Mengapa Waktu Terasa Lebih Lambat saat Berada Di Kerumunan?

Dalam sebuah penelitian interdisipliner di Cornell yang mengetes persepsi waktu di dalam suasana yang sangat mirip kehidupan nyata – melalui […]

Ilustrasi Kerumunan

Dalam sebuah penelitian interdisipliner di Cornell yang mengetes persepsi waktu di dalam suasana yang sangat mirip kehidupan nyata – melalui sebuah simulasi perjalanan kereta bawah tanah di kota New York – tim peneliti menemukan bahwa kerumunan membuat waktu terasa berjalan lebih lambat. Mari kita simak pembahasannya berikut.

.

Waktu Cenderung Lebih Lama Pada Jam Sibuk

How to make time seem like it's not speeding by | Popular Science

Ilustrasi Waktu pada Jam Tangan

Akibatnya, waktu perjalanan selama jam sibuk di transportasi umum mungkin terasa jauh lebih lama daripada perjalanan lain yang secara objektif memakan waktu yang sama. Penelitian ini menambah bukti bahwa konteks sosial dan perasaan subjektif dapat memutarbalikkan persepsi waktu kita, dan dapat memiliki implikasi praktis terhadap kemauan orang untuk menggunakan transportasi umum, terutama setelah pandemi.

“Ini merupakan cara baru dalam memandang kerumunan sosial, menunjukkan bahwa hal tersebut memengaruhi bagaimana kita mempersepsikan waktu,” kata Saeedeh Sadeghi, M.S. ’19, seorang mahasiswa doktoral di bidang psikologi. “Kerumunan menciptakan perasaan stres, dan itu membuat perjalanan terasa lebih lama.”

Sadeghi adalah penulis utama dari “Affective Experience in a Virtual Crowd Regulates Perceived Travel Time”, yang diterbitkan pada tanggal 3 November dalam jurnal Virtual Reality. Co-author dari riset ini adalah Ricardo Daziano, profesor asosiasi di bidang teknik sipil dan lingkungan di College of Engineering; So-Yeon Yoon, profesor asosiasi di Departemen Human Centered Design di College of Human Ecology (CHE); dan Adam K. Anderson, profesor di Departemen Psikologi dan di CHE.

Penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi emosi subjektif, detak jantung, dan kompleksitas situasi, termasuk jumlah hal yang memerlukan perhatian, sebagai faktor yang dapat mempengaruhi pengalaman waktu seseorang. Eksperimen tersebut biasanya dilakukan di lingkungan laboratorium dengan menggunakan tugas dan rangsangan sederhana, seperti bentuk atau gambar pada layar komputer, untuk durasi yang singkat.

.

Pengujian Persepsi Terhadap Waktu

blank

Persepsi Terhadap Waktu

Dalam aplikasi VR yang baru, tim dari Cornell menguji persepsi waktu dalam lingkungan imersif yang lebih realistis dan mengizinkan pengendalian kerumunan secara sistematis. Lebih dari 40 partisipan penelitian melakukan lima perjalanan kereta bawah tanah simulasi dengan durasi yang secara acak ditetapkan selama 60, 70, atau 80 detik, masing-masing dengan tingkat kerumunan yang berbeda.

Setelah memakai alat monitor detak jantung dan Goggle VR untuk “naik” ke dalam suasana kereta bawah tanah New York City yang dikembangkan oleh Yoon, peserta mendengar pengumuman untuk “berdiri jauh dari pintu yang akan ditutup” diikuti dengan bunyi bel saat pintu ditutup dan suara kereta bawah tanah yang mulai bergerak. Perjalanan berakhir dengan kereta yang berhenti dan bunyi bel lainnya.

