Menjadikan Energi Nuklir “Terbarukan”: Metode Ekstraksi Uranium Dari Air Laut

Bagikan Artikel ini di:

Sejauh ini, energi nuklir belum dianggap sebagai “energi terbarukan”. Anggapannya, ketersediaan bahan bakar nuklir, yakni uranium dan thorium, terbatas dan bisa habis. Sementara “energi terbarukan” seperti energi surya dan bayu tidak. Walau realitanya, semua moda energi itu terbatas dan suatu saat pasti habis (energi surya dan bayu akan habis ketika matahari menelan bumi di akhir usianya).

Namun, jika dilihat dari perspektif lain, energi nuklir bisa dianggap sebagai “terbarukan”. Caranya adalah dengan mengekstrak uranium dari air laut.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa air laut mengandung uranium. Kelarutan uranium dalam air laut memang kecil, rerata hanya 3 ppb (part per billion), atau sekitar 3 mikrogram per liter air. Namun, mengingat volume air laut sangat besar, sekitar 1,37 milyar km3, maka kandungan uranium di dalamnya juga luar biasa besar, mencapai 4,5 milyar ton [1].

Sebagai perspektif, satu unit PLTN tipe LWR berdaya 1000 MWe membutuhkan 200 ton uranium tiap tahunnya [2], sementara PLTN maju seperti MSR dan SCFR berdaya sama membutuhkan 800-1000 kg uranium tiap tahun [3]. Konsumsi listrik dunia tahun 2016 mencapai sekitar 22 ribu TWh [4]. Jika 10% saja dari potensi uranium air laut bisa diekstrak, menggunakan PLTN maju, maka 10% potensi itu cukup untuk menerangi seluruh dunia selama 161 ribu tahun ke depan!

Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju, Bagian 1

Konsentrasi uranium dalam air laut dikendalikan oleh reaksi kimia ajeg antara air dan bebatuan yang mengandung uranium. Jadi, ketika sejumlah uranium diekstrak dari air laut, jumlah yang sama dilepaskan oleh bebatuan ke laut untuk menggantikannya [5]. Dengan demikian, uranium dalam air laut senantiasa “terbarukan”, secara praktis hingga planet ini menemui ajalnya kelak. Menurut Dr. James Conca, mustahil bagi manusia untuk mengekstrak uranium dengan cukup cepat untuk menurunkan konsentrasinya dalam air laut, karena suplainya akan terus menerus terbarukan! [6]

Ide untuk mengekstrak uranium dari air laut sudah ada beberapa saat setelah Perang Dunia II. Namun, saat itu, menambang uranium di daratan masih dianggap lebih praktis dan murah [1]. Saat inipun, kendala terbesar dalam mengekstrak uranium dari air laut adalah membuat material yang bisa mengekstrak uranium dengan biaya setara penambangan uranium di daratan [7].

Baca juga Menguji Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

Pada tahun 2002, kelompok dari Japan Atomic Energy Research Institute (JAERI) mendesain fabrik absorben polimer untuk mengekstrak uranium dari air laut. Fabrik ini mengandung kelompok amidoksin yang mampu membentuk ikatan kompleks dengan ion uranil trikarbonat. Fabrik ini direndam dalam laut selama 450 hari dan didapatkan 1,083 gram uranium [1]. Estimasi biayanya saat itu mencapai JPY 25.000 per kg uranium, atau sekitar USD 300 per kg uranium [1]. Harga ini masih sekitar 3x lipat harga uranium yang ditambang di darat.

Tahun 2016, Pacific Northwest National Laboratory (PNNL) dan Oak Ridge National Laboratory (ORNL) mengeluarkan hasil penelitian mereka, yang melanjutkan penelitian JAERI [7]. Serat polietilen yang di-coating dengan amidoksin digunakan untuk mengikat senyawa uranium dioksida yang terlarut dalam air laut. Serat tersebut direndam selama sebulan, lalu ditarik kembali ke permukaan untuk diolah menggunakan perlakuan asam. Perlakuan ini memisahkan uranium dalam bentuk uranium kompleks dan meregenerasi serat sehingga bisa digunakan berulang kali. Pengujian PNNL kala itu menunjukkan bahwa mereka mampu mengekstrak 6 gram uranium per kg adsorben setelah direndam 50 hari dalam air laut,

Gambar 1. Serat adsorben uranium air laut, gambar dipapari sinar fluoresens (sumber: Forbes)

Penelitian PNNL terbaru menunjukkan hasil yang lebih menjanjikan lagi. Material adsorben berupa serat akrilik ini dikembangkan oleh perusahaan energi bersih LCW Supercritical Technologies dan didukung oleh PNNL. Ujicoba yang dilakukan PNNL menghasilkan yield setara dengan serat polietilen yang dikembangkan sebelumnya, berkisar 5 gram uranium per kg adsorben setelah direndam sebulan [8]. Serat akrilik ini lebih murah dan lebih durable, sehingga diproyeksikan biaya ekstraksinya bisa setara dengan biaya penambangan uranium di darat.

Chien WAi, presiden LCW, juga mengatakan bahwa limbah benang. Serat ini berpotensi pula untuk digunakan dalam pembersihan air laut serta untuk mengekstrak logam lain, misalnya Vanadium [8].

Gambar 2. Yellowcake pertama yang berhasil diekstrak serat akrilik yang dikembangkan LCW (sumber: World Nuclear News)

LCW berniat untuk mengajukan pendanaan tambahan untuk menguji performa serat akriliknya di Teluk Meksiko, dipimpin oleh PNNL. Material serat akrilik ini bekerja lebih baik di air hangat, sehingga laju ekstraksinya bisa ditingkatkan hingga 3-5 kali lipat di perairan utara Amerika Serikat yang relatif dingin. Hal ini dapat meningkatkan keekonomiannya lebih jauh [8].

Baca juga Menguak Mitos Bahaya Limbah Radioaktif

Bahan bakar nuklir merupakan komponen pembiayaan paling rendah dalam PLTN, sehingga sekalipun harga uranium 10x lebih mahal dari harga saat ini, dampaknya terhadap harga listrik tidak begitu signifikan. Khususnya di reaktor maju. Namun, kunci paling penting dari penelitian ini adalah menjadikan uranium benar-benar “terbarukan”, dengan suplai yang melimpah di lautan dan terus menerus diperbarui dari batuan di kerak bumi. Ketika ekstraksi uranium dari air laut sudah benar-benar komersial, maka secara praktis energi nuklir pun benar-benar “terbarukan”, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi umat manusia hingga bumi ditelan matahari di akhir hayatnya.

Referensi

  1. Ken Ferguson. Uranium Extraction from Seawater. (http://large.stanford.edu/courses/2012/ph241/ferguson2/). Diakses pada 27 Juni 2018.
  2. Jacopo Buongiorno. 2010. PWR Description. Massachusetts: Center for Advanced Nuclear Energy Systems, Massachusetts Institute of Technology.
  3. Andika Putra Dwijayanto. 2016. Kenapa Energi Nuklir? Yogyakarta.
  4. Electricity Domestic Consumption. (https://yearbook.enerdata.net/electricity/electricity-domestic-consumption-data.html). Diakses pada 27 Juni 2018.
  5. Canadian Nuclear Association. There’s Uranium in Seawater. And It’s Renewable. (https://cna.ca/news/theres-uranium-seawater-renewable/). Diakses pada 27 Juni 2018.
  6. James Conca. Is Nuclear Power A Renewable Or A Sustainable Energy Source? (https://www.forbes.com/sites/jamesconca/2016/03/24/is-nuclear-power-a-renewable-or-a-sustainable-energy-source/#59faaca6656e). Diakses pada 27 Juni 2018.
  7. James Conca. Uranium Seawater Extraction Makes Nuclear Power Completely Renewable. (https://www.forbes.com/sites/jamesconca/2016/07/01/uranium-seawater-extraction-makes-nuclear-power-completely-renewable/#2f80da96159a). Diakses pada 27 Juni 2018.
  8. World Nuclear News. First yellowcake from seawater for US team. (http://www.world-nuclear-news.org/UF-First-yellowcake-from-seawater-for-US-team-1406187.html). Diakses pada 27 Juni 2018.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Peningkatan Nilai Guna Bahan Bakar Nuklir Dengan Kombinasi PWR-CANDU

