Berencana Beli atau Jual Smartphone? Penelitian ini Ungkap Apa yang Perlu Dipertimbangkan

Bagikan Artikel ini di:

Smartphone bukan lagi menjadi bagian dari kebutuhan tersier. Fungsinya berkembang pesat baik secara sosial, ekonomi dan budaya sehingga gawai (kata baku untuk gadget) ini tak bisa dilepaskan dari pola hidup masyarakat. Maka tak heran, kepemilikan telepon di negara berkembang mendekati 90%. Tingginya angka penetrasi tersebut mengakibatkan ketatnya persaingan antar merek sehingga revolusi smartphone berkembang lebih pesat dibandingkan dengan barang elektronik lainnya. Bisa kita lihat, berapa banyak model smartphone yang keluar setiap bulannya?

Perkembangan smartphone bukan hanya dari sisi model tetapi juga fitur teknologi yang ditawarkan. Saat ini ada dua brand smartphone yang dianggap memiliki pangsa pasar terbesar di dunia yaitu Apple dan Samsung. Jumlah pangsa pasar yang diraih dua brand ini mencapai 70%. Selain kualitas, pangsa pasar yang besar tentu ditunjang dengan strategi pemasaran. Salah satunya dengan selalu mengeluarkan model-model terbaru. Apple akan menghasilkan model baru setiap tahun. Sedangkan Samsung dinilai lebih rajin mengeluarkan model terbarunya daripada Apple. Revolusi model smartphone ini tentu saja juga berimbas pada pergantian smartphone. Mengutip dari analisis Tirto.id rata-rata orang akan mengganti ponselnya setiap 22 bulan sekali.

Ternyata sesering ini seseorang mengganti ponselnya

Hal yang biasanya tidak disadari adalah ada harga yang harus dibayar dari cepatnya pergantian model smartphone. Sama seperti perangkat elektronik lainnya, smartphone mengandung 50 elemen yang berbeda termasuk mineral langka dan toxic seperti timbal dan arsen. Mineral ini mengakibatkan kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan masyarakat. Meskipun jika dihitung secara matematis, perubahan iklim yang disumbangkan cukup kecil tetapi secara agregat angka yang dihasilkan cukup mengkhawatirkan.

Contohnya 95 kgCO2 dalam iPhone 6 akan menjadi 140 M kgCO2 jika dihitung berdasarkan data penjualan smartphone model tersebut secara agreget sebanyak 1,5 M tahun 2016.  Bisa dibayangkan berapa banyak kgCO2 yang dihasilkan jika semua merek berlomba mengeluarkan model baru. Selain itu, smartphone dinilai menjadi barang elektronik yang paling sering diganti daripada lainnya.

Solusi yang ditawarkan untuk meringankan beban lingkungan berupa peningkatan kualitas dan kemudahan perbaikan smartphone sehingga masa pakai smartphone lebih panjang. Kondisi tersebut bisa menekan pemakaian sumberdaya dan energi produksi smartphone. Artinya dari praktik 3R (Reduce, reuse, recycle), reuse (pemakaian ulang) menjadi langkah paling awal yang bisa dilakukan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Disadari atau tidak, kegiatan reuse smerupakan bagian dari kegiatan dalam pasar barang bekas. Saat ini, pasar barang bekas berkembang pesat dengan bantuan internet. Internet membantu memangkas batas wilayah perdagangan sehingga konsumen bisa menemukan produk mereka dan secara otomatis masa hidup smartphone mengembang. Perdagangan smartphone bekas bahkan meningkat 4-5 kali lebih tinggi daripada pasar smartphone secara keseluruhan. Artinya, fenomena reuse melalui pasar bekas memainkan peran penting untuk masa hidup smartphone.

