Danau Terbesar di Tiongkok yang Perlahan Menghilang: Ketika Alam dan Manusia Berebut Air

Di Tiongkok bagian tenggara, ada sebuah danau yang dulu dikenal sebagai “laut daratan” Poyang Lake. Dengan luas yang bisa melebihi […]

Di Tiongkok bagian tenggara, ada sebuah danau yang dulu dikenal sebagai “laut daratan” Poyang Lake. Dengan luas yang bisa melebihi 3.500 kilometer persegi pada musim hujan, danau ini menjadi rumah bagi burung migran, nelayan, serta jutaan orang yang menggantungkan hidup pada airnya. Namun dalam beberapa dekade terakhir, sesuatu yang mencemaskan terjadi: Poyang Lake makin sering kering. Dan pada tahun 2022, danau itu mengalami kekeringan paling parah dalam sejarah modernnya.

Sebuah penelitian terbaru oleh Hexiang Chen dan tim ilmuwan hidrologi dari beberapa universitas di Tiongkok mencoba memahami fenomena ini dengan lebih dalam. Mereka meneliti bagaimana ketinggian air dan interaksi antara sungai dan danau berubah selama kekeringan ekstrem. Studi mereka menemukan bahwa perubahan iklim, aliran sungai yang berkurang, dan aktivitas manusia di hulu sungai, terutama operasi bendungan besar seperti Three Gorges Dam telah mengubah wajah Poyang Lake secara drastis.

Baca juga artikel tentang: Danau Natron: Laboratorium Alam Ekstrem yang Membatu dan Menghidupi

Danau yang Hidup dari Sungai

Secara geografis, Poyang Lake adalah danau air tawar terbesar di Tiongkok dan berperan penting sebagai penyangga hidrologis Sungai Yangtze, sungai terpanjang di Asia. Pada musim hujan, air dari hulu Sungai Gan dan sungai-sungai kecil lainnya mengalir masuk ke Poyang, membuat danau ini meluap luas seperti lautan. Sebaliknya, di musim kemarau, air dari danau mengalir keluar ke Sungai Yangtze, menjaga keseimbangan ekosistem dan pasokan air di sekitarnya.

Namun, sistem alami ini kini tidak berjalan seperti dulu. “Pola interaksi antara danau dan sungai kini terganggu,” tulis Chen dalam laporannya. “Selama kekeringan ekstrem, kemampuan danau untuk menahan air berkurang drastis, dan hubungan hidrologis dengan Sungai Yangtze menjadi semakin lemah.”

Kekeringan Ekstrem yang Tak Pernah Terjadi Sebelumnya

Menurut penelitian ini, kejadian kekeringan ekstrem di Poyang Lake telah meningkat lebih dari empat kali lipat sejak awal abad ke-21. Peristiwa tahun 2022 tercatat sebagai yang paling parah, terlama, dan paling luas sejak tahun 1956. Air danau turun ke level terendah dalam sejarah modern, membuat sebagian besar dasar danau berubah menjadi padang retak yang kering dan tandus.

Tim Chen menggunakan gabungan data satelit, pengukuran lapangan, dan model statistik matematis untuk menganalisis perubahan ketinggian air secara spasial dan temporal. Hasilnya mengejutkan: selama kekeringan 2022, penurunan muka air danau disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu:

  • Berkurangnya aliran air dari hulu sungai (23,68%)
  • Penurunan debit Sungai Yangtze (38,10%)
  • Operasi Bendungan Tiga Ngarai atau Three Gorges Dam (38,22%)

Artinya, tidak hanya cuaca yang menjadi penyebab. Kombinasi antara iklim ekstrem dan campur tangan manusia di hulu sungai membuat sistem air di wilayah itu kehilangan keseimbangannya.

Variasi spasial dan temporal tinggi muka air serta interaksi antara sungai dan Danau Poyang selama periode kekeringan ekstrem tahun 2022, yang dipengaruhi oleh debit Sungai Yangtze dan sungai-sungai hulu.

Ketika Sungai Tak Lagi Memberi, dan Bendungan Tak Bisa Menolong

Pada dasarnya, Poyang Lake bergantung pada sungai-sungai di sekitarnya untuk tetap “hidup”. Namun ketika curah hujan berkurang dan sungai-sungai hulu mengering, pasokan air menuju danau juga berkurang drastis. Di sisi lain, Sungai Yangtze yang biasanya menjadi jalur keluarnya air dari danau kini memiliki aliran yang lebih lemah. Ini menciptakan situasi paradoks: danau kehilangan air dari semua arah.

Three Gorges Dam, bendungan terbesar di dunia yang dibangun di Sungai Yangtze, juga berperan besar. Selama musim kering, bendungan ini menahan sebagian besar air untuk kebutuhan energi dan pengendalian banjir di hulu, sehingga air yang mengalir ke Poyang Lake semakin sedikit. Dalam kondisi kekeringan ekstrem, operasi bendungan tersebut memperparah penurunan air di danau.

Walaupun pihak pengelola bendungan berupaya melepaskan air untuk meringankan kekeringan, penelitian Chen menunjukkan bahwa upaya ini hanya memberikan bantuan jangka pendek. “Aliran tambahan dari bendungan tidak cukup untuk memulihkan tingkat air danau secara signifikan,” tulis tim peneliti.

Dampak Ekologis dan Sosial yang Luas

Kekeringan ekstrem ini bukan sekadar masalah air yang surut. Ia membawa dampak ekologis dan sosial yang besar. Habitat burung air, ikan, dan spesies langka seperti lumba-lumba air tawar Yangtze (baiji) menjadi terganggu. Banyak koloni burung migran kehilangan lahan basah tempat mereka mencari makan dan beristirahat selama musim dingin.

Selain itu, masyarakat lokal yang bergantung pada perikanan dan pertanian di sekitar danau kini menghadapi masa depan yang tak pasti. Hasil panen menurun, kualitas air memburuk, dan risiko kebakaran lahan meningkat akibat kekeringan panjang. “Bagi banyak penduduk di sekitar danau, ini bukan hanya masalah cuaca, tetapi soal kelangsungan hidup,” kata Chen.

Pelajaran dari Poyang Lake untuk Dunia

Fenomena di Poyang Lake menjadi cermin dari krisis air global. Banyak wilayah lain di dunia mengalami situasi serupa: danau-danau besar mengering akibat kombinasi antara perubahan iklim, eksploitasi air berlebihan, dan pembangunan bendungan besar. Dari Laut Aral di Asia Tengah hingga Danau Chad di Afrika, kisahnya serupa—air menghilang, dan kehidupan ikut mengering bersamanya.

Penelitian Chen menekankan pentingnya memahami interaksi kompleks antara iklim dan aktivitas manusia dalam sistem air besar seperti ini. Ia juga menyoroti perlunya kebijakan pengelolaan terpadu antara pemerintah pusat dan daerah, serta koordinasi lintas sektor antara pengelola bendungan, petani, dan pihak lingkungan.

Menuju Pengelolaan Air yang Lebih Adaptif

Apa yang bisa dilakukan? Tim peneliti menyarankan beberapa langkah nyata:

  • Pemantauan hidrologis berkelanjutan dengan sistem satelit dan stasiun otomatis untuk mendeteksi perubahan air secara cepat.
  • Pengaturan ulang operasi bendungan besar agar lebih mempertimbangkan kebutuhan ekosistem di hilir.
  • Restorasi lahan basah dan zona penyangga alami di sekitar danau untuk memperbaiki kapasitas penyimpanan air.
  • Perencanaan adaptif terhadap kekeringan, terutama di wilayah-wilayah yang sangat bergantung pada curah hujan musiman.

“Jika kita ingin danau seperti Poyang tetap hidup,” kata Chen, “kita harus mengembalikan keseimbangan antara apa yang diambil manusia dari alam, dan apa yang diberikan kembali kepada alam.”

Air sebagai Cermin Keseimbangan

Kisah Poyang Lake bukan sekadar tentang sebuah danau yang menyusut, tetapi tentang hubungan manusia dengan air. Air adalah cermin dari keseimbangan ekologi dan sosial kita. Ketika danau mengering, itu pertanda bahwa keseimbangan itu sedang terganggu.

Penelitian ini bukan hanya memberi peringatan, tetapi juga harapan. Dengan ilmu pengetahuan, perencanaan cerdas, dan kesadaran bersama, manusia masih punya kesempatan untuk memperbaiki hubungan itu, sebelum “laut daratan” seperti Poyang benar-benar menghilang dari peta dunia.

Baca juga artikel tentang: Depresi Danakil, Neraka di Bumi? Danau Beracun yang Bisa Membunuh Seketika

REFERENSI:

Chen, Hexiang dkk. 2025. Spatiotemporal variations of water levels and river-lake interaction in the Poyang Lake basin under the extreme drought. Journal of Hydrology: Regional Studies 57, 102165.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top