Ketidakpastian dalam Pengukuran – Kasus Eksperimen Membuktikan Teori Einstein

Pembelokan cahaya bintang

Apa Itu Ketidakpastian?

Sehati-hati dan seteliti-telitinya pengukuran, tidak ada pengukuran yang bebas dari kesalahan. Dalam sains, kata kesalahan tidak selalu berkonotasi ke kegagalan atau blunder. Kesalahan dalam sains adalah ketidakpastian yang tidak dapat dihindarkan dari semua pengukuran. Ketidakpastian ini tidak dapat dihilangkan namun kita hanya bisa memastikannya dalam masih wajar.

Sebagai ilustrasi, misalkan seorang tukang kayu mengukur tinggi daun pintu dan memperkirakannya sebesar 210 cm. Tinggi daun pintu tersebut sebenarnya memiliki ketidakpastian, mungkin saja tingginya antara 209,5 cm dan 210,5 cm. Jika si tukang kayu mencoba mengukur daun pintu lagi namun dengan hati hati dan teliti, ternyata tingginya adalah 210,23 cm. Meskipun demikian, hasil pengukuran yang didapatkan tukang kayu tersebut juga memiliki ketidakpastian, mungkin saja panjangnya  210,233 cm atau 210,235 cm.

Berdasarkan ilustrasi tersebut, selalu ada ketidakpastian dalam pengukuran walaupun sudah dibuat pengukuran dengan hati-hati dan teliti. Jadi dalam pengukuran kita harus mengenal dan mendefinisikan ketidakpastiannya. Ketidakpastian ini adalah hal yang krusial, bahkan dalam error analysis menjadi aturan yang fundamental.

Ketika sebuah teori baru diusulkan, teori ini harus diuji dengan eksperimen. Hasil dari eksperimen ini harus sesuai dengan teori baru sehingga dapat melawan teori yang lama. Dalam praktiknya, ini adalah situasi yang rumit karena adanya ketidakpastian yang tidak dapat terhindarkan dari eksperimen.

Sebagai contoh terkenal adalah menguji teori sains tentang pengukuran pembengkokan cahaya saat lewat dekat matahari. Ketika Einstein mempublikasikan teori relativitas umumnya pada tahun 1916, dia memprediksi bahwa cahaya dari bintang akan membengkok dengan sudut α= 1.8” ketika melewati dekat matahari. Namun teori sebelumnya (fisika klasik) memprediksi bahwa tidak ada pembengkokan (α= 0”). Maka diperlukan observasi sebuah bintang dan mengamati cahayanya ketika melewati sisi dari matahari untuk mengukur sudut pembengkokan. Jika hasilnya adalah α= 1.8”, teori relativitas umum dibenarkan; jika sudut yang didapatkan α= 0”, teori relativitas umum salah dan teori klasik itu benar.

Pembelokan cahaya bintang
Pembelokan cahaya bintang

Dalam praktiknya, mengukur pembengkokan cahaya oleh matahari sangatlah sulit dan mustahil kecuali ketika gerhana matahari. Pada tahun 1919, pengukuran ini berhasil dilakukan oleh Dyson, Eddington, dan Davidson. Mereka melaporkan perkiraan sudut pembengkokannya sebesar α= 2” dengan ketepatan 95% yang berarti sudutnya bisa diantara  1.7” dan 2.3”. Jelas, hasil ini sangat konsisten dengan teori relativitas umum dan tidak konsisten dengan prediksi lama. Oleh karena itu, hasil ini memberi dukungan kuat kepada teori relativitas umum Einstein.

Saat itu, hasil pengamatan Dyson dan kawan kawan sangat kontroversi. Banyak orang menganggap bahwa adanya ketidakpastian yang tidak terduga, sehingga pengamatan yang dilakukan mereka tidak dapat meyakinkan Namun, pengamatan-pengamatan selanjutnya cendrung mengkonfirmasi prediksi Einstein ini dan juga membersihkan nama baik Dyson, Eddington, dan Davidson. Poin penting di sini adalah bahwa perlunya kemampuan dalam memperkirakan apa adanya seluruh ketidakpastian supaya menyakinkan semua orang bahwa yang dilakukan para praktikan itu benar.

