Musim yang Kacau, Panen yang Surut: Peringatan dari Para Ilmuwan Ethiopia

Bayangkan hidup di tempat di mana setiap tetes air berarti hidup atau mati. Di dataran tinggi Ethiopia, tempat Danau Tana […]

Bayangkan hidup di tempat di mana setiap tetes air berarti hidup atau mati. Di dataran tinggi Ethiopia, tempat Danau Tana berkilau di bawah matahari Afrika, jutaan orang menggantungkan hidupnya pada air yang mengalir dari sungai, hujan musiman, dan tanah yang subur. Namun kini, semua itu sedang berubah.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan tahun 2026 oleh Temesgen Gashaw Tarkegn bersama tim ilmuwan internasional memperingatkan bahwa perubahan iklim telah mulai mengubah cara air bergerak dan digunakan di wilayah Danau Tana, yang merupakan sumber utama bagi pertanian dan kehidupan di Ethiopia bagian utara.

Dengan menggunakan model ilmiah canggih bernama SWAT+ (Soil and Water Assessment Tool Plus), para peneliti mencoba menjawab pertanyaan besar: bagaimana perubahan iklim akan memengaruhi ketersediaan air dan hasil pertanian di masa depan? Jawaban mereka menyingkap kenyataan yang mengkhawatirkan.

Baca juga artikel tentang: Snowball Earth: Tragedi Iklim Terbesar yang Membentuk Kehidupan

Air Biru dan Air Hijau: Dua Sisi Kehidupan yang Rapuh

Untuk memahami riset ini, kita perlu mengenal dua istilah penting: air biru (blue water) dan air hijau (green water).
Air biru adalah air yang bisa kita lihat dan gunakan secara langsung, seperti air sungai, danau, dan waduk. Air ini penting untuk irigasi, air minum, dan kebutuhan industri.
Sementara air hijau adalah air yang tersimpan di dalam tanah dan diserap oleh tanaman untuk tumbuh.

Kedua jenis air ini membentuk dasar kehidupan di daerah pertanian. Namun, ketika iklim berubah—suhu naik, hujan bergeser, dan kekeringan makin sering—keseimbangan antara air biru dan air hijau pun ikut terganggu.

Studi di Danau Tana ini menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat mengubah jumlah dan waktu ketersediaan kedua jenis air tersebut, yang pada akhirnya berdampak besar terhadap panen dan ketahanan pangan.

Simulasi Masa Depan: Hujan Meningkat, Tapi Tanah Mengering

Para peneliti menganalisis data curah hujan, aliran sungai, dan hasil panen jagung selama hampir tiga dekade (1992–2021). Mereka kemudian menggunakan proyeksi iklim global hingga tahun 2100, berdasarkan dua skenario yang umum digunakan di dunia ilmiah:

  1. SSP2-4.5, menggambarkan masa depan dengan tingkat emisi menengah (di mana dunia berupaya mengurangi karbon tapi tidak sepenuhnya berhasil).
  2. SSP5-8.5, skenario ekstrem dengan emisi karbon tinggi dan pemanasan global yang cepat.

Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam kedua skenario, curah hujan dan suhu rata-rata memang diprediksi akan meningkat. Namun, itu bukan kabar baik.

Lebih banyak hujan tidak berarti lebih banyak air untuk pertanian. Dalam skenario emisi rendah (SSP2-4.5), air hijau justru menurun hingga 7–17%, karena peningkatan suhu membuat air lebih cepat menguap dan mengurangi kelembapan tanah. Akibatnya, tanaman kesulitan menyerap cukup air untuk tumbuh.

Sebaliknya, dalam skenario ekstrem (SSP5-8.5), air biru (air yang mengalir di sungai dan waduk) justru meningkat hingga 18%. Artinya, hujan deras dan banjir lebih sering terjadi, tetapi sebagian besar air itu tidak tersimpan di tanah. Ia mengalir deras dan hilang ke hilir, meninggalkan lahan kering setelahnya.

Singkatnya, iklim yang lebih panas membuat air datang tidak pada waktu yang dibutuhkan. Kadang terlalu banyak, kadang terlalu sedikit dan itu kabar buruk bagi pertanian.

Peta distribusi hasil jagung tahunan rata-rata jangka panjang di sekitar Danau Tana dengan variasi produktivitas yang dipengaruhi oleh perubahan iklim dan kondisi lingkungan.

Panen yang Terancam

Jagung, salah satu sumber pangan utama di Ethiopia, menjadi tanaman yang paling terdampak dalam penelitian ini. Model SWAT+ memperkirakan bahwa hasil panen jagung bisa turun hingga 26% pada pertengahan hingga akhir abad ini jika tren perubahan iklim terus berlanjut.

Penurunan ini terjadi karena dua faktor utama:

  1. Ketersediaan air tanah berkurang, membuat tanaman lebih sering mengalami stres air.
  2. Suhu udara meningkat, mempercepat laju penguapan dan memperpendek masa tumbuh tanaman.

Akibatnya, produktivitas pertanian di sekitar Danau Tana bisa anjlok secara signifikan, sementara permintaan pangan di Ethiopia terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Tidak Terhindarkan

Pertanian di Ethiopia bukan sekadar urusan ekonomi, tapi menjadi urat nadi kehidupan. Lebih dari 70% penduduknya bergantung pada sektor ini untuk bertahan hidup. Ketika hasil panen menurun, dampaknya langsung terasa pada ketersediaan makanan, pendapatan rumah tangga, dan stabilitas sosial.

Kekurangan air juga berpotensi memperburuk konflik antarwilayah. Di daerah kering, masyarakat kerap berebut sumber air untuk irigasi dan ternak. Jika curah hujan semakin tidak menentu, tekanan sosial dan ekonomi bisa meningkat drastis.

Lebih jauh lagi, penurunan hasil panen memaksa banyak keluarga meninggalkan ladang mereka untuk mencari penghidupan baru di kota, mendorong urbanisasi cepat yang sulit dikendalikan.

Harapan dari Ilmu Pengetahuan dan Inovasi

Meski hasil penelitian ini tampak suram, para ilmuwan menegaskan bahwa masih ada jalan keluar. Salah satunya adalah melalui pengelolaan air yang cerdas dan berkelanjutan.

Kenaikan air biru di beberapa skenario sebenarnya dapat dimanfaatkan, selama pemerintah dan masyarakat mampu mengelola dan menyimpannya dengan baik. Pembangunan waduk kecil, sistem penampungan air hujan, serta perbaikan irigasi dapat membantu memanfaatkan air berlebih saat musim hujan untuk digunakan pada musim kering.

Selain itu, inovasi pertanian adaptif juga menjadi kunci. Penggunaan varietas jagung yang tahan panas dan kering, penerapan teknologi konservasi tanah, serta peningkatan kesadaran petani terhadap perubahan pola cuaca akan sangat membantu menjaga ketahanan pangan di masa depan.

Para peneliti juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional. Danau Tana adalah bagian dari sistem Sungai Nil, yang mengalir melewati beberapa negara. Artinya, perubahan iklim di Ethiopia tidak hanya berdampak lokal, tapi juga pada negara lain seperti Sudan dan Mesir. Mengelola air di wilayah ini membutuhkan kerja sama lintas batas.

Menghadapi Masa Depan yang Tak Pasti

Penelitian dari Danau Tana ini adalah pengingat kuat bahwa air adalah kunci kehidupan. Tidak ada pangan tanpa air, dan tidak ada ketahanan pangan tanpa iklim yang stabil.

Namun, bumi kini sedang berubah dengan cepat. Kita tak bisa lagi bergantung pada pola musim lama yang selama ribuan tahun menjadi dasar pertanian manusia.

Para ilmuwan seperti Temesgen Gashaw Tarkegn memberi kita alat untuk memahami perubahan ini, tetapi keputusan untuk bertindak ada di tangan manusia. Dengan ilmu pengetahuan, kebijakan yang bijak, dan solidaritas antarbangsa, kita masih bisa memastikan bahwa Danau Tana dan dunia tetap memberi kehidupan, bukan kesengsaraan.

Baca juga artikel tentang: Peñico: Kota Perdagangan 3.500 Tahun Lalu yang Hancur oleh Perubahan Iklim

REFERENSI:

Tarkegn, Temesgen Gashaw dkk. 2025. Modeling impacts of climate change on blue and green water, and crop yield using SWAT+ in Lake Tana sub-basin (Ethiopia). Modeling Earth Systems and Environment 12 (1), 1-27.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top