirnya sama dengan “nyatanya” dunia kita. Kemungkinannya, kita bukanlah yang pertama melakukannya. Bisa saja yang mensimulasikan kita sendiri pun adalah sebuah simulasi. Atau dapat dikatakan simulasi dalam simulasi. Membingungkan, bukan?

4. Glitch In The Matrix

Seperti dalam film The Matrix, ada banyak kejadian sehari hari yang membuat kita berpikir kalau sebenarnya semua ini hanyalah simulasi.

Ada banyak contoh glitch yang terjadi. Salah satu fenomena “glitch” adalah deja vu. Deja vu sendiri adalah suatu “perasaan aneh” yang dirasakan ketika kita ke suatu tempat/mengalami suatu hal. Kita merasa seolah kita pernah mengalaminya meski pada dasarnya kita belum pernah kesana/mengalaminya. Para ilmuwan banyak yang percaya bahwa fenomena ini tak lain hanya anomali neurologis yang terjadi pada otak. Kasarnya, ini hanya ilusi yang terbentuk di otak saja.

Namun, banyak juga yang berpendapat kalau hal ini adalah bukti adanya sebuah “glitch” dalam “realita” kita. Jadi, simulasi kita mengalami “glitch” sesaat dan membuat sebuah kejadian yang harusnya terjadi di titik waktu tertentu jadi muncul di suatu titik lainnya.

Selain deja vu, fenomena munculnya orang “penjelajah waktu” yang berjalan dengan membawa handphone di masa lalu yang tertangkap kamera juga menunjukkan bahwa “glitch” itu terjadi.

“penjelajah waktu” dengan smartphone yang tertangkap kamera

5. Quantum entanglement yang melebihi kecepatan cahaya

dua partikel yang saling terhubung satu sama lain meski terpisah oleh jarak yang jauh

Quantum entanglement adalah suatu fenomena dimana partikel dapat saling mengirimkan informasi meskipun terpisah oleh jarak yang sangat jauh.

Menurut Bohr, alam semesta kita kemungkinan tersusun atas data seperti di komputer dan bukanlah materi yang terpisahkan oleh ruang waktu. Namun, otak kitalah yang mempersepsikan “data” itu sebagai “materi”. Bohr memiliki pendapat ini karena menurut Einstein tidak ada “materi” yang dapat melebihi kecepatan cahaya. Jika menggunakan konsep ruang-waktu, fenomena ini mustahil karena dibutuhkan lebih dari kecepatan cahaya untuk mengirimkan informasi secepat itu. Padahal, quantum entanglement benar-benar terjadi.

Lalu… apa dampaknya bagi kita jika alam semesta yang kita tinggali adalah simulasi?

Sebenarnya, tidak akan ada dampak apapun secara langsung pada kehidupan kita sehari-hari jika dunia ini adalah simulasi komputer. Kita akan tetap menjalani kehidupan kita seperti biasanya, kehidupan akan jalan terus.

Tapi, jika hipotesis simulasi ini benar, tentu dapat membuktikan beberapa hipotesa sebelumnya yang telah tercetus dalam ranah fisika teoretis.

Jika hipotesa ini benar maka teori
multiverse kemungkinan benar, karena kita bukanlah satu-satunya simulasi yang diciptakan oleh “peradaban” di atas kita. Ada banyak alam simulasi lainnya di luar sana.

Selain itu, interpretasi copenhagen dalam mekanika kuantum pun benar (kondisi dimana kucing mati dan hidup secara bersamaan). Hal ini terjadi karena seperti dalam video game, kondisi yang akan dimunculkan di layar hanya kondisi yang ada di sekitar karakter game. Jika karakter tidak ke suatu tempat (misal ke A) maka kondisi A tidak ada di layar, kita tidak tahu kondisi disana. Sama dengan lingkungan kita. Jika kita tidak melihat kucing dalam boks, kita juga tidak tahu kondisi kucing.

Seperti yang telah disebutkan di atas, hal ini tidak akan terlalu memberikan dampak yang besar bagi kehidupan sehari-hari. Jadi artikel ini sebaiknya tidak usah terlalu diambil pusing dan jadikan saja sebagai pengetahuan.

Referensi

[1] Illing, Sean. 2019. Are we living in a computer simulation? I don’t know. Probably . Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[2] Wikipedia. Simulation hypothesis. . Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[3] Solon, Olivia. 2016. Is our world a simulation? Why some scientists say it’s more likely than not. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[4] Stieb, Matt. 2019. 15 Irrefutable Reasons We Might Be Living In A Simulation.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[5] S. Powell, Corey. 2018. Elon Musk says we may live in a simulation. Here’s how we might tell if he’s rightDiakses pada tanggal 23 Juni 2019

[6] Farquhar, Claire. 2019. There Is Solid Evidence We’re All Living In A Simulation.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[7] Yuhas, Daisy. 2012. Could Human and Computer Viruses Merge, Leaving Both Realms Vulnerable?. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[8]  Colagrossi, Mike. 2019.
.3 superb arguments for why we live in a matrix – and 3 arguments that refute them. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019.

[9] Johnston, Norm. 2017. Deja Vu: Are We All Actually Living in Virtual Reality?
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[10] Adamson, Rob. Quantum Entanglement & Simulated Reality. Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

[11] Wikipedia. Quantum Entanglement.
Diakses pada tanggal 23 Juni 2019

Pahlawan Revolusi Teknologi itu bernama Mekanika Kuantum

Pahlawan Revolusi Teknologi itu bernama Mekanika Kuantum

trans

“Anyone not shocked by quantum mechanics has not yet understood it.”

Niels Bohr

Ditulis oleh Doddy Hardhienata – Hampir semua teknologi kita saat ini bergantung pada kemampuan untuk “mengendalikan” elektron. Dengan kecepatan kerja yang luar biasa cepat dan juga ukurannya yang kecil, di 60 tahun lalu teknologi canggih tersebut tentu akan dianggap sebagai suatu bualan, sulap, bahkan sihir. Mengutip pernyataan seorang inventor Arthur C. Clarke, “advanced technology is indistinguishable from magic”. Fondasi dari teknologi canggih tersebut tentu saja fisika, tetapi fisika sangat luas karena mempelajari dari sesuatu yang berukuran amat sangat kecil seperti atom hingga sesuatu yang amat besar seperti galaksi. Nah, kira-kira fisika di bagian mananya?

Mekanika kuantum! Tidak ada pencapaian dalam fisika yang lebih penting bagi manusia daripada mekanika kuantum. Jika Anda berkarir sebagai fisikawan di 110 tahun yang lalu, Anda bisa dikira sebagai orang gila dan sesat! Tidak ada lagi hal-hal besar yang bisa dikerjakan, semua rumus penting telah ditemukan. Mekanika Newton dan kelistrik-magnetan Maxwell sudah berdiri kokoh. Yang bisa Anda lakukan adalah mengais sisa penemuan-penemuan remeh yang hanya memperluas ruang lingkup kedua mazhab fisika tadi. Seakan-akan tidak ada ruang bagi kelahiran dewa fisika baru. Begitulah pandangan para profesor fisika pada awal abad ke 19.

Orang sial yang masih bekerja di lab fisika pada saat itu adalah Max Planck. Meneliti radiasi dari sebuah benda yang memancarkan (radiasi) dan menyerap cahaya secara sempurna di Universitas Munich, Planck berusaha mendapatkan suatu formula/persamaan/rumus untuk menjelaskan spektrum intensitas yang dipancarkan benda aneh semacam itu. Hanya suatu formula yang merupakan pengembangan dari mazhab fisika yang sudah ada, tidak berharap menjadi seorang dewa, hanya seorang abdi yang setia pada dewa dewa fisika klasik. Setelah itu? Mungkin menjadi guru SMA atau pemain musik sekalian, karena sudah tidak ada tantangan lagi di dunia fisika. Siapa tahu sonata Beethoven masih belum lengkap?

Namun nasib berkata lain.

Alam memang seringkali menyimpan rahasianya hingga saat-saat terakhir. Planck menghabiskan waktu berbulan bulan untuk mencari formula yang cocok dengan hasil eksperimen radiasi tadi. Beberapa fisikawan lain yang juga kurang kerjaan ikut-ikutan mencoba namun tidak berhasil, beberapa bermain tebak tebakan namun tidak bisa menjelaskan keseluruhan spektrum intensitas secara utuh. Ada apa ini?

Energi bersifat diskrit?

Hanya ada satu cara, cara ini gila setidaknya untuk standar orang waras pada saat itu. Planck mengemukakan bahwa agar formulanya cocok maka atom-atom yang mengisi benda aneh itu haruslah meradiasi cahaya tidak seperti gelombang kontinyu, tetapi dalam “kuanta” diskrit (paket/terputus-putus). Energi diskrit? Planck sangat terganggu dengan gagasannya sendiri. Seperti orang yang berpindah dari satu tempat ke tempat lain, bukanya dengan cara berjalan tetapi melompat-lompat seperti pocong, you have to be kidding me!

Kemudian datang “orang gila lain” bernama Einstein. Nyeleneh seperti saat ia selalu menghindari kuliah yang dirasa membosankan. Orang yang datang dari kantor paten di Swiss dengan ijasah fisika pas-pasan itu mengusulkan lebih jauh bahwa cahaya sendiri (bukan hanya benda radiasi) juga membawa energi dalam bentuk kuanta, energi diskrit seperti partikel, seperti sekumpulan peluru yang dinamai foton! Mendengar ini, mungkin Young (penemu sifat gelombang cahaya) atau barangkali fisikawan klasik Huygens akan bangkit dari kubur dan tidak akan kembali ke kuburnya sebelum mencekik Einstein!

Yang terjadi kemudian adalah sebuah revolusi fisika yang telah mengubah hidup milyaran orang di muka bumi ini. Louis De Broglie, bangsawan perancis yang tidak mau hidup enak (foya-foya) tetapi lebih memilih mengutak atik rumus fisika, kemudian menunjukkan bahwa gagasan foton Einstein dapat diperluas untuk elektron dan partikel elementer (dasar) lainnya. Eksperimen kemudian dirancang dan hasilnya mencengangkan. Ternyata semua partikel memiliki panjang gelombang, bukan panjang gelombang klasik tetapi panjang gelombang yang dapat menunjukkan keberadaannya. Jika panjang gelombang tersebut diolah dalam suatu persamaan yang mungkin paling gila sepanjang masa temuan Erwin Schrödinger, maka akan menjadi kunci untuk menguak rahasia dunia atom yang kasat mata, dunia mekanika kuantum.

Persamaan Schrödinger (dan versi pengembangannya yakni persamaan Dirac) itu gila karena tidak pernah gagal! Tidak pernah gagal menjelaskan jutaan eksperimen fisika pada skala kasat mata hingga detik tulisan ini dibuat. Masukkan gelombang de Broglie dan informasi energi (jargon fisikanya: Hamiltonian) suatu partikel semacam elektron atau cahaya (foton) kedalam persamaan gila ini, kemudian biarkan komputer kita menghitung solusinya. Tadaaaaa, maka terkuaklah gembok menuju pintu rahasia dunia kasat mata; bahwa atom-atom terdiri dari level-level energi yang mengikuti suatu pola pengisian tertentu, probabilitas transisi antar level energi yang dapat dihitung, ikatan molekuler yang dapat dijelaskan, dan banyak fenomena mistis lainnya semacam efek terobosan yang memungkinkan suatu elektron menembus tembok potensial meskipun energinya secara klasik tidak memungkinkan.

Seandainya kita tidak memiliki Persamaan Schrodinger, kita tidak akan pernah dapat membuat transistor. Transistor memerlukan pengetahuan mengenai pengisian elektron dalam atom semacam Silikon atau Germanium. Transistor juga hanya dapat bekerja jika kita mengetahui bagaimana cara pengisian level-level energi oleh elektron, berapa energi yang diperlukan untuk menyuruh elektron berlari menghantarkan arus, bahan apa (doping) yang diperlukan untuk menghasilkan transistor yang efisien, dll. Semua itu tidak mungkin tanpa mekanika kuantum. Dapatkah kita membangun pesawat tanpa memahami aerodinamika? Tentu dapat, tapi hanya terbang sesaat dan hancur berkeping keping tak pernah menjadi pesawat yang bermanfaat.

Mengapa transistor begitu penting? Teknologi kita saat ini bersandar pada kemampuan rekayasa elektronika pada skala nano. Kemampuan untuk membelokkan elektron dan menentukan kapan ia dapat mengalir, juga kemampuan untuk memperkuat sebuah sinyal listrik, semua ini tidak akan mungkin tanpa transistor berukuran nano. Kemampuan hantar arus suatu transistor juga sangat bergantung pada perhitungan kuantum, khususnya efek terobosan dan probabilitas transisi. Benar, kita tentu masih bisa membuat komputer dan telefon tanpa transistor, misalnya dengan tabung trioda yang ukurannya segede tutup botol. Bayangkan prosesor Intel Core 2 Duo memiliki 230.000.000 transistor berukuran 45 nm, 230 juta tutup botol trioda digabung menjadi satu? Lebih baik cari mainan lain!

5_tubes
Tabung Trioda

Lagi pula era transistor sebentar lagi akan berakhir. Dikarenakan transistor sudah berukuran begitu kecil hingga mencapai limit kuantum elektronik, maka daya (panas) yang dihasilkan akan menggangu kerja arus elektron secara signifikan. Jika hal tersebut terjadi maka kita harus beralih pada transistor cahaya, pada qubits (mekanika kuantum). Apa jadinya dunia tanpa mekanika kuantum dan betapa besarnya potensi teori ini 10 atau 20 tahun kedepan? Saat kita mendownload data berukuran gigabite di internet dalam hitungan detik dan menjalankan pengobatan DNA via komputer kuantum yang mampu mengolah semua informasi biologis manusia dalam sekejap, apa yang dikira sebagai suatu teori gila maka telah merevolusi kehidupan kita.

Sangat mungkin jumlah transistor di laptop Anda akan lebih banyak daripada jumlah uang ditabungan Anda. Prosesor Intel Core 2 Duo memiliki 230 juta transistor dan Core i7 memiliki 1,16 milyar transistor. Jadi apakah Anda baru tersadar bahwa Anda memiliki perangkat mekanika kuantum yang lebih banyak dibandingkan jumlah uang Anda???

Artikel yang berhubungan: Gerbang logika berbasis optik sebagai transistor pada komputer kuantum

Gerbang logika berbasis optik sebagai transistor pada komputer kuantum

plas

Dunia optik dan fotonika telah berkembang dengan sangat maju. Peneliti Universitas Peking China berhasil membuat komponen optic (plasmonik) berukuran 600 nm dan hanya membutuhkan 200 µW untuk dapat mengoperasikannya, pencapaian luar biasa tersebut dipublikasikan pada jurnal nanophotonics bulan agustus 2016. Komponen optik tersebut dibuat agar dapat berfungsi sebagai gerbang logika. Sebagai perbandingan, diameter rambut manusia berukuran 0,18 mm atau 180.000 nm.

21
Struktur plasmonik yang berfungsi sebagai pandu gelombang optik pada penelitian Xiaoyu Yang berukuran 600 nm

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa gerbang logika adalah dasar/fondasi dalam proses pengolahan suatu informasi dan pengambilan keputusan. Komputer, kalkulator, dan berbagai teknologi canggih lainnya dibangun berfondasikan gerbang logika. Terdapat 7 gerbang logika yakni AND, OR, NOT, NOR, NAND, XOR, XNOR seperti yang ditunjukkan oleh gambar berikut:

m59iozq
Gerbang logika terdapat 7 jenis seperti yang ditunjukkan pada tabel diatas

Selama ini gerbang logika dioperasikan secara elektronis melalui komponen elektronika yang disebut transistor. Transistor-transistor tersebut disusun hingga berjumlah jutaan  bahkan milyaran. Prosesor Core i7 yang dibuat oleh Intel memiliki 1,16 milyar transistor dan setiap transistornya berukuran 32 nm. Semakin banyak transistor maka akan semakin baik kinerja dari prosesor tersebut. Parameter kinerja dari prosesor adalah kecepatan pemrosesan dan lebar cakupan frekuensi yang dipakai oleh sinyal dalam medium transmisi (bandwidth). Kecepatan prosesor ditunjukkan oleh label GHz yang melekat pada prosesor tersebut, contohnya adalah prosesor Intel core i7 memiliki kecepatan 2,50 GHz.

Komponen elektronika seperti transistor tidak dapat beroperasi pada frekuensi dan bandwith yang sangat tinggi, padahal kebutuhan akan komputer yang beroperasi pada frekuensi/kecepatan yang sangat tinggi menjadi semakin dibutuhkan. Perkembangan penggunaan komputer berbasis elektronik akan berhenti disaat kanal/saluran pada transistor mampu melewatkan 1 elektron. Tak ada lagi perkembangan yang bisa dibuat jika hal tersebut telah terjadi.

Sebaliknya komponen berbasis optik sangatlah cocok untuk dapat beroperasi pada frekuensi yang sangat tinggi, bandwidth yang sangat lebar, dan tidak menimbulkan panas.  Keunggulan tersebut didasarkan pada fenomena mekanika kuantum (superposisi dan entanglement) yang dapat dialami oleh partikel terkecil cahaya, yakni foton. Komponen optik tersebut kemudian dapat disusun menjadi komputer yang bisa menjadi kandidat komputer kuantum. Ada beberapa kandidat lain untuk menyusun komputer kuantum seperti semikonduktor (Loss–DiVincenzo quantum computer), superkonduktor, atom silikon tunggal, dan kristal berlian.

Ketika membandingkan komputer kuantum berbasis optik dengan komputer biasa, maka foton menggantikan elektron dan pandu gelombang menggantikan kabel/jalur tembaga di PCB. Sebagai perbandingan, jika computer biasa bekerja pada frekuensi Gigaherts, maka komputer berbasis optik dapat bekerja pada frekuensi Terahertz. Oleh karena itu penelitian di bidang optik dan fotonika berlomba-lomba untuk meneliti dan menemukan gerbang logika berbasis optik yang sangat kecil ukurannya, efisien daya listriknya, dan memiliki bandwidth yang sangat tinggi.

Nur Abdillah Siddiq

Baca selanjutnya: Pahlawan Revolusi Teknologi itu Bernama Mekanika Kuantum

 

 

Apa yang Menyebabkan Benda Berwarna?

Apa yang Menyebabkan Benda Berwarna?

Warna adalah daya tarik tersendiri. Pelangi, dedaunan saat musim gugur, dan bunga-bunga adalah salah satu contohnya. Bagaimanakah satu benda (daun misalkan) memiliki warna hijau sedangkan benda yang lain memiliki warna orange (wortel misalkan)? Jika dilihat dari struktur kimianya, daun berwarna hijau karena memiliki klorofil dan wortel berwarna orange karena memiliki beta karoten. Jika dilihat dari struktur molekulnya, beta karoten dan klorofil memiliki struktur molekul seperti pada Gambar 1.

struktur molekul beta karoten dan klorofil
Gambar 1. Struktur molekul beta karoten (a) dan klorofil (b)

Absorbansi beta karoten pada cahaya elektromagnetik ditunjukkan pada Gambar 2. Berdasarkan Gambar 2, maka didapatkan kalau beta karoten menyerap cahaya dengan panjang gelombang milik cahaya biru hingga hijau (450 nm). Karena panjang gelombang biru dan hijau yang diserap dan cahaya kuning hingga merah dipantulkan, maka beta karoten akan berwarna orange. Cahaya dengan warna kuning hingga merah inilah yang nantinya akan sampai kepada retina mata kita sehingga meyebabkan wortel berwarna orange.

absorbance beta karoten
Gambar 2. Diagram absorbansi beta karoten

Berbeda pada klorofil yang ditunjukkan pada gambar 3. Klorofil menyerap dua panjang gelombang yaitu biru, kuning dan merah serta meneruskan cahaya dengan panjang gelombang berwarna hijau. Panjang gelombang hijau inilah yang sampai ke retina mata sehingga menyebabkan daun yang mengandung klorofil berwarna hijau.

absorbance klorofil
Gambar 3. Diagram absorbansi klorofil

Bagaimana suatu molekul dapat menyerap gelombang cahaya merah, kuning atau hijau sangat berkaitan dengan struktur molekul dan ikatannya. Pembahasan mengenai pengaruh struktur molekul terhadap panjang gelombang yang diserap ini akan dibahas pada kesempatan berikutnya.

Ingin mengetahui lebih dalam bagaimana mata kita melihat warna? Berikut videonya

Lantas apakah mata kita hanya mampu melihat MeJiKuHiBiNiU? Berapa banyak jenis warna yang dapat mata kita bedakan? Jawabannya ada di video berikut

Referensi:

[1] slide presentasi kuliah online www.edx.org dengan university of Tokyo dengan topic “quantum mechanic of molecules” pekan 1

[2] video kuliah online www.edx.org dengan university of Tokyo dengan topic “quantum mechanic of molecules” pekan 1

Baca juga Mengapa Langit Berwarna Biru? Bukannya di Luar Angkasa itu Gelap?