Hafal Tapi Tak Paham: Krisis Pembelajaran Sains di Sekolah

Pernahkah kamu memikirkan, mengapa ada siswa yang bisa menghafal rumus panjang, namun saat berganti angka pada suatu soal, dia gagal mengerjakan? Atau, seorang siswa mampu menghafal urutan taksonomi makhluk hidup, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa klasifikasi itu penting.

Pernahkah kamu memikirkan, mengapa ada siswa yang bisa menghafal rumus panjang, namun saat berganti angka pada suatu soal, dia gagal mengerjakan? Atau, seorang siswa mampu menghafal urutan taksonomi makhluk hidup, tetapi tidak bisa menjelaskan mengapa klasifikasi itu penting.

Fenomena ini bukan lagi menjadi hal baru di dunia pendidikan Indonesia. Banyak sekolah, alih-alih menanamkan pemahaman, justru menekan siswa untuk mengejar nilai tinggi dengan cara menghafal materi tanpa benar-benar memahami konsep dasar di baliknya.
Inilah wajah pembelajaran sains yang sering kita temui: siswa hafal, tapi tak paham.

Menurut data PISA 2018 oleh OECD, pelajar Indonesia hanya mencapai skor rata-rata 396 untuk sains, jauh di bawah rata-rata negara OECD yaitu 489.

Bahkan pada PISA 2022, skor sains Indonesia hanya 383, dan hampir tidak ada siswa yang mampu mencapai level 5–6, yaitu level tertinggi yang menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah tingkat tinggi. Adapun data lengkap dan analisis mendalam dapat dilihat pada Catatan Negara Indonesia PISA 2022 oleh OECD.

Oleh karena itu, artikel ini akan mengupas krisis pembelajaran yang masih menjadi masalah utama dalam sistem pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pelajaran sains. Ini adalah sebuah ajakan sekaligus peringatan kepada para pengajar untuk memperbaiki pola dalam sistem pembelajaran.

Sekolah yang masih menggaungkan sistem hafalan

Di banyak ruang kelas, kegiatan pembelajaran masih didominasi oleh guru yang menerangkan, sementara siswa mencatat, lalu menghafalnya menjelang ujian.

Memang, metode ini cukup efektif untuk menghasilkan nilai tinggi di atas kertas. Namun, siswa akan mengalami krisis kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.

Sebagai contoh, seorang siswa bisa menyebutkan bagian-bagian mata dengan benar, namun ia tidak bisa menjelaskan bagaimana mata bisa melihat. Atau, dia bisa menghafal rumus hukum Newton, tetapi bingung saat harus menganalisis kejadian nyata yang berkaitan dengan hukum itu.

Dengan kata lain, siswa diajak mengingat definisi, menjawab soal pilihan ganda, dan mengejar nilai saat ujian. Padahal, esensi sains adalah observasi, eksplorasi, eksperimen, dan berpikir kritis.

Belajar itu seru, apalagi belajar Sains!

Anak-anak Indonesia bukan anak-anak yang memiliki tingkat kecerdasan rendah. Namun, mereka hanya tidak diberi kesempatan untuk belajar dengan benar! Kemampuan anak Indonesia untuk memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan Sains masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan anak-anak pada negara maju lainnya. Krisis ini menyoroti masalah pembelajaran dalam sistem pendidikan kita.

Sains itu bukan kumpulan rumus. Sains adalah cara berpikir. Sebaliknya, belajar sains idealnya akan membuat siswa penasaran, melakukan berbagai eksperimen, berdiskusi, memecahkan masalah, dan mengambil kesimpulan. Sayangnya, waktu belajar yang sempit, kurikulum yang padat, penilaian berbasis hasil, bukan proses, dan kebiasaan belajar “menghafal” bukan “memahami” yang telah mengakar menjadi hambatan besar saat ini. Krisis pembelajaran sains ini begitu nyata dan perlu diatasi dengan segera.

Solusinya?

Sains adalah sebuah proses problem solving secara sistematis. Anak-anak menemukan masalah, berdiskusi bersama untuk memecahkan masalah dan mengambil kesimpulan darinya. Sebagai solusinya, pendekatan yang efektif untuk dilakukan dengan menggunakan:

  • Discovery learning
  • Project-based learning
  • Contectual teaching, mengaitkan sains dengan fenomena sehari-hari
  • Literasi sains populer
  • Eksperimen

Selain itu, untuk mengatasi krisis ini, semua pihak perlu berperan didalamnya,

  • Guru: menyederhanakan materi dan mengutamakan pemahaman, bukan kuantitas materi yang disampaikan
  • Sekolah: memasilitasi pembelajaran berbasis eksperimen
  • Pemerintah: mendesain kurikulum dan asesmen yang mendorong critical thinking

Jika, kita terus membiarkan sistem pendidikan terjebak dalam pola hafalan, maka kita akan mencetak generasi pengingat, bukan pemecah masalah. Mari mulai dari diri kita, untuk mengembalikan nyawa sanis sebagai cara berpikir, bukan sekadar daftar isi buku pelajaran. Akhirnya, penting bagi kita menyadari bahwa krisis pembelajaran sains bukanlah tantangan yang tidak bisa diatasi.

Referensi:

  • Mintzes, J. J., Wandersee, J. H., & Novak, J. D. (Eds.). (2005). Teaching science for understanding: A human constructivist view. Academic Press.
  • Learn, H. P. (2000). Brain, mind, experience, and school. Committee on Developments in the Science of Learning, 14-15.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top