Generasi muda Malaysia menjalani kehidupan yang sangat dekat dengan teknologi digital, tetapi kedekatan itu tidak selalu sejalan dengan praktik budaya tradisional yang diwariskan turun temurun. Para peneliti mencoba memahami hubungan antara kesadaran budaya, pengaruh sosial, keluarga, serta media sosial dalam membentuk kebiasaan Generasi Z terhadap konsumsi kueh mueh tradisional.
Kueh mueh merupakan salah satu warisan kuliner penting di Malaysia. Makanan ini memiliki bentuk, warna, dan rasa yang beragam, serta sering hadir dalam berbagai acara keluarga dan perayaan. Kueh mueh bukan sekadar makanan ringan, melainkan simbol identitas budaya yang mencerminkan sejarah, tradisi, dan nilai sosial masyarakat. Setiap jenis kueh mueh memiliki cerita dan makna tersendiri yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Baca juga artikel tentang: Laut Cerdas, Bumi Berenergi: Revolusi Konversi Gelombang Menuju Energi Bersih
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan generasi muda yang tinggal di lingkungan urban dan memiliki akses tinggi terhadap teknologi digital. Para peneliti mengumpulkan data melalui kuesioner dan menganalisisnya menggunakan metode statistik untuk memahami hubungan antara berbagai faktor yang memengaruhi perilaku konsumsi makanan tradisional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran budaya tidak secara langsung mendorong Generasi Z untuk mengonsumsi kueh mueh dalam kehidupan sehari hari. Banyak anak muda memahami nilai penting makanan tradisional dan bahkan merasa bangga terhadapnya, tetapi pemahaman tersebut tidak selalu berubah menjadi kebiasaan nyata. Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara pengetahuan dan tindakan.
Pengaruh keluarga yang selama ini menjadi jalur utama pewarisan budaya juga mengalami perubahan. Pada masa lalu, keluarga berperan besar dalam mengenalkan makanan tradisional melalui kegiatan memasak bersama dan kebiasaan makan di rumah. Namun, perubahan gaya hidup membuat interaksi ini semakin berkurang. Banyak keluarga yang kini lebih memilih makanan praktis dibandingkan memasak kueh mueh yang memerlukan waktu dan keterampilan khusus.
Pengaruh sosial dari lingkungan sekitar juga tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perilaku konsumsi. Meskipun teman dan komunitas dapat memengaruhi pilihan makanan, dalam kasus ini pengaruh tersebut tidak cukup kuat untuk menjaga keberlanjutan konsumsi kueh mueh. Hal ini menunjukkan bahwa faktor sosial saja tidak mampu mempertahankan tradisi kuliner tanpa dukungan faktor lain.
Media sosial sering dianggap sebagai alat yang efektif untuk melestarikan budaya, tetapi penelitian ini menunjukkan hasil yang berbeda. Media sosial tidak memberikan pengaruh signifikan dalam memperkuat hubungan antara kesadaran budaya dan perilaku konsumsi kueh mueh. Generasi Z memang sering berinteraksi dengan konten budaya melalui platform digital, tetapi interaksi tersebut lebih bersifat simbolik daripada praktis.
Banyak anak muda yang melihat atau membagikan konten tentang kueh mueh, tetapi tidak secara aktif terlibat dalam proses pembuatan atau konsumsi rutin. Mereka mengenal dan mengapresiasi budaya secara visual, tetapi tidak selalu menjalankannya dalam kehidupan sehari hari. Hal ini menciptakan bentuk keterlibatan yang pasif.
Perubahan pola konsumsi juga dipengaruhi oleh globalisasi. Generasi muda kini memiliki akses luas terhadap berbagai jenis makanan dari seluruh dunia. Mereka sering tertarik pada makanan modern yang dianggap lebih praktis, menarik, dan sesuai dengan gaya hidup cepat. Dalam situasi ini, kueh mueh harus bersaing dengan berbagai pilihan makanan lain yang lebih mudah diakses.
