Seberapa Besar Paparan Radiasi Dari Reaktor Daya Eksperimental?

Bagikan Artikel ini di:

Sebagaimana telah diketahui, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berencana untuk membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di kawasan Puspiptek Serpong. Ide ini muncul mengingat sulitnya untuk langsung membangun PLTN skala komersial di Indonesia. Sementara, tujuan utama dari program RDE adalah untuk mengembangkan kapabilitas nasional sebagai technology provider reaktor nuklir. Sehingga, alih-alih hanya sebagai pengguna, Indonesia juga bisa menjadi desainer, konstruktor, hingga operator sebuah PLTN [1].

Tentu saja program RDE hanya langkah awal, mengingat PLTN ini bersifat non komersial. Nantinya, RDE akan di-scale up ke daya yang lebih tinggi untuk keperluan komersial.

Gambar 1. Perencanaan Kawasan RDE

Rencana ini kedengaran bagus. Tapi mengapa dibangun di Puspiptek? Bukankah di sana pusat penelitian? Kan banyak orangnya? Selamat tidak nih? Nanti kena radiasinya bagaimana?

Baca juga: Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat

Kalau seandainya ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu, mempertanyakan nasib penghuni Puspiptek dan penduduk Serpong bahkan Tangerang Selatan, maka BATAN sudah punya jawabannya. Riset yang dilakukan oleh para Peneliti di Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) BATAN ini berfokus pada pelepasan radioaktivitas dan dosis radiasi di sekitar kawasan RDE dan Kawasan Nuklir Serpong (KNS) mengasumsikan RDE telah dibangun dan beroperasi.

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa RDE mengadopsi teknologi high temperature gas-cooled reactor (HTGR). Teknologi ini terkategori reaktor nuklir Generasi IV (GenIV), yang merupakan teknologi reaktor maju dengan berbagai keunggulan dibandingkan reaktor konvensional saat ini. HTGR menggunakan moderator grafit dan pendingin helium, sehingga memiliki densitas daya rendah. Bahan bakar HTGR merupakan pebble bed, dimana bola grafit diisi oleh ribuan partikel bahan bakar TRISO. Bentuk bahan bakar pebble bed menjamin retensi produk fisi maksimal. Sehingga, pelepasan material radioaktif ke lingkungan dapat diminimalisir [2-3].

Gambar 2. Struktur Bahan Bakar Pebble Bed

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Paparan radiasi lingkungan yang salah satu kontributornya adalah pelepasan material radioaktif merupakan pembahasan dari penelitian pertama, yang dilakukan oleh Pande Made Udiyani dkk [4]. Penelitian ini sebenarnya tidak hanya membahas tentang RDE, tetapi juga pelepasan dari Reaktor Serba Guna-G.A. Siwabessy, reaktor riset yang telah lama beroperasi di Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Kalkulasi dosis radiasi yang diterima penduduk sekitar KNS (termasuk daerah Serpong dan Gunung Sindur) dari pelepasan sourceterm RSG-GAS dan RDE dibahas di sini.

Berdasarkan kalkulasi tersebut, diperoleh bahwa pelepasan radiasi dari RSG-GAS memberikan dosis radiasi yang diterima publik sebesar 9.31×10-4 mSv/tahun. Besar? Tentu saja tidak. Nilai Batas Dosis (NBD) yang ditetapkan Bapeten untuk dosis yang diterima oleh masyarakat sebesar 1 mSv/tahun. Artinya, dosis radiasi yang dilepaskan RSG-GAS tidak sampai seperseribunya [4]!

Tapi itu, kan, RSG-GAS. Bagaimana dengan RDE? Ternyata lebih rendah lagi. Dosis radiasi yang diterima publik dari RDE paling tinggi hanya 4.17×10-4 mSv/tahun, kurang dari setengah RSG-GAS. Hal ini bisa dipahami, mengingat daya termal RDE hanya sepertiga RSG-GAS, yakni 10 MW [4]. Jika ditotal, dosis tertinggi yang mungkin diterima oleh penduduk setempat adalah 6.16×10-3 mSv/tahun. Masih jauh lebih rendah daripada NBD yang ditetapkan Bapeten.

Tabel 1. Dosis individual total dari pelepasan radioaktif RDE

Artinya, paparan radiasi ke lingkungan akibat lepasan radioaktif bisa dikatakan minim dan tidak penting untuk ditakuti.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Bagaimana dengan pekerja di kawasan Puspiptek? Bukankah ketika beroperasi, RDE akan memancarkan radiasi gamma? Nah, penelitian dari Amir Hamzah dkk berikut ini menjawabnya [5].