Perbaikan untuk upgrade teknologi dalam smartphone berpengaruh pada keputusan pembelian

Jika demikian, lantas apa yang bisa mempengaruhi konsumen membeli smartphone bekas? Penelitian sebelumnya menemukan kebaharuan teknologi dan fungsi smartphone yang sesuai keinginan dinilai menjadi tolok ukur utama keputusan pembelian (Wilson et al (2017), Wieser and Troger (2017)). Selain itu, konsumen dianggap tidak akan mengganti smartphone hanya karena kesalahan fungsi atau fisik yang kecil. Sedangkan Bellezza et al (2017) menemukan bahwa keberadaan perbaikan pada smartphone bekas menyebabkan konsumen cukup acuh pada detail fitur dalam smartphone. Artinya, teknologi dan layanan perbaikan berperan penting dalam meningkatkan keputusan pembeli smartphone bekas.

Hal yang perlu diperhatikan, selain teknologi dan perbaikan yang dilakukan, merek smartphone ternyata juga berpengaruh besar. Smartphone sudah menjelma menjadi simbol eksistensi diri secara sosial sehingga kualitas di luar aspek fungsional seperti merek dapat meningkatkan peluang pembelian. Kita ambil Apple dan Samsung sebagai contoh. Apple dinilai memiliki merek yang stabil karena kontrol harga setiap produk dibandingkan Samsung yang terlalu sering memberikan promosi. Perbedaan strategi juga pemasaran berdampak pada kualitas merek sehingga umur ekonomis dan harga Samsung di pasar bekas berada jauh di bawah Apple. Dari sini kita bisa melihat bahwa kualitas fisik yang tampak bukan hanya penentu tunggal keputusan pembelian smartphone di pasar bekas.

Apple dan Samsung adalah dua merek yang mendominasi pasar

Makov et al (2018) mengambil data penjualan Apple dan Samsung bekas dari paltform online pasar bekas eBay. Beberapa alasan yang pemilihan Apple dan Samsung sebagai fokus brand yang diteliti adalah dominansi keduanya dalam pasar, keduanya tidak memperkenalkan diri sebagai produk dengan masa hidup panjang, kedua brand memiliki model yang sebagian mudah diperbaiki dan tingkat penjualan di Amerika Serikat juga seimbang. Data dikumpulkan dalam dua periode yaitu 4 bulan pertama di tahun 2015 dan 2016. Sebanyak 500.000 listings pengguna Apple dan Samsung yang terjual via eBay.com diolah untuk menjelaskan perbedaan peran masing-masing fitur smartphone terhadap masa hidupnya. Perhitungan nilai yang hilang dengan cara membandingkannya harga saat saat pertama kali diluncurkan dengan harga di pasar bekas eBay. Data kemudian diregresikan menggunakan regresi OLS untuk dapat merumuskan variabel berupa fungsi kualitas yang tidak tampak.

Peneliti merumuskan dua model untuk memahami pergerakan penyusutan nilai. Model pertama digunakan untuk mengetahui nilai depresiasi smartphone dari variabel yang dianggap berpengaruh. Model 1, fokus pada fitur berkaitan dengan daya tahan fungsional (perbaikan dan kapasitas) dan kondisi keausan smartphone dibandingkan dengan fitur tak tampak (merek dan kebaharuan model) sementara variabel kontrol berupa umur perangkat dan spesifikasi teknis lainnya (ukuran layar, kamera dan berat smartphone) dan faktor eksternal lainnya (jenis provider, reputasi penjual, pengiriman gratis, dan jenis penjualan).

