Penggunaan lensa kontak telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Banyak orang memilih lensa kontak karena alasan kenyamanan, estetika, atau kebutuhan medis. Namun, di balik kepraktisannya, lensa kontak menyimpan risiko kesehatan yang sering luput dari perhatian, yaitu infeksi mata. Salah satu penyebab utama infeksi ini bukan hanya kuman itu sendiri, melainkan kemampuan kuman tersebut membentuk biofilm, lapisan pelindung tipis yang membuat mereka sulit dibasmi. Di sinilah sains mulai melirik solusi dari alam, salah satunya bunga telang atau Butterfly pea flower.
Bunga telang dikenal luas di Asia Tenggara sebagai tanaman hias, pewarna alami makanan, dan bahan minuman herbal. Warna birunya yang khas berasal dari senyawa antosianin, sejenis antioksidan kuat. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa manfaat bunga telang tidak berhenti pada warna dan antioksidan. Peneliti mulai menemukan potensi bunga ini sebagai agen antibiofilm, yaitu zat yang mampu merusak atau mencegah pembentukan biofilm mikroorganisme berbahaya.
Baca juga artikel tentang: Menyelamatkan Phewa, Menyelamatkan Sumber Kehidupan di Nepal
Untuk memahami pentingnya temuan ini, kita perlu mengenal apa itu biofilm. Biofilm adalah kumpulan mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang menempel pada suatu permukaan dan dilindungi oleh lapisan lengket yang mereka hasilkan sendiri. Pada lensa kontak, biofilm dapat terbentuk ketika kebersihan kurang terjaga atau lensa digunakan terlalu lama. Lapisan ini membuat mikroba jauh lebih tahan terhadap cairan pembersih biasa dan antibiotik, sehingga meningkatkan risiko infeksi serius pada mata, seperti keratitis mikroba.
Penelitian yang dilakukan dan dipublikasikan dalam Asian Journal of Green Chemistry pada tahun 2025 mengkaji efektivitas ekstrak bunga telang dalam mengatasi biofilm yang terbentuk pada lensa kontak. Fokus penelitian ini adalah tiga mikroorganisme yang paling sering terlibat dalam infeksi terkait lensa kontak, yaitu Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus epidermidis, dan Candida albicans. Ketiganya dikenal sebagai patogen oportunistik yang dapat menyebabkan peradangan serius pada kornea mata.
Para peneliti mengekstrak senyawa aktif dari bunga telang dan mengujinya menggunakan metode Microtiter Plate Biofilm Assay. Metode ini memungkinkan ilmuwan mengukur seberapa kuat biofilm yang terbentuk dan seberapa besar kemampuannya terurai setelah diberi perlakuan ekstrak bunga telang. Pengukuran dilakukan dengan melihat tingkat kekeruhan larutan, yang mencerminkan jumlah biofilm yang masih bertahan.

Hasilnya cukup menjanjikan. Ekstrak bunga telang mampu mengurangi biofilm Pseudomonas aeruginosa hingga sekitar 54 persen. Pada Candida albicans, jamur yang sering menyebabkan infeksi mata dan sulit ditangani, tingkat degradasi biofilm bahkan mencapai lebih dari 63 persen. Sementara itu, pada Staphylococcus epidermidis, bakteri yang umum ditemukan di kulit manusia, efektivitasnya berada pada tingkat sedang, sekitar 45 persen.
Angka-angka ini memiliki makna besar dalam dunia kesehatan mata. Biofilm yang berkurang berarti mikroorganisme kehilangan perlindungan alaminya. Tanpa biofilm, kuman menjadi lebih rentan terhadap sistem imun tubuh dan zat antimikroba lainnya. Dengan kata lain, ekstrak bunga telang tidak harus membunuh mikroba secara langsung untuk memberikan manfaat. Cukup dengan merusak biofilm, risiko infeksi sudah dapat ditekan secara signifikan.
Mengapa bunga telang mampu melakukan hal ini. Jawabannya terletak pada kandungan fitokimia di dalamnya. Bunga telang mengandung flavonoid, antosianin, dan senyawa fenolik lainnya. Senyawa-senyawa ini dikenal mampu mengganggu komunikasi antar sel mikroba yang diperlukan untuk membentuk biofilm. Selain itu, beberapa senyawa tersebut dapat merusak struktur dinding sel mikroorganisme, sehingga melemahkan kemampuan mereka bertahan hidup.
Keunggulan lain dari pendekatan ini adalah sifatnya yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi lebih aman. Banyak cairan pembersih lensa kontak saat ini mengandung bahan kimia keras yang dapat menyebabkan iritasi jika digunakan terus-menerus. Penggunaan bahan alami seperti ekstrak bunga telang membuka peluang pengembangan produk perawatan lensa kontak yang lebih lembut bagi mata dan lebih berkelanjutan bagi lingkungan.
Namun, penting untuk memahami batasan penelitian ini. Studi yang dilakukan masih berada pada tahap laboratorium. Para peneliti menguji efektivitas ekstrak bunga telang dalam kondisi terkendali, bukan langsung pada mata manusia. Artinya, hasil yang menjanjikan ini belum bisa langsung diterapkan sebagai pengganti cairan pembersih lensa kontak yang ada di pasaran. Uji keamanan, uji stabilitas, dan uji klinis pada manusia tetap diperlukan sebelum produk berbasis bunga telang dapat digunakan secara luas.
Selain itu, efektivitas yang berbeda pada masing-masing mikroorganisme menunjukkan bahwa bunga telang bukan solusi tunggal untuk semua jenis kuman. Pada bakteri tertentu, daya antibiofilmnya mungkin perlu dikombinasikan dengan bahan lain agar hasilnya optimal. Hal ini justru membuka peluang penelitian lanjutan, misalnya mengombinasikan ekstrak bunga telang dengan bahan alami lain atau teknologi modern untuk meningkatkan efektivitasnya.
Bagi masyarakat umum, temuan ini memberikan pesan penting bahwa alam masih menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Tanaman yang selama ini dikenal hanya sebagai pewarna minuman atau hiasan pekarangan ternyata memiliki kemampuan melawan mikroorganisme berbahaya. Sains modern berperan sebagai jembatan yang membantu kita memahami dan memanfaatkan potensi tersebut secara aman dan bertanggung jawab.
Di masa depan, penelitian seperti ini dapat mengarah pada inovasi di bidang kesehatan mata, mulai dari cairan pembersih lensa kontak berbasis bahan alami hingga lapisan pelindung lensa yang mampu mencegah pembentukan biofilm sejak awal. Semua itu berawal dari pemahaman sederhana tentang bagaimana tumbuhan seperti bunga telang berinteraksi dengan dunia mikroba.
Ekstrak bunga telang menunjukkan potensi nyata sebagai agen antibiofilm terhadap mikroorganisme penyebab infeksi mata terkait lensa kontak. Meskipun masih memerlukan penelitian lanjutan, temuan ini menegaskan bahwa solusi kesehatan tidak selalu harus datang dari bahan sintetis. Kadang, jawabannya justru tumbuh diam-diam di halaman rumah, menunggu sains untuk mengungkap rahasianya.
Baca juga artikel tentang: Dari Jagung Jadi Plastik: Revolusi Material Ramah Lingkungan
REFERENSI:
Novicadlitha, Yoan dkk. 2025. Antibiofilm Efficacy of Butterfly Pea Flower Extract on Pathogens in Contact Lens-Related Infections. Asian Journal of Green Chemistry 9 (1), 43-56.