Faktor kenyamanan menjadi salah satu alasan utama. Kueh mueh sering kali memerlukan proses pembuatan yang cukup rumit, sementara makanan modern dapat diperoleh dengan cepat. Generasi Z yang hidup dalam ritme cepat cenderung memilih makanan yang mudah dan efisien.
Meskipun demikian, minat terhadap kueh mueh sebenarnya belum sepenuhnya hilang. Banyak anak muda masih memiliki rasa nostalgia dan kebanggaan terhadap makanan tradisional. Mereka mengaitkan kueh mueh dengan kenangan masa kecil, keluarga, dan identitas budaya. Hal ini menunjukkan bahwa potensi pelestarian budaya masih ada, tetapi memerlukan pendekatan yang tepat.
Penelitian ini menekankan pentingnya strategi baru dalam menjaga keberlanjutan budaya kuliner. Edukasi saja tidak cukup untuk mengubah perilaku. Diperlukan pendekatan yang mampu menghubungkan nilai budaya dengan gaya hidup modern. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengembangkan kueh mueh dalam bentuk yang lebih praktis dan sesuai dengan kebutuhan generasi muda.
Pengalaman langsung juga dapat meningkatkan keterlibatan generasi muda. Kegiatan seperti workshop memasak, festival kuliner, atau program edukasi interaktif dapat memberikan pengalaman yang lebih bermakna. Dengan terlibat secara langsung, generasi muda dapat memahami nilai budaya secara lebih mendalam.
Kolaborasi antara berbagai pihak juga menjadi kunci penting. Pemerintah, pelaku industri, dan komunitas dapat bekerja sama untuk mempromosikan kueh mueh sebagai bagian dari identitas budaya yang relevan dengan zaman. Inovasi dalam kemasan, pemasaran, dan distribusi dapat membantu meningkatkan daya tarik makanan tradisional.
Media sosial tetap memiliki potensi besar jika digunakan dengan pendekatan yang lebih kreatif. Konten yang mendorong partisipasi aktif, seperti tantangan memasak atau berbagi pengalaman kuliner, dapat meningkatkan keterlibatan generasi muda. Dengan strategi yang tepat, media sosial dapat menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.
Penelitian ini memberikan gambaran bahwa pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada kesadaran, tetapi juga pada perilaku nyata. Tanpa upaya yang terintegrasi, budaya tradisional berisiko semakin terpinggirkan di tengah arus modernisasi.
Kueh mueh merupakan bagian penting dari identitas budaya yang perlu dijaga. Makanan ini tidak hanya menyimpan rasa, tetapi juga cerita dan nilai yang membentuk masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, generasi muda dapat tetap terhubung dengan warisan budaya tanpa harus meninggalkan gaya hidup modern mereka.
Keberlanjutan budaya kuliner bergantung pada kemampuan kita untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Sains sosial membantu kita memahami dinamika ini dan memberikan dasar untuk merancang strategi yang lebih efektif. Kueh mueh dapat tetap hidup dan berkembang jika kita mampu menghubungkan masa lalu dengan masa kini secara harmonis.
Generasi muda tidak kehilangan budaya mereka, tetapi mereka membutuhkan cara baru untuk merasakannya. Dengan inovasi, kolaborasi, dan pendekatan yang relevan, warisan kuliner seperti kueh mueh dapat terus menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di era digital.
Baca juga artikel tentang: Mesin Cahaya Tertua di Bumi: Bagaimana Cyanobacteria Mengonversi Cahaya Menjadi Energi
REFERENSI:
Anuar, Muhammad Aiman Saiful dkk. 2026. Navigating cultural continuity in the digital era through the interplay of awareness, social dynamics, and familial influence shaping Gen Z’s engagement with Malaysian kueh mueh heritage. Discover Food 6 (1), 71.

