NUKLIR: Solusi Energi Penyelamat Negeri Penuh Kontroversi

Bagikan Artikel ini di:

Seiring dengan berkembangnya pembangunan di bidang teknologi, industri, dan informasi, kebutuhan akan energi khususnya energi listrik merupakan hal yang tak dapat dipisahkan dari kebutuhan hidup masyarakat Indonesia. Namun, pemenuhan kebutuhan energi listrik belum dilakukan secara keseluruhan. Dilansir dari Energi LIPI, pelaksanaan penyediaan energi listrik oleh PT.PLN (Persero) selaku lembaga pengelola masalah kelistrikan di Indonesia hingga saat ini belum dapat memenuhi kebutuhan masyarakat akan energi listrik secara keseluruhan.

Saat ini, pembangkit listrik berbahan bakar fosil seperti batubara, minyak, dan gas masih memegang peran yang dominan. Padahal menurut data ESDM 2006, cadangan minyak bumi Indonesia hanya sekitar 9M barel/tahun dan produksi Indonesia hanya sekitar 900 jt barel/tahun. Apabila digunakan secara terus menerus dan tidak ditemukan cadangan minyak baru atau tidak ditemukan teknologi baru untuk meningkatkan recovery minyak bumi, diperkirakan cadangan minyak Indonesia akan habis dalam waktu 23 tahun mendatang (terhitung sejak tahun _____).

Dilansir dari The Hill, gas alam merupakan salah satu alternatif dalam pemenuhan sumber energi listrik. Namun, gas alam menghasilkan emisi karbon yang signifikan dan sering mengalami ketidakstabilan harga. Walaupun gas alam dinilai relatif lebih bersih dibandingkan dengan batubara, namun emisi karbon yang dihasilkan masih harus menyesuaikan terhadap perundang-undangan terkait keamanan lingkungan.

Sementara itu, sumber energi alternatif lain seperti tenaga angin maupun tenaga surya dinilai belum mampu untuk memenuhi target yang diharapkan. Di Amerika Serikat, biaya yang digunakan untuk mensubsidi pengoperasian sumber energi terbarukan mencapai puluhan bahkan milyaran dollar namun sumber energi tenaga angin dan surya hanya mensuplai 7% dari kebutuhan listrik di Amerika Serikat. Ditengah persoalan tersebut, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dapat menjadi solusi dalam memenuhi kebutuhan suplai energi listrik.

Istilah ‘nuklir’ kerap menghadirkan kesan yang menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Energi nuklir termasuk salah satu energi bersih masa depan, karena tidak menghasilkan emisi (Duderstadt dan Hamilton, 1976). Pada dasarnya, energi nuklir merupakan energi dapat dihasilkan melalui dua macam mekanisme yaitu pembelahan inti (reaksi fisi) dan penggabungan beberapa inti (reaksi fusi).

Mekanisme produksi energi nuklir banyak menggunakan reaksi fisi nuklir.  Pembelahan inti (fisi nuklir) merupakan sebuah inti berat yang ditumbuk oleh partikel (neutron) dapat membelah menjadi dua inti yang lebih ringan dan beberapa partikel lain (Kidd, 2009). Contohnya adalah reaksi fisi adalah inti uranium yang ditumbuk oleh neutron.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN)

Saat sebuah inti ditembakkan oleh sebuah neutron dengan presentasi tertentu, inti akan mengalami pembelahan atau reaksi fisi (Zweifel, 1973). Reaksi fisi uranium menghasilkan neutron. Neutron yang dihasilkan dapat menumbuk kembali inti uranium untuk membentuk reaksi fisi selanjutnya (Cothern dan Rebers, 1991). Mekanisme ini terus terjadi dalam waktu yang sangat cepat hingga membentuk reaksi berantai tak terkendali. Akibatnya terjadi pelepasan energi yang besar secara singkat. Pelepasan energi yang dihasilkan melalui reaksi fisi berantai dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik apabila reaksi fisi berantai ini terkendali (Zweifel, 1973).

