Di tengah krisis iklim global, negara-negara di seluruh dunia berupaya mencari cara untuk memproduksi energi dengan emisi karbon serendah mungkin. Angin dan surya menjadi pilihan populer, tetapi diskusi tentang energi nuklir tidak pernah surut. Ada yang menganggapnya solusi andalan karena bebas emisi karbon saat beroperasi, namun ada juga yang menyoroti risiko limbah radioaktif dan dampaknya terhadap masyarakat.
Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di Journal of Cleaner Production tahun 2025 mencoba mengurai persoalan ini dari dua sisi: apakah energi nuklir benar-benar berkelanjutan secara lingkungan, dan apakah ia adil secara sosial dalam kerangka ekonomi sirkular dan transisi energi global.
Untuk memahami studi ini, mari kita bahas dulu istilah penting: ekonomi sirkular.
Kalau ekonomi linear itu ibarat “ambil–pakai–buang”, maka ekonomi sirkular mencoba meminimalisasi limbah dengan cara “ambil–pakai–olah kembali”. Dalam konteks energi, ekonomi sirkular menekankan agar setiap tahap, dari bahan baku hingga akhir umur fasilitas dikelola seefisien mungkin, mengurangi limbah, dan meminimalkan dampak lingkungan.
Jika diterapkan pada nuklir, ini berarti bukan hanya soal bagaimana reaktor menghasilkan listrik, tapi juga bagaimana uranium ditambang, bahan bakar diproses, reaktor akhirnya dibongkar, dan limbah radioaktif disimpan dengan aman.
Baca juga artikel tentang: AI dan Keamanan Nuklir: OpenAI Terapkan Kecerdasan Buatan untuk Mengurangi Risiko Bencana Nuklir
Dampak Lingkungan Nuklir: Tak Sesederhana Nol Emisi
Banyak yang mengenal nuklir sebagai sumber energi tanpa emisi karbon saat beroperasi. Memang benar, reaktor nuklir tidak mengeluarkan CO₂ saat menghasilkan listrik. Namun, studi ini menekankan bahwa emisi bukanlah satu-satunya ukuran keberlanjutan.
Ada dampak lain yang harus diperhatikan:
- Pertambangan Uranium
- Membutuhkan energi besar, menghasilkan limbah tambang, dan seringkali berdampak pada ekosistem serta masyarakat lokal.
- Penggunaan Air
- Reaktor nuklir membutuhkan air dalam jumlah sangat besar untuk pendinginan. Ini bisa menimbulkan masalah di daerah yang rentan kekeringan.
- Radiasi & Limbah
- Meski limbah nuklir jumlahnya relatif kecil dibanding limbah fosil, sifatnya berbahaya dan bisa bertahan ribuan tahun. Penyimpanan jangka panjang masih menjadi tantangan besar.
- Decommissioning (Pembongkaran Reaktor Tua)
- Membongkar reaktor yang sudah usang bukan perkara mudah. Biaya, waktu, dan dampak lingkungannya sangat besar.
Dimensi Keadilan: Siapa yang Menanggung Risikonya?
Selain dampak lingkungan, peneliti menekankan aspek keadilan sosial. Siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan dari pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN)?
- Komunitas penambang uranium sering kali menghadapi masalah kesehatan dan lingkungan akibat paparan radiasi dan limbah tambang.
- Warga sekitar PLTN harus hidup dengan risiko, meski kecil kebocoran radiasi atau kecelakaan nuklir.
- Generasi mendatang akan menanggung beban mengelola limbah nuklir yang bisa tetap berbahaya selama ribuan tahun.
Dengan kata lain, meski listrik nuklir bisa dinikmati semua orang, risiko dan beban pengelolaan seringkali menumpuk di kelompok tertentu saja.
Dibandingkan dengan Energi Terbarukan
Bagaimana posisi nuklir dibandingkan dengan angin atau surya? Studi ini menemukan bahwa dalam beberapa aspek, nuklir punya jejak lingkungan lebih besar, misalnya pada penggunaan air dan kebutuhan material total. Angin dan surya tidak bebas masalah misalnya limbah panel surya atau turbin tua, tapi skala risikonya relatif lebih bisa dikendalikan dibanding limbah radioaktif.
Namun, keunggulan nuklir adalah daya stabilitasnya. Saat angin tidak berhembus dan matahari tidak bersinar, nuklir tetap bisa memasok listrik. Inilah alasan mengapa beberapa negara masih menaruh harapan besar pada energi nuklir sebagai bagian penting transisi energi.
Studi Kasus: Italia dan Nuklir
Penelitian ini juga menyinggung kasus Italia. Negara ini punya sejarah panjang pro-kontra nuklir. Setelah bencana Chernobyl, Italia bahkan menutup reaktor nuklirnya. Namun kini, dalam menghadapi target nol karbon, wacana nuklir kembali mencuat. Studi ini menekankan bahwa setiap negara harus menilai keputusan nuklirnya bukan hanya dari sisi teknis, tapi juga dari dampak sosial dan lingkungan dalam jangka panjang.
Tantangan Besar: Mengintegrasikan Nuklir ke Ekonomi Sirkular
Bisa kah nuklir benar-benar sesuai dengan prinsip ekonomi sirkular?
- Jika siklus bahan bakar bisa ditutup sepenuhnya (misalnya dengan daur ulang bahan bakar bekas), maka jumlah limbah bisa ditekan.
- Namun teknologi ini masih mahal dan kompleks, serta belum banyak diterapkan.
Studi ini menyimpulkan bahwa tanpa inovasi besar dalam daur ulang bahan bakar dan penyimpanan limbah jangka panjang yang aman, sulit bagi energi nuklir untuk sepenuhnya memenuhi standar keberlanjutan ekonomi sirkular.
Menatap ke Depan
Apakah nuklir solusi atau masalah dalam transisi energi? Jawabannya tidak hitam-putih.
- Pro: Nol emisi karbon saat operasi, stabilitas pasokan listrik, daya besar.
- Kontra: Limbah berbahaya, dampak sosial, biaya tinggi untuk pembangunan dan pembongkaran.
Studi ini mengingatkan bahwa energi bersih bukan sekadar teknologi, tapi juga soal keadilan. Kalau energi nuklir dipilih, maka pemerintah dan industri wajib memastikan bahwa beban risikonya tidak hanya ditanggung oleh sebagian kelompok, melainkan ada tanggung jawab kolektif untuk mengelola dampaknya secara adil dan berkelanjutan.
Energi nuklir sering dijual sebagai “jalan cepat” menuju masa depan rendah karbon. Tapi penelitian ini menunjukkan bahwa kenyataannya jauh lebih kompleks. Nuklir bukan hanya soal reaktor dan listrik, tapi juga tentang tambang, air, limbah, masyarakat lokal, dan bahkan generasi mendatang.
Jika dunia benar-benar ingin transisi energi yang adil, maka nuklir harus dilihat bukan hanya dari sisi teknis, tapi juga dari dimensi lingkungan dan keadilan sosial. Hanya dengan cara itu, kita bisa memastikan bahwa energi yang kita gunakan hari ini tidak menjadi beban bagi masa depan.
Baca juga artikel tentang: Temuan Reaktor Nuklir Alami Tertua di Dunia Bisa Menjadi Kunci Untuk Energi Masa Depan
REFERENSI:
Ghisellini, Patrizia dkk. 2025. Assessing the environmental sustainability and justice dimensions of nuclear electricity under circular economy and energy transition frameworks. Journal of Cleaner Production, 144818.