Memperkirakan Ketidakpastian

Jadi bagaimana cara memperkirakan ketidakpastian? Contoh pertama misalkan kita mengukur pensil dengan penggaris millimeter yang di tampilkan dalam gambar ilustrasi di bawah ini.

Pengukuran Panjang Pensil
Pengukuran Panjang Pensil

Pada gambar tersebut kita dapat memperkirakan bahwa panjang pensil tersebut dekat pada skala 36 mm daripada 35 atau 37 mm. Namun panjang pensil tersebut tidak tepat 36 mm. Jadi dalam contoh ini kita dapat menyatakan kesimpulan bahwa perkiraan panjang terbaik = 36 mm dengan nilai yang mungkin = 35 – 37 mm.

Banyak ketentuan menyatakan bahwa selisi nilai yang mungkin dengan nilai terbaik harus nilai setengah dari nilai skala terkecilnya. Misalnya pada pengukuran pensil di atas dengan skala terkecil penggaris 1 mm berati nilai yang mungkin hasil pengukuran pensil adalah 35,5 – 36,5 mm. Sebenarnya ketentuan ini boleh boleh saja, asal pengukuran dilakukan super teliti dan pengaruh lain bagi pengukuran diabaikan. Padahal ketidakpastian bisa saja muncul baik dari si praktikan, kondisi alatnya, pengaruh lingkungan dan sebagainya. Maka dari itu nilai yang mungkin boleh lebih dari nilai setengah skala terkecil. Namun perlu diperhatikan juga bahwa kita tidak boleh memberi nilai yang mungkin terlalu besar karena ini menunjukkan bahwa tidak akuratnya pengkuran yang dilakukan.

Contoh kedua misalkan kita mengukur tegangan listrik yang diilustrasikan pada gambar di bawah ini.

Pengukuran Tegangan Listrik
Pengukuran Tegangan Listrik

Pada gambar di atas, jarum menunjukan skala antara 5 volt dan 6 volt. Kita dapat memberi perkiraan terbaik bahwa jarum itu menunjukan 5,3 volt dengan nilai yang mungkin 5,2 – 5,4 volt.

Cara Menulis Hasil dan Ketidakpastiannya

Bagaimana cara menuliskan hasil dan menggunakan ketidakpastian? Umumnya untuk menuliskan hasil dari pengukuran kita dapat menggunakan penyataan berikut:

Nilai x diukur = xbest ± Δx

Xbest adalah nilai perkiraan terbaik dan Δx adalah ketidakpastiannya. Jadi berdasarkan penyataan tersebut, hasil pengukuran pada contoh pertama dapat ditulis sebagai

panjang pensil = (36 ± 1) mm

yang berarti panjang penggaris tersebut adalah 36 mm dengan nilai yang mungkin antara 35 – 37 mm atau ketidakpastiannya 1 mm. Sedangkan untuk hasil pengukuran pada contoh kedua dapat ditulis sebagai

tegangan listrik = (5,3 ± 0,1) volt

yang berarti tegangan listrik tersebut adalah 5,3 volt dengan nilai yang mungkin antara 5,2 – 5,4 volt atau ketidakpastiannya 0,1 volt.

Ada aturan dalam penulisan ketidakpastian. Ketidakpastian harus mengandung satu angka penting saja. Misalkan pada pengukuran percepatan gravitasi (g) adalah

g = (9,82 ± 0,03385) m/s2.

Penulisan tersebut tidak tepat karena ketidakpastiannya mengandung empat angka penting. Ketidakpastian tersebut perlu dibulatkan sehingga menjadi satu angka penting. Jadi Δx = 0,03385 dibulatkan menjadi Δx = 0,03 dan percepatan gravitasi ditulis ulang sebagai berikut

g = (9,82 ± 0,03) m/s2.

Namun jika nilai ketidakpastian dimulai dari 1 seperti Δx = 0,014 membiarkan tetap dua angka penting untuk ketidakpastian akan lebih baik. Pembulatan Δx = 0,014 menjadi Δx = 0,01 merupakan pengurangan nilai yang sangat berarti (substantial proportionate reduction). Pengecualian ini juga berlaku jika nilai ketidakpastian dimulai dari 2.

Posisi angka penting pada nilai terbaik juga harus diperhatikan. Misalkan kita memiliki hasil pengukuran kecepatan sebagai berikut

kecepatan = (6051.78 ± 30) m/s.

Nilai ketidakpastian 30 itu berarti nilai 5 pada nilai terbaik bisa lebih kecil menjadi 2 atau lebih besar menjadi 8. Jelas sekali nilai 1, 7, 8 pada nilai terbaik tidak memiliki arti dan sebaiknya dibulatkan. Jadi penulisan yang benar kecepatan tersebut adalah

kecepatan = (6050 ± 30) m/s.

Sebagai contoh lain misalkan kita memilki nilai terbaik 92,81 , jika ketidakpastian adalah 0,3 maka hasil harus ditulis menjadi

92,8 ± 0,3.

Jika ketidakpastian adalah 3 maka hasil ditulis menjadi

93 ± 3.

Jika ketidakpastian adalah 30 maka hasil ditulis menjadi

90 ± 30.

Hasil pengukuran kadang memiliki nilai terlalu kecil atau terlalu besar. Misalkan pengukuran muatan electron didapatkan hasil berikut

muatan elektron = (0,000000000000000000161 ± 0,000000000000000000005) coulombs.

Jelas penulisan di atas terlalu panjang, tidak efisien dan rentan kesalahan. Jadi kita perlu mengubah penulisan hasil menjadi lebih sederhana atau biasa disebut sebagai notasi ilmiah atau menggunakan bilangan eksponensial dengan angka 10 sebagai bilangan pokoknya. Jadi dengan menggunakan notasi ilmiah penulisan hasil pengukuran muatan electron sebagai berikut

muatan elektron = (1,61 ± 0,05) x 10-19 coulombs.

Jadi dalam penulisan hasil pengukuran kita memiliki tiga aturan. Pertama, nilai ketidakpastian perlu dibulatkan sehingga menyisakan 1 angka penting kecuali nilai ketidakpastian diawali dengan angka 1 atau 2. Kedua, nilai terbaik akan mengalami pembulatan mengikuti posisi angka penting dari nilai ketidakpastian. Ketiga, jika hasil pengukuran terlalu kecil atau terlalu besar maka gunakan notasi ilmiah.

Sumber:

[1] Taylor, J., 1997. Introduction to error analysis, the study of uncertainties in physical measurements.

[2] Dyson, F.W., Eddington, A.S. and Davidson, C., 1920. A determination of the deflection of light by the sun’s gravitational field, from observations made at the total eclipse of May 29, 1919. Philosophical Transactions of the Royal Society of London. Series A, Containing Papers of a Mathematical or Physical Character220, pp.291-333.

Siringmakar 25: “Menjadi Penulis Sains Populer Jaman Now”

Siringmakar 25: “Menjadi Penulis Sains Populer Jaman Now”

Pemateri: Nur Abdillah Siddiq
Moderator: Wayan Dadang

 

Diskusi

Saya merasa bahwa menulis karya tulis, riset dan lainnya masih kurang. Hasil tulisan kita hanya akan dibaca oleh komunitas akademik, sangat jarang masyarakat awam akan membaca tulisan-tulisan akademis tersebut. Oleh karena itu, diperlukan tulisan model baru bernama Artikel Sains Populer yang menjembatani antara dunia akademisi dan dunia masyarakat. Motivasi utama tersebutlah yang menjadi gagasan bersama Kak Abdul Halim sebagai rekan satu tim riset yang bersama merasa resah dengan keadaan banyaknya penelitian baru yang dilaporkan dalam bentuk paper (artikel) namun tidak bisa sampai ke masyarakat karena kendala bahasa yang ilmiah.

Kami membayangkan bagaimana seandainya hasil penelitian terbaru tentang dunia pertanian dibaca oleh petani, penelitian terbaru di dunia peternakan, dibaca oleh peternak. Bayangkan. Bagaimana kira-kira kesejahteraan mereka akan bertambah?. Hingga hari ini, Alhamdulillah, website Warstek Indonesia sudah menerbitkan 1.225 artikel.

Artikel yang Ditulis oleh Pemateri [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Saya sendiri sudah menerbitkan 178 artikel. Berikut beberapa tulisan saya. Namun, saya juga tidak ingin fokus di dunia sains populer saja seperti Editorial Sains Kompas, Mongabay, dll. Saya juga tetap menulis paper untuk komunitas keilmuan saya, karena sejatinya sumber ‘shahih’-nya dari sana, artikel jurnal dan artikel konferensi. Dan nggak seru kalau hanya bisa mengutip artikel saja tapi tidak bisa menulisnya. Berikut adalah situs Scopus saya, Alhamdulillah bulan lalu baru saja menerbitkan artikel jurnal ketiga di Jurnal Photonic Sensors. Saya akan terus aktif dalam penulisan artikel ilmiah, dan berikut adalah konferensi ilmiah yang akan saya ikuti di tanggal 28 September 2019 mendatang.

Undangan Presentasi Ilmiah untuk Pemateri di MISEIC 2019 [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Jadi intinya, saya mencoba untuk dapat seimbang antara menulis artikel ilmiah dan artikel sains populer, dan itu bisa.

Pengalaman Keilmiahan Pemateri sebagai Founder Warstek [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Kalimat berikut mungkin sering teman-teman baca dan dengar, tapi mungkin kurang diresapi maknanya. Pak Pramoedya Ananta Toer,novel beliau keren-keren, saya baca yang judulnya ‘Gadis Pantai’,  dan merasa kagum. Tidak heran dan berlebihan jika beliau masuk calon nominasi peraih Nobel Sastra. Bagi teman-teman yang belum baca, silahkan baca ya. Ada cukup banyak novel beliau, berisi tentang kehidupan dan budaya Jawa.

GAMBAR YANG TENTANG MOTIF+AKSI TIDAK TERSIMPAN, MOHON DIUNGGAHKAN.

Dan memang benar, orang-orang yang menulis hidupnya akan abadi. Lihat saja Einstein dengan karya tulisnya tentang Relativitas. Kira-kira sekalipun Einstein jenius, tapi tidak menulis, nah bakalan dikenal nggak oleh kita sekarang?.

Di foto ini juga ada manuskrip dari MAHABHARATA. Film yang biasanya diputar di ANTV itu manuskripnya dibuat 824 tahun Sebelum Masehi, lho. Delapan ratus dua puluh empat tahun sebelum Yesus atau Nabi Isa as. lahir. Adakah teman-teman disini yang punya cita-cita hidup abadi?, hehe. Kalau ada, maka menulislah.

Menulis adalah Bekerja untuk Keabadian [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Motif dan aksi kedua, menulis adalah satu metode belajar yang cukup efektif. Pernah nggak merasa bingung akan suatu materi, namun setelah dituliskan dalam bahasa kita sendiri, diurai dalam bentuk tulisan, kita menjadi lebih paham?. Nah, itulah The Power of Writing. Saya mendorong rekan-rekan kontributor Warstek untuk menuliskan artikel dengan topik yang ingin dikuasai, jangan malah topiknya melebar kemana-mana. Misalnya, kak Wayan, beliau ingin menjadi orang Indonesia pertama yang menjadi Grand Master Artificial Intelligent (AI), makanya saya dorong untuk menulis tentang topik-topik AI saja, sambil menyelam, minum air, mungkin begitu istilahnya ya,hehe. Dan terbukti sekarang sudah ada lebih dari 30 artikel di warstek.com tentang Artificial Intelligent yang ditulis oleh kak Wayan.

Baik, selanjutnya adalah dibahas materi pertama, yaitu Motivasi Menulis.

Mental 1. Penulis bukan hanya menulis.

Penulis harus mendalami psikologi manusia, harus mampu masuk ke otak pembaca dan menyalurkan ide-ide atau informasi agar diterima oleh pembaca sesuai dengan kelompok kemampuannya. Oleh karena itu, saya sering merevisi tulisan rekan-rekan kontributor agar minimal anak SMA bisa paham dengan materinya. Perbanyak menggunaan perumpamaan atau metafora, dan ternyata ada beberapa kontributor Warstek yang jauh lebih handal dibanding saya dalam mendalami psikologi manusia, terutama bagaimana menyulut curiosity, inspiration dan wonder sekaligus. Salah satunya adalah tulisan Mas Wahyu Norrudin, menurut saya keren banget.

Mental 2. Menulis adalah proses berkelanjutan dan terus-menerus.

Diistilahkan dengan “Jam Terbang”, maka semakin banyak dan semakin sering menulis maka akan semakin “Bernas” tulisannya. Coba kalau teman-teman bongkar meja belajar, terus baca-baca tentang karya tulis, artikel atau apapun itu yang pernah dibuat 4 tahun lalu, merasa konyol kan?, hehe. Saya merasa begitu, ternyata tulisan saya waktu masih mahasiswa baru sangat datar dan jelek. Pertanyaannya, jika teman-teman tidak memulai untuk menulis, lantas kapan akan belajarnya?.

Mental 3. Siap dan suka mempelajari hal-hal baru.

Analisis  kedalaman suatu tulisan membutuhkan banyak perspektif dan sudut pandang, satu artikel jurnal Internasional membutuhkan minimal 20 referensi, nah ini pula yang membedakan Warstek.com dengan Tribunnews atau Sains Kompas serta media-media mainstream sejenis, setiap artikel di Warstek.com wajib mencantumkan referensi, apakah hasil wawancara pribadi, buku, paper, majalah, website lain, dll. Berkaitan dengan hal ini, paper saya pernah di-reject karena diminta memperkaya referensi, padahal sudah ada 30 referensi, tapi kata editor nya masih kurang untuk dapat tayang di IEEE Sensors Journal.

Mental 4. Tidak mudah menyerah.

Akan terjadi penolakan, tulisannya diremehkan bahkan diejek, namun tidak akan menyerah untuk terus menulis. Kalau yang pernah nonton filmnya Raditya Dika yang kambing jantan kalau nggak salah, akan paham tentang makna tidak mudah menyerah ini. Radit ditolak hampir di banyak penerbit, bukunya diejek habis-habisan. Tapi Radit tidak menyerah dan jadilah Radit yang seperti sekarang, atau kisahnya penulis Harry Potter, beliau juga mengalami penolakan oleh penerbit lho, atau novel Laskar Pelangi itu juga selalu ditolak lho oleh  penerbit. Tetaplah bertindak, jangan menyerah!

Mental 5. Disiplin dan menghargai waktu.

Menulis membutuhkan proses dan waktu yang tidak sedikit, apalagi terdapat deadline. Waktu menjadi sangatlah berharga, ini sudah jelas ya, jangan menulis mendekati deadline.

Dan mental terakhir, Mental 6. Menjadi penulis bukanlah tujuan akhir.

Menulis dapat menjadi awal kehidupan yang lebih baik. Berbagai profesi seperti ilmuwan, dosen, hingga presiden membutuhkan keterampilan menulis yang mumpuni. Yang cukup fenomenal adalah Presiden Mesir, Alm. Mursi. Beliau presiden, tapi juga banyak menerbitkan research paper.

Tulisan Ilmiah Alm. Presiden Morsi [Nur Abdillah Siddiq, 2019]

Baik, materi pertama motivasi sudah, materi kedua tentang mental seorang penulis sudah. Terakhir, struktur artikel.

Berkaitan dengan struktur Artikel, pertama kita harus melihat struktur yang dipersyaratkan oleh penerbit, jika memang tidak disebutkan secara eksplisit, maka kita harus merangkum struktur dari tulisan-tulisan artikel yang sudah terbit sebelumnya. Misalkan jika teman-teman ingin mengirim opini di Jawa Pos, Kompas, dll, teman-teman tidak bisa ‘seenaknya’ sendiri membuat struktur artikel kalau ingin artikel teman-teman dimuat, yang ada bisa ditebak: DITOLAK. Jadi tips pertama adalah Cek apakah ada format atau struktur yang dipersyarakatkan oleh penerbit. Jika ada maka diikuti, jika tidak ada maka silahkan baca artikel-artikel yang telah terbit sebelumnya. Di Warstek.com, strukturnya seperti artikel kebanyakan, ada: judul, pendahuluan, tubuh, penutup, dan penjelas, ditambah dengan referensi. Wajib ada referensinya 😀

Seperti ini contohnya:

Diawali dengan tentunya ada judul dan pendahuluan,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

kemudian sebelum masuk ke tubuh artikel, ada fakta awal dan penghubung,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

masih paragraf penghubung, dengan ditambahkan data-data,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

kemudian baru tubuh atau inti artikel,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

Tubuh/ inti artikel – bagian 1,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

Tubuh/ inti artikel – bagian 2,

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

dan terakhir, ada penutup dan penjelas,

 

R. Andika Putra Dwijayanto, 2018
R. Andika Putra Dwijayanto, 2018

Tidak lupa, ciri khas Warstek.com, ada referensi yang tersambung dengan isi artikel (penulisan kutipannya bisa menggunakan metode Harvard atau Vancouver).

Tidak lupa pula, ada struktur yang tidak tertulis, yakni penyampaian materi yang susah harus dilengkapi dengan perumpamaan-perumpamaan atau ilustrasi, baik gambar atau video, agar artikel menjadi lebih mudah dipahami, minimal anak SMA bisa memahami tulisan kita.

 

Tanya-Jawab (Q&A)

 

  1. Septian Ulan Dini. Q.: Bagaimana pendapat kakak tentang “overload information disorder” menjadi topik yang banyak dibicarakan di bidang psikologi dan ilmu pendidikan?.
    A. Wah, iya. Memang “overload information disorder” menjadi topik yang banyak dibicarakan di bidang psikologi dan ilmu pendidikan. Dan hal ini menjadi tantangan baru bagi generasi kita (milenial) dan generasi setelah kita (Z). Information overload juga disebut ‘Polusi Informasi’, disebabkan oleh terlalu banyaknya informasi yang seseorang ketahui. Nah, berkaitan dengan publikasi artikel sains populer yang diterima masyarakat, saya rasa justru artikel sains populer dapat membantu masyarakat memerangi kondisi Information Overload.
    Pertama, ada banyak sekali research paper yang membahas topik Information Overload, didalam juga berisi sebab akibat kausalitas dari Information Overlod, cara pencegahannya, dll.
    Kedua, Information Overload disebabkan oleh informasi yang tidak relevan dengan diri kita (misal, sesuatu yang ingin kita pelajari) seperti informasi gosip, talk show, info hoax, dll. Nah, budaya membaca artikel sains populer bisa mengalihkan masyarakat alih-alih membaca gosip, menjadi membaca sains populer.Ketiga, menulis artikel sains populer membantu memanfaatkan waktu seseorang secara lebih baik. Bayangkan jika seseorang tidak disibukkan dengan menulis artikel, maka ada kecenderungan orang tersebut hanya scroll media sosial, gabut dan terpapar informasi yang sangat kompleks dan tidak berhubungan sama sekali, berbeda jika halnya waktu yang digunakan untuk menulis artikel yang sudah punya topik sendiri, akan lebih terarah informasinya.
  2. Luthfi P. Q1. Bagaimana kiat-kiat untuk mencari tema yang menarik untuk dibaca?. Perlukah kita menghindari tema-tema sulit dan baru ditemukan?. A1. Kalau saya sering mendorong seseorang untuk memilih topik atau tema yang ingin dia kuasai, bukan yang telah dia kuasai. Kalau kita sendiri sudah tertarik untuk membaca artikel yang ditulis sendiri, maka orang lain juga akan tertarik. Kalau memang topik yang ingin dikuasai adalah topik yang baru ditemukan dan sulit semisal kecerdasan buatan, go for it, tidak perlu menghindari.

    Q2. Apabila kita menyusun artikel sains populer bukan dari karya kita, seberapa banyak referensi yang perlu dicantumkan dalam artikel kita?. A2. Tidak ada patokannya, bisa satu hingga dua puluh referensi. Saya pernah menerima artikel 700 kata di Warstek, tapi referensi yang digunakan ada 20 lebih. Referensi ada untuk mendukung gagasan kita, bahwa gagasan kita memiliki landasan ilmiah.

    Q3. Bagaimanakah cara penyampaian dalam artikel kita agar tidak terkesan menggurui?. A3. Setahu saya, istilah “terkesan menggurui” tidak ada dalam bahasa tulisan, adanya dalam bahasa lisan. Karena menggurui lebih ke ‘nada-nada’ menggurui.

  3. Remilda Agustina. Q1. Bagaimana caranya istiqomah dalam menulis?, kadang ada rasa bosan, lelah, pegal. Mengingat motivasi kadang tidak mempan. Bagaimana caranya, kak?. A1. Caranya dengan ini, kak.

    Menulis dengan meluangkan waktu. Ada quote yang sangat menohok dan sangat benar:Kalau rekan-rekan masih belum bisa istiqomah,berarti menulis belum menjadi prioritas.Salah satu kisah menulis yang menginspirasi datang dari dosen saya, Pak Agus Purwanto. Beliau dosen Fisika dan masih dapat menulis buku yang cakupan topiknya menurut saya cukup luas, dari topik bahasa Arab (Arab gundul), Ayat-ayat Semesta yang tebalnya hampir 500 halaman. Saya bertanya ke mahasiswa Fisika yang berada dibawah bimbingan beliau: “Apa rahasia beliau bisa sangat produktif begitu?”, si Mahasiswa menerangkan jika Pak Agus Pur meluangkan waktu minimal 1 jam untuk menulis setiap harinya, seperti kita meluangkan waktu untuk makan, mandi, ibadah, begitu pula Pak Agus Pur meluangkan waktu untuk menulis.
    Q2. Bagaimana membagi waktu untuk menulis di sela kesibukan kuliah, yang mana kita harus belajar, sibuk organisasi, sibuk urusan akhirat?, lalu bagaimana membagi waktu untuk menulis, kak?. A2. Ini menyambung pertanyaan yang pertama, Jadi setelah kita memprioritaskan menulis dan meluangkan waktu untuk menulis setiap harinya, kemudian kita dilanda kesibukan, maka yang perlu dikorbankan adalah ‘waktu tidur’ kita. Jika biasanya kita tidur jam 22.00 dan bangun pagi jam 04.00, maka kurangi tidurnya, misal tidur jam 22.00, maka bangun lebih awal jam 03.00 pagi. Ini berat, sangat berat. Saya pun masih terbata-bata dalam proses ini.
  4. Teuku Rizki. Q.: Bagaimana cara meningkatkan motivasi dan skill dalam menulis artikel sains?, terlebih saya adalah mahasiswa baru yang belum mempunyai pengalaman dalam menulis artikel. A. Bagian motivasi sudah saya sampaikan ya, kak. Kalau belum mempunyai pengalaman, ayo buat pengalaman!. Yuk, ikut kompetisi artikel sains populer Warstek.

  5. Naufal Farras. Q1.: Bagaimana cara supaya susunan kalimat dalam tulisan kita mudah dipahami oleh orang lain?, karena terkadang ketika menulis, penulis sendiri paham dengan apa yang ditulisnya, tetapi pembaca awam terkadang sulit untuk memahami tulisan tersebut. A1. Kita harus menurunkan ego, harus dapat memposisikan diri dengan menanyakan pada diri sendiri, “Kalau anak SMA yang membaca ini kira-kira paham tidak ya?”. Kalau kita punya adik atau kakak, mintalah mereka untuk membaca dan menanggapi. Kalau saya pribadi, saya meminta pendapat ke istri saya, paham tidak dia dengan tulisan artike sains populer saya, kebetulan istri saya background-nya Pendidikan Bahasa, jadi lebih sering dikoreksi juga penggunaan diksi dan lain-lainnya.
    Q2. Bagaimana tips untuk menggiring pembaca supaya ingin membaca tulisan hingga habis?, apakah akhir paragraf/ kalimat sifatnya ‘menggantung’ atau ada tips lainnya?. A2. Tulisan menarik menjadi masalah di platform-platform berbasis website, pembaca tidak membaca artikel sampai selesai. Kalau dari saya, artikel tulisan kita sebisa mungkin runtut dan mengalir, seperti yang telah saya sampaikan di bagian materi tentang struktur tulisan. Kalau menggantung malah terkesan baca suatu tulisan yang ‘click bait’.
  6. Ahmad Albar. Q1. Bagaimana mengatasi rasa tidak percaya diri dalam menulis sains?, saya sudah memulai untuk membuat suatu artikel yang belum pernah saya kirim sama sekali karena begitu melihat tulisan-tulisan yang sudah terbit menimbulkan keraguan pada tulisan saya sendiri dan berpikir jika tulisan saya tidak berbobot. Dan juga, biasanya inginnya diri sendiri untuk dapat menyelesaikan tulisan pada hari itu juga, karena seringkali di hari selanjutnya ide tulisan sebelumnya sudah hilang. Dan terakhir, saya tinggal di Indonesia bagian Timur, dimana akses untuk penelitian dan lainnya itu sulit. Sekalipun ada, pasti harganya tidak murah, jadi ketika kita punya ide yah hanya bisa di pendam, untuk dieksekusi tidak mudah, mau ikut karya tulis ilmiah kan harus melalui pembuktian dulu dan takutnya ide kita malah di ambil orang lain. Oh Iya, sedikit melenceng, bagaimana kakak menghabiskan waktu bersama keluarga dan rekan-rekan?, karena saya lihat banyak menulis nih. A1. Ketika down membaca tulisan orang lain, analisis tulisan tersebut, bagian mana yang membuat tulisan orang lain tersebut lebih menarik dari punya kita. Misalkan, analisis cara/metode penyampaiannya, data-datanya, kesimpulannya, dll. Terapkan hal-hal tersebut ke artikel kita, metode populernya adalah ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), bukan ATP (Amati, Tiru, Plek). Nah, menulis dalam sekali duduk itu salah satu mental yang harus diubah. Masak mau menulis 1 buku dalam 1 kali duduk?, Nggak mungkin kan?. Hehe. Santai saja dalam menulis, dinikmati prosesnya, oleh karena itu saya sering merekomendasikan agar menulis tidak mendekati deadline. Kalau menulis mendekati deadline, itulah yang terjadi, menulis dalam 1 kali. Kalau ide berubah kok kayaknya malah jadi tulisan baru, bukan merevisi tulisan yang kemarin. Sekarang akses ke referensi itu sangat mudah kak, ada google scholar, portal garuda, dll. Kalau kesulitan ingin dapet artikel jurnal berbayar dengan gratis, bisa langsung PM kepada kami, nanti kami bantu aksesnya. Menghabiskan waktu seperti waktu untuk keluarga pada umumnya kak, malah saya masih merasa jauh dibawah rekan-rekan saya yang sudah menerbitkan buku, dll. Saya belum menerbitkan buku sama sekali, selain menerbitkan buku nikah, hehe.

Penutup

Kalau teman-teman ingin tetap termotivasi dalam menulis, silahkan add friend akun-akun Facebook berikut (kalau masih main Facebook), saya sangat merekomendasikan untuk add friend Pak Hendra Hermawan.


“Jauh lebih baik tulisan yang biasa saja dibandingkan gagasan yang luar biasa tapi tidak dituliskan”.