Model 1

Ketidaklengkapan informasi kondisi smartphone dan jenis provider di eBay membuat hanya 27% data listings smartphone yang diolah menggunakan Stata dengan test White. Test ini digunakan untuk mengetahui heteroskedasitasnya. Dan didapatkan hasil ada korelasi yang kuat antara variabel yang menerangkan dengan variasi eror, variasi eror terbesar pada perbandingan antara smartphone model baru dan model lama.
Model 1 menunjukkan hasil bahwa kualitas tidak tampak seperti merek dan kebaharuan sama penting dengan kondisi fisik atau fitur yang berkaitan dengan daya tahan fungsional (perbaikan dan kapasitas). Peneliti mempekirakan jika smartphone Apple dan Samsung dengan spesifikasi yang sama berada masuk pasar bekas, maka nilai smartphone Samsung menyusut sebesar 12,3 ± 0,2% daripada Apple. Kondisi tersebut juga terjadi pada aspek kebaharuan model smartphone meskipun angka perbandingan penyusutan lebih kecil. Model baru smartphone secara signfikan kehilangan sekitar 4,5 ± 0,3% lebih sedikit daripada model lama.

Sementara hal sebaliknya justru terjadi pada variabel perbaikan dan kapasitas memori. Semakin besar kapasitas memori dan perbaikan yang dilakukan justru meningkatkan nilai penyusutan di pasar bekas. Apa yang bisa diindikasikan dari hal ini? Ada kecenderungan jika smartphone yang memiliki memori besar dan performanya telah ditingkatkan tidak terlalu mempengaruhi masa hidup smartphone. Artinya konsumen dinilai cenderung abai terhadap kedua variabel ini saat memutuskan membeli smartphone tertentu. Hal ini dapat dilihat dari angka smartphone yang diperbaiki dan memorinya besar (128 GB) justru kehilangan 2,7 ± 0,3% dari smartphone yang tidak diperbaiki dan memori yang besar.

Variabel fisik lainnya yang diestimasi nilai penyusutannya oleh peneliti adalah kondisi smartphone. Gawai yang dideskripsikan dalam kondisi fisik buruk tentu akan kehilangan nilai lebih banyak daripada gawai kondisi terbaik meskipun spesifikasinya sama. Akan tetapi, hal yang mengejutkan adalah nilai penyusutan kondisi fisik hanya sebesar 8,8 ± 0,1%. Nilai ini lebih rendah dari nilai penyusutan akibat variabel tak tampak seperti merek dan kebaharuan model.

Model 2

Model 1 sebenarnya dapat digunakan untuk merumuskan efek dari merek dan estimasi umur merek tidak layak lagi masuk pasar bekas. Akan tetapi, perbedaan spesifikasi fitur yang dimiliki masing-masing smartphone tidak sama persis sehingga tidak semua predictor konstan. Oleh karena itu, untuk memperkirakan estimasi masa hidup smartphone berdasarkan merek dan usia ponsel digunakan model kedua. Untuk memenuhi aturan asumsi klasik dalam regresi OLS maka interaksi merek dan usia ponsel juga dimasukkan dalam model.
Model ini memberikan dua keuntungan. Pertama, pembatasan data pada merek dan usia ponsel menyebabkan data listings yang bisa diolah lebih banyak.

Kedua, model ini mempermudah untuk mengetahui dampak merek dan kuantitas nilai penyusutannya secara spesifik. Sedangkan pada model 1, kuantifikasi data tidak bisa dilakukan karena smartphone Samsung dan Apple di pasar bekas sudah melalui perbaikan sehingga semua variabel selain merek tidak bisa konstan sama. Berdasarkan data tersebut, peneliti menggunakan model kedua untuk menghitung dampak usia smartphone terhadap nilai penyusutannya.

Penyusutan nilai pasar Apple dan Samsung berdasarkan umur

Sesuai model pertama, model kedua juga menunjukkan semakin lama usia smartphone maka nilai penyusutan juga semakin bertambah. Persamaan model ini juga menggambarkan adanya dampak signifikan dari merek dan usia smartphone terhadap merek. Samsung akan kehilangan nilai dari peluncuran pertama sampai dijual kembali setelah 54 ± 0,2 bulan sedangkan Apple mencapai 66,9 ± 0,6 bulan. Walaupun merek tidak berpengaruh pada kualitas fisik, variabel ini tetap menambah masa hidup smartphone rata-rata sebesar 12,5 bulan. Jika dibandingkan, maka satu Apple maka nilainya sama dengan 1,23 Samsung dengan umur, ukuran dan fungsi-sungsi lain yang sama. Penelitian ini memberikan gambaran bahwa layanan perbaikan hanya akan berdampak kecil pada umur ekonomis dan fase penggunaan smartphone.

Walaupun ada kemungkinan kebutuhan konsumen selalu berubah tetapi dua periode waktu yang dipilih menunjukkan kualitas tidak tampak seperti merek justru lebih berdampak pada umur ekonomis daripada layanan perbaikan. Merek-merek berumur panjang bisa menjaga keberlanjutan konsumsi smartphone tersebut lebih lama sehingga produksi dan biaya pengangkutan bisa ditekan. Artinya, bertambahnya umur ekonomis smartphone bisa mengefisiensikan sumberdaya dan energi.

Hal ini sejalan dengan perubahan gaya hidup yang mengedepankan nilai sosio-ekonomi daripada nilai ekonomis dari suatu produk. Branding dan sosial status yang terbentuk akan menggeser peran harga dalam keputusan pembelian barang elektronik di pasar termasuk pasar bekas. Meskipun berhasil menghitung berapa lama masa ekonomis suatu smartphone, peneliti menganggap beberapa penelitian lebih mendalam tetap diperlukan. Kelemahan yang dimaksud adalah batasan-batasan dalam penelitian yang dilakukan. Pertama, analisis yang dilakukan hanya dari penjualan eBay di Amerika Serikat yang dilakukan hanya dalam dua periode transasksi sehingga belum bisa mempresentasikan keseluruhan. Kedua, peneliti tidak memperhitungkan adanya smartphone yang kemungkinan sudah tua dan tidak bisa lagi ditawarkan di eBay dan smartphone terbaik yang tidak ditawarkan di eBay. Terakhir, beberapa smartphone tidak memiliki informasi lengkap terkait kondisinya setelah perbaikan.

Konsumen juga dinilai tidak sadar bahwa beberapa smartphone mudah untuk diperbaiki dan kemudahan ini tidak dimasukkan dalam variabel. Untuk mengetahui, apakah konsumen benar-benar lebih mementingkan merek dibandingkan layanan konsumen, maka penelitian selanjutnya bisa mengulas efek dari keberadaan informasi perbaikan kepada konsumen dengan baik. Bagaimana denganmu? Apakah kamu juga mempertimbangkan adanya layanan perbaikan tersebut saat akan membeli atau menjual smartphone bekas? Semoga keputusanmu dalam membeli dan menggunakan smartphone lebih bijak setelah membaca penelitian ini, ya.

Referensi

  • Makov, Tamar., Fishman, Tomer., Chertow, Marian R., Blass, Vered. 2018. What Affects the Secondhand Value of Smartphones. Journal of Industrial Ecology. Page : 1-11 Online : https://doi.org/10.1111/jiec.12806
  • Bellezza, S., J. M. Ackerman, and F. Gino. 2017. “Be careless with that!” Availability of product upgrades increases cavalier behavior toward possessions. Journal of Marketing Research 54(5): 768–784.
  • Wieser, H. and N. Tr¨oger. 2017. Exploring the inner loops of the circular economy: Replacement, repair, and reuse of mobile phones in Austria. Journal of Cleaner Production 172: 3042–3055.
  • Wilson, G. T., G. Smalley, J. R. Suckling, D. Lilley, J. Lee, and R. Mawle. 2017. The hibernating mobile phone: Dead storage as a barrier to efficient electronic waste recovery. Waste Management 60: 521–533.
  • Zaenudin, Ahmad. 2017. Berapa lama orang mengganti ponsel?. Online : https://tirto.id/berapa-lama-orang-mengganti-ponsel-clBj
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Kupas Tuntas Minyak dan Lemak