Bagikan Artikel ini di:

PLTN kontemporer pada umumnya menggunakan teknologi pressurised water reactor (PWR). Sekitar 64% dari seluruh PLTN di dunia merupakan tipe PWR[1]. Desainnya sudah well-established. Namun, PWR masih memiliki ganjalan pada pemanfaatan bahan bakar.

Konfigurasi reaktor nuklir PWR tidak didesain untuk mampu memanfaatkan potensi bahan bakar secara optimal. Nilai pemanfaatan bahan bakarnya hanya berkisar 0,5%. Angka ini didapatkan dari data bahwa tiap tahunnya, PWR berdaya 1.000 MWe membutuhkan 200 ton uranium alam, tetapi yang mampu ‘dibakar’ hanya 1,2 ton[2]. Hasilnya, sebagian besar potensi uranium masih tersia-siakan.

Bahan bakar nuklir memang murah. Tetapi menyia-nyiakan 99,5% potensi energi yang terkandung di dalamnya juga bukan tindakan bijak.

Baca juga Mengenal Teknologi Reaktor Nuklir Kontemporer

Saat penulis mengikuti FGD Reaktor Daya Eksperimental (RDE) pada Kamis (10/3) 2018, salah satu narasumber sempat mengatakan bahwa kalau Indonesia membangun PLTN skala besar, yang pertama kali dibangun adalah PWR. Penulis tidak tahu seberapa besar kemungkinan pilihan PWR itu akan terealisasi. Namun, seandainya terealisasi, maka harus dipikirkan bagaimana caranya agar pemanfaatan bahan bakar nuklir bisa lebih baik dari sekarang.

Cara terbaik untuk memanfaatkan seluruh potensi uranium selaku bahan bakar nuklir adalah dengan menggunakan reaktor cepat (fast reactor) yang termasuk dalam kategori reaktor maju, misalnya sodium-cooled fast reactor (SFR). Konfigurasi reaktornya didesain agar netron berlebih dari reaksi fisi dapat dimanfaatkan dengan baik oleh uranium-238, sehingga dapat dikonversi menjadi plutonium-239 dengan optimal[3]. Persoalannya, reaktor ini belum sepenuhnya komersial.

Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju Bagian 2

Alternatif lain yang paling dekat adalah dengan menggunakan reaktor nuklir tipe Canadian deuterium uranium (CANDU). Reaktor nuklir tipe ini menggunakan uranium alam sebagai bahan bakarnya, alih-alih uranium diperkaya sebagaimana PWR. Hal ini disebabkan nilai ekonomi netron CANDU lebih baik dari PWR[4]. CANDU menggunakan moderator berupa air berat (D2O), yang menyerap netron lebih sedikit daripada air ringan (H2O). Jadi, netron dapat digunakan secara maksimal oleh bahan bakar.

Walau umumnya menggunakan bahan bakar uranium alam, CANDU dapat menurunkan konsumsi uranium jika menggunakan bahan bakar yang sedikit diperkaya, hingga 1,6%. Mengingat bahan bakar bekas PWR mengandung bahan bakar fisil antara 1,4-1,5%, ada peluang bahwa bahan bakar bekas PWR bisa dimanfaatkan di reaktor CANDU.

Seberapa baik peningkatannya nilai pemanfaatannya?

Ozdemir et al telah menganalisis peluang tersebut dalam jurnalnya, Burnup analysis, natural U requirement and nuclear resource utilization in a combined PWR-CANDU system: Complete coprocessing and DUPIC scenarios[5]. Dalam jurnal ini, disimulasikan seberapa besar potensi peningkatan nilai pemanfaatan uranium jika bahan bakar bekas PWR dipakai di CANDU, dalam hal ini tipe CANDU-6 dengan daya 600 MWe.