Dari berbagai macam ketakutan masyarakat akan bahaya yang ditimbulkan, nuklir memiliki banyak kegunaan yang dapat mempermudah kehidupan manusia seperti di bidang kedokteran, termasuk dalam proses diagnosa maupun penyembuhan beberapa jenis penyakit. Energi nuklir juga sangat bermanfaat di bidang industri, pertanian dan pemenuhan bahan-bahan makanan.

Pengembangan teknologi nuklir di Indonesia telah diupayakan melalui didirikannya Badan Atom Tenaga Nasional (BATAN). BATAN memiliki tugas dalam pengoperasian fasilitas penelitian teknologi nuklir di Jakarta, Serpong, Bandung, dan Yogyakarta (Rubiati, 2012). Salah satu hal yang dihasilkan adalah di bidang kedokteran, dimana digunakan radiasi dari isotop radioaktif cobalt pada dosis tertentu terhadap sel-sel kanker, sel-sel ini akan mati, sedangkan sel-sel normal tidak begitu terpengaruh selama pengobatan. Selain itu untuk mendiagnosa penyakit pasien tanpa harus melakukan pembedahan, para dokter biasanya menggunakan sinar-X.

Disamping hasil yang diperoleh dapat membantu meningkatkan kehidupan rakyat Indonesia, tidak sedikit masyarakat yang belum menyetujui adanya penggunaan energi nuklir. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa sisa dari produk nuklir benar-benar dapat merusak lingkungan dan kehidupan manusia. Sebuah krisis di reaktor, misalnya, biasanya menghasilkan kontaminasi dari lingkungan tanah dan air. Seperti kasus yang terjadi di Rusia pada 20 tahun silam dimana pukulan atas reaktor nuklir di Chernobyl Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir yang mengakibatkan kontaminasi serius yang mengancam kehidupan manusia dan kerusakan lingkungan yang parah.

Untuk menekan dampak negatif dari teknologi nuklir di Indonesia, didirikan BAPETEN (Badan Pengawas Tenaga Nuklir). BAPETEN bertugas melakukan pengawasan terhadap semua pemanfaatan tenaga nuklir di Indonesia, dengan seperangkat peraturan, perijinan dan inspeksi. Stigma nuklir yang masih lekat di benak masyarakat saat ini merupakan momok menakutkan dan selalu diidentikkan dengan bom atau senjata pemusnah massal. Namun, teknologi nuklir sebenarnya telah beralih untuk kesejahteraan masyarakat seperti telah banyak digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari, misalnya di bidang kesehatan, industri, pertanian dan dalam waktu dekat akan mengembangkan ke arah energi (PLTN). Oleh sebab itu, BAPETEN terus melakukan sosialisasi guna meningkatkan pengetahuan masyarakat luas akan manfaat teknologi nuklir itu sendiri.

Setiap pekerjaan yang dilakukan memiliki risiko apabila tidak dikerjakan secara hati-hati dan apabila tidak dilakukan dengan ketelitian yang tinggi. Ibaratkan api yang digunakan untuk membakar tumpukan sampah bisa saja membakar seluruh permukiman penduduk apabila terdapat kelalaian dari masing-masing oknum.

Demikian pula halnya dengan industri nuklir seperti reaktor nuklir, kelalaian manusia merupakan hal yang dapat menyebabkan kebocoran pada reactor nuklir seperti yang terjadi di Jepang beberapa waktu lalu. Oleh karena itu, pembangunan PLTN merupakan sesuatu yang dapat dipertimbangkan dan harus menjadi perhatian khusus dalam pengembangan energi listrik.

Referensi :

  • Cothern, C.R., dan P.A. Rebers (eds.). 1991. Radon, Radium, and Uranium in Drinking Water. Mich : Lewis Publisher.
  • Duderstadt, J.J. dan Hamilton,L.J.,1976, Nuclear Reactor Analysis. John Wiley and Sons,Inc., New York.
  • Kidd, Stephen W. 2009. Nuclar Fuel Resources. New York: CRC Press.
  • Zweifel, P. F.1973. Reactor Physics.USA: McGraw-Hill.
  • https://rubiantianggia.wordpress.com/2012/06/07/artikel-nuklir/
  • https://thehill.com/blogs/congress-blog/energy-environment/299121-nuclear-power-should-replace-much-of-our-coal-plants
  • http://www.energi.lipi.go.id/utama.cgi?artikel&1101089425&9
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Seberapa Besar Paparan Radiasi Dari Reaktor Daya Eksperimental?

Bagikan Artikel ini di:

Sebagaimana telah diketahui, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berencana untuk membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di kawasan Puspiptek Serpong. Ide ini muncul mengingat sulitnya untuk langsung membangun PLTN skala komersial di Indonesia. Sementara, tujuan utama dari program RDE adalah untuk mengembangkan kapabilitas nasional sebagai technology provider reaktor nuklir. Sehingga, alih-alih hanya sebagai pengguna, Indonesia juga bisa menjadi desainer, konstruktor, hingga operator sebuah PLTN [1].

Tentu saja program RDE hanya langkah awal, mengingat PLTN ini bersifat non komersial. Nantinya, RDE akan di-scale up ke daya yang lebih tinggi untuk keperluan komersial.

Gambar 1. Perencanaan Kawasan RDE

Rencana ini kedengaran bagus. Tapi mengapa dibangun di Puspiptek? Bukankah di sana pusat penelitian? Kan banyak orangnya? Selamat tidak nih? Nanti kena radiasinya bagaimana?

Baca juga: Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat

Kalau seandainya ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu, mempertanyakan nasib penghuni Puspiptek dan penduduk Serpong bahkan Tangerang Selatan, maka BATAN sudah punya jawabannya. Riset yang dilakukan oleh para Peneliti di Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) BATAN ini berfokus pada pelepasan radioaktivitas dan dosis radiasi di sekitar kawasan RDE dan Kawasan Nuklir Serpong (KNS) mengasumsikan RDE telah dibangun dan beroperasi.

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa RDE mengadopsi teknologi high temperature gas-cooled reactor (HTGR). Teknologi ini terkategori reaktor nuklir Generasi IV (GenIV), yang merupakan teknologi reaktor maju dengan berbagai keunggulan dibandingkan reaktor konvensional saat ini. HTGR menggunakan moderator grafit dan pendingin helium, sehingga memiliki densitas daya rendah. Bahan bakar HTGR merupakan pebble bed, dimana bola grafit diisi oleh ribuan partikel bahan bakar TRISO. Bentuk bahan bakar pebble bed menjamin retensi produk fisi maksimal. Sehingga, pelepasan material radioaktif ke lingkungan dapat diminimalisir [2-3].

Gambar 2. Struktur Bahan Bakar Pebble Bed

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Paparan radiasi lingkungan yang salah satu kontributornya adalah pelepasan material radioaktif merupakan pembahasan dari penelitian pertama, yang dilakukan oleh Pande Made Udiyani dkk [4]. Penelitian ini sebenarnya tidak hanya membahas tentang RDE, tetapi juga pelepasan dari Reaktor Serba Guna-G.A. Siwabessy, reaktor riset yang telah lama beroperasi di Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Kalkulasi dosis radiasi yang diterima penduduk sekitar KNS (termasuk daerah Serpong dan Gunung Sindur) dari pelepasan sourceterm RSG-GAS dan RDE dibahas di sini.

Berdasarkan kalkulasi tersebut, diperoleh bahwa pelepasan radiasi dari RSG-GAS memberikan dosis radiasi yang diterima publik sebesar 9.31×10-4 mSv/tahun. Besar? Tentu saja tidak. Nilai Batas Dosis (NBD) yang ditetapkan Bapeten untuk dosis yang diterima oleh masyarakat sebesar 1 mSv/tahun. Artinya, dosis radiasi yang dilepaskan RSG-GAS tidak sampai seperseribunya [4]!

Tapi itu, kan, RSG-GAS. Bagaimana dengan RDE? Ternyata lebih rendah lagi. Dosis radiasi yang diterima publik dari RDE paling tinggi hanya 4.17×10-4 mSv/tahun, kurang dari setengah RSG-GAS. Hal ini bisa dipahami, mengingat daya termal RDE hanya sepertiga RSG-GAS, yakni 10 MW [4]. Jika ditotal, dosis tertinggi yang mungkin diterima oleh penduduk setempat adalah 6.16×10-3 mSv/tahun. Masih jauh lebih rendah daripada NBD yang ditetapkan Bapeten.

Tabel 1. Dosis individual total dari pelepasan radioaktif RDE

Artinya, paparan radiasi ke lingkungan akibat lepasan radioaktif bisa dikatakan minim dan tidak penting untuk ditakuti.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Bagaimana dengan pekerja di kawasan Puspiptek? Bukankah ketika beroperasi, RDE akan memancarkan radiasi gamma? Nah, penelitian dari Amir Hamzah dkk berikut ini menjawabnya [5].

Cara termudah untuk menentukan apakah paparan radiasi dari reaktor selamat atau tidak untuk pekerja Puspiptek adalah dengan menghitung paparan radiasi pada pekerja di dalam kawasan RDE itu sendiri. Karena merekalah yang paling dekat dengan reaktor. Pertanyaannya, berapa dosis radiasi yang mereka terima?

Hasil kalkulasi tersebut ditampilkan pada grafik berikut.

Gambar 3. Distribusi dosis radiasi di teras reaktor, perisai biologis, dan area kerja RDE

Tampak bahwa di tengah teras reaktor (sumbu x = 0) dosis radiasi sangat tinggi melebihi 109 µSv/jam. Artinya, siapapun yang terkena paparan radiasi sebesar itu akan mati secara instan atau langsung. Namun, ketika melewati perisai biologis yang terbuat dari beton standar, dosis radiasi turun sangat drastis sehingga dosis radiasi yang diterima pekerja tepat di permukaan luar perisai biologis hanya 8 µSv/jam. Angka ini lebih rendah daripada NBD yang ditentukan oleh Bapeten untuk pekerja radiasi, yakni 10 µSv/jam. Pada jarak 7 m dari permukaan luar perisai biologis, dosisnya turun hingga kira-kira 1 µSv/jam. Lebih rendah lagi [5].

Dengan begitu rendahnya dosis radiasi di sekitar perisai biologis reaktor, bisa dikatakan tidak ada radiasi gamma dari reaktor yang sampai ke kawasan Puspiptek. Sehingga tidak akan ada potensi bahaya yang disebabkan oleh paparan radiasi dari operasi normal RDE.

Menilik dari dua penelitian ini, maka jelas bahwa kondisi operasional RDE tidak memberikan dampak kesehatan apa-apa pada masyarakat. Apalagi, memang tidak ada dampak radiasi yang bisa dideteksi pada dosis radiasi dibawah 100 mSv dalam waktu singkat [6-8]. Mengingat NBD yang ditetapkan Bapeten hanya 1 mSv/tahun untuk masyarakat, dan dosis tertinggi yang diterima masyarakat jauh lebih rendah dari itu, tidak ada kekhawatiran yang perlu dipikirkan oleh pekerja di kawasan Puspiptek apalagi penduduk Serpong.

Referensi:

  1. Topan Setiadipura et al. “Cooling passive safety features of Reaktor Daya Eksperimental,” AIP Conference Proceedings 1984, 020034 (2018).
  2. Andika Putra Dwijayanto dan Muhammad Subekti. “Preliminary Study of Temperature Homogenisation in Experimental Power Reactor Hot Gas Chamber.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022019 (2019).
  3. Ihda Husnayani dan Pande Made Udiyani. “Radionuclide Characteristics of RDE Spent Fuels.” Jurnal Teknologi Reaktor Nuklir, Vol. 20, No. 2, pp. 69-76 (2018).
  4. Pande Made Udiyani et al. “Atmospheric Dispersion Analysis for Expected Radiation Dose due to Normal Operation of RSG-GAS and RDE Reactors.” Atom Indonesia, Vol. 44, No. 3, pp. 115-121 (2018).
  5. Amir Hamzah et al. “Preliminary analysis of dose rates distribution of experimental power reactor 10 MW using MCNP.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022038 (2019).
  6. Wade Allison. Radiation and Reason. York: Wade Allison Publishing (2009).
  7. David Bodansky. Nuclear Energy: Principles, Practices, and Prospects 2nd Edition. New York: Springer-Verlag (2004).
  8. World Nuclear Association. Nuclear Radiation and Health Effects. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/radiation-and-health/nuclear-radiation-and-health-effects.aspx), diakses 12 Juni 2019.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat, Bukan Sebaliknya

Bagikan Artikel ini di:

Tidak ada argumen yang lebih sering digunakan untuk menolak energi nuklir selain kecelakaan Chernobyl. Kecelakaan PLTN yang terjadi pada tahun 1986 ini menjadi senjata utama bagi kaum anti-nuklir untuk menunjukkan betapa bahayanya energi nuklir bagi kehidupan manusia. Kata “radiasi” pun seolah menjadi momok yang mengerikan bagi publik.

Gambar 1. PLTN Chernobyl, Unit 1 paling dekat, Unit 4 paling jauh (sumber: ANS Nuclear Cafe)

Patut diakui bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl adalah kecelakaan parah, dan tidak ada yang berharap kecelakaan sejenis itu terulang lagi. Tapi menjadikan kecelakaan PLTN Chernobyl sebagai bukti bahayanya energi nuklir adalah sama sekali tidak beralasan. Sebaliknya, justru kecelakaan PLTN Chernobyl adalah bukti bahwa energi nuklir itu sangat selamat.

Ada beberapa alasan yang melandasinya. Pertama. PLTN Chernobyl menggunakan desain reaktor yang secara alamiah buruk, yakni RBMK (reaktor bolshoy moshchnosty kanalny/reaktor kanal daya tinggi). Berbeda dengan reaktor nuklir pada umumnya, RBMK menggunakan moderator netron dan pendingin terpisah; moderator berupa grafit dan pendingin air [1]. Tujuan penggunaan pendingin dan moderator terpisah adalah supaya bahan bakar dapat diganti ketika reaktor beroperasi. Hal ini sangat penting karena Uni Soviet kala itu menggunakan PLTN tipe RBMK untuk memproduksi bahan baku senjata nuklir.

Gambar 2. Desain skematik RBMK (sumber: WNA)

Masalahnya, penggunaan moderator grafit dan pendingin air membuat reaktor memiliki masalah yang melekat; reaktivitas void RBMK bernilai sangat positif. Artinya, ketika terjadi kehampaan (void) dalam reaktor, misalkan karena air pendingin menguap terlalu banyak, daya reaktor akan naik alih-alih turun [1]. Sementara, pada reaktor lain, daya reaktor akan turun ketika terjadi void dalam reaktor (reaktivitas void negatif) [2]. Bahkan para insinyur nuklir Soviet pun sudah paham masalah ini, tapi kemudian diabaikan oleh pemerintah [3]. Hal ini, ditambah dengan berbagai cacat lain pada desainnya, berkontribusi dalam menyebabkan kecelakaan PLTN Chernobyl.

Tidak ada reaktor nuklir yang menggunakan teknologi RBMK di luar bekas negara Uni Soviet. Tipe reaktor nuklir yang paling banyak digunakan saat ini, LWR (light water reactor) memiliki reaktivitas void negatif. Cacat alamiah desain tidak akan ditemukan di LWR yang mendominasi lebih dari 80% reaktor nuklir di dunia. Bahkan, sisa-sisa RBMK di Rusia sudah dimodifikasi agar lebih selamat.

