Bagi banyak orang, danau di pegunungan tampak seperti tempat yang damai. Airnya jernih, tenang, memantulkan langit biru, dan sering kali menjadi simbol ketenangan alam. Namun di balik ketenangan itu, beberapa danau menyimpan potensi bahaya besar: banjir danau gletser atau yang dalam istilah ilmiahnya disebut Glacier Lake Outburst Flood (GLOF).
Fenomena ini terjadi ketika danau yang terbentuk dari lelehan gletser tiba-tiba jebol. Air dalam jumlah besar tumpah ke lembah, melibas apa pun yang ada di depannya, dari hutan hingga permukiman. Dalam beberapa jam saja, bencana ini bisa menghancurkan infrastruktur, jalan, bahkan merenggut nyawa.
Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Water pada tahun 2025 memberikan hasil yang mengejutkan. Meski jumlah danau gletser di dunia terus bertambah seiring mencairnya es akibat pemanasan global, ternyata ukuran danau-danau yang memicu banjir justru makin kecil.
Baca juga artikel tentang: Danau Natron: Laboratorium Alam Ekstrem yang Membatu dan Menghidupi
Banjir dari Danau Es: Bahaya Lama di Dunia yang Menghangat
Ketika iklim memanas, gletser (lapisan es raksasa yang menutupi gunung) mulai mencair. Lelehan air ini terkumpul di lembah, membentuk danau baru. Karena danau-danau ini sering tertahan oleh dinding es atau morena (tumpukan batu dan tanah sisa gletser), mereka menjadi waduk alami yang tidak stabil.
Suatu saat, dinding ini bisa jebol karena longsor, getaran gempa, atau karena tekanan air yang makin besar. Hasilnya: gelombang banjir besar yang menyapu lembah di bawahnya.
Contoh nyata datang dari Nepal dan Bhutan, di mana GLOF telah menewaskan ratusan orang dan menghancurkan jembatan serta ladang. Fenomena serupa juga terjadi di Andes, Himalaya, dan Alaska. Karena itu, banyak ilmuwan memperkirakan bahwa makin banyaknya danau gletser akibat pemanasan global berarti risiko banjir juga meningkat.
Namun riset terbaru ini justru menantang anggapan itu.
Menelusuri 1.686 Danau Gletser di Dunia
Tim ilmuwan yang dipimpin oleh Georg Veh dari University of Potsdam, Jerman, melakukan analisis terhadap 1.686 danau gletser di 13 wilayah pegunungan besar di luar daerah kutub, termasuk Himalaya, Andes, dan Kaukasus. Mereka memetakan luas danau-danau tersebut tepat sebelum terjadi banjir besar antara tahun 1990 hingga 2023.
Hasilnya mengejutkan:
Ukuran danau sebelum meletus (pre-GLOF area) tidak banyak berubah dalam tiga dekade terakhir. Bahkan di beberapa wilayah, ukuran danau pemicu banjir justru mengecil.
Temuan ini bertentangan dengan asumsi lama bahwa makin besar danau, makin besar pula potensi banjirnya. Faktanya, banyak danau kecil yang kini lebih sering menyebabkan luapan air besar.
Bahaya yang Mengecil, Tapi Lebih Rumit
Mengapa bisa begitu? Tim peneliti menemukan bahwa jenis danau dan cara terbentuknya sangat menentukan potensi banjir.
Danau gletser terbentuk dalam berbagai cara. Ada yang tertahan oleh bendungan es (ice-dammed lakes), ada pula yang ditahan oleh morena atau tumpukan batu dan sedimen. Seiring waktu, ketika gletser mencair, danau yang tertahan oleh es makin berkurang karena bendungannya ikut mencair.
Namun danau yang tertahan oleh morena dan batuan justru terus membesar dan menyimpan air dalam volume besar. Walau danau ini tidak meledak sesering danau es, satu kali jebol bisa menghasilkan banjir sepuluh kali lebih besar.
Jadi, walaupun secara rata-rata ukuran danau pemicu banjir mengecil, risikonya tetap tinggi karena jenis danau yang tersisa lebih berbahaya.
Dunia yang Terus Berubah: Dari Es ke Batu
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa dunia pegunungan sedang mengalami pergeseran struktural. Dahulu, sebagian besar GLOF berasal dari danau yang tertahan oleh es. Kini, ketika gletser semakin mundur, batuan dan tanah menjadi bendungan utama.
Artinya, lanskap pegunungan tidak hanya kehilangan es, tetapi juga berubah cara “menyimpan” air.
Danau yang tertahan oleh batu atau morena cenderung lebih stabil, tetapi jika terjadi longsor atau gempa kecil, bendungannya bisa runtuh total. Karena banyak permukiman dan infrastruktur dibangun di lembah dekat sungai pegunungan, risiko bencana menjadi nyata.
Tantangan Baru bagi Dunia yang Memanas
Bagi ilmuwan, temuan ini menghadirkan tantangan baru. Sebelumnya, prediksi bahaya GLOF sering kali didasarkan pada ukuran danau, semakin besar danau, semakin berisiko. Kini, penelitian Veh et al. menunjukkan bahwa ukuran bukan satu-satunya faktor kunci.
Yang lebih penting adalah jenis bendungan dan hubungannya dengan gletser. Ketika danau tidak lagi bersentuhan langsung dengan es, aliran air bisa berubah arah, membentuk jalur baru yang tidak terduga. Ini membuat perhitungan bahaya semakin sulit.
Veh dan timnya menyerukan agar dunia mengembangkan simulasi yang lebih spesifik untuk setiap jenis danau gletser. Dengan kata lain, pendekatan “satu model untuk semua danau” tidak lagi relevan.
“Setiap lembah gunung memiliki cerita uniknya sendiri,” tulis mereka. “Dan untuk memahami risiko masa depan, kita harus memahami cerita-cerita itu secara terpisah.”

Bahaya yang Tak Kasat Mata
Salah satu masalah besar dalam mitigasi GLOF adalah keterlambatan deteksi. Banyak danau gletser terletak di daerah terpencil, ribuan meter di atas permukaan laut, sulit dijangkau manusia.
Dengan bantuan citra satelit modern, seperti Landsat dan Sentinel, ilmuwan kini bisa memantau perubahan ukuran danau dari jarak jauh. Namun, banyak negara berkembang yang rawan GLOF masih kekurangan data rinci dan sistem peringatan dini.
Padahal, menurut laporan PBB, lebih dari 15 juta orang di dunia hidup di bawah bayang-bayang bahaya danau gletser.
Harapan dari Teknologi dan Penelitian
Temuan dari Nature Water ini bukan hanya peringatan, tapi juga panduan. Dengan memahami bahwa tidak semua danau besar berbahaya dan bahwa danau kecil pun bisa memicu bencana, para ilmuwan dan pemerintah bisa membuat prioritas pemantauan yang lebih cerdas.
Kombinasi antara data satelit, model komputer, dan pengamatan lapangan akan membantu memetakan danau-danau paling berisiko, bahkan di wilayah yang sulit dijangkau.
Di masa depan, pengawasan otomatis menggunakan drone dan sensor suhu permukaan juga bisa membantu mendeteksi tanda-tanda awal potensi banjir, seperti meningkatnya tekanan air atau pergeseran morena.
Bencana yang Mengecil Tapi Tak Hilang
Meskipun penelitian terbaru menunjukkan bahwa danau pemicu banjir gletser kini cenderung lebih kecil, itu tidak berarti bahaya telah berlalu. Sebaliknya, bahaya kini lebih tersembunyi dan lebih sulit diprediksi.
Dunia sedang berubah, dan pegunungan kita ikut berubah bersamanya. Saat es mencair dan danau baru terbentuk, kita diingatkan bahwa air (unsur kehidupan) juga bisa menjadi sumber kehancuran jika kita lalai memahaminya.
Bencana alam seperti GLOF bukan sekadar persoalan geografi, tapi cermin dari bagaimana Bumi merespons iklim yang semakin tak menentu.
Baca juga artikel tentang: Depresi Danakil, Neraka di Bumi? Danau Beracun yang Bisa Membunuh Seketika
REFERENSI:
Veh, Georg dkk. 2025. Progressively smaller glacier lake outburst floods despite worldwide growth in lake area. Nature Water, 1-13.