Cara termudah untuk menentukan apakah paparan radiasi dari reaktor selamat atau tidak untuk pekerja Puspiptek adalah dengan menghitung paparan radiasi pada pekerja di dalam kawasan RDE itu sendiri. Karena merekalah yang paling dekat dengan reaktor. Pertanyaannya, berapa dosis radiasi yang mereka terima?

Hasil kalkulasi tersebut ditampilkan pada grafik berikut.

Gambar 3. Distribusi dosis radiasi di teras reaktor, perisai biologis, dan area kerja RDE

Tampak bahwa di tengah teras reaktor (sumbu x = 0) dosis radiasi sangat tinggi melebihi 109 µSv/jam. Artinya, siapapun yang terkena paparan radiasi sebesar itu akan mati secara instan atau langsung. Namun, ketika melewati perisai biologis yang terbuat dari beton standar, dosis radiasi turun sangat drastis sehingga dosis radiasi yang diterima pekerja tepat di permukaan luar perisai biologis hanya 8 µSv/jam. Angka ini lebih rendah daripada NBD yang ditentukan oleh Bapeten untuk pekerja radiasi, yakni 10 µSv/jam. Pada jarak 7 m dari permukaan luar perisai biologis, dosisnya turun hingga kira-kira 1 µSv/jam. Lebih rendah lagi [5].

Dengan begitu rendahnya dosis radiasi di sekitar perisai biologis reaktor, bisa dikatakan tidak ada radiasi gamma dari reaktor yang sampai ke kawasan Puspiptek. Sehingga tidak akan ada potensi bahaya yang disebabkan oleh paparan radiasi dari operasi normal RDE.

Menilik dari dua penelitian ini, maka jelas bahwa kondisi operasional RDE tidak memberikan dampak kesehatan apa-apa pada masyarakat. Apalagi, memang tidak ada dampak radiasi yang bisa dideteksi pada dosis radiasi dibawah 100 mSv dalam waktu singkat [6-8]. Mengingat NBD yang ditetapkan Bapeten hanya 1 mSv/tahun untuk masyarakat, dan dosis tertinggi yang diterima masyarakat jauh lebih rendah dari itu, tidak ada kekhawatiran yang perlu dipikirkan oleh pekerja di kawasan Puspiptek apalagi penduduk Serpong.

Referensi:

  1. Topan Setiadipura et al. “Cooling passive safety features of Reaktor Daya Eksperimental,” AIP Conference Proceedings 1984, 020034 (2018).
  2. Andika Putra Dwijayanto dan Muhammad Subekti. “Preliminary Study of Temperature Homogenisation in Experimental Power Reactor Hot Gas Chamber.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022019 (2019).
  3. Ihda Husnayani dan Pande Made Udiyani. “Radionuclide Characteristics of RDE Spent Fuels.” Jurnal Teknologi Reaktor Nuklir, Vol. 20, No. 2, pp. 69-76 (2018).
  4. Pande Made Udiyani et al. “Atmospheric Dispersion Analysis for Expected Radiation Dose due to Normal Operation of RSG-GAS and RDE Reactors.” Atom Indonesia, Vol. 44, No. 3, pp. 115-121 (2018).
  5. Amir Hamzah et al. “Preliminary analysis of dose rates distribution of experimental power reactor 10 MW using MCNP.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022038 (2019).
  6. Wade Allison. Radiation and Reason. York: Wade Allison Publishing (2009).
  7. David Bodansky. Nuclear Energy: Principles, Practices, and Prospects 2nd Edition. New York: Springer-Verlag (2004).
  8. World Nuclear Association. Nuclear Radiation and Health Effects. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/radiation-and-health/nuclear-radiation-and-health-effects.aspx), diakses 12 Juni 2019.
Bagikan Artikel ini di:

Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat, Bukan Sebaliknya

Bagikan Artikel ini di:

Tidak ada argumen yang lebih sering digunakan untuk menolak energi nuklir selain kecelakaan Chernobyl. Kecelakaan PLTN yang terjadi pada tahun 1986 ini menjadi senjata utama bagi kaum anti-nuklir untuk menunjukkan betapa bahayanya energi nuklir bagi kehidupan manusia. Kata “radiasi” pun seolah menjadi momok yang mengerikan bagi publik.

Gambar 1. PLTN Chernobyl, Unit 1 paling dekat, Unit 4 paling jauh (sumber: ANS Nuclear Cafe)

Patut diakui bahwa kecelakaan PLTN Chernobyl adalah kecelakaan parah, dan tidak ada yang berharap kecelakaan sejenis itu terulang lagi. Tapi menjadikan kecelakaan PLTN Chernobyl sebagai bukti bahayanya energi nuklir adalah sama sekali tidak beralasan. Sebaliknya, justru kecelakaan PLTN Chernobyl adalah bukti bahwa energi nuklir itu sangat selamat.

Ada beberapa alasan yang melandasinya. Pertama. PLTN Chernobyl menggunakan desain reaktor yang secara alamiah buruk, yakni RBMK (reaktor bolshoy moshchnosty kanalny/reaktor kanal daya tinggi). Berbeda dengan reaktor nuklir pada umumnya, RBMK menggunakan moderator netron dan pendingin terpisah; moderator berupa grafit dan pendingin air [1]. Tujuan penggunaan pendingin dan moderator terpisah adalah supaya bahan bakar dapat diganti ketika reaktor beroperasi. Hal ini sangat penting karena Uni Soviet kala itu menggunakan PLTN tipe RBMK untuk memproduksi bahan baku senjata nuklir.

Gambar 2. Desain skematik RBMK (sumber: WNA)

Masalahnya, penggunaan moderator grafit dan pendingin air membuat reaktor memiliki masalah yang melekat; reaktivitas void RBMK bernilai sangat positif. Artinya, ketika terjadi kehampaan (void) dalam reaktor, misalkan karena air pendingin menguap terlalu banyak, daya reaktor akan naik alih-alih turun [1]. Sementara, pada reaktor lain, daya reaktor akan turun ketika terjadi void dalam reaktor (reaktivitas void negatif) [2]. Bahkan para insinyur nuklir Soviet pun sudah paham masalah ini, tapi kemudian diabaikan oleh pemerintah [3]. Hal ini, ditambah dengan berbagai cacat lain pada desainnya, berkontribusi dalam menyebabkan kecelakaan PLTN Chernobyl.

Tidak ada reaktor nuklir yang menggunakan teknologi RBMK di luar bekas negara Uni Soviet. Tipe reaktor nuklir yang paling banyak digunakan saat ini, LWR (light water reactor) memiliki reaktivitas void negatif. Cacat alamiah desain tidak akan ditemukan di LWR yang mendominasi lebih dari 80% reaktor nuklir di dunia. Bahkan, sisa-sisa RBMK di Rusia sudah dimodifikasi agar lebih selamat.

Baca juga: Keunggulan PLTN Terapung Untuk Indonesia

Kedua, dengan berbagai cacat alamiah tersebut, sebenarnya PLTN Chernobyl Unit 4 tidak akan mengalami kecelakaan tersebut seandainya operator dan supervisor tidak melanggar berlapis-lapis protokol keselamatan. Pada saat itu, reaktor dioperasikan dalam kondisi yang tidak mungkin tercapai dalam kondisi operasional. Seluruh sistem keselamatan dimatikan tetapi reaktor dioperasikan dalam keadaan sangat berbahaya, bahkan dilarang oleh peraturan Uni Soviet sendiri [4].

Faktor terbesar kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 adalah human error. Karena sekalipun teknologi yang digunakan sangat cacat, kecelakaan itu tidak akan terjadi jika operator dan supervisor tidak bertindak ceroboh.

Ketiga, ledakan uap dan hidrogen yang terjadi menyebabkan 5% material nuklir terhambur dari dalam reaktor ke lingkungan. Api yang menyambar grafit moderator menyebabkan kebakaran yang membawa debu radioaktif ke berbagai bagian Eropa. Namun, total kematian yang disebabkan oleh kecelakaan ini hanya ± 60 orang. Operator dan supervisor tewas dalam ledakan, 28 orang pemadam kebakaran/likuidator tewas akibat acute radiation sickness (ARS), sementara sisanya karena mengidap kanker tiroid akibat meminum susu yang terkontaminasi I-131 dan tidak bisa terselamatkan [5].

Sempat diproyeksikan bahwa akan ada sekitar 4000 kematian susulan sebagai akibat paparan radiasi dari kecelakaan tersebut. Namun, laporan UNSCEAR tahun 2008 menegasikan proyeksi itu, mengatakannya sebagai, “Tidak bisa dibedakan dengan kematian biasa…” [5] Sehingga, angka kematian di atas bisa dikatakan final.

Dibandingkan dengan 300 ribu orang tewas tiap tahunnya di Cina akibat polusi PLTU batubara [6], angka kematian akibat kecelakaan PLTN Chernobyl Unit 4 ini tentu sangatlah sedikit.

Baca juga: Mengenal Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Keempat, PLTN Chernobyl yang mengalami kecelakaan hanya Unit 4. Sementara, Unit 1-3 tidak terdampak. Pasca kecelakaan, PLTN Chernobyl Unit 1-3 masih tetap dioperasikan, sebelum unit terakhir ditutup permanen pada tahun 2000 [1]. Hal ini menarik, karena kecelakaan PLTN terparah yang mungkin terjadi pun ternyata tidak memengaruhi unit-unit yang berada di sekitarnya!

Kelima, kota Pripyat dan Chernobyl nyatanya tidak menjadi sejenis nuclear wasteland. Memang kedua kota itu ditinggalkan dan tidak banyak yang manusia tinggal di sekitar sana, tapi alih-alih menjadi lahan tandus, hewan-hewan dan tumbuhan tumbuh dan berkembangbiak dengan subur [7]. Bahkan kedua kota itu menjadi destinasi wisata sejak 2011, dan baik-baik saja untuk dikunjungi. Apakah keberadaan manusia justru berdampak lebih negatif pada alam Chernobyl dibandingkan kecelakaan PLTN?

Orang-orang yang hidup di Chernobyl (tepi zona ekslusi), di tahun 2018 ada sekitar 150 orang yang hidup di zona tersebut, Sumber: BBC

Keenam, level radiasi di kawasan Chernobyl dan negara sekitarnya relatif rendah. Pengukuran dosis radiasi yang dilakukan UNSCEAR menunjukkan bahwa, pada rentang tahun 1986-2005, di daerah yang paling terkontaminasi, dosis yang diterima penduduk rerata sekitar 2,4 mSv di Belarusia, 1,1 mSv di Rusia dan 1,2 mSv di Ukraina. Sebagai perbandingan, rerata dosis radiasi tahunan di bumi adalah 2,4 mSv/tahun. Selain itu, beberapa daerah memiliki radiasi latar jauh lebih tinggi dari angka ini, misalnya Kerala, India (70 mSv/tahun) dan Ramsar, Iran (400 mSv/tahun) [8,9].

Gambar 3. Pengukuran radiasi di stadion olahraga 4 km dari reaktor Chernobyl pada tahun 2008. Dosis radiasi terukur 2,8 µSv/jam, atau 2,5 mSv/tahun (sumber: Jaworowski, 2009)

Kecelakaan nuklir terparah sekalipun tidak menyebabkan paparan radiasi eksternal fatal pada masyarakat.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Ketujuh, kecelakaan PLTN Chernobyl adalah satu-satunya kecelakaan PLTN yang menyebabkan korban jiwa selama sejarah operasionalnya, dengan jumlah korban minimal. Bahkan sekalipun mempertimbangkan angka “4000 kematian tambahan” yang sudah dikoreksi oleh UNSCEAR, tingkat kematian yang disebabkan nuklir masih yang paling rendah dibandingkan moda energi lainnya seperti ditunjukkan oleh gambar berikut[10]

Gambar 4. Jumlah kematian per TWh energi (diolah dari Nextbigfuture)

Demikianlah tujuh alasan mengapa kecelakaan PLTN Chernobyl justru menunjukkan bahwa energi nuklir merupakan energi yang selamat, bahkan paling selamat dibanding moda energi lainnya. Secara praktis, kecelakaan dengan level setara dengan PLTN Chernobyl Unit 4 tidak mungkin terjadi lagi. Padahal, untuk menyamai level bahaya yang diakibatkan PLTU batubara, kecelakaan selevel Chernobyl perlu terjadi 4 kali setiap jam. Ya, 4 Chernobyl tiap jam atau 1 Chernobyl tiap 15 menit harus terjadi agar dampak energi nuklir seburuk energi batubara. Mungkinkah hal itu terjadi, sementara 400 GWe PLTN dalam operasi saat ini masih beroperasi baik-baik saja?

Referensi:

  1. World Nuclear Association. Chernobyl Accident 1986. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/safety-of-plants/chernobyl-accident.aspx). Diakses 28 Februari 2019.
  2. Max Carbon. 2006. Nuclear Power, Villain or Victim? Our Most Misunderstood Source of Electricity. Madison: Pebble Beach Publisher.
  3. Douglas E. Hardtmayer. Five Things You Probably Didn’t Know About Chernobyl. (http://ansnuclearcafe.org/2018/04/26/five-things-you-probably-didnt-know-about-chernobyl/). Diakses 11 Maret 2019.
  4. Bernard L Cohen. 1990. The Nuclear Energy Option. Pittsburgh: Plenum Press.
  5. United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation. 2011. Sources and Effects of Ionizing Radiation Volume II Annex D. New York: UNSCEAR.
  6. James Conca. Pollution Kills More People Than Anything Else. (https://www.forbes.com/sites/jamesconca/2017/11/07/pollution-kills-more-people-than-anything-else/#7b8446451a35). Diakses 28 Februari 2019.
  7. G. Deryabina et al. 2015. “Long-term census data reveal abundant wildlife populations at Chernobyl”.Current Biology, vol. 25, pp. 824-826.
  8. Geoff Russell. What can we learn from Kerala? (https://bravenewclimate.com/2015/01/24/what-can-we-learn-from-kerala/). Diakses 11 Maret 2019.
  9. Zbigniew Jaworowski. 2010. “Observations on Chernobyl After 25 Years of Radiophobia”. 21st Century Science & Technology, Summer 2010, pp 30-45.
  10. Brian Wang. Update of Death per Terawatt hour by Energy Source. (https://www.nextbigfuture.com/2016/06/update-of-death-per-terawatt-hour-by.html). Diakses 28 Februari 2019.
Bagikan Artikel ini di:

Siringmakar 18: “Prospek Berkarir Bidang Nuklir di Indonesia”

Bagikan Artikel ini di:

Pemateri : Muhammad Rizki Oktavian

Moderator : Sofiana Afifah Jamil

 

Perkenalkan teman-teman, saya Rizki, alumni Teknik Nuklir UGM. Sekarang, saya juga Mahasiswa Master tahun kedua di program Master of Science in Engineering (MSE), Nuclear Engineering, University of Michigan, Ann Arbor, USA.

Pengalaman kerja saya, beberapa kali menjadi asisten kuliah, asisten lab. dan asisten peneliti di UGM. Kegiatan lain ketika kuliah S1 dulu saya aktif di Komunitas Muda Nuklir Nasional (Kommun) sebagai kepala departmen kajian ilmiah. Juga pernah menjalani magang di PT. Radiant Utama sebagai radiografer dan juga pernah berpengalaman magang sebagai analis reaktor nuklir di PT. Ensterna.

Di Michigan, saya juga aktif sebagai asisten riset di laboratorium Nuclear Reactor Analysis and Methods (NURAM) di bawah supervisor Professor Downar.

Mungkin belum banyak pengalaman saya di dunia kerja, tapi hari ini saya akan berusaha untuk berbagi kepada teman-teman sekalian tentang prospek kerja di bidang teknologi nuklir di Indonesia.

Kalau pengen tahu lebih jauh lagi, silahkan dibaca CV, hehe

Nah, setelah ini, kita masuk materi ya.

Berbicara tentang prospek berkarir di bidang nuklir tidak terlepas dari seberapa jauh teknologi nuklir yang diaplikasikan di Indonesia. Meskipun Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sudah puluhan tahun berdiri di Indonesia, belum ada PLTN yang berhasil dibangun di Indonesia. Aplikasi teknologi nuklir sementara ini hanya sebatas pada pemanfaatan non-energi (iradiasi), diantaranya pemuliaan tanaman, pengawetan makanan, radioterapi, kedokteran nuklir, dan penerapan iradiasi lain.

Nah, terus apa aja dong yang bisa kita lakuin untuk berkarir di bidang nuklir? Simak ulasan berikut.

Sudah saya siapkan list, ada 6 macam karir (bisa ditambah lagi) di bidang nuklir yang tersedia di Indonesia.

  1. Peneliti (di BATAN atau lembaga riset lain)

batan.go.id/ 2018

BATAN merupakan Lembaga penelitian di Indonesia yang mempunyai wewenang untuk melaksanakan riset nuklir demi kesejahteraan Indonesia. Selain riset, BATAN juga melakukan pengelolaan limbah nuklir di Indonesia serta memberikan pelatihan dan sertifikasi untuk pekerja yang berkaitan dengan teknologi nuklir.