Bahan bakar bekas PWR yang disimulasikan memiliki derajat bakar 33.000, 40.000 dan 50.000 MWd/tU*. Masing-masing menggunakan 221,8 , 212,9 dan 206, 8 ton uranium alam per tahunnya. Untuk perbandingan, CANDU-6 yang menggunakan bahan bakar uranium alam menggunakan 159,4 ton uranium alam tiap tahunnya dengan daya yang sama[5].

* Satuan ini menunjukkan berapa daya termal yang mampu dibangkitkan dalam sehari per ton uranium

Skenario yang dipertimbangkan dalam jurnal Ozdemir et al ada dua, yakni complete coprocessing (CC) dan direct use of PWR spent fuel in CANDU (DUPIC). Skenario CC berarti sepenuhnya memisahkan uranium dan plutonium dalam bahan bakar bekas dari produk fisi dan elemen transuranik. DUPIC hanya membersihkan bahan bakar bekas dari produk fisi volatil dan semi-volatil seperti iodin, cesium, kripton, xenon, molybdenum, cadmium dan indium[5]. Produk fisi lain serta elemen transuranik dibiarkan dalam bahan bakar bekas.

Baca juga Menguak Mitos Seputar Limbah Radioaktif

Bagaimana hasilnya?

Pada kedua skenario, terjadi peningkatan nilai pemanfaatan uranium dengan cukup drastis. Dari awalnya butuh sekitar 200 ton uranium alam per tahun, ketika digunakan lagi di CANDU-6, kebutuhan bersihnya turun menjadi 130-160 ton uranium alam. Artinya, CANDU dapat digunakan sebagai pembakar uranium lanjutan dari PWR.

Simulasi yang dilakukan menunjukkan bahwa nilai pemanfaatan bahan bakar pada sistem CC lebih baik dari sistem DUPIC. Derajat bakar uranium pada sistem CC lebih tinggi daripada derajat bakar sistem DUPIC. Hal ini wajar, karena pada sistem DUPIC, tangkapan parasitik netron lebih tinggi, akibat ditinggalkannya sebagian besar produk fisi dan elemen transuranik. Netron yang harusnya ditangkap oleh uranium dan plutonium malah ditangkap oleh produk fisi dan transuranik. Jadi derajat bakar yang dihasilkan pun lebih rendah[5].

Pada kedua skenario, bahan bakar bekas PWR dengan derajat bakar paling rendah (33.000 MWd/tU) memiliki nilai pemanfaatan paling baik. Ozdemir et al menjelaskan bahwa hal tersebut diakibatkan ‘kompetisi’ tangkapan netron. Pada skenario CC, kompetisi terjadi antara kenaikan persen isotop fisil dengan tangkapan parasitik oleh kontaminasi isotop fertil dalam bahan bakar bekas (uranium-236, plutonium-240 dan plutonium-242)[5].

Lebih tingginya tangkapan parasitik pada bahan bakar bekas dengan derajat bakar lebih tinggi (50000 MWd/tU) menyebabkan berkurangnya nilai pemanfaatan netron, selaras dengan turunnya nilai pemanfaatan bahan bakar[5]. Namun, penurunannya tidak begitu besar.

Pada skenario DUPIC, penurunan nliai pemanfaatan bahan bakar juga terjadi, tetapi lebih signifikan. Pasalnya, kompetisi yang terjadi bukan hanya pada naiknya persen isotop fisil dan tangkapan parasitik isotop fertil saja, tapi juga tangkapan parasitik oleh produk fisi dan transuranik[5]. Akibatnya, kenaikan persen isotop fisil tidak linier dengan kenaikan derajat bakar, sehingga menurunkan nilai pemanfaatan bahan bakar.

Hasil simulasi Ozdemir et al dirangkum dalam tabel-tabel berikut.

Tabel 1. Nilai pemanfaatan uranium pada skenario CC (diolah dari Ozdemir et al)

Tabel 2. Nilai pemanfaatan uranium pada skenario DUPIC (diolah dari Ozdemir et al)

Dari sini, tampak bahwa skenario CC lebih optimal dalam memanfaatkan nilai pemanfaatan uranium. Sehingga, dalam sistem kopel antara PWR-CANDU, ditinjau dari nilai pemanfaatannya, skenario CC adalah yang paling layak.

Patut dicatat bahwa penelitian di atas tidak mempertimbangkan biaya dari sistem reprosesing yang dimaksud. Skenario CC jelas akan lebih mahal daripada skenario DUPIC, karena reprosesing yang dilakukan lebih komplit. Namun, mengingat biaya bahan bakar merupakan komponen yang kontribusinya paling kecil dalam PLTN, maka kemungkinan besar biaya bahan bakar finalnya tidak signifikan.

Perlu dicatat juga bahwa peningkatan nilai pemanfaatan uranium terbaik masih berada pada angka 127 ton uranium alam per tahun. Artinya, nilai pemanfaatan bahan bakarnya masih 0,94%. Walau realitanya, peningkatan kurang dari setengah persen ini cukup untuk membangkitkan listrik berlimpah (600 MWe) selama setidaknya setahun.

Karena itu, sistem kopel PWR-CANDU hanyalah alternatif sementara saja. Untuk keberlangsungan energi nuklir yang paling baik, kita tetap harus menggunakan reaktor maju.

Referensi

  1. World Nuclear Association. 2016. World Nuclear Performance June 2016. London: WNA.
  2. Jacopo Buongiorno. 2010. Heavy Water, Gas and Liquid Metal Cooled Reactor. Massachusetts: Center for Advanced Nuclear Energy Systems, Massachusetts Institute of Technology.
  3. World Nuclear Association. Generation IV Nuclear Reactors. Diperbarui Desember 2017. (http://www.world-nuclear.org/information-library/nuclear-fuel-cycle/nuclear-power-reactors/generation-iv-nuclear-reactors.aspx), diakses 17 Januari 2018.
  4. William Garland (peny.). 2015. The Essential CANDU, A Textbook on the CANDU Nuclear Power Plant Technology. Kanada: University Network of Excellence in Nuclear Engineering.
  5. Levent Ozdemir et al. 2016. Burnup analysis, natural U requirement and nuclear resource utilization in a combined PWR-CANDU system: Complete coprocessing and DUPIC scenarios. Progress in Nuclear Energy 91:140-146.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

Bagikan Artikel ini di:

Nuklir belum digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik di Indonesia. Walau rencananya telah ada sejak puluhan tahun lalu, dinamika politik dalam negeri menghalangi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga sekarang. Namun sejak pertengahan 2010-an, rencana pembangunan PLTN mulai menggaung lagi.

Teknologi PLTN kontemporer merupakan teknologi yang paling matang. Namun, teknologi ini memiliki kendala pada waktu pembangunan yang relatif lama dan pemanfaatan bahan bakar yang relatif rendah. PLTN kontemporer baru mampu mengekstrak 0,5-0,7% potensi energi yang terkandung dalam uranium[1].

Padahal, untuk memenuhi kebutuhan energi bersih saat ini, perlu teknologi reaktor nuklir yang mampu dibangun dengan cepat dan mampu mengekstrak 100% potensi yang terkandung dalam bahan bakar nuklir. Kebutuhan itu bisa dipenuhi menggunakan teknologi reaktor nuklir Generasi IV atau reaktor maju.

Reaktor maju memiliki kemampuan pembiakan. Artinya, reaktor nuklir mampu menghasilkan bahan bakar fisil lebih banyak daripada yang dikonsumsinya. Konfigurasi reaktor didesain agar mampu menghasilkan nilai ekonomi netron tinggi, yang memungkinkan netron berlebih digunakan untuk mengonversi bahan bakar fertil menjadi fisil[2]. Hasilnya, nilai pemanfaatan bahan bakar naik berkali lipat.

Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju

Indonesia memiliki cadangan uranium dan thorium, walau belum tereksplorasi. Karena belum dianggap krusial, cadangan bahan bakar nuklir yang sudah terdeteksi pun belum begitu banyak. Tercatat, berdasarkan estimasi BATAN, Indonesia memiliki cadangan uranium sebesar 79.830 ton dan thorium sebesar 136.966 ton[3].

Gambar 1. Potensi cadangan uranium dan thorium Indonesia (sumber: twitter BATAN)

Berapa lama ketahanan energi nuklir jika bahan bakar nuklir tersebut digunakan untuk membangkitkan listrik di Indonesia menggunakan reaktor maju?

Baca juga Perkembangan Teknologi Reaktor Maju Bagian 2

Sebelumnya, perlu diukur dulu kebutuhan energi nuklir di Indonesia. Kebijakan Energi Nasional (KEN) memproyeksikan energi baru dan terbarukan memegang peran 31% dari bauran energi nasional pada tahun 2050[4]. Ini sudah termasuk nuklir, seandainya termasuk dalam kebijakan tersebut. Climate-wise, tentu kebijakan seperti ini tidak bijak. Pasalnya, walau bauran EBT naik menjadi 31%, tetapi pasokan energi juga naik dari 400 MTOE pada tahun 2025 menjadi 1000 MTOE pada tahun 2050[4]. Artinya, konsumsi energi fosil juga melonjak, yang mengakibatkan emisi gas rumah kaca juga naik.

Gambar 2. Pemodelan kebutuhan dan pasokan energi 2050 (sumber: Perpres No 22 Tahun 2017)

Proyeksi kebutuhan energi final (bukan raw) berdasarkan KEN untuk listrik adalah sebesar 200 MTOE. Dari angka ini, 62,2% diantaranya masih menggunakan energi fosil[4]. Berdasarkan asumsi ini, pada artikel ini akan dihitung berapa besar sustainabilitas energi nuklir nasional jika dipakai menggantikan energi fosil untuk listrik ini.

Pertama, dikonversi dulu berapa kebutuhan listrik dalam satuan yang lebih ‘manusiawi’. Konversi nilai 1 MTOE setara dengan 42 gigajoule (GJ)[5]. Dari sana, dibuat kalkulasi sebagai berikut.

Jadi, sebesar 1451 TWh listrik harus dibangkitkan oleh energi nuklir untuk menggantikan energi fosil.

Berikutnya, seberapa besar laju konsumsi bahan bakar nuklir?

Diasumsikan bahwa reaktor nuklir yang digunakan adalah reaktor maju. Artinya, secara teoretis, potensi bahan bakar nuklir dapat dimanfaatkan 100%. Setiap nuklida fertil, baik thorium maupun uranium-238 dapat dikonversi menjadi nuklida fisil, uranium-233 dan plutonium-239. Secara praktis, hal itu tidak realistis di dunia nyata. Pasti selalu ada yang tidak terkonversi. Jadi, diasumsikan bahwa pemanfaatan bahan bakar nuklir hanya 90%.

Berdasarkan tabel yang dibuat oleh Nick Touran PhD[6], diketahui densitas energi dari bahan bakar nuklir adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Densitas energi bahan bakar nuklir (sumber: What Is Nuclear?)

Tidak seluruh potensi energi ini bisa diambil. Tiap nuklida fisil memiliki peluang berfisi kurang dari 100%. Untuk uranium-233, peluang berfisinya 91%[7]. Tidak ada keterangan berapa peluang berfisi plutonium-239 pada spektrum netron cepat, yang merupakan spektrum paling optimal untuk plutonium. Jadi, diasumsikan sama dengan uranium-233. Karena pada spektrum netron cepat, peluang berfisi plutonium jauh lebih tinggi daripada spektrum termal (73%). Uranium-235 diabaikan karena kelimpahannya di alam kecil, hanya 0,7%.

Densitas energi pada tabel adalah energi termal, bukan elektrik. Jadi harus dikonversi dulu menjadi energi listrik. Reaktor maju memiliki efisiensi termal sekitar 44%, lebih tinggi dari reaktor kontemporer yang hanya 33%[8]. Turbin gas Brayton dan turbin CO2 superkritis bisa mencapai efisiensi termal hingga lebih dari 50%[8], tapi saat ini digunakan nilai 44% sebagai benchmark.

Jika menggunakan uranium saja, berapa lama ketahanannya?

Kalkulasinya adalah sebagai berikut. Menggunakan reaktor maju, cadangan uranium domestik cukup untuk kebutuhan listrik selama 458 tahun.

Sementara, jika menggunakan thorium saja, maka berikut adalah ketahanan bahan bakarnya.

Cadangan thorium domestik untuk pembangkitan listrik dapat bertahan selama tiga perempat milenium. Sangat lama.

Bagaimana jika keduanya dikombinasikan? Diasumsikan bahwa uranium berkontribusi dalam 35% bauran nuklir dan sisanya thorium. Maka, ketahanan masing-masing bahan bakar nuklir adalah sebagai berikut.

Pemanfaatan kedua jenis bahan bakar nuklir ini secara simultan cukup untuk membangkitkan listrik selama lebih dari 1000 tahun!

Maka, tampak sekali bahwa energi nuklir memang sangat sustainabel. Besarnya energi yang dilepaskan dari pembelahan inti atom nuklida berat menyebabkan konsumsi bahan bakar yang sangat sedikit. Sehingga, walaupun cadangan bahan bakar nuklir tidak bisa dikatakan benar-benar melimpah, tapi cukup untuk menjaga ketahanan energi nasional dengan sangat baik.

Syarat teknis dari sustainabilitas energi nuklir seperti di atas adalah penggunaan teknologi reaktor maju dan sistem reprosesing bahan bakar. Sehingga, nilai pemanfaatan bahan bakar nuklir dapat seoptimal mungkin. Yang tersisa tinggallah syarat politis, yakni kemauan politik untuk go nuclear, dengan langsung lompat pada teknologi reaktor maju alih-alih menggunakan reaktor kontemporer dan mengaplikasikan sistem reprosesing bahan bakar nuklir alih-alih sistem sekali pakai buang.

Aspek politis adalah aspek yang paling sulit untuk dipenuhi, bukan dari sisi teknologinya. Kalau negeri ini ingin memiliki ketahanan energi yang baik tanpa harus mencederai iklim, maka nuklir adalah solusi terbaik. Keputusan politik yang pro nuklir akan menjamin negeri ini memiliki ketahanan dan sustainabilitas energi pada level yang baik.

Referensi

  1. Max Carbon. 2006. Nuclear Power, Villain or Victim? Our Most Misunderstood Source of Electricity 2nd Edition. Madison: Pebble Beach Publisher.
  2. Bahman Zohuri, Patrick McDaniel. 2015. Thermodynamics In Nuclear Power Plant Systems. Swiss: Springer International Publisher.
  3. Potensi Uranium dan Torium di Indonesia. https://twitter.com/humasbatan/status/925209630514413568. Diakses pada 9 Maret 2018.
  4. Perpres No. 22 Tahun 2017 Tentang Rencana Umum Energi Nasional.
  5. British Petroleum. 2017. BP Statistical Review of World Energy June 2017. London: BP.
  6. Nick Touran. Energy density calculations of nuclear fuel. https://whatisnuclear.com/energy-density.html. Diakses pada 9 Maret 2018.
  7. Uranium-233. https://www.nuclear-power.net/nuclear-power-plant/nuclear-fuel/uranium/uranium-233/. Diakses pada 9 Maret 2018.
  8. Robert Hargraves. 2012. Thorium Energy Cheaper Than Coal. Hanover: CreateSpace Independent Publishing Platform.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: