Komunikasi Bisnis: Fondasi Utama Kesuksesan Organisasi di Era Modern

Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi secara mendalam hakikat komunikasi bisnis, mulai dari pengertian dasar, tujuan, jenis, unsur, teknik, hingga prinsip-prinsip yang menjadikannya efektif. Pemahaman yang komprehensif tentang komunikasi bisnis akan menjadi bekal berharga bagi siapa pun yang ingin sukses dalam dunia profesional, baik sebagai pemimpin, manajer, maupun anggota tim.

Komunikasi adalah denyut nadi kehidupan organisasi. Tanpa komunikasi yang efektif, tidak ada koordinasi, tidak ada kerja sama, dan tidak ada pencapaian tujuan bersama. Di dunia bisnis yang semakin kompetitif dan kompleks, kemampuan untuk berkomunikasi secara efisien dan tepat menjadi pembeda antara perusahaan yang tumbuh pesat dengan perusahaan yang tertinggal. Komunikasi bisnis bukan sekadar tentang bertukar informasi, tetapi tentang membangun hubungan, menciptakan pemahaman bersama, dan menggerakkan orang menuju visi yang sama. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi secara mendalam hakikat komunikasi bisnis, mulai dari pengertian dasar, tujuan, jenis, unsur, teknik, hingga prinsip-prinsip yang menjadikannya efektif. Pemahaman yang komprehensif tentang komunikasi bisnis akan menjadi bekal berharga bagi siapa pun yang ingin sukses dalam dunia profesional, baik sebagai pemimpin, manajer, maupun anggota tim.

Pengertian Komunikasi

Sebelum kita membahas pengertian komunikasi bisnis, kita bahas komunikasi secara umum terlebih dahulu. Komunikasi adalah proses fundamental dalam kehidupan manusia yang melibatkan pertukaran informasi, ide, perasaan, dan makna antara individu atau kelompok. Para ahli komunikasi telah merumuskan pengertian komunikasi dari berbagai perspektif yang berbeda. Menurut Fiske (2004: 8-9) melihat setidaknya ada dua aliran utama (mazhab) ahli komunikasi dalam merumuskan pengertian komunikasi. Pertama, ahli komunikasi yang merumuskan komunikasi sebagai penyampaian atau transmisi pesan yang kemudian disebut sebagai “mazhab proses”. Dalam perspektif ini, komunikasi dipandang sebagai proses linear di mana pengirim mengirimkan pesan melalui saluran tertentu kepada penerima. Kedua, ahli komunikasi yang melihat komunikasi sebagai pembuatan dan pertukaran makna yang disebut sebagai “mazhab semiotika”. Aliran ini menekankan bahwa komunikasi adalah tentang bagaimana makna diciptakan, ditafsirkan, dan dinegosiasikan antara pihak-pihak yang terlibat.

Sedangkan Deddy Mulyana (2005a: 61) menyebutkan adanya tiga kerangka pemahaman atas komunikasi, yaitu (a) komunikasi sebagai tindakan satu arah, (b) komunikasi sebagai interaksi, dan (c) komunikasi sebagai transaksi. Komunikasi sebagai tindakan satu arah melihat komunikasi sebagai penyampaian pesan (informasi) dari seseorang atau lembaga kepada orang lain tanpa mengharapkan umpan balik secara langsung. Model ini menggambarkan komunikasi yang bersifat monologis, seperti pidato atau siaran televisi. Komunikasi sebagai interaksi menunjukkan komunikasi sebagai proses sebab-akibat atau aksi-reaksi yang arahnya bergantian. Dalam model ini, komunikasi melibatkan pertukaran pesan secara bergantian antara pengirim dan penerima, dengan adanya umpan balik yang memengaruhi pesan berikutnya. Sedangkan komunikasi sebagai transaksi memandang komunikasi sebagai proses personal karena makna atau pemahaman kita atas apa yang kita peroleh sebenarnya bersifat pribadi. Dalam perspektif transaksional, komunikasi terjadi secara simultan; kedua belah pihak secara bersamaan mengirim dan menerima pesan, dan makna diciptakan bersama dalam konteks hubungan mereka.

Kita pun bisa mendapatkan pengertian komunikasi dari salah seorang ahli komunikasi yaitu Harold D. Lasswell, yang dikenal dengan model Lasswell-nya (lihat, Fiske, 2004: 46). Lasswell merumuskan komunikasi dengan pernyataan dalam bentuk pertanyaan seperti berikut: Who (siapa komunikatornya?), Says what (pesan apa yang disampaikan?), In which channel (melalui saluran atau media apa?), To whom (kepada siapa komunikan atau penerimanya?), With what effect (dengan efek atau dampak apa?). Apa yang dijelaskan Lasswell itu pada dasarnya juga menunjukkan komponen-komponen komunikasi, yaitu (a) siapa yang berkomunikasi atau biasa dinamakan sumber komunikasi atau komunikator, (b) menyatakan apa (pesan/isi komunikasi/informasi yang disampaikan), (c) dengan saluran mana (media yang digunakan), (d) pada siapa (penerima/komunikan), dan (e) dengan efek apa. Model Lasswell ini sangat berguna untuk menganalisis proses komunikasi secara sistematis, karena ia menguraikan elemen-elemen kunci yang selalu hadir dalam setiap tindakan komunikasi. Apa yang dikemukakan Lasswell tersebut, dilengkapi dengan apa yang dikembangkan oleh Shannon dan Weaver yang menyebutkan adanya gangguan (noise) dalam proses penyampaian pesan dari pemberi atau komunikator pada komunikan atau penerima. Gangguan tersebut bisa bersifat teknis (misalnya sinyal yang putus atau suara yang tidak jelas), bisa juga bersifat psikologis (misalnya perasaan, prasangka, atau kondisi emosi penerima yang memengaruhi interpretasi pesan). Ada juga yang menyebut gangguan bahasa (semantis), yaitu ketika kata-kata yang digunakan memiliki makna yang berbeda bagi komunikator dan komunikan, sehingga pesan tidak dipahami sesuai dengan maksud pengirimnya.

Pengertian Komunikasi Bisnis

Banyak orang yang tergoda untuk memberi pengertian dari satu istilah yang terdiri atas dua kata berdasarkan pengertian masing-masing kata. Tapi biasanya cara merumuskan pengertian seperti itu tidak menggambarkan kondisi yang sesungguhnya. Kita bisa mengambil misal untuk pengertian rumah sakit. Bila kita merumuskan pengertian rumah sakit dengan menjelaskan lebih dulu pengertian rumah sebagai tempat tinggal dan sakit sebagai keadaan yang tidak baik dialami manusia, maka bila kita gabungkan dua kata itu menjadi rumah sakit akan menjadi apa maknanya? Oleh sebab itu, kita berusaha menangkap makna komunikasi bisnis bukan sebagai paduan makna komunikasi dan bisnis, melainkan merupakan satu kesatuan yang memiliki makna khas. Komunikasi bisnis adalah domain khusus dari komunikasi yang terjadi dalam konteks organisasi bisnis, dengan karakteristik, tujuan, dan aturan yang berbeda dari komunikasi sosial pada umumnya.

Untuk itu, kita mengutip saja penjelasan pakar komunikasi bisnis. Rosenblatt, et al., (1977: 3) mendefinisikan komunikasi bisnis sebagai “pertukaran gagasan, pendapat, informasi, instruksi dan sebagainya yang memiliki tujuan tertentu yang disajikan secara personal atau impersonal melalui simbol-simbol atau sinyal-sinyal untuk mencapai tujuan organisasi”. Dalam definisi tersebut, bila kita perhatikan secara seksama, mengandung 6 unsur pokok komunikasi bisnis, yaitu (1) bertujuan, berarti komunikasi bisnis harus memiliki tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya sejalan dengan pencapaian tujuan organisasi atau lembaga. Bisa saja tujuan komunikasi tersebut bersifat formal atau informal, tapi tidak bersifat sosial kecuali yang sejalan dengan tujuan utama organisasi atau lembaga. (2) pertukaran, kegiatan ini melibatkan paling tidak dua orang atau lebih yakni komunikator dan komunikan yang saling bertukar pesan. (3) gagasan, opini, informasi, instruksi merupakan isi dari pesan yang bentuknya beragam bergantung pada tujuan, situasi, dan kondisinya. (4) saluran personal atau impersonal yang mungkin bersifat tatap muka atau melalui siaran televisi yang menjangkau jutaan orang secara bersamaan. (5) simbol atau sinyal yang merupakan alat atau metode yang dapat dimengerti untuk menyampaikan atau mempertukarkan pesan. Simbol bisa bersifat verbal atau nonverbal, konkret atau abstrak; yang terpenting adalah bagaimana pesan yang disampaikan bisa dimengerti dengan baik. (6) pencapaian tujuan organisasi, yang merupakan orientasi akhir dari seluruh proses komunikasi bisnis.

Kita akan memperhatikan pada butir 6, yaitu pencapaian tujuan organisasi. Kita tentu tahu bahwa setiap organisasi, apa pun bentuknya, pasti didirikan dengan maksud dan tujuan tertentu yang biasanya dikemukakan dalam anggaran dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) organisasi tersebut. Bisa juga dilihat dalam visi dan misi organisasi tersebut. Begitu juga halnya dengan organisasi bisnis, tentu akan memiliki tujuan tertentu. Misalnya organisasi bisnis didirikan dengan tujuan memberikan keuntungan bagi pemegang saham dan menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Biasanya tujuan organisasi bisnis dikategorikan menjadi (a) tujuan produktif dan (b) tujuan memelihara. Tujuan produktif berkaitan dengan pencapaian hasil bisnis seperti laba, pertumbuhan, dan pangsa pasar, sedangkan tujuan memelihara berkaitan dengan keberlanjutan organisasi seperti menjaga hubungan baik dengan karyawan, pelanggan, dan masyarakat. Dengan demikian, dalam komunikasi bisnis, selain kita memperhatikan tujuan yang hendak dicapai organisasi, juga harus memperhatikan tujuan komunikasi yang akan kita lakukan. Kita sudah membahas tujuan komunikasi pada bagian sebelumnya. Kita ambil saja rumusan tujuan komunikasi yang paling populer yaitu (a) menginformasikan, (b) mendidik, (c) menghibur, dan (d) mempengaruhi. Dalam komunikasi bisnis, tujuan komunikasi tersebut tentu saja merupakan bagian dari upaya mencapai tujuan organisasi bisnis secara keseluruhan.

Komunikasi bisnis ini bisa berlangsung di antara sesama karyawan atau staf satu organisasi, bisa juga dengan orang lain yang berada di luar organisasinya. Bila komunikasinya merupakan perintah pada bawahan, tentu komunikasi itu berlangsung di lingkungan organisasi. Namun bila ada pemberitahuan kepada masyarakat luas, tentu komunikasinya berlangsung dengan orang yang berada di luar organisasinya. Komunikasi bisnis juga bisa terjadi antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Satu perusahaan mengirimkan surat pada perusahaan pemasoknya, misalnya, merupakan contoh komunikasi yang berlangsung antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Komunikasi bisnis dapat diartikan secara lebih sederhana sebagai proses pengiriman dan penerimaan pesan antara individu atau kelompok dalam lingkungan bisnis. Menurut Rosenblatt, komunikasi bisnis adalah suatu tindakan pertukaran informasi, ide, gagasan, instruksi, dan sebagainya, yang disampaikan secara personal maupun non-personal melalui simbol atau sinyal untuk mencapai tujuan dalam sebuah organisasi. Simbol atau sinyal tersebut dapat berupa informasi, instruksi, atau bahkan pesan motivasi dalam bekerja untuk kemajuan perusahaan. Dalam komunikasi bisnis, pengirim pesan harus memastikan bahwa pesan yang disampaikan dapat dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan. Beberapa manfaat dari komunikasi bisnis adalah meningkatkan kepuasan pelanggan, memperkuat hubungan dengan mitra bisnis, dan meningkatkan efisiensi dalam organisasi. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan jelas dan efektif adalah keterampilan penting yang harus dimiliki oleh setiap individu yang bekerja di dunia bisnis. Oleh karena itu, memiliki pemahaman yang kuat tentang teknik komunikasi bisnis dan kemampuan menggunakan teknologi informasi secara efektif dapat membantu perusahaan dalam mencapai kesuksesan.

Baca juga: Joint Ventures: Strategi Kolaborasi untuk Membuka Peluang dan Mengelola Risiko Bisnis

Tujuan Komunikasi Bisnis

Tujuan dari komunikasi bisnis adalah untuk menjalin hubungan kerja yang baik dan juga meningkatkan produktivitas dalam lingkungan kerja. Komunikasi yang efektif memungkinkan perusahaan untuk mengoordinasikan kegiatan, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan yang lebih baik. Melalui komunikasi yang efektif, seseorang dapat menyampaikan pesan secara jelas dan menghindari kesalahpahaman antara pengirim dan penerima pesan. Tujuan lain dari komunikasi bisnis adalah untuk memotivasi karyawan dan membangun kepercayaan antara rekan bisnis. Karyawan yang merasa didengarkan dan dihargai melalui komunikasi yang terbuka cenderung memiliki semangat kerja yang lebih tinggi dan loyalitas yang lebih kuat terhadap perusahaan. Selain itu, komunikasi bisnis yang baik juga berfungsi untuk membangun dan memelihara citra positif perusahaan di mata publik, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Komunikasi bisnis merupakan hal yang sangat penting dalam dunia bisnis, karena tanpa adanya komunikasi yang baik antara individu atau kelompok dalam lingkungan bisnis maka dapat menyebabkan adanya ketidaksepahaman atau kesalahpahaman yang dapat merugikan bisnis. Misalnya, instruksi yang tidak jelas dari atasan dapat menyebabkan bawahan melakukan pekerjaan yang salah, yang pada akhirnya membuang waktu, tenaga, dan sumber daya perusahaan. Di tingkat eksternal, komunikasi yang buruk dengan pelanggan dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan dan peralihan ke kompetitor. Sebaliknya, komunikasi bisnis yang efektif dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Perusahaan yang dikenal memiliki komunikasi yang responsif, transparan, dan ramah cenderung lebih mudah menarik dan mempertahankan pelanggan. Secara lebih terperinci, tujuan komunikasi bisnis dapat dikategorikan menjadi beberapa aspek: (a) informatif—menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh karyawan, mitra, atau pelanggan untuk melakukan pekerjaan mereka atau membuat keputusan; (b) persuasif—meyakinkan pihak lain, seperti calon pelanggan atau investor, untuk mengambil tindakan yang menguntungkan perusahaan; (c) instruktif—memberikan arahan dan perintah yang jelas untuk menjalankan operasi bisnis; (d) integratif—membangun kohesi dan semangat tim di antara karyawan; serta (e) promotif—memperkenalkan produk, layanan, atau inisiatif baru kepada pasar.

Jenis Komunikasi Bisnis

Dalam komunikasi untuk bisnis, terdapat beberapa jenis yang penting untuk diperhatikan. Hal ini bertujuan untuk menegaskan bahwa komunikasi penting bagi setiap posisi dalam bisnis. Pemahaman tentang jenis-jenis komunikasi ini membantu perusahaan merancang strategi komunikasi yang tepat sasaran dan efisien.

1. Internal ke Atas (Upward Communication). Komunikasi internal ke atas adalah komunikasi yang terjadi di mana karyawan menyampaikan pesan kepada manajer atau hierarki lebih atas. Proses ini harus dipastikan agar informasi dapat tersampaikan dengan baik ke atas, sehingga operasi bisnis juga berjalan lancar. Pada umumnya, komunikasi internal ke atas berupa laporan kepada atasan, survei, umpan balik, saran, atau keluhan untuk peningkatan kualitas bisnis. Jenis komunikasi ini sangat penting karena memberikan para pemimpin informasi tentang apa yang terjadi di tingkat bawah, tantangan yang dihadapi karyawan, serta ide-ide inovatif yang mungkin muncul dari lini depan. Misalnya, ketua divisi pemasaran menyampaikan laporan perkembangan penjualan produk atau keberhasilan kampanye kepada atasan. Tanpa komunikasi ke atas yang efektif, manajemen puncak dapat kehilangan sentuhan dengan realitas operasional dan membuat keputusan yang tidak tepat.

2. Internal ke Bawah (Downward Communication). Sesuai namanya, komunikasi internal ke bawah adalah proses transfer informasi yang mengalir dari atasan ke bawahan, baik level manajer atau karyawan. Terlepas dari posisinya yang lebih atas, pimpinan juga tetap harus memastikan bahwa komunikasi yang disampaikan jelas dan efisien. Biasanya pihak atasan akan menggunakan surat, memo, pengumuman, rapat, atau arahan langsung. Jenis komunikasi ini mencakup pemberian instruksi kerja, penjelasan tentang kebijakan dan prosedur baru, penyampaian visi dan misi perusahaan, serta pemberian umpan balik tentang kinerja karyawan. Misalnya, atasan menuliskan memo terkait penerapan prosedur baru di perusahaan. Komunikasi ke bawah yang efektif memastikan bahwa semua anggota organisasi bergerak ke arah yang sama dan memahami apa yang diharapkan dari mereka.

3. Internal Lateral (Horizontal Communication). Komunikasi lateral adalah komunikasi yang terjadi antar karyawan dalam perusahaan pada level yang sama atau setara. Maknanya, penyampaian informasi berlangsung dalam level sejajar, misalnya antara sesama staf di departemen yang sama atau antar manajer dari departemen yang berbeda. Jenis komunikasi ini banyak ditemui saat saling berkirim pesan melalui email atau chatting, rapat koordinasi antar departemen, atau diskusi informal di ruang istirahat. Komunikasi lateral juga dinilai lebih teratur daripada jenis lainnya karena melibatkan orang-orang dengan status dan wewenang yang setara, sehingga lebih bebas dan terbuka. Komunikasi lateral sangat penting untuk koordinasi, pemecahan masalah bersama, dan berbagi informasi yang relevan antar bagian yang saling terkait. Tanpa komunikasi lateral yang baik, departemen-departemen dalam perusahaan dapat bekerja dalam silo yang terisolasi, menyebabkan duplikasi usaha atau bahkan konflik.

4. Eksternal (External Communication). Komunikasi bisnis eksternal terjadi antara pihak internal (individu atau kelompok di dalam perusahaan) dan pihak di luar perusahaan, seperti klien, pelanggan, vendor, mitra bisnis, pemerintah, media, atau masyarakat umum. Jenis komunikasi ini mencakup berbagai aktivitas seperti negosiasi dengan pemasok, presentasi kepada calon investor, iklan kepada konsumen, siaran pers kepada media, atau pelayanan pelanggan. Komunikasi eksternal yang efektif sangat krusial karena secara langsung memengaruhi reputasi perusahaan, kepuasan pelanggan, dan keberhasilan dalam menjalin kemitraan strategis. Perusahaan perlu mengelola komunikasi eksternal dengan cermat, memastikan bahwa pesan yang disampaikan konsisten dengan nilai dan citra merek yang ingin dibangun.

Komunikasi bisnis. Sumber: OCBC.id

Unsur-Unsur Komunikasi Bisnis

Terdapat beberapa hal yang menjadi unsur-unsur komunikasi bisnis untuk mendukung keberhasilan prosesnya. Pemahaman tentang unsur-unsur ini membantu kita menganalisis dan merancang komunikasi bisnis yang lebih efektif. Berikut penjelasannya:

  • Adanya tujuan: saat melakukan komunikasi, tentu ada tujuan yang ingin dicapai dari proses pertukaran informasi tersebut. Tujuan ini bisa bersifat eksplisit (dinyatakan secara terbuka) atau implisit (tersirat), tetapi harus selalu ada sebagai pendorong dilakukannya komunikasi. Dalam konteks bisnis, tujuan komunikasi biasanya terkait dengan pencapaian target organisasi, seperti meningkatkan penjualan, memperlancar koordinasi, atau membangun hubungan baik dengan mitra.
  • Adanya proses pertukaran: komunikasi hanya akan terjadi apabila ada dua pihak atau lebih untuk saling bertukar informasi. Pertukaran ini bisa bersifat searah (misalnya pengumuman dari atasan) atau dua arah (misalnya diskusi atau negosiasi). Yang terpenting adalah adanya pergerakan pesan dari satu pihak ke pihak lain. Dalam komunikasi bisnis yang efektif, pertukaran informasi sebaiknya bersifat timbal balik, sehingga kedua belah pihak dapat saling memahami dan menyesuaikan.
  • Memuat informasi: komunikasi yang dilakukan memiliki pesan, baik berupa ide, gagasan, pendapat, instruksi, data, atau perasaan. Informasi ini harus relevan dengan kebutuhan dan konteks komunikasi. Dalam bisnis, informasi yang disampaikan harus akurat, tepat waktu, dan bermanfaat bagi penerimanya. Informasi yang tidak relevan atau tidak akurat dapat menyebabkan kebingungan, kesalahan keputusan, atau bahkan kerugian finansial.
  • Adanya media: komunikasi dapat terjadi baik secara personal (tatap muka, telepon) atau impersonal (surat, email, laporan, presentasi), melalui media tertentu, atau media massa untuk menjangkau lebih banyak orang. Pemilihan media yang tepat sangat memengaruhi efektivitas komunikasi. Misalnya, untuk pesan yang kompleks dan membutuhkan diskusi, komunikasi tatap muka atau video conference lebih baik; untuk pesan yang bersifat informatif dan dokumentatif, email atau memo tertulis lebih sesuai; untuk menjangkau khalayak luas, media sosial atau iklan televisi mungkin lebih efektif.
  • Adanya simbol atau sinyal: komunikasi dilakukan menggunakan simbol atau sinyal yang dapat dipahami kedua belah pihak. Simbol bisa berupa kata-kata (bahasa verbal), gerakan tubuh (bahasa nonverbal), gambar, angka, atau bahkan kode tertentu. Dalam komunikasi bisnis lintas budaya, pemahaman tentang simbol dan sinyal yang digunakan oleh mitra dari latar belakang berbeda menjadi sangat krusial untuk menghindari kesalahpahaman.
  • Pencapaian tujuan: tercapainya tujuan akhir dari proses komunikasi bisnis yang dilakukan. Ini adalah unsur yang bersifat evaluatif: apakah komunikasi yang dilakukan berhasil mencapai apa yang diinginkan? Pencapaian tujuan dapat diukur dari perubahan perilaku, pemahaman, atau keputusan yang diambil oleh penerima pesan sesuai dengan harapan pengirim. Dalam komunikasi bisnis, keberhasilan sering diukur dari indikator-indikator konkret seperti meningkatnya penjualan, terselesaikannya proyek tepat waktu, atau membaiknya hubungan dengan pelanggan.

Teknik Komunikasi Bisnis

Untuk mencapai tujuan komunikasi bisnis yang efektif, individu harus memiliki teknik komunikasi yang baik. Teknik-teknik ini tidak hanya berguna dalam situasi formal seperti rapat atau presentasi, tetapi juga dalam interaksi sehari-hari di tempat kerja. Berikut ini beberapa teknik komunikasi bisnis yang dapat diterapkan:

1. Mendengarkan Aktif (Active Listening). Mendengarkan aktif merupakan salah satu teknik komunikasi bisnis yang sangat penting namun sering diabaikan. Mendengarkan aktif bukan sekadar mendengar kata-kata yang diucapkan, tetapi melibatkan upaya sadar untuk memahami pesan secara utuh, termasuk emosi dan maksud di balik kata-kata tersebut. Teknik ini meliputi: memberikan perhatian penuh kepada pembicara, tidak menyela, mengajukan pertanyaan klarifikasi, merangkum kembali apa yang didengar untuk memastikan pemahaman, serta memberikan umpan balik yang tepat. Dengan mendengarkan aktif, seseorang dapat memahami pesan yang disampaikan dengan baik dan dapat memberikan respons yang tepat. Selain itu, dengan mendengarkan aktif, seseorang dapat membangun hubungan yang baik dengan rekan bisnis dan karyawan, karena lawan bicara merasa dihargai dan dipahami.

2. Menggunakan Bahasa yang Tepat. Penggunaan bahasa yang tepat dalam komunikasi bisnis sangat penting untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan dapat dimengerti dengan jelas oleh penerima pesan. Oleh karena itu, penggunaan bahasa formal dan jelas harus diterapkan dalam komunikasi bisnis. Hindari penggunaan jargon yang tidak perlu, singkatan yang tidak umum, atau kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda. Sesuaikan tingkat bahasa dengan audiens: bahasa yang digunakan dalam komunikasi dengan direksi mungkin lebih formal dan teknis dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam komunikasi dengan staf operasional. Untuk komunikasi lintas budaya, perhatikan juga perbedaan idiom dan gaya komunikasi yang dapat menyebabkan kesalahpahaman.

3. Menjaga Kontak Mata (Eye Contact). Menjaga kontak mata saat berbicara dengan rekan bisnis dan karyawan dapat membantu membangun hubungan kerja yang baik dan menunjukkan rasa hormat terhadap lawan bicara. Kontak mata yang tepat (tidak terlalu lama sehingga terasa menatap, juga tidak terlalu sedikit sehingga terlihat tidak percaya diri atau tidak tertarik) mengomunikasikan ketulusan, kepercayaan diri, dan keterlibatan. Dalam presentasi atau rapat, kontak mata yang merata ke seluruh audiens membantu mempertahankan perhatian mereka dan menciptakan koneksi personal. Namun, perlu diingat bahwa norma kontak mata dapat berbeda antar budaya; di beberapa budaya, kontak mata yang intens justru dianggap tidak sopan.

4. Menjaga Emosi (Emotional Regulation). Dalam situasi yang sulit atau menegangkan, seseorang harus dapat menjaga emosi dan tidak terlalu mudah tersinggung atau bereaksi berlebihan. Kemampuan untuk tetap tenang dan rasional di bawah tekanan adalah ciri profesionalisme yang sangat dihargai dalam dunia bisnis. Hal ini dapat membantu membangun hubungan yang baik dengan rekan bisnis dan karyawan, karena Anda tidak akan mudah terpancing ke dalam konflik yang tidak produktif. Teknik menjaga emosi meliputi: mengambil jeda sejenak sebelum merespons ketika sedang marah, menggunakan “saya merasa” daripada “kamu selalu” untuk menyampaikan ketidaksetujuan, serta fokus pada solusi daripada menyalahkan. Selain keempat teknik di atas, teknik komunikasi bisnis lainnya yang tidak kalah penting termasuk ketepatan waktu (menghargai waktu orang lain dengan memulai dan mengakhiri pertemuan tepat waktu), kesadaran nonverbal (memperhatikan bahasa tubuh sendiri dan orang lain, seperti postur, ekspresi wajah, dan gestur), serta kesiapan (datang ke pertemuan dengan bahan dan informasi yang diperlukan).

Baca juga: Etika di Laboratorium: Panduan Sebelum, Selama, dan Setelah Kegiatan Praktikum atau Penelitian

Prinsip Komunikasi Bisnis

Seperti dikemukakan tadi, komunikasi merupakan salah satu fungsi manajemen organisasi bisnis. Oleh karena itu, komunikasi akan ada dan tetap berlangsung dalam satu organisasi sepanjang organisasi tersebut ada. Di sinilah letak arti penting membuat perencanaan komunikasi bisnis agar komunikasi bisnis yang dilakukan bisa berjalan secara efektif. Sekarang kita mempelajari prinsip komunikasi bisnis. Murphy dan Hildebrandt (1991: 78), merumuskan ada 7 prinsip yang harus dipegang saat melakukan komunikasi bisnis. Ketujuh prinsip tersebut dirangkum dalam akronim 7C. Prinsip tersebut adalah:

1. Completeness (Kelengkapan). Prinsip ini berarti kita harus mengupayakan untuk bisa memberikan informasi selengkap mungkin kepada pihak yang membutuhkan. Karena informasi yang lengkap bisa membangun kepercayaan dan kepastian pada diri penerima informasi. Orang biasanya mencari informasi karena dirinya sedang menghadapi ketidakpastian; adanya informasi yang lengkap akan membuat orang merasa memperoleh kepastian. Di samping itu, informasi yang tidak lengkap sering kali menimbulkan pertanyaan dan membuat komunikasi tidak efektif, karena penerima harus menebak-nebak atau mencari informasi tambahan sendiri. Dalam komunikasi bisnis, kelengkapan juga berarti mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul dari penerima dan menyediakan jawabannya secara proaktif.

2. Conciseness (Keringkasan). Prinsip ini berarti komunikasi dikemas dengan menggunakan kata-kata yang jelas, singkat, dan padat. Informasi utuh yang dikemukakan di atas harus disampaikan dalam kemasan yang jelas, singkat, dan padat. Dengan demikian, orang menjadi mudah memahami apa yang kita komunikasikan. Tidak perlu mengernyitkan dahi untuk bisa memahami maksud informasi yang disampaikan. Keringkasan bukan berarti menghilangkan informasi penting, tetapi menyampaikannya secara efisien tanpa pengulangan, tanpa kata-kata yang tidak perlu, dan tanpa penyimpangan dari topik utama. Dalam dunia bisnis yang serba cepat, keringkasan sangat dihargai karena menghemat waktu dan tenaga pembaca atau pendengar.

3. Concreteness (Kekonkretan). Prinsip ini berarti pesan yang dikomunikasikan itu disusun secara spesifik dan konkret, bukan abstrak. Sering kita memperoleh informasi yang abstrak seperti tercermin dalam kalimat “perbaikan derajat kehidupan” atau “meningkatkan mutu”. Sebenarnya kalimat tersebut bisa kita buat konkret. Perbaikan derajat kehidupan misalnya bisa kita buat konkret dengan kalimat “peningkatan penghasilan”, “peningkatan taraf pendidikan”, atau “peningkatan kesehatan”. Dalam komunikasi bisnis, kekonkretan berarti menggunakan data, fakta, angka, dan contoh spesifik untuk mendukung pesan. Hal ini membuat pesan lebih mudah dipahami, lebih kredibel, dan lebih sulit untuk disalahartikan.

4. Consideration (Pertimbangan). Prinsip ini berarti pesan yang disampaikan mesti mempertimbangkan situasi penerima atau komunikan. Kita sudah mempelajari variabel penerima tadi. Dalam menyampaikan informasi bisnis, penting bagi kita untuk mengetahui siapa komunikan atau penerima informasi itu. Kita pertimbangkan dengan baik siapa atau di mana komunikan kita. Pertimbangan ini mencakup latar belakang pendidikan, budaya, posisi dalam organisasi, kebutuhan, minat, serta kondisi emosional mereka. Pesan yang disampaikan dengan mempertimbangkan penerima akan lebih mudah diterima dan dipahami, serta menunjukkan rasa hormat dan empati.

5. Clarity (Kejelasan). Prinsip ini berarti pesan yang dikomunikasikan disusun dalam kalimat yang mudah dipahami komunikan. Ini akan terkait dengan prinsip komunikasi sebagai proses berbagi. Informasi yang kita sampaikan mesti berorientasi pada penerima, sehingga kita membuat informasi itu sejelas mungkin sehingga bisa dipahami penerima. Informasi yang disampaikan sama sekali bukan untuk menunjukkan kecerdasan atau taraf pendidikan komunikatornya dengan memilih kata-kata yang menunjukkan taraf pendidikan komunikatornya dengan banyak menggunakan istilah atau jargon yang membingungkan penerima. Kejelasan juga mencakup struktur kalimat yang logis, penggunaan kata-kata yang familiar, dan pengorganisasian pesan yang sistematis.

6. Courtesy (Kesantunan). Prinsip ini berarti sopan santun dan tata krama merupakan hal yang penting dalam berkomunikasi yang merupakan bentuk penghargaan kepada komunikan. Kesantunan merupakan bagian penting dari komunikasi. Dengan kesantunan, orang akan menaruh penghargaan dan simpati pada diri kita. Kesantunan berbahasa (pemilihan kata yang tidak menyinggung), kesantunan sikap (tidak memotong pembicaraan, menghargai pendapat orang lain), dan kesantunan perilaku (tepat waktu, membalas pesan) merupakan bagian penting dan melekat pada tindakan komunikasi manusia. Dalam komunikasi bisnis lintas budaya, kesantunan menjadi semakin krusial karena norma kesantunan dapat berbeda secara signifikan.

7. Correctness (Kecermatan). Prinsip ini berarti pesan yang dikomunikasikan dibuat secara cermat. Untuk pesan tertulis misalnya dibuat dengan memperhatikan tata bahasa, ejaan, tanda baca, dan format yang benar. Untuk pesan lisan, disampaikan dengan memperhatikan komunikan, ketepatan fakta, dan keakuratan data. Kecermatan dan ketelitian akan membuat kita bisa mendeteksi sejak dini bila terjadi kekeliruan pada kemasan informasi yang kita persiapkan untuk kegiatan komunikasi bisnis kita. Pesan yang cermat juga mencakup verifikasi fakta, pengecekan ulang angka-angka, dan memastikan bahwa tidak ada kesalahan yang dapat merusak kredibilitas komunikator atau organisasi.

Prinsip-prinsip komunikasi tersebut bisa menjadi pedoman bagi kita saat mempersiapkan kemasan informasi yang akan kita gunakan dalam komunikasi bisnis. Prinsip-prinsip tersebut sesungguhnya lebih banyak berkaitan dengan penyusunan pesan komunikasi bisnis. Ketika kita menerapkan ketujuh prinsip ini secara konsisten, kualitas komunikasi bisnis kita akan meningkat secara signifikan. Kita akan lebih mudah dipahami, lebih dipercaya, dan lebih efektif dalam mencapai tujuan komunikasi. Sebaliknya, mengabaikan salah satu prinsip saja dapat menyebabkan pesan kita kehilangan dampak yang diinginkan, atau bahkan menimbulkan kerugian bagi organisasi. Oleh karena itu, para profesional bisnis disarankan untuk menjadikan 7C ini sebagai “checklist” mental sebelum mengirimkan setiap pesan penting, baik itu email, laporan, presentasi, atau percakapan langsung.

Penutup

Komunikasi bisnis adalah jantung dari setiap organisasi yang sehat dan berkembang. Tanpa komunikasi yang efektif, strategi terbaik sekalipun akan gagal diimplementasikan, dan tim yang paling berbakat pun akan kesulitan bekerja sama secara harmonis. Di era digital yang serba cepat ini, di mana informasi mengalir deras dari berbagai arah, kemampuan berkomunikasi secara efektif menjadi semakin langka sekaligus semakin berharga. Maka, mari kita jadikan komunikasi bisnis yang efektif sebagai investasi berkelanjutan yang akan membawa organisasi kita menuju puncak kesuksesan.

Sumber:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top