Evolusi Tanaman Darat

Konsep kehidupan tumbuh-tumbuhan yang bermula dari kehidupan air kemudian beranjak ke kehidupan daratan yang umumnya memiliki daerah yang kering. Ada beberapa karakter yang tetap dipertahankan dan ada pula karakter yang ditinggalkan oleh tumbuhan sebagai ekspresi atas kondisi habitat yang baru.

Baca juga: Tak Punya Indera, Tanaman Bisa Membedakan Lebih Banyak Bau

Efek atas perubahan iklim yang terjadi pada masa lampau membuat efek yang signifikan terhadap vegetasi yang ada. Menghangatnya iklim dunia membuat tantangan tersendiri bagi setiap makhluk hidup khususnya golongan tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan yang pada awalnya hidup di perairan dituntut untuk lebih tahan terhadap cekaman kekeringan yang mengancam. Hal ini yang membuat hadirnya karakter-karakter baru di samping bertahannya karakter primitif yang diwarisi dari tumbuhan terdahulu. Karakter primitif seperti adanya sperma motil yang memanfaatkan media air untuk fertilisasi menandakan bahwa tumbuhan pada masa lampau hidup pada media air.

Skema Evolusi Tumbuhan

Tanaman dipaksa oleh alam untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang lebih mencekam. Kondisi kekeringan menuntut tumbuhan untuk memutar otak supaya keturunannya tetap lestari. Beberapa akan dijelaskan tentang berbagai struktur yang mana struktur ini mencirikan sebuah karakter tertentu. Struktur yang dimaksud yaitu adanya stomata, kutikula, dan sistem berkas pengangkut.

A. Stomata

Stomata adalah struktur yang bertanggung jawab atas mekanisme pertukaran gas dan air oleh tanaman. Stomata dapat berada di atas atau bawah permukaan daun. Stomata menjadi struktur pokok pintu pertama proses respirasi tumbuhan. Stomata adalah bentuk yang terletak di permukaan organ daun. Stomata terdiri atas sel penutup, sel penjaga, dan sel tetangga. Stomata juga bertanggung jawab atas mekanisme transpirasi. Bagi tumbuhan air, fungsi stomata akan bermanfaat untuk memperbesar penguapan. hal ini karena kondisi lingkungan yang tinggi air sehingga perlu adanya keseimbangan supaya tanaman tidak mengandung air yang berlebih. Jika tanaman mengalami kelebihan air, maka risiko terjadinya pembusukan akan semakin besar.

Bentuk stomata yang komnpleks hanya dijumpai pada tumbuhan yang maju saja. Tumbuhan sederhana tidak memiliki struktur anatomi tesebut. Sebut saja tumbuhan lumut yang biasa hidup di daerah lembab. Daerah yang lembab memiliki kandungan air di udara yang tinggi. Air pula yang menjadi media lumut untuk bereproduksi. Apabila terbentuk stomata pada tumbuhan lumut, maka akan berbahaya bagi lumut itu sendiri. Sebab lumut membutuhkan kondisi yang lembab supaya tetap dapat bereproduksi.

Alasan mengapa bisa disebut stomata sebagai struktur anatomi yang maju karena karakter ini tidak dimiliki oleh tumbuhan sederhana. Hadirnya stomata adalah jawaban atas cekaman lingkungan yang dihadapi oleh masing-masing tumbuhan. Stomata dapat membuka dan menutup secara periodik dengan mekanisme tertentu. Menurut Chen et al. (2017) tumbuhan sederhana memiliki bentuk seperti layaknya stomata namun tidak sekompleks golongan Monocot dan Dicot.

B. Kutikula

Kutikula adalah struktur mikroskopis yang berisikan zat lilin. Zat lilin ini membentuk lapisan khusus yang memiliki sifat hidrofobik sehingga air tidak mudah masuk. Kutikula sangat berperan bagi tumbuhan maju yang hidup pada kondisi kering. Kutikula akan menjaga supaya tumbuhan tidak mudah kehilangan air atas cekaman kekeringan dari lingkungan sekitar.

Kutikula adalah struktur maju yang dimiliki oleh tumbuhan maju. Karakter kutikula tidak ditemukan pada tumbuhan sederhana. Karena tumbuhan sederhana sangat memerlukan kondisi air yang tinggi. Tentu sudah menjadi maklum kalau kehidupan tumbuhan bermula dari air. Kutikula disekresikan secara khusus oleh sel-sel tumbuhan maju sebagai hasil proses evolusi yang terjalin sangat panjang. Ekspresi atas cekaman lingkungan direspon oleh tumbuhan dalam waktu yang lama. Bahkan mekanisem produksi kutikula diatur secara khusus dalam metabolisme.

C. Berkas Pengangkut

Berkas pengangkut berfungsi untuk mengangkut hasil-hasil metabolisme dan unsur mineral termasuk air secara masif. Perlu adanya sarana khusus untuk mengantarkan substansi tersebut secara terkoordinasi dengan baik. Kondisi ini tidak terdapat pada tumbuhan sederhana yang mana dapat disimpulkan bahwa karakter berkas pengangkut merupakan karakter maju.

Berkas pengangkut pada tumbuhan maju terspesialisasi menjadi xylem dan floem. Kedua alat yang tidak bisa dijumpai pada tumbuhan sederhana. Tumbuhan sederhana seperti lumut tidak mempunyai berkas pengangkut yang kompleks. Hal ini mengakibatkan tinggi tumbuhan lumut tidak pernah dapat menjulang tinggi. Tumbuhan maju dengan berkas pengangkut yang maju dapat memaksimalkan tinggi tumbuhan. Tinggi tumbuhan yang optimal akan dapat mengoptimalkan absorbsi sinar matahari.

Daftar Referensi

Chen, Z. et al. (2017) ‘Molecular Evolution of Grass Stomata’, Trends in Plant Science. Elsevier Ltd, 22(2), pp. 124–139. doi: 10.1016/j.tplants.2016.09.005.

Kebocoran Sumur Bor PERTAMINA Karawang, Ancaman atau Potensi?

Kebocoran Sumur Bor PERTAMINA Karawang, Ancaman atau Potensi?

Indonesia kembali dikejutkan oleh bocornya salah satu sumur bor PERTAMINA pada tanggal 12 Juli 2019 di lepas pantai Karawang. Hingga artikel ini dibuat, PERTAMINA masih berupaya untuk menutup sumur tersebut agar tumpahan minyak mentah tidak melebar ke daerah-daerah sekitarnya.

Ilustrasi Minyak Mentah Karawang
Tumpahan Minyak Mentah Karawang

Tumpahan minyak mentah turut merugikan masyarakat sekitar terutama bagi nelayan dan petani udang tambak. Nelayan tidak melaut karena laut yang tercemar oleh minyak mentah. Petani udang tambak terpaksa untuk memanen lebih cepat daripada biasanya sebab untuk mencegah timbulnya kerugian yang lebih besar akibat tumpahan minyak mentah. Penghasilan masyarakat menjadi berkurang akibat menurunnya kualitas panen udang tambak. Belum lagi kerugian keseimbangan ekosistem yang terjadi di sekitar wilayah bocornya sumur yang mengganggu prinsip daur biogeokimia yang terjadi.

Baca juga: Kreatif, Cara Mengukur Kedalaman Sumur atau Jurang Hanya Dengan Batu dan Stopwatch

Di balik segala kerugian yang timbul dari bocornya sumur bor PERTAMINA di Karawang, terdapat potensi yang tersimpan. Potensi itu berupa minyak-minyak mentah yang menyebar di pantai atau di lautan lepas. Minyak-minyak mentah yang selama ini dianggap merugikan namun bisa jadi terdapat potensi yang menguntungkan.

Tentu sudah menjadi hal yang mafhum bahwa koloni mikroba terdapat di berbagai tempat di sekitar kita. Di tanah, air sumur, dedaunan, buah-buahan atau bahkan di kulit kita terdapat koloni mikroba. Misalkan pada kulit, mikroba hidup di mikro habitat kulit dengan berkompetisi satu sama lain supaya mendapat nutrisi. Bahkan warna buah anggur berupa bercak-bercak putih merupakan koloni mikroorganisme khamir. Khamir hidup secara alami di lapisan atas buah anggur. Peran khamir akan semakin tampak saat anggur dibuat jus dan didiamkan dalam periode tertentu niscaya akan terbentuk alkohol.

Demikian pula pada sebaran minyak mentah hasil dari bocornya sumur bor PERTAMINA. Bisa dipastikan walaupun dalam skala kecil di dalam minyak mentah terdapat mikroba golongan bakteri yang mampu mendegradasi limbah tersebut. Mikroba memanfaatkan minyak mentah sebagai sumber nutrisi atau perangkat reaksi biokimia selnya untuk memenuhi proses metabolisme tubuhnya sehingga tetap dapat bertahan hidup.

Langkah yang baik yang perlu dilakukan oleh para ilmuwan atau para ahli mikrobiologi yaitu melakukan perbanyakan sel mikroba bakteri pendegradasi minyak mentah. Hal pertama yang dapat dilakukan yaitu melakukan proses inokulasi dari substrat minyak mentah. Setelah itu dilakukan proses karakterisasi terhadap mikroba pendegradasi minyak mentah. Kemudian setelah ditemukan bakteri pendegradasi minyak mentah, dilakukan proses perbanyakan secara kuantitas. Hal ini bertujuan untuk optimasi kuantitas proses bioremediasi minyak mentah supaya lebih cepat terdegradasi.

Daftar Referensi

  1. https://www.liputan6.com/bisnis/read/4021764/kronologi-terjadinya-tumpahan-minyak-di-pantai-utara-karawang Diakses pada 1 Agustus 2019.
  2. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190901161730-22-426565/foto-banjir-minyak-pertamina-di-pesisir-karawang/9 Diakses pada 4 September 2019.

Sudut Pandang Yang Benar terhadap Nama Ilmiah, Tidak Perlu Dihafal

Sudut Pandang Yang Benar terhadap Nama Ilmiah, Tidak Perlu Dihafal

Jumlah spesies makhluk hidup yang ada di muka bumi sangatlah banyak. Mulai dari golongan bakteri, jamur, tumbuhan, dan hewan. Mereka semua saling berinteraksi satu sama lain dalam suatu mekanisme tertentu. Banyaknya makhluk hidup yang berada di sekitar kita membuat adanya suatu keharusan untuk mengenali masing-masing makhluk hidup. Hal tersebut bermanfaat untuk membedakan makhluk hidup satu dengan makhluk hidup yang lainnya. Demikian beranekaragam spesies makhluk hidup sehingga membuat berkembangnya salah satu jenis cabang ilmu biologi yaitu biosistematika.

Biosistematika adalah suatu aturan untuk memberikan nama yang bersifat universal pada semua golongan makhluk hidup. Bila dilihat secara bahasa, biosistematika berasal dari dua kata yaitu bios yang berarti kehidupan dan sistematika yang berarti aturan penggolongan. Pada awalnya biosistematika bukanlah cabang ilmu biologi (secara khusus) melainkan bersifat praktis untuk membantu dalam mengelompokkan makhluk hidup.

Kegiatan mengelompokkan makhluk hidup dimulai saat masa Yunani Kuno oleh Theophrastus. Theophrastus adalah salah satu murid Aristoteles yang memiliki spesifikasi dalam ilmu botani (tumbuhan). Theophrastus hidup pada tahun 370-285 SM. Beliau secara mandiri mengelompokkan tumbuh-tumbuhan menjadi beberapa kelompok berdasarkan habitus/perawakannya. Mereka adalah pohon, herba, semak, dan semak kecil. Hal ini merupakan langkah awal peradaban manusia yang pernah tercatat oleh sejarah penggolongan makhluk hidup.

Theophrastus

Sejarah penggolongan makhluk hidup berjalan terus-menerus hingga masa kini. Adanya aturan-aturan universal yang disepakati oleh ilmuwan biosistematika ikut meramaikan dinamika penamaan makhluk hidup. Sistem penamaan makhluk hidup yang dipakai hingga sekarang adalah sistem binomial nomenclature yang dicetuskan oleh Carl Von Linne atas ketidakpraktisan sistem penamaan makhluk hidup terdahulu yang bertele-tele. Carl Von Linne atau yang sering kita sebut dengan nama Lineaus hanya menggunakan dua nama untuk setiap makhluk hidup dengan bahasa Latin.

Carl Von Linne

Hasil jerih payah para author -sebutan bagi ilmuwan penemu spesies baru dan pemberi nama spesies baru- bisa kita nikmati hingga saat ini. Sebut saja nama ilmiah tanaman jagung yaitu Zea mays L. Huruf ‘L’ merupakan singkatan dari kata Linneaus. Linneaus berhasil memberi nama ilmiah tanaman jagung sehingga dapat diterima oleh masyarakat dunia. Oleh karena itu namanya disematkan di belakang nama ilmiah tanaman jagung.

Dewasa ini terdapat banyak nama ilmiah makhluk hidup dari berbagai jenis sehingga sering membuat pusing bagi para siswa ataupun mahasiswa karena kesulitan dalam menghafal nama ilmiah tersebut. Hal tersebut akan bertambah parah apabila para siswa tidak mencari tahu asal-usul penamaan nama ilmiah. Belum lagi bahasa yang digunakan pada nama ilmiah adalah bahasa Latin yang sangat berbeda pengucapan dengan bahasa Indonesia.

Sebenarnya apabila ditelusuri lebih lanjut terdapat fakta-fakta unik dan menarik di balik penamaan ilmiah makhluk hidup. Sebut saja tanaman Mangifera lalijiwa Kostermans. Tanaman ini memiliki nama lokal mangga lalijiwa. Mengapa tanaman tersebut dinamai demikian? Ada sebab unik mengapa nama ilmiah kedua dinamai lalijiwa. Lalijiwa merupakan istilah dalam bahasa Jawa yang berarti kehilangan jiwa atau lupa diri. Konon karena kelezatan buah tersebut membuat sering lupa diri sehingga ingin untuk makan dan makan lagi. Mangga lalijiwa sudang jarang ditemui karena endemik tumbuh di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta. Penamaan nama ilmiah sering diakulturasikan bersama bahasa sekitar ditemukannya spesimen. Hal ini karena keunikan spesimen dibandingkan jenis lainnya yang tergolong masih dalam satu kelompok yang sama.

Mangga Lalijiwa

Contoh di atas hanyalah beberapa contoh unik yang ada di dalam nama ilmiah. Nama ilmiah bukanlah materi yang harus dihafal demikian detail. Nama ilmiah perlu untuk dipahami agar materi yang kita dapatkan dapat lebih mudah dimengerti. Saya merekomendasikan untuk para mahasiswa atau siswa yang belajar biologi khususnya dalam materi nama ilmiah, perlu untuk belajar tentang bahasa Latin sedikit demi sedikit untuk memperdalam arti pemaknaan nama ilmiah.

Daftar Pustaka

-http://www.greatthoughtstreasury.com/author/theophrastus Diakses pada 30 Juli 2019

-https://en.wikipedia.org/wiki/File:Carl_von_Linn%C3%A9.jpg Diakses pada 30 Juli 2019

-https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/08/Mangifera_lalijiwa_%28Kosterm.%29.jpg Diakses pada 30 Juli 2019

-Materi Kuliah Biosistematika, Prinsip Dasar Klasifikasi 2019, oleh Suratman, M.Si