Bagikan Artikel ini di:

Minyak dan lemak dapat dimakan dan dihasilkan oleh alam, yang dapat bersumber dari bahan nabati atau hewan. Lemak dan minyak adalah trigliserida, atau triasilgliserol, kedua istilah ini erarti triester (dari) gliserol. Perbedaan antara suatu lemak dan minyak, pada temperatur kamar lemak berbentuk padat dan inyak bersifat cair. Sebahagian besar gliserida pada hewan adalah erupa lemak, sedangkan gliserida dalam tumbuhan cenderung berupa minyak, karena itu biasanya terdengar ungkapan lemak hewani dan minyak nabati. Asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis suatu lemak dan minyak, yang disebut asam lemak mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang (Fessenden dan Fessenden, 1994).

Menurut Ketaren (1986), lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut di dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non polar misalnya kloroform (CHCl3), benzene dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut. Berdasarkan ikatan kimianya, lemak dalam minyak goreng dibagi dua lemak jenuh dan tidak jenuh. Pembagian jenuh dan tidak jenuh ini punya arti penting karena berpengaruh terhadap efek peningkatan kolesterol darah (Djatmiko, 1973, Luciana dkk, 2005).Lemak dan minyak dapat dibedakan berdasaran kejenuhannya

Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung ikatan tunggal pada rantai karbonnya, mempunyai rantai zig zag yang dapat cocok satu sama lain sehingga gaya tarik vanderwaals tinggi dan biasanya berwujud padat. Sedangkan asam lemak tidak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya. Asam lemak dengan lebih dari satu ikatan atau dua tidak lazim, terutama terdapat pada minyak nabati, minyak ini disebut poliunsaturate (trigliserida tidak jenuh ganda) cenderung berbentuk minyak (Djatmiko, 1973, Fessenden dan Fessenden, 1994).

Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh. Asam lemak jenuh yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari asammiristat, asam palmitat, asam laurat, dan asam kaprat. Asam lemak tidak jenuh dalam minyak goreng mengandung asam oleat dan asam linoleat (Soedarmo, 1985 dan Simson, 2007). Lemak tidak jenuh banyak dijumpai didalam minyak goreng yang berasal dari biji zaitun, kacang, jagung, wijen, bunga matahari dan kedelai. Adapun minyak sawit yang merupakan bahan dasar utama minyak goreng yang saat ini banyak beredar mengandung lemak tidak jenuh hampir sama dengan kandungan lemak jenuhnya, dengan kata lain bukan termasuk minyak goreng tak sehat seperti yang diyakini sebagian orang (Soedarmo, 1985).

Manfaat lemak tidak jenuh sebagai penurun kolesterol akan berkurang meskipun tidak seluruhnya jika digunakan untuk menggoreng (suhu pada saat menggoreng umumnya sekitar 180°C). Ini terjadi karena panas pada proses penggorengan dapat merusak strukur kimia ikatan tak jenuhnya. Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang penting bagi kehidupan makhluk hidup. Adapun fungsi lemak dan minyak ini antara lain:

  • Memberikan rasa gurih dan aroma yang spesifik (bau yang khas).
  • Sumber energi yang efektif dibandingkan dengan protein dan karbohidrat karena lemak dan minyak jika dioksidasi secara sempurna akan menghasilkan 9 kalori / liter lemak atau minyak. Sedangkan protein dan karbohidrat hanya menghasilkan 4 kalori tiap 1 gram protein dan karbohidrat.
  • Karena titik didih minyak yang tinggi, maka minyak biasanya digunakan untuk menggoreng makanan dimana bahan yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya atau menjadi kering.
  • Memberikan konsistensi empuk, halus dan berlapis dalam pembuatan roti.
  • Memberikan tekstur yang lembut dan lunak dalam pembuatan es krim.
  • Minyak nabati adalah bahan utama pembuatan margarin.
  • Lemak hewani adalah bahan utama pembuatan susu dan mentega.
  • Mencegah timbulnya penyumbatan pembuluh darah.

(sumber : Ketaren, 1986 dan Winarno, 1988).

Lemak dan minyak yang umum digunakan dalam pembuatan sabun adalah trigliserida dengan tiga buah asam lemak yang tidak beraturan diesterifikasi dengan gliserol. Asam lemak tidak jenuh seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam linoleat terdapat dalam minyak goreng merupakan trigliserida yang dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan sabun cuci piring cair menggantikan asam lemak bebas jenuh yang merupakan produk samping proses pengolahan minyak goreng (Djatmiko, 1973 dan Ketaren, 1986).

Masing – masing lemak mengandung sejumlah molekul asam lemak dengan rantai karbon panjang antara C12(asam laurat) hingga C18(asam Stearat) yang mengandung lemak jenuh dan begitu juga dengan lemak tak jenuh. Campuran trigliserida diolah menjadi sabun melalui proses saponifikasi dengan larutan kalium hidroksida membebaskan gliserol (Ketaren, 1986).

1. Kandungan Minyak Goreng

Kandungan minyak goreng dibalik warnanya yang bening kekuningan, minyak goreng merupakan campuran dari berbagaisenyawa. Komposisi terbanyak dari minyak goreng yang mencapai hampir 100% adalah lemak (Luciana, 2005).Sebagian besar lemak dalam makanan (termasuk minyak goreng) berbentuk trigliserida. Jika terurai, trigliserida akan berubah menjadi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak bebas. Semakin banyak trigliserida yang terurai semakin banyak asam lemak bebas yang dihasilkan (Morton dan Varela, 1988), pada proses oksidasi lebih lanjut, asam lemak bebas ini akan menyebabkan lemak atau minyak menjadi bau tengik (Ketaren,1986). Biasanya untuk menghilangkan atau memperlambat oksidasi yang menyababkan bau tengik ini, minyak goreng ditambah dengan vitamin A, C, D atau E (Luciana, 2005). Standar mutu minyak goreng dapat dilihat di Tabel 2.2.

 Tabel 1. Standar Mutu Minyak Goreng

No. Kriteria Uji Persyaratan
1 Bau Normal
2 Rasa Normal
3 Warna Muda Jernih
4 Cita Rasa Hambar
5 Kadar Air Maks 0,3%
6 Asam Lemak Bebas Maks. 0,3%
7 Titik Asap Maks. 200oC
8 Bilangan Iodin 45-51

(Sumber : SNI 3741 – 1995 Standar Mutu Minyak Goreng)

2. Bahaya Minyak Goreng Bekas

Selama penggorengan, minyak goreng akan mengalami pemanasan pada suhu tinggi 170°C – 180°C dalam waktu yang cukup lama. Hal ini akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi, hidrolisis dan polimerisasi yang menghasilkan senyawa – senyawa hasil degradasi minyak seperti keton, aldehid dan polimer yang merugikan kesehatan manusia. Proses – proses tersebut menyebabkan minyak mengalami kerusakan. Kerusakan utama adalah timbulnya bau dan rasa tengik, sedangkan kerusakan lain meliputi peningkatan kadar asam lemak bebas (FFA), bilangan iodin (IV), timbulnya kekentalan minyak, terbentuknya busa, hanya kotoran dari bumbu yang digunakan dan bahan yang digoreng (Ketaren, 1986).

Penggunaan minyak berkali – kali dengan suhu penggorengan yang cukup tinggi akan mengakibatkan minyak menjadi cepat berasap atau berbusa dan meningkatkan warna coklat serta flavor yang tidak disukai pada bahan makanan yang digoreng. Kerusakan minyak goreng yang berlangsung selama penggorengan akan menurunkan nilai gizi dan mutu bahan yang digoreng. Namun jika minyak goreng bekas tersebut dibuang selain tidak ekonomis juga akan mencemari lingkungan (Ketaren, 1986 dan Susinggih, dkk, 2005).

Kerusakan minyak akan mempengaruhi mutu dan nilai gizi bahan pangan yang digoreng. Minyak yang rusak akibat proses oksidasi dan polimerisasi akan menghasilkan bahan dengan rupa yang kurang menarik dan cita rasa yang tidak enak, serta kerusakan sebagian vitamin dan asam lemak esensial yang terdapat dalam minyak. Oksidasi minyak akan menghasilkan senyawa aldehida, keton, hidrokarbon, alkohol, lakton serta senyawa aromatis yang mempunyai bau tengik dan rasa getir. Pembentukan senyawa polimer selama proses menggoreng terjadi karena reaksi polimerisasi, adisi dari asam lemak tidak jenuh. Hal ini terbukti dengan terbentuknya bahan menyerupai gum (gelembung) yang mengendap di dasar tempat penggoregan (Ketaren, 1986).

Selama penggorengan sebagian minyak akan teradsorbsi dan masuk ke bagian luar bahan yang digoreng dan mengisi ruangan kosong yang semula diisi oleh air. Hasil penggorengan biasanya mengandung 5% – 40% minyak. Konsumsi minyak yang rusak dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti pengendapan lemak dalam pembuluh darah (Artherosclerosis)dan penurunan nilai cerna lemak (Luciana, 2005 dan Nur, 2008).

Berdasarkan penelitian sebelumnya disebutkan kemungkinan adanya senyawa carcinogenic dalam minyak yang dipanaskan, dibuktikan dari bahan pangan berlemak teroksidasi yang dapat mengakibatkan pertumbuhan kanker hati. Selan itu selama penggorengan juga akan terbentuk senyawa Acrolein yang bersifat racun dan menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan (Luciana, 2005 dan Ratu, 2008). Bahan pangan yang digoreng akan menggunakan minyak yang telah rusak akan mempunyai tekstur dan penampakan yang kurang menarik serta cita rasa dan bau yang kurang enak (Ketaren, 1986 dan Ratu, 2008).

Sehubungan dengan banyaknya minyak goreng bekas dari sisa industri maupun rumah tangga dalam jumlah tinggi dan menyadari adanya bahaya konsumsi minyak goreng bekas, maka perlu dilakukan upaya –upaya untuk memanfaatkan minyak goreng bekas tersebut agar tidak terbuang dan mencemari lingkungan. Pemanfaatan minyak goreng bekas ini dapat dilakukan pemurnian agar dapat digunakan kembali sebagai media penggorengan atau digunakan sebagai bahan baku produk berbasis minyak seperti sabun (Susinggih dkk, 2005).

3. Pemurnian Minyak Goreng Bekas

Pemurnian merupakan tahap pertama dariproses pemanfaatan minyak goreng bekas, yang hasilnya dapat digunakan sebagai minyak goreng kembali atau sebagai bahan baku produk untuk pembuatan sabun cucipiring cair. Tujuan utama pemurnian minyak goreng ini adalah menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, warna yang kurang menarik dan memperpanjang dayasimpan sebelum digunakan kembali (Susinggih dkk, 2005).

Pemurnian minyak goreng ini meliputi 3 tahap proses yaitu:

  • Penghilangan bumbu (despicing)
  • Netralisasi
  • Pemucatan (bleaching)
  • Penghilangan bumbu (despicing)

Penghilangan bumbu (despicing) merupakan proses pengendapan dan pemisahan pemisahan kotoran akibat bumbu dan kotoran dari bahan pangan yang bertujuan menghilangkan patikel halus tersuspensi atau berbentuk koloid seperti protein, karbohidrat, garam, gula, dan bumbu rempah – rempah yang digunakan untuk menggoreng bahan pangan. Alat yang digunakan untuk proses penghilangan bumbu (despicing) pada percobaan ini adalah kertas saring.