Setiap tingkat kerumunan menambah satu orang per meter persegi, menghasilkan kerumunan yang berkisar dari 35 hingga 175 penumpang. Peserta studi dapat melihat sekeliling gerbong kereta dengan avatar animasi penumpang yang duduk dan berdiri yang berpindah posisi, melihat ponsel, atau membaca buku dan majalah. Setelah setiap perjalanan, partisipan penelitian menjawab pertanyaan tentang seberapa menyenangkan atau tidak menyenangkan pengalaman itu dengan skala dari 1 hingga 7, dan diminta untuk seakurat mungkin memperkirakan berapa lama perjalanan itu berlangsung.

Hasilnya: Perjalanan yang ramai dirasakan rata-rata sekitar 10% lebih lama dari perjalanan yang paling sedikit ramai. Distorsi waktu terkait dengan tingkat kesenangan atau ketidaknyamanan yang dirasakan, dengan perjalanan yang tidak menyenangkan terasa 20% lebih lama dari yang menyenangkan, yang penulis atributkan pada aktivasi sistem pertahanan emosional ketika orang merasa ruang pribadi mereka dilanggar.

“Anderson mengatakan, “Studi ini menyoroti bagaimana pengalaman sehari-hari kita dengan orang lain, dan emosi subjektif kita tentang mereka, secara dramatis mempengaruhi persepsi kita tentang waktu. Waktu lebih dari sekadar apa yang dikatakan jam; itu adalah bagaimana kita merasakannya atau menilainya sebagai sumber daya.”

Berdasarkan rata-rata waktu perjalanan transportasi umum di AS selama sedikit lebih dari 60 menit per hari, hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa jika setahun melakukan perjalanan yang padat akan menambahkan lebih dari 24 jam, atau tiga hari kerja penuh, “rasa” waktu untuk mencapai tujuan.

.

Pengaruh Kerumunan Terhadap Waktu

Surat Edaran jam kerja upaya kendalikan kerumunan di transportasi umum - ANTARA News

Kerumunan pada Transportasi Umum

Pengaruh kerumunan terhadap waktu tempuh yang dirasakan kemungkinan akan semakin kuat setelah imbauan terkait COVID-19 untuk menghindari kerumunan, menurut penelitian ini. Hal ini dapat menyebabkan lebih banyak orang memilih alternatif selain transportasi umum, yang berpotensi meningkatkan jejak karbon dalam perjalanan pulang pergi. Selain menemukan dasar ilmu pengetahuan tentang sifat persepsi waktu, para akademisi tersebut mengatakan penelitian mereka bisa membantu insinyur transportasi meningkatkan model penumpang dan desain kendaraan. Mengurangi pengalaman tidak nyaman dari kerumunan, mereka mengatakan, akan membuat perjalanan terasa lebih singkat.

Penelitian ini didukung oleh Cornell Center for Social Sciences, Center for Transportation, Environment and Community Health, dan National Science Foundation.

.

Kesimpulan

Gimana nih Warstekholic, ternyata studi membuktikan bahwa kita mungkin akan merasakan perjalanan yang kurang menyenangkan ketika berada dalam kerumunan, sehingga waktu yang kita rasakan berjalan lebih lambat daripada biasanya. Oleh karena itu, mungkin untuk di Indonesia yang mana orang masih jarang atau kurang berminat menggunakan trasnportasi umum yang ada, bisa jadi pertimbangan bagi pemerintah untuk menyempurnakan sarana dan prasarana yang ada di dalam trasnportasi umumnya. Agar penumpang yang menggunakan transportasi umum tersebut bisa nyaman karena mereka merasa tetap mempunyai privasi mereka sendiri walau menggunaakan transportasi umum.

.

Referensi

ScienceDaily, https://www.sciencedaily.com/releases/2022/11/221130114517.htm Diakses pada 21 Februari, 2023.

Saeedeh Sadeghi, Ricardo Daziano, So-Yeon Yoon, Adam K. Anderson. Affective experience in a virtual crowd regulates perceived travel time. Virtual Reality, 2022; DOI: 10.1007/s10055-022-00713-8

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *