Lautan purba di Bumi pernah menjadi rumah bagi makhluk-makhluk yang bentuk dan cara hidupnya sulit dibayangkan dengan standar kehidupan modern. Jauh sebelum ikan, hiu, atau bahkan dinosaurus muncul, samudra dipenuhi organisme aneh dengan tubuh lunak, mata majemuk, dan cara bergerak yang sama sekali berbeda dari hewan yang kita kenal sekarang. Masa ini dikenal sebagai Periode Kambrium, sebuah bab awal dalam sejarah kehidupan kompleks di planet kita, ketika evolusi seperti sedang “bereksperimen” menciptakan berbagai bentuk tubuh yang unik.
Selama ratusan juta tahun, sebagian besar makhluk dari era tersebut hanya dapat dipelajari melalui jejak-jejak fosil yang tersisa di batuan. Namun, sesekali alam memberikan hadiah istimewa berupa fosil yang terawetkan dengan sangat baik, seolah-olah waktu berhenti tepat setelah organisme itu mati. Fosil-fosil semacam ini memungkinkan para ilmuwan bukan hanya melihat bentuk luar hewan purba, tetapi juga memahami bagaimana mereka bergerak, berburu, bernapas, bahkan bagaimana sistem tubuh bagian dalamnya bekerja.
Salah satu “jendela waktu” paling penting untuk mempelajari kehidupan laut purba adalah Burgess Shale di Kanada. Situs fosil ini telah berulang kali mengubah pemahaman ilmuwan tentang awal evolusi hewan, dengan menghadirkan makhluk-makhluk yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Dan hingga hari ini, Burgess Shale masih menyimpan kejutan baru yang menunggu untuk ditemukan.
Dari lapisan batuan inilah para ilmuwan kembali menemukan sosok predator laut kecil namun luar biasa, yang hidup lebih dari setengah miliar tahun lalu dan membawa petunjuk baru tentang bagaimana kelompok hewan besar di Bumi berevolusi.
Sebuah tim peneliti paleontologi dari Manitoba Museum dan Royal Ontario Museum (ROM) berhasil mengungkap sosok organisme purba yang hidup sekitar 506 juta tahun lalu, jauh sebelum dinosaurus menguasai daratan. Penemuan ini diumumkan pada Mei 2025 dalam jurnal ilmiah Royal Society Open Science, dan segera menarik perhatian dunia karena bentuknya yang unik dan memberi wawasan baru tentang evolusi hewan di Bumi.
Organisme ini dinamakan Mosura fentoni, predator laut yang hanya sebesar ikut jari tangan manusia, tetapi punya serangkaian fitur yang membuatnya berbeda dari makhluk lain yang telah dikenal. Fosil-fosil Mosura berasal dari Burgess Shale, sebuah situs fosil terkenal di Kanada yang telah menghasilkan begitu banyak fosil luar biasa selama bertahun-tahun.
Sekilas Tentang Mosura fentoni: “Sea-Moth” Purba
Nama ilmiah Mosura fentoni mengandung makna dan inspirasi yang menarik. Ia diberi julukan tidak resmi oleh para pengumpul lapangan sebagai “sea-moth” atau ngengat laut, karena bentuk tubuhnya yang tampak agak menyerupai ngengat ketika berenang. Nama itu kemudian dikaitkan dengan kaiju fiksi Jepang yang dikenal sebagai Mothra, sebuah monster fiksi yang muncul dalam film-film Jepang. Meski ada kesamaan visual secara samar, Mosura tidak berkaitan dengan ngengat modern atau serangga lainnya dalam kelompok hewan saat ini.
Mosura termasuk dalam kelompok hewan purba yang disebut radiodonts. Radiodonts adalah kelompok hewan yang punah dan merupakan bagian dari garis awal evolusi hewan bersel banyak yang disebut arthropoda. Arthropoda merupakan kelompok hewan yang memiliki tubuh bersegmen dan anggota badan yang beruas-ruas seperti serangga, laba-laba, kepiting, serta kaki seribu. Radiodonts sendiri adalah salah satu kelompok awal yang menunjukkan ciri-ciri khas arthropoda seperti tubuh bersegmen dan anggota badan yang kompleks.
Bentuk Fisik Mosura: Lebih Aneh dari yang Kita Bayangkan
Ukuran Mosura sangat kecil—sekitar panjangnya sama dengan jari telunjuk manusia, namun perlu diingat bahwa ukurannya yang kecil tidak berarti tidak berbahaya. Predator ini memiliki sejumlah ciri anatomi yang luar biasa.
Salah satu fitur paling mencolok adalah tiga mata yang dimilikinya. Tiga mata ini menunjukkan kemungkinan besar bahwa Mosura memiliki kemampuan penglihatan yang baik untuk menemukan mangsa di perairan purba. Struktur mata ini juga memperlihatkan bagaimana sensor visual telah berevolusi sejak awal sejarah kehidupan kompleks di bumi.
Mulut Mosura berbentuk bulat dengan deretan gigi-gigi kecil, serta memiliki cakar-cakar berduri yang bersendi (jointed claws) di bagian depan tubuhnya. Cakar-cakar ini diperkirakan digunakan untuk menangkap mangsa kecil di laut. Di luar itu, tubuh Mosura dilengkapi dengan “bibir-renang” (swimming flaps) di sepanjang sisi tubuhnya, yang dipakai untuk bergerak dan berenang di dalam air.
Baca juga: Maleriraptor Kuttyi: Jejak Predator Purba yang Menantang Kepunahan
Yang benar-benar mengejutkan tim adalah bagian belakang tubuh Mosura. Berbeda dengan radiodonts lain yang dikenal sebelumnya, Mosura memiliki bagian tubuh seperti perut (abdomen) yang tersusun dari segmen-segmen kecil yang masing-masing memiliki struktur yang mirip dengan insang. Ada 16 segmen rapat yang dilapisi oleh gill atau insang di bagian belakang tubuhnya—suatu fitur unik yang belum pernah ditemukan sebelumnya pada radiodonts.
Apa Itu Radiodonts dan Mengapa Mereka Penting?
Sebelum penemuan Mosura, kelompok radiodonts sudah dikenal dari beberapa fosil lain, seperti Anomalocaris canadensis, predator laut besar yang panjangnya bisa mencapai satu meter. Radiodonts adalah kelompok makhluk laut purba yang hidup pada masa Periode Kambrium, yaitu fase awal dari evolusi kehidupan kompleks sekitar setengah miliar tahun lalu.
Kelompok ini sangat penting karena mereka bukan sekadar hewan purba. Radiodonts berada di salah satu titik awal pohon evolusi arthropoda, kelompok organisme yang sekarang mencakup jutaan spesies termasuk serangga, udang, dan laba-laba. Dengan mempelajari radiodonts, ilmuwan dapat memahami lebih baik bagaimana ciri-ciri penting arthropoda berkembang dari bentuk purba menjadi bentuk modern yang kita kenal sekarang.
Keunikan Mosura adalah bahwa ia menunjukkan kombinasi ciri anatomi yang tak terduga—yaitu perpaduan antara struktur primitif radiodonts dengan adaptasi yang terlihat mirip dengan beberapa makhluk modern seperti kepiting tapal kuda atau serangga darat. Fenomena ini disebut konvergensi evolusi, yaitu ketika makhluk yang tidak terlalu dekat kekerabatannya mengembangkan fitur yang mirip karena menghadapi tantangan lingkungan yang sama, seperti kebutuhan bernapas lebih efektif atau bergerak dengan cara tertentu.
Detil Anatomi Dalam: Lebih dari Sekadar Tulang
Tidak hanya bagian luar tubuh, beberapa fosil Mosura juga memperlihatkan detil dari anatomi bagian dalam yang sangat langka ditemukan pada fosil lain. Tim dapat melihat bagian dari sistem saraf, sistem sirkulasi, dan saluran pencernaan yang tersimpan pada fosil. Ini sangat luar biasa karena umumnya jaringan lunak tidak terlestarikan dalam fosil.

Dalam hal sistem sirkulasinya, Mosura memiliki sistem sirkulasi terbuka. Berbeda dengan kita yang memiliki pembuluh darah yang membawa darah kembali ke jantung, sistem sirkulasi terbuka berarti darah dipompa ke ruang-ruang dalam tubuh yang disebut lacunae. Ruang-ruang ini berfungsi sebagai tempat darah menyebar untuk memberi nutrisi ke seluruh tubuh. Tim menemukan bagian-bagian lacunae ini terawetkan sebagai bercak-bercak reflektif dalam fosil, memberikan petunjuk berharga tentang bagaimana sistem sirkulasi hewan purba bekerja.
Jejak Fosil dan Penemuan di Burgess Shale
Mayoritas fosil Mosura yang dipelajari berasal dari lokasi bernama Raymond Quarry di Yoho National Park, British Columbia, Kanada. Fosil-fosil ini dikumpulkan oleh tim dari ROM antara tahun 1975 hingga 2022. Beberapa contoh juga berasal dari area lain di nantinya dikenal sebagai Marble Canyon, yang juga merupakan bagian dari situs Burgess Shale yang luar biasa kaya fosil.
Temuan ini juga termasuk satu spesimen yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya yang dikumpulkan oleh Charles Walcott, penemu pertama Burgess Shale yang legendaris. Burgess Shale sendiri merupakan salah satu situs fosil paling penting di dunia, terkenal karena tingkat preservasi luar biasa yang memungkinkan jaringan lunak dan struktur halus lainnya tersimpan hingga ratusan juta tahun. Pada tahun 1980, Burgess Shale diakui sebagai UNESCO World Heritage Site karena nilainya yang sangat penting bagi pemahaman sejarah kehidupan di bumi.
Mengapa Penemuan Ini Penting?
Penemuan Mosura fentoni bukan hanya sekadar menambahkan satu spesies baru dalam daftar makhluk purba. Fosil ini memperlihatkan bahwa kehidupan arthropoda pada awal sejarahnya jauh lebih beragam dan kompleks dari yang sebelumnya diperkirakan. Keunikan struktur tubuhnya menunjukkan bahwa evolusi terjadi melalui berbagai jalur eksperimen, beberapa di antaranya menghasilkan adaptasi yang sangat berbeda dari apa yang terlihat pada organisme modern saat ini.
Tim peneliti juga menunjukkan bahwa fosil-fosil ini memberikan bukti penting tentang bagaimana sistem tubuh internal seperti sistem saraf dan sirkulasi bekerja pada organisme purba yang hidup ratusan juta tahun lalu. Ini membantu menciptakan gambaran evolusi kehidupan yang lebih komprehensif, dari bentuk paling sederhana hingga bentuk organisme kompleks yang kita lihat sekarang.
Kesimpulan
Penemuan Mosura fentoni adalah salah satu tonggak penting dalam ilmu paleontologi karena memberikan gambaran baru tentang dunia laut purba lebih dari setengah miliar tahun lalu. Bentuk tubuhnya yang unik—mulai dari tiga mata, mulut melingkar berderet gigi, cakar berduri, hingga segmen belakang yang dilapisi insang—menunjukkan bahwa kehidupan di lautan Kambrium sangat bervariasi dan kompleks. Fosil-fosil ini juga memperlihatkan struktur internal organisme yang jarang dilihat pada fosil lain, termasuk sistem saraf dan sirkulasi.
Penemuan ini membantu mengisi lubang besar dalam pemahaman kita tentang bagaimana kelompok hewan besar seperti arthropoda berevolusi dan beradaptasi pada fase awal kehidupan kompleks. Situs Burgess Shale tetap menjadi harta karun ilmu pengetahuan yang terus memberi kejutan, dan Mosura fentoni adalah salah satu contohnya.
Referensi:
[1] https://www.rom.on.ca/news-releases/manitoba-museum-and-rom-palaeontologists-discover-506-million-year-old-predator, diakses pada 25 Januari 2026.
[2] Joseph Moysiuk, Jean-Bernard Caron. Early evolvability in arthropod tagmosis exemplified by a new radiodont from the Burgess Shale. Royal Society Open Science, 2025; 12 (5) DOI: 10.1098/rsos.242122

