Antara Roma dan Finlandia: Membedah Batas Tipis antara Nasionalisme dan Ekstremisme

Dalam beberapa tahun terakhir, politik Eropa mengalami perubahan besar. Di banyak negara, partai-partai sayap kanan mulai memperoleh dukungan yang semakin […]

Dalam beberapa tahun terakhir, politik Eropa mengalami perubahan besar. Di banyak negara, partai-partai sayap kanan mulai memperoleh dukungan yang semakin besar. Mereka biasanya mengusung isu nasionalisme, imigrasi, dan kedaulatan budaya, sering kali dengan nada yang tegas dan eksklusif. Namun, meskipun sering disebut dalam berita dan debat politik, tidak semua partai sayap kanan sama. Setiap negara memiliki variasinya sendiri, dan di sinilah muncul kebingungan: bagaimana cara mengklasifikasikan partai-partai ini secara akademik?

Salah satu contoh menarik datang dari Finlandia. Negara ini dikenal stabil, demokratis, dan sejahtera, tetapi di sana juga tumbuh sebuah kekuatan politik bernama The Finns Party, atau dalam bahasa Finlandia Perussuomalaiset. Partai ini telah memperoleh hampir seperlima suara dalam empat pemilihan umum terakhir, menjadikannya kekuatan politik utama. Namun anehnya, partai ini jarang dibahas dalam kajian akademik internasional tentang politik sayap kanan Eropa.

Peneliti politik David Arter berusaha mengubah itu. Ia ingin menempatkan The Finns Party di “peta akademik” politik Eropa agar bisa dibandingkan dengan partai-partai sejenis di negara lain. Melalui penelitiannya, Arter mencoba membuka jalan keluar dari apa yang ia sebut “hutan taksonomi politik” yaitu kerumitan istilah dan klasifikasi dalam dunia partai sayap kanan.

Baca juga artikel tentang: Antara Iritasi dan Racun: Sains Mengupas Efek Gas Air Mata Kedaluwarsa

Dua Wajah Sayap Kanan: Radikal dan Ekstrem

Untuk memahami di mana posisi The Finns Party, Arter memulai dengan membedakan dua jenis utama partai sayap kanan di Eropa: radikal kanan dan ekstrem kanan.

  • Partai radikal kanan umumnya masih beroperasi dalam batas demokrasi. Mereka menolak globalisasi, menentang imigrasi massal, dan mengusung nilai-nilai tradisional atau nasionalisme, tetapi tetap berpartisipasi dalam sistem politik yang sah.
  • Partai ekstrem kanan, sebaliknya, sering menunjukkan sikap yang lebih keras. Mereka cenderung anti-demokrasi, bisa menyebarkan kebencian terhadap kelompok tertentu, dan kadang menggunakan retorika atau simbolisme yang dekat dengan ideologi fasis.

Perbedaan ini penting karena tidak semua partai dengan pandangan konservatif atau nasionalis dapat disamakan dengan ekstremisme. Namun dalam praktiknya, batas antara keduanya sering kabur.

The Finns Party, misalnya, memiliki ciri khas yang membuatnya sulit dikategorikan. Secara umum, ia bersaing dalam pemilu dan menghormati sistem demokrasi, tapi di dalam tubuh partai ini terdapat kelompok daring yang lebih ekstrem dan berpengaruh besar, terutama dalam wacana publik dan media sosial.

Politik yang Dipengaruhi Dunia Maya

Salah satu temuan menarik dari penelitian Arter adalah bagaimana media sosial mengubah dinamika kekuasaan di dalam partai politik.

Jika dulu arah partai ditentukan oleh pemimpin dan struktur resmi, kini opini publik di dunia maya dapat memberikan tekanan besar terhadap kebijakan dan arah ideologinya. Dalam kasus The Finns Party, kelompok ekstrem kanan yang aktif secara online ternyata berhasil mendominasi wacana dan memengaruhi arah partai secara keseluruhan.

Dengan kata lain, mereka yang paling vokal di internet bisa mendapatkan pengaruh politik yang tidak seimbang dibandingkan jumlah sebenarnya di dunia nyata. Fenomena ini menggambarkan perubahan penting dalam politik kontemporer: kekuatan digital mampu menggeser keseimbangan antara moderasi dan ekstremisme di dalam organisasi politik.

Mengurai Kebingungan Klasifikasi

Melalui penelitian ini, Arter menunjukkan bahwa memahami partai-partai sayap kanan di Eropa tidak bisa dilakukan dengan kacamata tunggal. Setiap partai tumbuh dalam konteks sosial, ekonomi, dan budaya yang berbeda.

Finlandia, misalnya, memiliki sejarah politik yang tidak sama dengan Prancis, Italia, atau Hungaria. Nasionalisme di sana lebih berkaitan dengan identitas kultural dan kebijakan kesejahteraan sosial, bukan xenofobia atau ide supremasi. Namun pengaruh globalisasi dan media daring membuat batas-batas ideologi semakin kabur, menciptakan campuran baru antara konservatisme nasional dan populisme digital.

Dalam konteks inilah, Arter berargumen bahwa penelitian akademik perlu lebih hati-hati dalam memberi label seperti “radikal kanan” atau “ekstrem kanan”. Klasifikasi yang terlalu kaku justru bisa menyesatkan dan gagal menangkap dinamika sosial-politik yang sesungguhnya terjadi di masyarakat.

Mengapa Ini Penting

Mengapa penelitian seperti ini relevan bagi masyarakat umum? Karena cara kita memahami dan mengklasifikasikan partai politik memengaruhi cara kita menanggapi mereka.

Jika sebuah partai yang sebenarnya moderat dicap ekstrem, hal itu bisa menimbulkan polarisasi yang tidak perlu. Sebaliknya, jika partai yang memiliki unsur ekstrem justru dianggap biasa saja, maka risiko penyebaran ide intoleran akan meningkat tanpa disadari.

Dengan memahami konteks dan kompleksitas politik seperti yang dilakukan Arter, publik dapat melihat lebih jelas bagaimana ideologi terbentuk, berkembang, dan memengaruhi kebijakan suatu negara.

Selain itu, penelitian ini juga memperingatkan tentang peran besar media sosial dalam membentuk wajah politik masa kini. Di era digital, batas antara opini individu dan pengaruh politik menjadi sangat tipis. Apa yang dimulai sebagai percakapan di forum daring dapat berkembang menjadi kekuatan politik yang nyata.

David Arter melalui studinya tentang The Finns Party tidak hanya berusaha memahami satu partai politik, tetapi juga menawarkan cara berpikir baru untuk memetakan “hutan” ideologi sayap kanan Eropa yang rumit. Ia menunjukkan bahwa politik modern tidak bisa dilihat hitam-putih: di balik partai yang terlihat moderat bisa tersimpan arus ekstrem, dan sebaliknya.

Penelitian ini mengajak kita semua untuk lebih kritis dalam membaca peta politik dunia, terutama di tengah era digital yang membuat batas antara kenyataan dan persepsi semakin kabur. Dengan memahami akar sosial, konteks budaya, dan dinamika komunikasi digital, kita bisa melihat bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, melainkan juga pertarungan ide tentang siapa yang berhak menentukan “siapa yang termasuk” dan “siapa yang tidak” dalam sebuah bangsa.

Baca juga artikel tentang: Dari Pikiran ke Struktur: CBT dan Bukti Baru Neuroplastisitas

REFERENSI:

Arter, David. 2025. ‘When in Rome do as the Romans do’ or ‘Rome is for Romans only’? How the search for a classification of the Finns Party could clear a way through the taxonomical jungle of the European far-right. Party Politics 31 (3), 514-524.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top