Kritik Terhadap Argumentasi Greenpeace Indonesia Tentang Limbah Nuklir dan PLTN

Kritik Terhadap Argumentasi Greenpeace Indonesia Tentang Limbah Nuklir dan PLTN

Terdeteksinya paparan radiasi di atas dosis normal di Perumahan Batan Indah, Setu, Tangerang Selatan, beberapa waktu yang lalu, memancing histeria di berbagai lapisan masyarakat. Sebagian memang karena tidak paham tentang aspek-aspek kenukliran termasuk radiasi, dan yang seperti ini patut dimaklumi dan diberi pemahaman. Namun, masalah lebih besar adalah dari kalangan anti-nuklir. Khususnya LSM lingkungan seperti Greenpeace.

Sebagai LSM yang memiliki visi untuk menentang perkembangan nuklir [26], Greenpeace tidak ketinggalan pasti akan turut mengomentari penemuan radioaktivitas asing di Perumahan Batan Indah. Benar saja, postingan Instagram Greenpeace Indonesia memuat tulisan yang ujung-ujungnya mengkriminalisasi limbah nuklir dan menolak PLTN [1]. Tidak ada yang baru dari “argumentasi” mereka sejak awal berdiri, hanya halusinasi usang yang diulang-ulang seperti radio rusak. Namun, halusinasi Greenpeace harus dihentikan, supaya masyarakat tidak terus menerus dibodohi.

Berikut adalah “argumentasi” Greenpeace yang sangat menyesatkan, disertai kritikan terhadapnya.

Ditemukannya radiasi nuklir oleh Bapeten di sebuah tanah kosong di dalam kawasan Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, dan serpihan radioaktif dengan kandungan Caesium 137 atau Cs-137, membuktikan bahwa penanganan limbah radioaktif di Indonesia dilakukan secara serampangan, tidak dilakukan dengan semestinya sesuai aturan yang ada, dan sangat membahayakan masyarakat

Pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia semua dilakukan oleh Pusat Teknologi Limbah Radioaktif (PTLR) BATAN. Semua instansi yang menggunakan sumber radioaktif, entah BATAN sendiri, Bapeten, PT Inuki, hingga berbagai industri dan rumah sakit, ketika sudah selesai menggunakannya, semua wajib dilimbahkan ke PTLR. Praktik ini telah berlangsung puluhan tahun dengan sebagaimana mestinya. Semua dilaksanakan sesuai dengan regulasi perundang-undangan yang berlaku [2].

UU No. 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran, Pasal 23 Ayat 1 menyebutkan, “Pengelolaan limbah radioaktif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dilaksanakan oleh Badan Pelaksana.” [2] Siapa Badan Pelaksana yang dimaksud dalam UU ini? BATAN, melalui salah satu pusatnya yakni PTLR. Pengelolaan limbah radioaktif telah diatur melalui UU, yang merupakan ketetapan hukum tertinggi ketiga dalam konstitusi Indonesia.

Baca juga: Menguak Mitos Bahaya Limbah Radioaktif

Masih di UU yang sama, Pasal 24 ayat (1) mengatakan, “Penghasil limbah radioaktif tingkat rendah dan tingkat sedang wajib mengumpulkan, mengelompokan; atau mengolah dan menyimpan sementara limbah tersebut sebelum diserahkan kepada Badan Pelaksana, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23.” [2] Artinya, yang berkewajiban menyerahkan adalah penghasil limbah. BATAN hanya bertugas menerima dan mengelola.

Dasar hukum pengelolaan limbah radioaktif sudah jelas. BATAN telah melakukan tugasnya dengan konsekuen. Tidak ada industri yang pengawasannya lebih ketat daripada industri nuklir; terdapat pengawas pada tingkat nasional (Bapeten) maupun internasional (IAEA). Kemungkinan penyelewengan dalam proses pengelolaan limbah radioaktif, dengan demikian, diminimalisir sampai pada taraf nyaris tidak ada.

Gambar 1. Tanah terkontaminasi di Perumahan Batan Indah (sumber: BATAN)

Maka, jika ada satu kejadian ditemukannya material radioaktif yang tidak berada di tempat yang seharusnya, lalu kemudian dikatakan pengelolaannya sebagai serampangan, tidak semestinya, tidak sesuai aturan, dan sangat membahayakan masyarakat, pernyataan seperti itu tidak kurang dari penyesatan publik, kebohongan yang nyata, dan tidak memiliki landasan data maupun fakta empiris.

Jelas saja bahwa kejadian di Batan Indah merupakan sebuah keteledoran. Namun, jika kejadian itu dijadikan justifikasi untuk mengatakan bahwa pengelolaan limbah radioaktif di Indonesia dilaksanakan secara serampangan dan tidak sesuai aturan, sembari mengabaikan sekian banyak limbah lain yang dikelola dengan baik oleh PTLR, maka sesungguhnya Greenpeace sedang berhalusinasi. Sebuah halusinasi yang menyesatkan dan berlawanan dengan amanat UUD untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Baca juga: Bagaimana Pengelolaan Limbah Radioaktif PLTN?

Harus dilakukan investigasi menyeluruh bagaimana limbah radioaktif tersebut bisa sampai di tengah-tengah perumahan padat penduduk. Selain harus diteliti sejauh apa cemaran radiasi tersebut pada tanah dan tanaman yang ada di lokasi, Cs-137 bersifat mudah teroksidasi dan larut dalam air. Juga apabila Cs-137 berbentuk serbuk, ia akan juga dengan mudah terhirup oleh masyarakat

BATAN telah melakukan dekontaminasi terhadap petak tanah berukuran 10×10 m (100 m2) di samping lapangan voli depan Blok J. Lokasi tersebut adalah lokasi yang tidak ditinggali manusia, bahkan aktivitas manusia pun tidak ada. Per 18 Februari 2020, tingkat radioaktivitas tanah terkontaminasi telah turun hingga 90%, menjadi 7 µSv/jam [3]. Padahal, per 15 Februari 2020, paparan radiasi masih sebesar 98,9 µSv/jam [4]. Artinya, sebagian besar kontaminan sudah berhasil dikeruk pada petak tanah yang kecil tersebut. Apa implikasinya? Kawasan yang terkontaminasi sangat sempit. Bahan kontaminan tidak bermigrasi terlalu jauh.

Cs-137 memang bersifat volatil, mudah mencair dan menguap. Namun, mengingat sempitnya daerah terkontaminasi di Batan Indah, bisa dipastikan bahwa migrasi sumber radioaktif tidak jauh. Apalagi tidak terdeteksi adanya radioaktivitas tambahan di sumber air penduduk sekitar [5]. Fakta yang entah kenapa diabaikan oleh Greenpeace. Sekali lagi, banyak pernyataan-pernyataan yang tidak memiliki landasan dan mengarah ke pseudosains.

Jika migrasi bahan tidak jauh, kemungkinan terserap oleh vegetasi di sekitarnya juga rendah. Lagipula, tidak ada juga yang mengonsumsi vegetasi di sekitar petak terkontaminasi. Hal tersebut tidak sulit dipahami jika paham yang namanya risk assessment. Namun, Greenpeace sepertinya tidak peduli soal risk assessment.

Cs-137 tidak dijual dalam bentuk serbuk. Biasanya dalam bentuk encapsulated bahkan double-encapsulated. Tidak ada relevansinya dengan kasus penemuan di Batan Indah. Pernyataan Michael Connolly dalam technical report-nya menjadi tervalidasi, Greenpeace memiliki tugas untuk sengaja menakut-nakuti publik akan bahaya yang tidak ada [26].

Saat ini tidak ada solusi yang kredibel untuk pembuangan limbah nuklir jangka panjang yang aman. Amerika selama ini menempatkan pembuangan limbah nuklirnya di Carlsbad, New Mexico dengan kedalaman 655 m dibawah permukaan, dan mengajukan Yucca Mountain sebagai tempat penyimpanan berikutnya tetapi mendapatkan begitu banyak tentangan. Tidak hanya reaktor nuklir yang harus benar-benar aman dari kesalahan teknis dan manusia, juga bencana alam; tetapi penyimpanan limbah nuklir juga selalu meninggalkan jejak ketakutan tersendiri

Para nuclear engineer sudah tahu bagaimana membuang limbah radioaktif dengan selamat. Mereka tahu bagaimana membuat kontainer limbah yang memadai dan lokasi repositori yang cukup baik. Limbah radioaktif dari PLTN, jika ini yang dimaksud, dikonversi menjadi gelas borosilikat yang kemudian dimasukkan dalam kontainer yang terdiri dari berlapis-lapis bahan, mulai dari logam hingga beton. Kemudian, limbah ini disimpan dalam repositori abadi [6].

Gambar 2: Penampungan limbah bahan bakar bekas PLTN Connecticut Yankee

Setidaknya ada tujuh lapis pertahanan pada repositori abadi limbah PLTN, sebagaimana dijelaskan oleh Prof. Bernard L. Cohen [7]. Pertama, ketiadaan air pada lokasi repositori limbah, sehingga korosi bisa dicegah. Kedua, batuan yang tidak larut oleh air. Ketiga, material penyegel tambahan berupa tanah liat, yang telah terbukti mencegah migrasi produk fisi. Keempat, material casing kontainer limbah yang tahan korosi.

Kelima, limbah radioaktif dalam bentuk gelas borosilikat tidak larut oleh air. Keenam, migrasi air tanah dalam menuju permukaan tanah membutuhkan waktu yang sangat lama. Ketujuh, filtrasi dari bebatuan untuk memerangkap limbah yang somehow lolos dari level-level berikutnya.

Baca juga: Mengganti Energi Nuklir dengan Energi Terbarukan Bukanlah Ide Bagus–Setidaknya di Inggris dan Swedia

Cohen juga mengungkapkan rendahnya probabilitas kebocoran kontainer limbah radioaktif dalam menyebabkan korban jiwa. Disebutkan bahwa kematian yang mungkin diakibatkan oleh kebocoran limbah radioaktif adalah 0,0014 kematian dalam 13 juta tahun pertama setelah pembuangan limbah dan 0,0018 kematian dalam jangka waktu tak terhingga [7]. Ini adalah bahasa statistik. Dalam bahasa awam, secara praktis repositori abadi limbah radioaktif tidak dapat menyebabkan kematian akibat kebocoran limbah.

Reaktor nuklir alam di Oklo, secara praktis menjadi bukti sahih efektivitas pengungkungan limbah radioaktif. Sekitar dua milyar tahun lalu, ketika kadar isotop fisil U-235 masih berkisar 3% (saat ini 0,7% karena peluruhan alami), terbentuk reaktor nuklir alami di daerah yang saat ini merupakan bagian dari negara Gabon, Afrika. Kandungan uranium di Oklo ditemukan lebih rendah daripada yang seharusnya, serta ditemukan adanya produk fisi serta elemen transuranik di dekatnya.

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar produk fisi penting dan seluruh elemen transuranik tidak bermigrasi terlalu jauh dari lokasi reaksi fisi terjadi [8,9]. Hal ini luar biasa mengesankan, karena selama dua milyar tahun, pergeseran produk fisi dan transuranik tidak signifikan. Dengan teknologi kontainer abad 21, pengungkungan limbah radioaktif secara praktis lebih kuat dan tidak menjadi persoalan. Khususnya ketika produk fisi sudah lenyap dalam 300 tahun dan elemen transuranik yang tersisa tidak bisa larut oleh air.

Ini belum termasuk insinerasi elemen transuranik di reaktor maju, entah reaktor thorium maupun reaktor cepat. Kedua jenis reaktor tersebut dapat ‘menghabisi’ transuranik penyumbang radiotoksisitas limbah radioaktif sembari menghasilkan energi yang bersih, murah, selamat, andal, dan berkelanjutan [10-15].

Pengelolaan ini jauh lebih baik daripada, katakanlah, pengelolaan limbah panel surya dan turbin angin. Limbah panel surya 300x lebih beracun daripada limbah radioaktif karena kontaminasi kadmium, antimoni, dan timbal [16]. Panel surya sulit didaur ulang, dan diperkirakan pada tahun 2050, jumlah limbah panel surya dapat mencapai 78 juta ton [17]. Tanpa ada rencana jelas bagaimana mendaur ulangnya.

Pengelolaan limbah turbin angin tidak lebih mudah, mengingat bahan fiberglass yang digunakan sebagai bahan kincir angin tidak bisa didaur ulang dan akan menimbulkan masalah di masa depan [18]. Diperkirakan bahwa pada tahun 2050, limbah bilah turbin angin akan mencapai 43 juta ton [19]. Lagi-lagi tanpa ada solusi bagaimana menanganinya, selain ditumpuk begitu saja sembari mengotori lingkungan.

Dibandingkan limbah panel surya dan turbin angin, yang notabene merupakan dua moda pembangkit yang didukung Greenpeace, pengelolaan limbah nuklir jauh lebih canggih, terstruktur, memiliki rencana yang jelas, dan sebagian langkah telah dilaksanakan dengan sukses.

Masalah pengelolaan limbah radioaktif tidak pernah menjadi masalah teknis. Semua masalah yang ada merupakan masalah politis, yang sebagian disumbangkan oleh LSM semacam Greenpeace yang mengambil fakta dari sudut pandang yang sangat sempit dan tidak holistik, dan sekali lagi tidak berpijak pada data-data empiris.

Baca juga: Bagaimana Jika Proyek Energiewende Dialihkan Saja Untuk Energi Nuklir?

Nuklir bukanlah pilihan energi masa depan Indonesia. PLTN adalah investasi berbahaya dan juga sangat mahal. Mengacu pada data Lazard 2019, biaya modal pembangunan PLTN adalah yang tertinggi saat ini dimana secara maksimal dapat menyentuh angka $12.250/kW. Sedangkan energi terbarukan, baik itu angin dan surya telah mencapai grid parity (harga yang sama dengan pembangkit konvensional pemasok sistem grid) di banyak negara di dunia

Paragraf ini merupakan bukti nyata cherry-picking yang dilakukan oleh Greenpeace. Mereka hanya mengutip satu angka yang merupakan anomali bahkan dalam industri nuklir sendiri. Meski memang Greenpeace mengatakan “dapat menyentuh angka,” Greenpeace tidak jujur dengan tidak menyampaikan sisi lain dari rentang tersebut.

PLTN Hinkley Point C (HPC) di Somerset, Inggris Raya, merupakan PLTN termahal di dunia. Nyatanya, overnight cost HPC ‘hanya’ $9.070/kW [20]. Angka ini memang tinggi, tetapi tidak sampai $12.200 sebagaimana disebutkan dalam laporan Lazard [21]. Sementara, PLTN Vogtle yang kemungkinan menjadi basis angka tertinggi di laporan Lazard, merupakan anomali yang khas hanya terjadi di Amerika Serikat dan desain AP1000 [22].

Greenpeace sama sekali mengabaikan bahwa vendor PLTN lain tidak mengalami hal serupa. KEPCO sukses membangun PLTN Shin Kori unit 3 dan 4 dengan overnight cost $2.400/kW [23]. Mengapa bisa rendah? Karena standardisasi desain dan pengalaman pembangunan [24], sehingga KEPCO dapat mereduksi biaya konstruksi dengan baik.

Lagipula, menggunakan overnight cost belaka merupakan penyesatan argumen. Greenpeace sama sekali mengabaikan faktor kapasitas yang menentukan berapa besar harga listrik yang dihasilkan [25]. PLTN mampu mencapai faktor kapasitas 90%, sementara PLTS dan PLTB bisa mencapai 20% di Indonesia saja sudah beruntung. Butuh 4-5x kapasitas terpasang PLTS dan PLTB untuk bisa menyamai luaran listrik dari PLTN.

Greenpeace pun mengabaikan sama sekali akan berapa banyak listrik yang sebenarnya dapat dihasilkan selama usia pakainya. PLTN memiliki usia pakai standar selama 60 tahun, bisa diperpanjang hingga 100 tahun. Sementara, PLTS dan PLTB hanya bisa beroperasi maksimal 30 tahun sebelum harus diganti, itupun kalau tidak rusak terlebih dahulu. Sehingga, butuh 2-3x pembangunan PLTS dan PLTB untuk menyamai usia pakai PLTN.

Total, PLTS dan PLTB butuh biaya 6-8x dari biaya aslinya untuk bisa menyamai luaran listrik PLTN. Artinya, PLTS dan PLTB tidak semurah yang diklaim Greenpeace. Khususnya bahwa angka tersebut mengabaikan sama sekali energy storage dan grid upgrade yang sangat diperlukan untuk bisa menampung energi bayu dan surya. Artinya, banyak additional cost yang tidak diungkapkan sama sekali dengan Greenpeace.

Mengingat mahalnya PLTN merupakan fenomena unik di dunia Barat dan tidak muncul di Asia, tidak ada alasan untuk menganggap fenomena tersebut akan terjadi di Indonesia, jika Indonesia memutuskan untuk go nuclear. Kedatangan PLTN Generasi IV pada dekade 2020-an akan memangkas biaya PLTN lebih rendah dan menjadikan argumentasi Greenpeace tersebut tidak valid.

Sudah seharusnya pemerintah Indonesia mulai berpikir jernih dengan fokus berinvestasi pada energi terbarukan yang lebih aman, murah, bersih, dan bukan PLTU Batubara apalagi PLTN.

Jika Indonesia ingin menjadi negara industri yang maju, salah satu hal yang wajib dipastikan adalah suplai energi yang murah, melimpah, dan andal. Energi terbarukan tidak bisa memenuhi satupun dari kriteria ini. Ketika full-cost diterapkan, energi terbarukan akan menjadi mahal. Tanpa adanya energy storage dan grid upgrade yang mahal, energi terbarukan tidak bisa menghasilkan listrik yang melimpah dan andal. Apa hal seperti ini yang mau ditawarkan pada Indonesia?

Hanya nuklir yang dapat memenuhi kriteria murah, melimpah, dan andal. Ditambah lagi nuklir itu selamat, bersih, dan berkelanjutan. Untuk memenuhi salah satu syarat sebagai negara maju, Indonesia mau tidak mau harus memanfaatkan energi nuklir semaksimal mungkin. Utopia energi terbarukan belum realistis untuk diwujudkan dalam dunia abad 21.

Referensi:

  1. Greenpeace Indonesia. Diakses dari https://www.instagram.com/p/B8u4qmoBgPi/?igshid=16xoq97szaeen
  2. Undang-Undang No. 10 Tahun 1997 Tentang Ketenaganukliran
  3. Paparan Radiasi di Perum Batan Indah Tangsel Turun hingga 90%. Diakses dari https://megapolitan.okezone.com/read/2020/02/18/338/2170242/paparan-radiasi-di-perum-batan-indah-tangsel-turun-hingga-90
  4. BATAN Lakukan Clean Up Daerah Terpapar Radiasi. Diakses dari http://batan.go.id/index.php/id/publikasi-2/pressreleases/6267-batan-lakukan-clean-up-daerah-terpapar-radiasi
  5. Bapeten: Radiasi Nuklir di Serpong Tidak Cemari Air Tanah. Diakses dari https://koran.tempo.co/read/metro/450191/bapeten-radiasi-nuklir-di-serpong-tidak-cemari-air-tanah
  6. R Andika Putra Dwijayanto. Bagaimana Mengelola Limbah Radioaktif PLTN?
  7. R Andika Putra Dwijayanto. Menguak Mitos Bahaya Limbah Radioaktif. Diakses dari https://warstek.com/2018/01/30/mitoslimbah/
  8. Francois Gauthier-Lafaye. “2 billion year old natural analogs or nuclear waste disposal: the natural nuclear fission reactors in Gabon (Africa),” Applied Physics, vol. 3, pp. 839-849, 2002.
  9. R. Hagemann and E. Roth. “Relevance of the Studies of the OKLO Natural Nuclear Reactors to the Storage of Radioactive Wastes,” Radiochimica Acta, vol. 25, pp. 241-247, 1978.
  10. C. Yu et al., “Minor actinide incineration and Th-U breeding in a small FLiNaK Molten Salt Fast Reactor,” Ann. Nucl. Energy, vol. 99, pp. 335–344, 2017.
  11. T. Takeda, “Minor actinides transmutation performance in a fast reactor,” Ann. Nucl. Energy, vol. 95, pp. 48–53, Sep. 2016.
  12. S. Şahin, Ş. Yalçin, K. Yildiz, H. M. Şahin, A. Acir, and N. Şahin, “CANDU reactor as minor actinide/thorium burner with uniform power density in the fuel bundle,” Ann. Nucl. Energy, vol. 35, no. 4, pp. 690–703, 2008.
  13. B. A. Lindley, F. Franceschini, and G. T. Parks, “The closed thorium–transuranic fuel cycle in reduced-moderation PWRs and BWRs,” Ann. Nucl. Energy, vol. 63, pp. 241–254, 2014.
  14. K. Insulander and V. Fhager, “Comparison of Thorium-Plutonium fuel and MOX fuel for PWRs,” in Proceedings of Global 2009, 2009, p. 9449.
  15. H. N. Tran, Y. Kato, P. H. Liem, V. K. Hoang, and S. M. T. Hoang, “Minor Actinide Transmutation in Supercritical-CO2-Cooled and Sodium-Cooled Fast Reactors with Low Burnup Reactivity Swings,” Nucl. Technol., vol. 205, no. 11, pp. 1460–1473, Nov. 2019.
  16. Jemin Desai and Mark Nelson. Are we headed for solar waste crisis? Diakses dari http://environmentalprogress.org/big-news/2017/6/21/are-we-headed-for-a-solar-waste-crisis
  17. Michael Shellenberger. If Solar Panels Are So Clean, Why Do They Produce So Much Toxic Waste? Diakses dari https://www.forbes.com/sites/michaelshellenberger/2018/05/23/if-solar-panels-are-so-clean-why-do-they-produce-so-much-toxic-waste/#5fd65602121c
  18. Unfurling The Waste Problem Caused By Wind Energy. Diakses dari https://www.npr.org/2019/09/10/759376113/unfurling-the-waste-problem-caused-by-wind-energy
  19. P. Liu and C. Y. Barlow, “Wind turbine blade waste in 2050,” Waste Management, vol. 62, pp. 229-240, 2017.
  20. Hinkley Point C cost rises by nearly 15%. Diakses dari https://world-nuclear-news.org/Articles/Hinkley-Point-C-cost-rises-by-nearly-15
  21. Lazard’s Levelized Cost of Energy Analysis—version 13.0
  22. Vogtle Electric Generating Plant. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Vogtle_Electric_Generating_Plant
  23. R Andika Putra Dwijayanto. Bagaimana Jika Investasi Energi Terbarukan Dialihkan Ke Energi Nuklir? Diakses dari https://warstek.com/2019/09/07/investasi/
  24. M. Berthelemy and L. E. Rangel, ”Nuclear reactors’ construction costs: The role of lead-time, standardization and technological progress,” Energy Policy, vol. 82, pp. 118-130, 2015.
  25. R Andika Putra Dwijayanto. Meluruskan Salah Kaprah Tentang Membaca Kapasitas Terpasang dalam Membangun Pembangkit Listrik. Diakses dari https://warstek.com/2018/05/19/pembangkitlistrik/
  26. Connolly, Michael & Connolly, Ronan & Soon, Willie & Moore, Patrick & Connolly, Imelda. (2018). Analysis of Greenpeace’s business model & philosophy: Greenpeace wants a piece of your green.

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Dapatkah Kurangi Hujan Jabodetabek?

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), Dapatkah Kurangi Hujan Jabodetabek?

Gambar 1. Proses TMC Dengan Menggunakan Pesawat

Gambar 1. Proses Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dengan Menggunakan Pesawat

 

Musim hujan di awal tahun 2020 ini memang cukup menghawatirkan. Cuaca ekstrem ditambah banjir disana sini membuat masyarakat Indonesia dilanda keresahan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa wilayah Jabodetabek dan sekitarnya berpotensi mengalami hujan lebat pada 17 Januari 2020 sampai dengan 23 Januari 2020.

Menyikapi prediksi tersebut, sejumlah upaya dilakukan. Diantaranya adalah dengan menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang diprakarsai oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU). Sebelum membahas lebih lanjut mengenai upaya TMC untuk mengurangi hujan di wilayah Jabodetabek, kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan TMC.

Menurut Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT, Trihandoko Seto, TMC adalah sebuah pemanfaatan teknologi untuk inisiasi ke dalam awan. Sehingga proses yang terjadi di awan lebih cepat dibandingkan dengan proses secara alami. Hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca ini dilakukan dengan cara melakukan penyemaian awan (cloud seeding) menggunakan bahan-bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air), sehingga proses pertumbuhan butir-butir hujan dalam awan akan meningkat dan selanjutnya akan mempercepat terjadinya hujan,” papar pria yang akrab dipanggil Seto tersebut.

Pada dasarnya, TMC bukanlah hal baru di dunia. Teknologi ini sudah dipakai oleh lebih dari 60 negara untuk berbagai kepentingan. Sejarah modifikasi cuaca di dunia diawali pada tahun 1946. Pada saat itu, Vincent Schaefer dan Irving Langmuir melihat fenomena terbentuknya kristal es dalam lemari pendingin. Pada waktu yang berdekatan, Schaever secara tidak sengaja melihat hujan yang berasal dari nafasnya waktu membuka lemari es. Pada tahun 1947, Bernard Vonnegut melihat fenomena terjadinya deposit es pada kristal Perak Iodida (Agl). Vonnegut tanpa disengaja melihat titik air di udara ketika sebuah pesawat terbang membuat tulisan asap berupa nama sebuah merk minuman. Kedua penemuan penting ini merupakan tonggak dimulainya perkembangan modifikasi cuaca di dunia.

Kegiatan modifikasi cuaca di Indonesia dikaji dan diuji pertama kali pada tahun 1977 atas gagasan Presiden Soeharto (Presiden RI saat itu). Kegiatan ini difasilitasi oleh Prof.Dr.Ing. BJ Habibie melalui Advance Teknologi yang merupakan cikal bakal Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dibawah asistensi Prof. Devakul dari Thailand. Pada tahun 1985 dibentuk satu unit di BPPT yang bernama Unit Pelayanan Teknis Hujan Buatan (UPT-HB). Unit ini berfungsi memberikan pelayanan dalam meningkatkan intensitas curah hujan ksususnya untuk menjaga ketersediaan air pada waduk yang berfungsi sebagai irigasi dan PLTA.

Dalam pelaksanaannya, selama ini TMC banyak berfungsi untuk menambah curah hujan. Pada fungsi ini bahan semai yang dimasukkan ke dalam awan bersifat higroskopis dengan ukuran 1-100 mikro. Bahan semai yang berukuran kurang dari 10 µ berfungsi untuk meningkatkan energi awan. Ini berfungsi menambah suplai uap air yang masuk ke dalam sistem awan. Sedangkan bahan semai yang berukuran lebih dari 10 µ berfungsi mempercepat proses-proses di dalam awan sehingga mempercepat turunnya hujan. Dalam usaha menambah curah hujan, awan yang disemai adalah awan yang diperkirakan akan turun menjadi hujan di daerah yang memerlukan tambahan hujan.

Nah, bagaimana dengan proses TMC untuk mengurangi hujan di wilayah Jabodetabek? Berdasarkan konsep TMC untuk menambah  curah hujan, dengan sedikit modifikasi, teknologi  ini juga bisa digunakan untuk mengantisipasi (atau bisa diartikan mencegah) terjadinya banjir (akibat  curah hujan tinggi). Modifikasi yang dilakukan yaitu dengan menggunakan bahan semai higroskopis dengan ukuran 30-100 µ. Dengan cara ini, penyemaian awan hanya bertujuan untuk mempercepat terjadinya hujan (jumping process). Selain itu perlu dilakukan pengamatan terhadap awan. Awan-awan yang disemai adalah awan-awan yang masih berada di atas laut dan diperkirakan (dengan mengukur  kecepatan angin dan posisi awan) dalam tiga jam ke depan masih berada di atas laut. Dengan cara ini, awan-awan yang disemai akan menghasilkan hujan dalam waktu kurang dari dua jam akibat mekanisme (jumping process).

Pada kasus antisipasi banjir di wilayah Jabodetabek, awan yang disemai berada di wilayah Laut Jawa, Selat Sunda, dan Ujung Kulon. Hal ini bertujuan agar hujan turun sebelum memasuki wilayah Jabodetabek. Dalam sekali pengaplikasiannya, proses ini umumnya menghabiskan 3000 karung garam Perak Iodida seberat 4 ton. Operasi TMC ini telah dilakukan mulai 3 Januari 2020. Hingga Sabtu, 18 Januari 2020, operasi TMC telah dilakukan sebanyak 44 sorti. Dengan total jam terbang lebih dari 95 jam. Total bahan semai yang digunakan lebih dari 73 ton, dengan ketinggian penyemaian 9.000-12.000 kaki. Operasi TMC ini didukung dua unit pesawat TNI-AU, yakni pesawat CN 295 registrasi A-2901 Skadron 2 dan pesawat Casa 212 registrasi A-2105 Skadron 4 Malang.

“Dari proses ini, berdasarkan data posko TMC, operasi ini telah mampu mengurangi curah hujan wilayah Jabodetabek sekitar 44% dari prakiraan. Hasil operasi ini juga menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek relatif lebih kecil daripada curah hujan di sekitarnya,” kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Balai Pengkajian dan Penerapan Teknologi (TMC BPPT), Tri Handoko Seto, dalam keterangan pers, Senin (13/1/2019).

 

Referensi :

[1] Adam. 2020. Begini Cara Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT untuk Atasi Banjir. Tersedia di https://www.itworks.id/24280/begini-cara-kerja-teknologi-modifikasi-cuaca-bppt-untuk-atasi-banjir.html, diakses Januari 2020.

[2] Damarjati, Danu. 2020. BPPT : Modifikasi Cuaca Berhasil Kurangi Hujan Jabodetabek Hingga 44%. Tersedia di https://news.detik.com/berita/d-4864990/bppt-modifikasi-cuaca-berhasil-kurangi-hujan-jabodetabek-hingga-44, diakses Januari 2020.

[3] Nugroho, Herwan. 2019. Teknologi Modifikasi Cuaca, Bukan Membuat Hujan? Ini Penjelasan BPPT. Tersedia di https://news.trubus.id/baca/31914/teknologi-modifikasi-cuaca-bukan-membuat-hujan-ini-penjelasan-bppt, diakses Januari 2020.

[4] Seto, T.H. 2008. Antisipasi Banjir dan TMC. Tersedia di https://bebasbanjir2025.wordpress.com/teknologi-pengendalian-banjir/teknologi-modifikasi-cuaca/, diakses Januari 2020.

 

Baca :

https://warstek.com/2020/01/20/berkaca-dari-film-mission-mangal-mungkinkah-indonesia-menggapai-mars/

https://warstek.com/2019/11/28/lisa/

 

Berkaca Dari Film Mission Mangal, Mungkinkah Indonesia Menggapai Mars?

 

Mission Mangal dirilis pada 16 Agustus 2019 mengisahkan tentang organisasi penelitian luar angkasa India, Indian Space and Research Organization (ISRO) yang bertekad meluncurkan satelit ke orbit planet Mars. Dengan biaya paling murah, India berhasil menjadi negara Asia pertama yang berhasil mencapai orbit mars.

Dari sebuah artikel dikatakan bahwa biaya pembuatan roket dan satelit atau disebut dengan Mars Orbiter Mission (MOM) ini bahkan lebih murah dari biaya pembuatan film Hollywood, Gravity. Peristiwa ini tepatnya terjadi pada 24 September 2014, yang pada waktu itu sangat mendebarkan bagi para ilmuwan India yang terlibat. Diangkat dari kejadian nyata, Mission Mangal menjadi perhatian tersendiri bagi para pemerhati luar angkasa. Film tersebut menggambarkan besarnya perjuangan para ilmuwan India dengan kendala dan keterbatasan yang mereka miliki.

Berkaca dari film tersebut, mungkinkah Indonesia di kemudian hari akan berhasil menggapai Mars? Berkumpul dengan negara-negara lain untuk meneliti mineral atau komponen lain yang ada di Mars? Menjawab pertanyaan tersebut, mari kita analisis perkembangan roket dan satelit Indonesia.

Perkembangan teknologi roket di Indonesia diawali pada 27 Agustus 1963 di pantai Pakenawon, Sanden, Bantul. Roket setinggi 900 mm dengan diameter 76 mm berhasil dibuat dan diluncurkan oleh sejumlah mahasiswa teknik Universitas Gajah Mada (UGM). Roket yang diluncurkan tersebut dinamakan Gamma-III, sementara Gamma-I dan II peluncurannya tidak dipublikasikan karena masih terdapat banyak kekurangan.

Roket Gamma-IV dan IV berhasil diluncurkan pada 1 Maret 1964. Roket Gamma-IV merupakan roket bertingkat, yang panjang keseluruhannya mencapai 4,5 meter dengan berat 65 kilogram. Bahan bakar yang digunakan adalah tipe Z 2048. Gama IV bermuatan tikus putih, kamera, sensor suhu, dan sensor tekanan serta dilengkapi parasut. Ketinggian yang dicapai sejauh 11 mil atau 20 kilometer. Sedangkan Gama V adalah roket satu tingkat berbahan bakar padat tipe APT 71. Sayangnya, roket ini meledak pada saat diluncurkan.

Tiga kali peluncuran, roket Gamma cukup memikat pemerintah Indonesia kala itu. Presiden Soekarno dengan lantang mengumumkan bahwa Indonesia sudah bisa membuat roket. Suasana panas konfrontasi dengan Malaysia ketika itu membuat banyak instansi lain ikut mengembangkan roket. Tidak ketinggalan mahasiswa dan keluarga besar Institut Teknologi Bandung (ITB), yang bekerja sama dengan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI).

Setelah peristiwa itu, kemudian lahirlah roket Ganesha, yang konon ”menjiplak” roket Leska buatan Uni Soviet (Rusia). Pada saat itu, tak hanya mahasiswa yang keranjingan roket. Pemerintah, lewat AURI, Pabrik Senjata dan Mesiu (sekarang PT Pindad), ITB, dan UGM, juga mengembangkan roket. Begitu antusiasnya masyarakat dengan roket pada waktu itu, maka lahirlah PRIMA (Proyek Roket Ilmiah Militer Awal) 1. Dari proyek ini lahirlah roket Kartika 1, yang berdiameter 250 milimeter dan berbahan bakar propelan double base. Kartika 1 diluncurkan pada 14 Agustus 1964.

Bagaimana dengan perkembangan roket saat ini? Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah menargetkan roket peluncur satelit khususnya untuk ketinggian Low Earth Orbit (LEO), sekitar 620 km pada tahun 2039. Untuk mencapai target tersebut butuh dukungan dan kerjasama dari negara lain khususnya dalam transfer teknologi. Akan sangat sulit bagi perkembangan teknologi roket jika tidak ada transfer teknologi dari negara yang telah memiliki pengalaman dengan teknologi roket itu sendiri. Mengingat kegunaan roket yang memiliki dual fungsi, yaitu sipil dan militer, maka cukup sulit bagi LAPAN untuk bekerja sama dalam pembuatan roket ini.

 

Gambar 1. Road map satelit dan roket LAPAN, Indonesia

 

Untuk meningkatkan terus kapabilitas para ilmuwan di bidang teknologi roket. Saat ini LAPAN telah berhasil meluncurkan roket balistik dengan panjang 7,1 m dengan diameter 0.45 m yang dinamakan Rhan-450 dan roket sonda (roket untuk penelitian atmosfer) dengan panjang 6,11 mm dengan diameter 450 mm yang dinamakan Rx-450. Dalam road mapnya, penelitian dalam bidang roket ini akan terus ditingkatkan agar roket tersebut memiliki peningkatan khususnya dari segi ketinggian yang dicapai.

Dari segi perkembangan teknologi satelit, Indonesia telah mengembangkan satelit skala mikro dengan ketinggian LEO sekitar 600 km. Saat ini Indonesia memiliki tiga satelit buatan sendiri yang telah mengorbit di angkasa, yaitu satelit LAPAN-A1/LAPAN-TUBSAT, satelit LAPAN-A2/ORARI, dan satelit LAPAN-A3/IPB. Selain itu, telah dikembangkan satelit LAPAN-A4 yang memuat kamera multispektral resolusi tinggi dan satelit LAPAN-A5 yang merupakan satelit komunikasi konstalasi.

Penelitian tentang satelit terus dikembangkan dari segi misi dan bus satelit. Sama halnya dengan penelitian pada teknologi roket, LAPAN juga telah memiliki road map perkembangan satelit Indonesia. Dimulai dengan satelit eksperimen berbasis remote sensing sampai dengan satelit remote sensing operasional yang ditargetkan akan meluncur pada tahun 2025.

Dari segi kemandirian, perkembangan teknologi roket dan satelit di Indonesia dapat dikatakan belum dapat benar-benar mandiri. Dari segi komponen dan manufaktur sangat sulit diperoleh dari Indonesia sendiri. Ditambah lagi pada teknologi roket sangat sulit dilakukan kerjasama dengan negara lain, karena sifat roket yang dapat digunakan dalam bidang militer.

Akan tetapi, menilik sejarah, Indonesia merupakan negara kedua Asia setelah Jepang yang mampu menerbangkan roket pada tahun 1963 (India dan China belum). Kini, saatnya bagi kita belajar dari sejarah bahwa Indonesia pernah unggul dibanding India. Maka, tak ada yang tidak mungkin. Di kemudian hari rasanya kita akan mampu menggapai Mars, asalkan semangat tahun 1963 itu terus berkobar dalam jiwa peneliti-peneliti Indonesia.

Referensi :

[1] Haryadi, Rohmat. 2007. Unjuk Digdaya Lewat Roket. Tersedia di http://arsip.gatra.com/2007-12-10/majalah/artikel.php?pil=23&id=110473, diakses pada Januari 2020.

[2] Pusat Teknologi Roket. 2017. Fokus Pengembangan Roket Peluncur Satelit. Tersedia di http://pustekroket.lapan.go.id/index.php/subblog/pages/2014/17/Fokus-Pengembangan-Roadmap-Roket-  Peluncur-Satelit, diakses pada Januari 2020.

[3]  Wikipedia. 2020. Mission Mangal. Tersedia di https://en.wikipedia.org/wiki/Mission_Mangal, diakses pada Januari 2020.

 

Baca : https://warstek.com/2019/11/28/lisa/

 

Dapatkah Belut Listrik Menjadi Sumber Tenaga Listrik?

Dapatkah Belut Listrik Menjadi Sumber Tenaga Listrik?

Belut listrik atau sidat listrik (Electrophorus electricus) adalah sejenis ikan air tawar yang biasa ditemukan di Sungai Amazon dan Sungai Orinoko serta daerah-daerah sekitarnya. Hewan tersebut bisa tumbuh dan mencapai panjang 2,5 meter (8,2 kaki) dan berat 20 kg (44 pound). Walaupun pada umumnya ukuran rata-rata belut listrik ini adalah 1 meter.

Sama halnya dengan binatang pada umumnya, belut listrikpun mempunyai cara tersendiri untuk bisa mempertahankan dirinya, melindungi diri dari serangan musuh, dan untuk berburu. Yaps! Seperti namanya, belut listrik mempertahankan dirinya dengan mengeluarkan sengatan listrik. Tidak tanggung-tanggung, belut listrik dewasa mampu mengeluarkan sengatan listrik hingga 650 volt.

Listrik tersebut diproduksi oleh tiga organ tubuhnya. Mereka memiliki organ sel yang menghasilkan listrik, seperti organ utama, organ hunter, dan organ such. Ketiga organ ini menyusun empat perlima dari seluruh bagian tubuh belut listrik.

Organ-organ tersebut di antaranya seperti electrocyte yang mampu menghasilkan listrik mencapai 4000-7000 electrocyte seperti baterai. Electrocyte bergabung hingga arus ion dapat mengalir melalui tubuh mereka. Arus listrik tersebut dapat mengalir karena kepala dan ekor hewan tersebut merupakan suatu kutub.

Ujung ekor belut listrik merupakan kutub positif dan ujung kepala bertindak sebagai kutub negatif. Belut listrik ini dapat mengatur hubungan antara “baterai” kecil dalam tubuhnya untuk mendapatkan tegangan listrik kecil maupun tegangan listrik besar. Akan tetapi, ada fakta lainnya yang menarik untuk dibahas.

Poraque, adalah ikan hidup di Sungai Amazon, Amerika Selatan yang mampu tumbuh hingga panjang 2,5 meter. Poraque adalah satu-satunya yang menghasilkan tegangan listrik paling kuat. Sebelumnya diyakini bahwa hanya ada satu jenis Poraque, yaitu Electrophorus electricus yang digambarkan oleh seorang peneliti Swedia bernama Carl Linnaeus pada 1776.

Namun, dua spesies baru lantas ditemukan. Keduanya dibedakan oleh tegangan listrik yang dihasilkan dan proses penyusun DNA-nya. Meskipun satu dari dua spesies telah ditemukan, Electrophotus voltai mampu menghasilkan 860 volt. Besarnya hampir empat kali lipat tegangan listrik dari sakelar rumah tangga yang sebesar 220 volt.

Salah satu spesies Poraque ini dinamai Electrophorus voltai sesuai dengan nama fisikawan Alessandro Volta, penemu baterai listrik. Sedangkan spesies lain dinamai Electrophorus varii, sebagai tribut kepada ahli hewan Richard P. Vari, seorang peneliti Smithsonian yang meninggal pada 2016. Kedua spesies tersebut baru ditemukan di Sungai Xingu dan Sungai Tapajós.

Bagaimana proses belut listrik menghasilkan listrik?

Belut listrik menggunakan energi mereka sebagai alat pengontrol yang efektif atas mangsanya. Electrocyte berfungsi sebagai baterai biologis. Saat berburu mangsa, belut listrik secara teratur akan melepaskan dua gelombang kejut bertegangan tinggi dengan jeda waktu sekitar dua mili per detik. Gelombang listrik yang dialirkan di dalam air tersebut memaksa ikan, mangsa, atau musuh belut listrik bergetar di tempat persembunyiannya, sehingga lokasi persembunyian mereka dapat terdeteksi.

Ikan ini mempunyai pancaran listrik di dalam suatu alat khusus pada bagian ekornya. Listrik ini dipancarkan melalui ribuan pori-pori di punggung belut listrik dalam bentuk sinyal dan menciptakan medan listrik di sekitarnya. Benda apapun dalam medan listrik ini akan membiaskannya, sehingga belut listrik ini mampu mengetahui ukuran, daya alir, dan gerak dari benda tersebut.

Pada tubuh hewan ini, terdapat pengindera listrik yang dapat memantau medan tersebut seperti halnya radar. Cara kerja piringan listrik ini mempunyai prinsip kerja yang sama dengan baterai. Ketika ikan beristirahat, otot-otot yang tidak berhubungan belum aktif.

Namun, jika menerima pesan atau rangsangan dari saraf, belut listrik ini akan segera bekerja secara serentak untuk mengeluarkan daya listrik. Pada saat itu, voltase semua piringan listrik atau elektrosit menyatu sehingga mampu menghasilkan daya listrik yang besar.

Untuk navigasi, belut listrik hanya membutuhkan tegangan listrik yang kecil. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan musuh atau mangsanya belut listrik ini akan memberikan tegangan semaksimal mungkin dalam sesaat hanya untuk melumpuhkan mangsanya.

Jika musuh atau mangsanya telah lumpuh, maka belut listrik ini melalui kepala dan ekornya yang ditempelkan pada tubuh mangsa atau musuhnya itu akan mengalirkan tegangan listrik yang tinggi. Namun, hewan di sekitarnya tidak akan terpengaruh karena mereka tidak bersentuhan langsung dengan ekor dan kepala belut.

Secara umum, belut listrik dapat menghasilkan tiga tingkatakn kekuatan listriknya pada tiga situasi berbeda, yaitu:

1. Tegangan rendah, yang dihasilkan terus-menerus sebagai indera perasa lingkungan sekitarnya;
2. Tiga kali tegangan tinggi, yang dikeluarkan secara berkala ketika sedang berburu mangsa atau ketika berada di lingkungan yang membuatnya merasa terancam;
3. Tegangan tinggi dengan frekuensi tinggi, yang dikeluarkan ketika akan menangkap mangsa atau untuk melindungi diri dari predator.

Dapatkah Belut Listrik Menjadi Sumber Tenaga Listrik?

Setelah mengetahui bahwa kekuatan yang dimiliki belut listrik ternyata besar, bahkan melebihi tegangan listrik yang dipasang di setiap rumah. Apakah bisa belut listrik dijadikan alternatif sumber energi listrik tenaga belut listrik? Jawabannya adalah tidak.

Tegangan listrik dan arus listrik yang dihasilkan oleh tubuh belut listrik tidak konstan. Belut listrik tidak bisa menghasilkan listrik setiap waktu, hanya pada situasi tertentu dan dengan tegangan yang berbeda pada setiap situasi. Belut listrik akan menghasilkan tegangan listriknya ketika memburu mangsa atau diserang musuh.

Jika belut listrik dijadikan sumber energi tenaga listrik, maka harus ada musuh atau mangsa di dekatnya setiap waktu agar bisa menghasilkan tegangan listrik. Sedangkan untuk dijadikan sebuah sumber energi listrik dibutuhkan sumber yang mampu menghasilkan tegangan listrik dan arus listrik yang besarnya konstan setiap waktu.

Pada teknologi zaman sekarang, belum diketahui cara untuk memparalelkan arus yang dari tubuh belut listrik secara simultan. Apabila salah posisi, dikhawatirkan belut listrik tersebut saling menyengat dan kemudian mati bersama-sama.

Kemudian, belut listrik tersebut tidak akan mungkin hidup selamanya atau dalam jangka waktu bertahun-tahun lamanya. Harus ada pergantian atau resupply belut listrik, sementara keberadaan belut listrik ini terbatas, biasanya hanya terdapat di Sungai Amazon dan Sungai Orinoko.

Jadi, pada kesimpulannya untuk saat ini kemampuan yang dimiliki oleh belut listrik belum bisa dijadikan alternatif sumber tenaga listrik ya sobat! Jangan lupa untuk menjaga keseimbangan lingkungan 🙂

Referensi :
[1] Wikipedia. Sidat Listrik. Diakses pada 31 Desember 2019.
[2] BBC Indonesia. Belut Listrik ‘Terkuat di Dunia’ yang Baru Ditemukan di Amazon Mampu Lepaskan 860 Volt. Diakses pada 31 Desember 2019.
[3] Quora. Kalau Belut Listrik Bisa Menghasilkan Listrik Hingga 660 Volt Apakah Bisa Kita Menggunakan Listrik dari Belut untuk Membangun Pembangkit Listrik Tenaga Belut. Diakses pada 31 Desember 2019.

Teknologi Kuantum dan Masa Depan Dunia Kedokteran

Ilustrasi Teknologi Kedokteran Masa Depan, Sumber : Vector Stock

Semakin berkembang zaman, teknologi akan semakin berkembang. Perkembangan ini memberikan dampak positif dan negatif untuk kehidupan kita. Salah satu dampak negatifnya adalah semakin banyaknya tuntutan. Seperti halnya dunia kedokteran, perkembangan teknologi menuntut rumah sakit untuk meningkatkan pelayanannya menjadi semakin efisien.

Kecepatan dan ketelitian merupakan dua unsur utama permasalahan teknologi rumah sakit. Teknologi kuantum dapat menjawab dua masalah tersebut. Saat ini, ternyata teknologi kuantum telah diterapkan di peralatan rumah sakit, peralatan apa sajakah itu? Untuk menjawabnya, mari kita kenal terlebih dahulu apa itu teknologi kuantum.

Mengenal Teknologi Kuantum

Ilustrasi Teknologi Kuantum, Sumber : War on the Rocks

Teknologi kuantum merupakan sebuah konsep terbaru pemroresan data digital yang memanfaatkan prinsip dasar bagaimana alam bekerja. Teknologi kuantum saat ini telah mencapai tahap dimana kita bisa mengoperasikan, mengamati, dan mengisolasi partikel individu beserta sifat-sifat kuantumnya.[2]

Hubungan Teknologi Kuantum dan Dunia Kedokteran

Teknologi MRI, Sumber : Industrytide

Teknologi kuantum memang tidak terlihat, sehingga tidak dapat secara langsung dirasakan. Namun tahukah anda, teknologi kuantum ternyata saat ini telah berkembang di dunia kedokteran. Dalam dunia kedokteran, komputer modern saat ini memiliki keterbatasan untuk mencapai hal-hal yang bersifat kompleks, sehingga diperlukan teknologi kuantum untuk mencapainya. Teknologi MRI dan teknologi laser merupakan salah satu contoh peralatan yang memanfaatkan teknologi kuantum dalam pengoperasiannya.[4]

Teknologi Kuantum dan Masa Depan Dunia Kedokteran

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, teknologi kuantum merupakan teknologi yang sangat dibutuhkan di dunia kedokteran masa depan. Pemrosesan data yang besar dan machine learning merupakan salah satu komponen penting yang dibutuhkan dokter di masa depan. Dengan kemampuan tersebut, dokter dapat dengan mudah menentukan metode terapi mana yang cocok untuk pasien berdasarkan riwayat kesehatan pasien, ras, umur, gen, dan data-data lain yang disediakan oleh teknologi kuantum.[4]

Selain itu, dalam hal teknologi MRI, teknologi kuantum juga diperkirakan dapat membantu dalam pemrosesan gambar medis. Dengan teknologi kuantum, pemrosesan gambar medis dapat membantu menghasilkan gambaran yang lebih jelas bahkan hingga ke bagian mikroskopis dalam tubuh.[3]

Dalam halnya terapi kanker, teknologi kuantum dipercaya dapat mengobati kanker dengan cermat. Selama ini, kesulitan dalam terapi kanker adalah tentang bagaimana cara membunuh sel kanker tanpa membunuh sel sehat lainnya. Teknologi kuantum dipercaya dapat membunuh sel-sel kanker  tanpa membunuh sel-sel sehat lainnya secara tuntas dan singkat menggunakan radiasi, yang pastinya akan menyelamatkan banyak jiwa.[5]

Metode Terapi Kanker dengan Radiasi, Sumber : CancerQuest

Dan masih banyak lagi hal-hal lain dalam dunia kedokteran yang bisa berkembang melalui teknologi kuantum.

Saat ini, teknologi kuantum memang masih sedikit diterapkan, dalam artian sebagian besar masih dalam tahap penelitian. Salah satu penyebabnya adalah dibutuhkan suhu super dingin untuk bisa mengoperasikan teknologi kuantum.[1] Tapi siapa yang tahu, bagaimana dunia kedepannya? Sehingga silahkan persiapkan diri anda, wahai para dokter muda.

Sumber :

[1] Devoret, MH, Martinis, JM. 2004. Implementing Qubits with Superconducting Integrated Circuits. Quantum Information Process 3 (1-5): 163-203

[2] N MA, C IL. 2010. Quantum Computation and Quantum Information. Cambridge : Cambridge University Press.

[3] Parson, DF. 2011. Possible Medical and Biomedical Uses of Quantum Computing. Neuroquantology vol 9(3) : 596-600

[4] Pariente P. 2015. Quantum Computing Set to Revolutionise the Health Sector. L’Aterlier BNP Paribas

[5] Solenov, D., Brieley, J., Scherrer, JF. 2018. The Potential of Quantum Computing and Machine Learning to Advance Clinical Research and Change the Practice of Medicine. Modern Medicine 115(5): 463-467.