 

  • Netralisasi

Netralisasi merupakan proses untuk menurunkan nilai asam lemak bebas (FFA) dari minyak goreng bekas dengan mereaksikan asam lemak bebas (FFA) tersebut dengan larutan basa. Sabun yang terbentuk pada awal proses netralisasi tidak dapat larut dalam minyak dan dapat dipisahkan dengan cara sentrifugasi. Selain itu proses netralisasi juga untuk menghilangkan bahan penyebab warna gelap, sehingga minyak menjadi lebih jernih. Bahan yang digunakan untuk proses penetralisasian pada percobaan ini adalah Kalium Hidroksida (KOH).

  • Pemucatan (Bleaching)

Pemucatan (Bleaching) adalah usaha untuk menghilangkan zat warna alami dan zat warna lain yang merupakan degradasi zat alamiah, pengaruh logam dan warna akibat oksidasi (Ketaren, 1986 dan Susinggih dkk, 2005).

DAFTAR PUSTAKA
  •  Aulia, Willy. 2010. “Pengaruh ukuran partikel ampas tebu sebagai baha penyerap asam lemak tak jenuh (asam oleat, asam linoleat, Asam lonolenat) dan minyak pelikan dalam minyak jelantah tahu. Other Thesis, Fakultas FMIPA., Universitas Andalas.
  • Darmawan S. 2006. Pembuatan Minyak Kemiri dan Pemurniannya dengan Arang Aktif dan Bentonit. Jurnal Penelitian Hasil Hutan24:413-423.
  • Djatmiko B, S Ketaren. 1985. Pemurnian Minyak. Bogor: Agroindustri Press.
  • Fessenden RJ., 1996. Organic Chemistry. 2nd Edition. Willard Grant Press/ PWS Publisher, Massachusetts, USA.
  • Freedman, B., Pryde, EH., Mounts, TL., 1984. Variable Affecting the Yields of Fatty Esters From Transesterification Vegetable Olis. J Am Oil Chem Soc 61:1638-1643.
  • Heyne, K., 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Terjemahan Badan Peneltian dan Pengembangan Kehutanan. Koperasi Karyawan Departemen Kehutanan. Vol 3. Jakarta.
  • Ketaren, S., 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. UI pRess. Jakarta.
  • Kirk, RE dan Othmer, D.F., 1982. Encyclopedia of Chemical Technology, vol 8-9 third edition, John Wiley and Sons, New York.
  • Kusuma, I.G.B.W., 2003,” Pembuatan Biodiesel dari Minyak Jelantah dan Pengujian terhadap Prestasi Kerja Mesin Diesel”, Poros, volume 6 no 4 2003, hal 227-234
  • Ma, Fangrui dan Milford A. Hanna, (1999), “Biodiesel Production : A review”, ELSEVIER.
  • Ozgul S, Turkay S., 2002. Vegetables Affecting the Yields of Methyl ester Derived from in situ Esterification of Rice Bran oil. J Am Oil Chem. 79:611-614.
  • SNI.2006.SM 07 182-2006. Biodiesel. Badan Standardisasi Nasional
  • Sudradjat, R., Setiawan, D.,2004, Laporan hasil penelitian pembuatan biodisel dari tanaman jarak pagar (Lanjutan). Pusat Litbang Hasil Hutan. Bogor. Tidak diterbitkan.
  • Widiono, B., 1995, “ Alkoholisis Minyak Biji Jarak dalam reaktor Kolom Berpulsa secara Sinambung Ditinjau Dari Segi Kinetika”, Tesis diajukan kepada Fakultas Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta.
  • Wijayanti, Ria 2009.”Arang Aktif dari Ampas Tebu sebagai Adsorben pada Pemurnia Minyak Goreng Bekas’. Departemen Kimia, FMIPA,, Institut Pertanian Bogor.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: