Pertanian organik selama ini dikenal sebagai sistem produksi pangan yang mengedepankan alam. Tanpa pestisida kimia, tanpa pupuk sintetis, serta lebih ramah lingkungan. Namun, banyak orang beranggapan bahwa pertanian organik adalah cara bertani tradisional yang sepenuhnya mengandalkan alam dan kerja tangan petani. Pandangan ini semakin bergeser berkat kemajuan teknologi. Kini, berbagai inovasi digital mulai masuk ke lahan pertanian organik dan menjanjikan hasil yang lebih efisien sekaligus tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Heliyon pada tahun 2025 melihat lebih jauh bagaimana teknologi canggih sedang diadopsi oleh petani organik di empat negara Eropa Tengah yang tergabung dalam Visegrad Group, yaitu Republik Ceko, Hungaria, Polandia, dan Slovakia. Teknologi yang digali adalah teknologi Pertanian Presisi, meliputi drone, sensor, serta robot yang digunakan dalam pertanian tanaman organik maupun peternakan.
Baca juga artikel tentang: Masa Depan Ilmu Material: Cavity Elektro-Optik dan Pengaruhnya terhadap Teknologi Kuantum
Para peneliti ingin memahami sejauh mana teknologi tersebut sudah dimanfaatkan, apa perbedaan yang terjadi di tiap negara, serta apa yang bisa dipelajari untuk mempercepat transisi menuju pertanian organik yang lebih modern dan berkelanjutan.
Penelitian ini dilakukan melalui survei terhadap para pelaku pertanian organik di empat negara tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat penerapan teknologi presisi sangat bervariasi. Meski berada dalam kawasan yang sama, kondisi, kebutuhan, dan fokus pemanfaatan teknologi terlihat berbeda pada setiap negara.
Republik Ceko menempati posisi terdepan dalam penggunaan drone di pertanian organik. Sekitar 70 persen responden di sana telah memanfaatkan drone untuk memantau kondisi tanah di lahan pertanian mereka. Drone menjadi alat penting untuk melihat area yang sulit dijangkau, mengidentifikasi masalah kesuburan tanah, hingga memetakan area kering dan basah dengan lebih cepat dan akurat. Data visual dan sensor yang dibawa drone membuat petani dapat mengambil keputusan lebih tepat tanpa harus menghabiskan banyak waktu menyusuri seluruh lahan.
Hungaria tampak unggul dalam penggunaan sensor kelembapan tanah. Sebanyak 55 persen petani organik di sana memasang sensor yang mampu membaca kondisi air di dalam tanah secara real time. Informasi ini penting karena penyiraman tanaman harus dilakukan dengan tepat jumlah dan tepat waktu, sehingga tidak ada pemborosan air sekaligus menjaga kesehatan tanaman. Teknologi ini sangat mendukung konsep pertanian organik yang irit sumber daya dan menjaga keseimbangan ekologis.
Slovakia menunjukkan tingkat penggunaan sensor yang sangat tinggi dalam urusan pemupukan. Sebanyak 75 persen petani menggunakan sensor untuk membantu penerapan pupuk organik secara lebih efisien. Meski tanpa bahan kimia sintetis, kesalahan dalam pemberian pupuk bisa menyebabkan tanaman tidak tumbuh optimal. Sensor membuat dosis nutrisi lebih terukur, meningkatkan produktivitas, serta mengurangi pemborosan sumber daya.
Sementara di Polandia, robot pertanian menjadi inovasi yang cukup menonjol. Sekitar 33 persen responden menggunakan robot untuk tugas berat seperti penyiangan gulma, pemanenan hasil pertanian, hingga penebaran benih. Robot membantu mengurangi beban tenaga kerja manusia dan meningkatkan ketepatan pekerjaan, sekaligus sementara ini menjadi solusi untuk keterbatasan pekerja pertanian yang dialami banyak negara Eropa.

Perbedaan angka penggunaan teknologi di empat negara tersebut memberi gambaran bahwa adopsi teknologi sangat dipengaruhi oleh kebutuhan lokal, kebijakan pemerintah, daya beli petani, dan kesiapan infrastruktur digital. Namun, satu hal yang jelas. Teknologi presisi membawa potensi besar dalam membantu pertanian organik menjadi lebih efisien, produktif, dan tetap ramah lingkungan.
Para peneliti juga menyoroti manfaat lain yang tidak kalah penting. Dengan memanfaatkan data yang lebih akurat, petani bisa mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat perubahan iklim, seperti kekeringan atau curah hujan yang tidak menentu. Hal ini semakin relevan ketika cuaca di berbagai belahan dunia terus berubah secara ekstrem.
Bagi pembuat kebijakan dan pihak yang mendorong inovasi pertanian berkelanjutan, hasil penelitian ini menjadi bahan pertimbangan penting. Mereka perlu menyusun strategi yang tepat agar teknologi presisi bisa lebih banyak digunakan para petani organik, baik melalui dukungan pendanaan, pelatihan, maupun penyediaan data dan perangkat yang lebih terjangkau.
Namun penelitian ini juga mengakui ada keterbatasan. Survei hanya mencakup empat negara di kawasan Visegrad, sehingga belum tentu mencerminkan kondisi negara lain di Eropa atau dunia. Selain itu, data diperoleh dari responden yang mungkin memiliki tingkat pemahaman dan pengalaman berbeda, sehingga interpretasinya perlu lebih hati hati. Penelitian lanjutan sangat dianjurkan agar pemahaman tentang adopsi teknologi presisi di pertanian organik lebih luas dan mendalam.
Meskipun demikian, temuan yang ada memperlihatkan harapan besar. Pertanian organik tidak harus kembali ke cara lampau yang sepenuhnya tradisional. Sebaliknya, masa depan pertanian berkelanjutan bisa dibentuk oleh perpaduan antara kearifan alam dan kecanggihan teknologi.
Bayangkan lahan pertanian organik yang dipantau drone setiap hari, tanah yang terus memberi sinyal kapan ia membutuhkan air, robot yang bekerja siang malam tanpa merusak lingkungan, hingga sistem data yang membantu petani membuat keputusan dengan cepat dan tepat. Itulah gambaran pertanian organik masa depan yang lebih cerdas, efisien, dan membantu menjaga bumi.
Jika teknologi presisi terus dikembangkan dan diadopsi dengan tepat, produksi pangan organik dapat meningkat tanpa mengorbankan kesehatan lingkungan. Dunia yang semakin padat penduduk membutuhkan solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Dan revolusi itu bisa jadi dimulai dari sawah sawah organik di Eropa Tengah yang kini menjadi laboratorium masa depan pertanian hijau global.
Baca juga artikel tentang: Kabut Pintar dan Kelembapan Terkontrol: Teknologi Baru Menjaga Buah dan Sayur Segar dari Ladang ke Meja Makan
REFERENSI:
Petrovic, Bojana dkk. 2025. Adoption of drone, sensor, and robotic technologies in organic farming systems of Visegrad countries. Heliyon 11 (1).