BATAN mempunyai tiga buah reaktor riset yang ada di Tangerang, Bandung dan Yogyakarta. Karena namanya reaktor riset, reaktor-reaktor tersebut tidak akan digunakan untuk pembangkitan daya listrik. Reaktor-reaktor milik BATAN digunakan untuk tujuan penelitian, pelatihan dan produksi radioisotop. Ditambah lagi, BATAN sekarang sedang membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) yang akan digunakan untuk menunjukkan teknologi terbaru yang dikuasai negeri ini sekaligus mendemonstrasikan kepada masyakarat bahwa PLTN itu aman.

Oh iya, BATAN juga secara periodik menerima mahasiswa/ alumni untuk magang disana, lho. Kesempatan yang bagus jika ingin tahu lebih dalam dunia riset nuklir. Berikut website BATAN jika ingin tau lebih mendalam tentang BATAN https://www.batan.go.id/index.php/id/

 

  1. Pengkaji kebijakan nuklir di BAPETEN

bapeten.go.id/ 2018

Selain BATAN, badan pemerintah yang juga bergerak di bidang nuklir adalah BAPETEN atau Badan Pengawas Teknologi Nuklir Nasional. Namun, berbeda dengan BATAN, BAPETEN tidak bergerak di bidang teknologi, namun bergerak di bidang hukum, khususnya dalam pengawasan penggunaan tenaga nuklir di Indonesia. Berikut website BAPETEN jika berminat ingin tahu lebih jauh https://www.bapeten.go.id/

Nah, BAPETEN ini sesuai untuk teman-teman yang berasal dari klaster Soshum ketika kuliah. Sama seperti BATAN dan lembaga pemerintah lain, perekrutan tenaga kerja di BAPETEN dilakukan melalui rekruitmen CPNS.

 

  1. Akademisi

Karir berikutnya yang bisa dijalani di bidang nuklir tentunya adalah Akademisi. Maksudnya, pekerjaan yang berhubungan dengan dunia akademik, utamanya adalah Dosen. Dosen, berbeda dengan guru, tidak hanya mempunya tugas mendidik, namun juga mempunyai kewajiban meneliti dan mengabdi pada negara.

Di Indonesia sendiri, ada beberapa kampus yang membuka jurusan perkuliahan di bidang nuklir, baik yang spesifik maupun secara umum. Diantaranya adalah S1 dan S2 Teknik Nuklir UGM, S1 Fisika UI Peminatan Fisika Medis, S1 Fisika ITB Peminatan Fisika Nuklir dan D4 Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN). Mohon koreksinya, jika ada yang belum tersebut. Namun, secara garis besar, itulah kampus-kampus yang menyediakan perkuliahan di bidang nuklir.

 

  1. Rumah Sakit (Kedokteran Nuklir)

Ahli radiologi, fisikawan medis dan dokter spesialis kedokteran nuklir masih banyak dibutuhkan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Terutama rumah sakit tingkat kota atau provinsi, kebutuhan akan radiodiagnostik dan radioterapi sangat banyak. Bahkan seorang pasien umumnya menganteri berbulan-bulan demi mendapat perawatan radioterapi untuk penyakit kanker.

 

  1. Radiografer untuk Non-Destructive Testing

Non-Destructive Testing adalah pengujian alat-alat pabrik (pipa, sambungan, dll.) tanpa perlu merusak alat tersebut. Sinar gamma dari radiasi bahan  nuklir biasa digunakan di sini untuk pengujian apakah alat-alat pabrik mengalami kecacatan atau tidak.

 

  1. Bergabung di Perusahan Teknologi Nuklir

ensterna.com/ 2018

Perusahaan yang memang fokus di bidang nuklir memang belum terlalu populer di Indonesia. Untuk BUMN, dulu ada PT. Batantek yang kemudian berubah nama menjadi PT. INUKI. Perusahaan ini bergerak di produksi dan penyediaan radioisotop yang digunakan di rumah sakit-rumah sakit di Indonesia. Namun, karena suatu hal, perusahaan ini sedang melambat perkembangannya (mohon koreksi jika salah).

Di sektor swasta, hadir beberapa tahun yang lalu, PT. Energi Sterila Higiena (PT. Ensterna) yang baru terjun dan menjadi pelopor perusahaan swasta pertama di Indonesia yang bergerak di bidang nuklir. Perusahaan ini didirikan oleh salah seorang putra bangsa, Bapak Ir. Yudiutomo Imardjoko, Ph.D.

Sekarang, PT. Ensterna fokus untuk bergerak di produksi radioisotop sembari mulai masuk ke sektor energi dengan desain reaktor thorium, thorium generator dan baterai nuklir. Untuk yang ingin lebih jauh mengenal tentang perusahaan ini, silahkan kunjungi websitenya di http://www.ensterna.com

Demikian uraian yang dapat saya sampaikan. Silahkan jika ada pertanyaan, saya kembalikan ke moderator. Terima kasih 🙂

 

Sesi Tanya-Jawab (Q&A)

  1. Q. Teddy : Kan negara kita besahabat sudah lama sekali ya dengan Russia. Dan Russia itu negara pembuat nuklir terbesar kan. Indonesia dari dulu sudah sering kali ditawari kerjasamanya dalam bidang PLTN. Jadi pertanyaannya kenapa Indonesia tidak menyetujuinya saja dalam kerjasama PLTN itu…? | A. Nah, memang betul sudah banyak yang mencoba “meminang” negara kita untuk dibangun PLTN, termasuk Rusia. Bahkan setahu saya, Rusia mau membiayai semua biaya pembangunan PLTN, Indonesia tinggal pakai saja. Tapi kembali lagi, bukan ranah teknologi lagi. Namun, ke politik hubungan luar negeri. Jadi, memang permasalahan pembangunan PLTN cukup pelik juga. Untuk ini, saya tidak bisa menjawab detail, hanya gambaran ringkas bahwa permasalahannya adalah non-teknis. Apakah menjawab?.
  2. Q. Khafidhotur Rifliyah: Tadi kan dijelaskan bahwa aplikasi teknologi nuklir sementara ini hanya sebatas pada pemanfaatan non-energi (iradiasi), diantaranya pemuliaan tanaman, pengawetan makanan, radioterapi, kedokteran nuklir, dan penerapan iradiasi lain?. Yang saya tanyakan yang dimaksud pemanfaatan non-energi itu bagaimana?. Bukannya untuk membuat suatu perlakuan seumpama pemuliaan tanaman itu juga ada energi nuklir yang dipindahkan pada tanaman,  atau bagaimana?.  Mohon penjelasannya. | A. Pertanyaan yang bagus, sangat kritis. Memang benar, semua aplikasi nuklir itu melibatkan energi. Namun, yang saya maksudkan di uraian sebelumnya adalah yang menggunakan iradiasi. Sedangkan untuk pemanfaatan energi nuklir adalah penggunaan energi secara besar, yaitu dalam bentuk PLTN (hingga 1 Gigawatt energi lebih). Dibandingkan dengan iradiasi yang energinya hanya kisaran miliwatt.
  3. Q. Intan : Kak saya mau tanya, saya kan masih SMA kelas 12, kalau kuliah jurusan teknik nuklir itu belajar apa saja sih?. Kalau sudah lulus kerjanya gimana? | A. Wah, mantap nih, sudah mau masuk kuliah. Nah, belajarnya ya banyak hal di teknik nuklir, namun memang fokus di matematika, fisika dan kimia (dengan judul kuliah yang berbeda-beda). Kalau ingin tahu lebih lanjut tentang kurikulum teknik nuklir bisa dilihat di sini https://tf.ugm.ac.id/images/akademik/Kurikulum_TN_2016.pdf . Kalau pekerjaannya, sudah diterangkan di materi tadi, hehe.
  4. Q. Made agus andi gunawan:  Jika ada badan pengawas nuklir, apakah penggunaan nuklir di masyarakat sudah terindikasi atau adakah yang sudah memakai nuklir secara ilegal sehingga dibentuk badan pengawas itu? | A. Dibentuknya badan pengawas nuklir adalah peraturan dari International Atomic Energy Agency (IAEA) sebagai lembaga nuklir internasional bahwa harus adanya lembaga pengawasan yang terpisah dari badan nuklir nasional. Pemakaian nuklir secara ilegal memang ada, namun bukan untuk bom, lebih ke penggunaan bahan-bahan nuklir yang tidak sesuai prosedur keselamatan. Itu yang perlu diawasi di Indonesia.
  5. Q. Fadlul : Pertanyaan saya, bagaimana mengubah paradigma orang tentang nuklir yang cuma beranggapan kalau kaitannya pasti sama bom? Kan akhir-akhir ini sering kasusnya di Indonesia. Terima kasih | A. Paradigma itu yang juga jadi PR besar untuk kita semua. Mindset orang-orang yang perlu kita ubah pelan-pelan dari diri kita sendiri. Harapannya, misalnya, orang yang sudah tahu dan paham tentang pemanfaatan nuklir (seperti teman-teman di grup ini) dapat membagikan pengetahuannya tentang nuklir ke kerabat atau teman-teman lain. Sehingga, tidak ada lagi kesalahpahaman tentang nuklir.
  6. Q. Tsaqif : Tadi sempat dijelaskan kalau perekrutan BAPETEN berasal dari klaster soshum, apakah tetap ada kewajiban untuk memiliki pengalaman belajar di bidang nuklir juga? | A. Untuk belajar nuklir tentu ada keharusan tentang itu. Namun, pastinya beda dengan yang murni belajar teknologinya. Setidaknya, pengetahuan nuklir itu cukup untuk menyusun kebijakan dan peraturan tentang teknologi nuklir.
  7. Q. Saepullah : Untuk nuklir yang penerapannya dengan radiasi seperti cek alat-alat, bagaimana dan darimana sumber radiasinya itu?, Apakah dari reaktor nuklir juga? | A. Radiasi nuklir yang digunakan untuk radiografi berasal dari bahan-bahan radioaktif. Bahan radioaktif bisa didapat di alam, bisa juga yang sengaja dibuat di dalam reaktor. Yang selanjutnya dimanfaatkan adalah sinar radiasi yang didapat dari proses peluruhan bahan radioaktif tersebut.
  8. Q. Intan : Kak, boleh tanya lagi gak?. Kan kalau soal pekerjaan sudah ada jawabannya. Mau tanya kenapa sih kak Rizki bisa kuliah ambil jurusan teknik nuklir?, Motivasinya apa?, Motivasi ambil teknik nuklir? | A. Hehe, mau jadi iron man, wkwkwk, bercanda deh. Yang pasti jurusan itu langka di Indonesia, jadi pasti peluang kerjanya eksklusif untuk kita. Terus, prospek ke depan untuk teknologi nuklir itu wah banget. Dalam beberapa puluh tahun ke depan, penggunaan sumber energi fossil mau ngga mau  harus dikurangi, sedangkan sumber energi terbarukan tidak mencukupi, sehingga energi nuklir jadi solusi terbaik untuk energi di masa depan.
  9. Q. Alan : Saya mau bertanya, saya mahasiswa dari ITS Surabaya, mas. Berhubung di ITS sendiri tidak ada yang berkaitan dengan nuklir, apakah bisa kami berkecimpung di dunia nuklir semisal di PLTN dll ? | A. Tenang saja, Alan. PLTN ngga cuma butuh teknik nuklir saja kok, butuh jurusan-jurusan lain. Nah, misal S1 nya bukan teknik nuklir, bisa juga S2 atau S3 teknik nuklir jika mau lebih lanjut berkecimpung di bidang nuklir. S2 Teknik Fisika UGM peminatan Teknik Nuklir sudah dibuka juga, bisa double degree ke Perancis juga. Belum lagi opsi-opsi kuliah ke luar negeri. Tetap semangat.
  10. Q. Teti: Kak, apa ada resiko khusus untuk perempuan yang ingin bekerja seputar bidang nuklir?(kecuali akademisi). | A. 10 dan 11 saya bahas sekaligus, ya, karena berhubungan,Pekerjaan di bidang teknologi nuklir adalah salah satu pekerjaan yang teraman di dunia, karena memang standar safety yang diterapkan sangat tinggi. Bandingkan saja, untuk batu bara, angka kematian berada pada kisaran 100.000 orang per PWh, sedangkan nuklir hanya 90 orang per PWh.Nah, dengan tingkat keamanan seperti itu, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan di pekerjaan ini.
  11. Q. Ameldo_ Ilmuwan nuklir indonesia apa saja kerjaan nya, Soalnya pernah ada bahasa indonesia terbatas pada penelitian.  Jadi penelitian mengenai uranium dll jarang ada atau dilanjutkan, Apakah ada penelitian rahasia? | A. Kalau penelitian rahasia, berarti rahasia, saya juga ngga tahu berarti, hehe. Penelitian masih terus dilanjutkan kok, di Indonesia banyak penelitian tentang nuklir, dapat dibaca di jurnal-jurnal ilmiah, baik yang gratis atau berbayar. Hanya aplikasinya yang belum bisa dilakukan karena alasan politis dan macam hal. Jika Pemerintah sudah bilang go nuclear, akan bisa diterapkan penelitian2 itu.

Penutup

Terima kasih atas perhatiannya, teman-teman sekalian. Mohon maaf jika ada salah kata atau kurangnnya data karena berbagai keterbatasan. Tetap aktif dan belajar nuklir demi kedaulatan bangsa kita.

Semangat selalu!

Bagikan Artikel ini di: