Efektivitas Musik Dalam Proses Belajar

Musik merupakan hal yang banyak disukai seseorang. Musik adalah suatu keunikan istimewa yang diciptakan manusia yang mempunyai kapasitas sangat kuat untuk menyampaikan emosi dan mengatur emosi (Johansson, 2006). Dunia pada dasarnya bersifat musikal. Musik adalah bahasa yang mengandung unsur‐unsur universal, bahasa yang melintasi batas‐ batas usia, jenis kelamin, ras, agama, dan kebangsaan (Campbell, 2001)

sumber: 3rd Art Magazine

Musik diyakini dapat mengembalikkan otak kembali ke zona alfa. Sudah banyak penelitian yang menyatakan pengaruh musik dalam kekuatan otak. Manfred Clynes, Ph.D., dalam bukunya berjudul Musik, Mind, and Braind menyatakan bahwa punya efek terhadap otak. Irama musik punya pengaruh meningkatkan produksi serotonin dalam otak. Serotonin adalah sebuah neuro-transmiter (pemancar sel saraf) yang berperan penting dalam menyalurkan getaran-getaran saraf dan membantu memunculkan perasan gembira. Saat otak menghasilkan serotonin, ketegangan pun menurun. Serotonin dilepaskan saat otak mengalami kejutan positif. Contohnya, jika kita melihat gambar yang indah, mendengar alunan melodi flute yang indah, atau menikmati makanan yang enak, otak akan melepaskan sejumlah serotonin yang meningkatkan perasaan senang.

Musik terdiri dari beberapa genre. Setiap orang memiliki lagu kesukaannya masing-masing. Dengan mendengarkan musik seseorang dapat merasa tenang. Terkadang otak manusia memerlukan keseimbangan antara otak kanan dan otak kiri. Dengan bemusik akan melatih fungsi otak kanan seseorang.

Hubungan musik dengan otak manusia, Menurut Yanuarita (2012: 44) terdapat 3 sistem saraf yaitu sebagai berikut:

  1. Sistem otak yang memproses perasaan musik adalah bahasa jiwa yang mampu membawa perasaan kearah mana saja. Musik yang didengarkan akan merangsang sistem saraf sehingga menghasilkan perasaan.
  2. Sistem otak kognitif aktivasi sistem ini bisa terjadi walaupun seseorang tidak mendengarkan atau memperhatikan musik yang sedang diputar. Musik akan merangsang sistem ini secara otomatis walau tanpa disimak atau memperhatikan. Jika sistem ini dirangsang maka seseorang dapat meningkatkan memori, daya ingat, konsentrasi, kemampuan belajar, kemampuan matematika, analisis, logika, intelegensi, serta kemampuan memilah. Disamping itu juga adanya perasaan bahagia dan timbulnya keseimbangan sosial.
  3. Sistem otak yang mengontrol kerja otak Musik dapat secara langsung dalam mempengaruhi kerja otot. detak jantung dan pernafasan bisa melambat tergantung alunan musik yang didengarkan. Berbagai penelitian yang dilakukan para ahli telah membuktikan bahwa musik dapat mempengaruhi dalam mengembangkan imajinasi dan pikiran kreatif.

Beberapa penelitian menemukan bahwa musik ringan dan rileks yang menenangkan seorang bayi, ternyata juga memiliki efek serupa jika diberikan pada hewan. Tumbuhan juga bereaksi ter‐ hadap musik. Beberapa penelitian menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara pertumbuhan tumbuhan yang diiringi musik dan tanpa diiringi musik (Campbell, 2001; Pasiak, 2007).

Musik juga berpengaruh dengan proses belajar seseorang. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam belajar. Namun, musik juga bisa sebagai pengiring belajar bagi orang-orang tertentu. Dengan nada yang tenang membuat perasaan seseorang menjadi berubah lebih baik. Sehingga dapat membuat konsentrasi seseorang meningkat. Musik juga dapat dijadikan instrumen dalam pembelajaran. Dengan menggunakan musik sebagai media pembelajaran dapat meningkatkan semangat dalam belajar. Karena musik membuat proses pembelajaran menjadi menyenangkan.

Referensi

  • Campbell, D.2001. Efek Mozart. Jakarta: Gramedia Pustaka Umum
  • Johansson, B. B.2006. Music and brain plasticity. European Review, 14(1), 50‐64.  
  • Pasiak, T. (2007). Brain Management for Self Improvement. Bandung: Mizan.
  • Yanuarita, FA. 2012.Memaksimalkan otak melalui senam otak (brain gym). Yogyakarta : Teranova Book