Baca juga: Keunggulan PLTN Terapung Untuk Indonesia

Kedua, dengan berbagai cacat alamiah tersebut, sebenarnya PLTN Chernobyl Unit 4 tidak akan mengalami kecelakaan tersebut seandainya operator dan supervisor tidak melanggar berlapis-lapis protokol keselamatan. Pada saat itu, reaktor dioperasikan dalam kondisi yang tidak mungkin tercapai dalam kondisi operasional. Seluruh sistem keselamatan dimatikan tetapi reaktor dioperasikan dalam keadaan sangat berbahaya, bahkan dilarang oleh peraturan Uni Soviet sendiri [4].

Faktor terbesar kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 adalah human error. Karena sekalipun teknologi yang digunakan sangat cacat, kecelakaan itu tidak akan terjadi jika operator dan supervisor tidak bertindak ceroboh.

Ketiga, ledakan uap dan hidrogen yang terjadi menyebabkan 5% material nuklir terhambur dari dalam reaktor ke lingkungan. Api yang menyambar grafit moderator menyebabkan kebakaran yang membawa debu radioaktif ke berbagai bagian Eropa. Namun, total kematian yang disebabkan oleh kecelakaan ini hanya ± 60 orang. Operator dan supervisor tewas dalam ledakan, 28 orang pemadam kebakaran/likuidator tewas akibat acute radiation sickness (ARS), sementara sisanya karena mengidap kanker tiroid akibat meminum susu yang terkontaminasi I-131 dan tidak bisa terselamatkan [5].

Sempat diproyeksikan bahwa akan ada sekitar 4000 kematian susulan sebagai akibat paparan radiasi dari kecelakaan tersebut. Namun, laporan UNSCEAR tahun 2008 menegasikan proyeksi itu, mengatakannya sebagai, “Tidak bisa dibedakan dengan kematian biasa…” [5] Sehingga, angka kematian di atas bisa dikatakan final.

Dibandingkan dengan 300 ribu orang tewas tiap tahunnya di Cina akibat polusi PLTU batubara [6], angka kematian akibat kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 ini tentu sangatlah sedikit.

Baca juga: Mengenal Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Keempat, PLTN Chernobyl yang mengalami kecelakaan hanya Unit 4. Sementara, Unit 1-3 tidak terdampak. Pasca kecelakaan, PLTN Chernobyl Unit 1-3 masih tetap dioperasikan, sebelum unit terakhir ditutup permanen pada tahun 2000 [1]. Hal ini menarik, karena kecelakaan PLTN terparah yang mungkin terjadi pun ternyata tidak memengaruhi unit-unit yang berada di sekitarnya!

Kelima, kota Pripyat dan Chernobyl nyatanya tidak menjadi sejenis nuclear wasteland. Memang kedua kota itu ditinggalkan dan tidak banyak yang manusia tinggal di sekitar sana, tapi alih-alih menjadi lahan tandus, hewan-hewan dan tumbuhan tumbuh dan berkembangbiak dengan subur [7]. Bahkan kedua kota itu menjadi destinasi wisata sejak 2011, dan baik-baik saja untuk dikunjungi. Apakah keberadaan manusia justru berdampak lebih negatif pada alam Chernobyl dibandingkan kecelakaan PLTN?

Orang-orang yang hidup di Chernobyl (tepi zona ekslusi), di tahun 2018 ada sekitar 150 orang yang hidup di zona tersebut, Sumber: BBC

Keenam, level radiasi di kawasan Chernobyl dan negara sekitarnya relatif rendah. Pengukuran dosis radiasi yang dilakukan UNSCEAR menunjukkan bahwa, pada rentang tahun 1986-2005, di daerah yang paling terkontaminasi, dosis yang diterima penduduk rerata sekitar 2,4 mSv di Belarusia, 1,1 mSv di Rusia dan 1,2 mSv di Ukraina. Sebagai perbandingan, rerata dosis radiasi tahunan di bumi adalah 2,4 mSv/tahun. Selain itu, beberapa daerah memiliki radiasi latar jauh lebih tinggi dari angka ini, misalnya Kerala, India (70 mSv/tahun) dan Ramsar, Iran (400 mSv/tahun) [8,9].

Gambar 3. Pengukuran radiasi di stadion olahraga 4 km dari reaktor Chernobyl pada tahun 2008. Dosis radiasi terukur 2,8 µSv/jam, atau 2,5 mSv/tahun (sumber: Jaworowski, 2009)

Kecelakaan nuklir terparah sekalipun tidak menyebabkan paparan radiasi eksternal fatal pada masyarakat.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Ketujuh, kecelakaan PLTN Chernobyl adalah satu-satunya kecelakaan PLTN yang menyebabkan korban jiwa selama sejarah operasionalnya, dengan jumlah korban minimal. Bahkan sekalipun mempertimbangkan angka “4000 kematian tambahan” yang sudah dikoreksi oleh UNSCEAR, tingkat kematian yang disebabkan nuklir masih yang paling rendah dibandingkan moda energi lainnya seperti ditunjukkan oleh gambar berikut[10]

Gambar 4. Jumlah kematian per TWh energi (diolah dari Nextbigfuture)

Demikianlah tujuh alasan mengapa kecelakaan PLTN Chernobyl justru menunjukkan bahwa energi nuklir merupakan energi yang selamat, bahkan paling selamat dibanding moda energi lainnya. Secara praktis, kecelakaan dengan level setara dengan PLTN Chernobyl Unit 4 tidak mungkin terjadi lagi. Padahal, untuk menyamai level bahaya yang diakibatkan PLTU batubara, kecelakaan selevel Chernobyl perlu terjadi 4 kali setiap jam. Ya, 4 Chernobyl tiap jam atau 1 Chernobyl tiap 15 menit harus terjadi agar dampak energi nuklir seburuk energi batubara. Mungkinkah hal itu terjadi, sementara 400 GWe PLTN dalam operasi saat ini masih beroperasi baik-baik saja?

Referensi:

  1. World Nuclear Association. Chernobyl Accident 1986. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/chernobyl-accident.aspx). Diakses 28 Februari 2019.
  2. Max Carbon. 2006. Nuclear Power, Villain or Victim? Our Most Misunderstood Source of Electricity. Madison: Pebble Beach Publisher.
  3. Douglas E. Hardtmayer. Five Things You Probably Didn’t Know About Chernobyl. (http://ansnuclearcafe.org/2018/04/26/five-things-you-probably-didnt-know-about-chernobyl/). Diakses 11 Maret 2019.
  4. Bernard L Cohen. 1990. The Nuclear Energy Option. Pittsburgh: Plenum Press.
  5. United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation. 2011. Sources and Effects of Ionizing Radiation Volume II Annex D. New York: UNSCEAR.
  6. James Conca. Pollution Kills More People Than Anything Else. (https://www.forbes.com/sites/jamesconca/2017/11/07/pollution-kills-more-people-than-anything-else/#7b8446451a35). Diakses 28 Februari 2019.
  7. G. Deryabina et al. 2015. “Long-term census data reveal abundant wildlife populations at Chernobyl”.Current Biology, vol. 25, pp. 824-826.
  8. Geoff Russell. What can we learn from Kerala? (https://bravenewclimate.com/2015/01/24/what-can-we-learn-from-kerala/). Diakses 11 Maret 2019.
  9. Zbigniew Jaworowski. 2010. “Observations on Chernobyl After 25 Years of Radiophobia”. 21st Century Science & Technology, Summer 2010, pp 30-45.
  10. Brian Wang. Update of Death per Terawatt hour by Energy Source. (https://www.nextbigfuture.com/2016/06/update-of-death-per-terawatt-hour-by.html). Diakses 28 Februari 2019.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: