Nebula planeter selalu menjadi salah satu objek paling memikat di langit malam. Ketika sebuah bintang mirip Matahari kehabisan bahan bakarnya, ia melepas lapisan terluarnya ke ruang angkasa, menciptakan gelembung bercahaya yang indah dan sering kali memiliki bentuk yang sangat rumit. Dari bentuk menyerupai kupu kupu hingga struktur ganda yang saling bertautan, nebula planeter menyimpan teka teki besar tentang bagaimana bentuk bentuk menakjubkan itu terbentuk.
Sebuah studi terbaru yang menggunakan teleskop radio ALMA di Gurun Atacama, Chile, memberikan jawaban baru yang lebih jelas. Tim peneliti mengamati lima nebula planeter bipolar dan multipolar menggunakan ALMA yang memiliki kemampuan melihat detail gas molekul dengan resolusi sangat tinggi. Hasilnya membuka wawasan baru tentang bagaimana gas dan angin bintang membentuk struktur luar biasa pada fase akhir kehidupan sebuah bintang.
Baca juga artikel tentang: Tameng Karbon, Data Emas: Misi Parker Membidik Jantung Badai
Penelitian ini berfokus pada lima nebula planeter yang dikenal sebagai K3 45, K3 58, M1 7, M2 48, dan M3 28. Kelima nebula ini dipilih karena bentuknya yang kompleks dan adanya aliran gas bipolar yang tampak jelas. Para peneliti ingin mengetahui bagaimana gas di dalam nebula itu bergerak dan bagaimana angin bintang ikut memainkan peran dalam membentuk struktur yang terlihat.
ALMA memiliki kemampuan unik untuk mendeteksi keberadaan gas karbon monoksida atau CO. Gas ini adalah salah satu penanda terpenting untuk melacak pergerakan massa dalam nebula. Dengan memantau sinyal CO pada frekuensi tinggi, para ilmuwan dapat mengetahui bagaimana gas tersebut bergerak, seberapa cepat alirannya, dan dari mana asalnya. Ini penting karena sebagian besar struktur nebula planeter tidak hanya dibentuk oleh cahaya, tetapi oleh dinamika gas yang dipaksa bergerak oleh angin bintang selama fase akhir evolusi bintang induk.

Dalam hasil pengamatannya, para ilmuwan menemukan bahwa gas molekul CO terpusat terutama pada bagian tengah nebula, bukan pada aliran gas bipolar yang biasanya terlihat dalam citra optik. Temuan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa gas molekul yang lebih berat dan lebih dingin tidak ikut terseret keluar sejauh gas yang lebih panas di bagian luar. Dengan kata lain, inti nebula memegang banyak rahasia tentang sejarah angin bintang yang terjadi sebelumnya.
Para peneliti juga menemukan bahwa gas CO berasal dari angin bintang yang dihasilkan saat bintang induk berada pada fase raksasa merah asimtotik. Pada fase ini, bintang melepaskan banyak sekali massa ke ruang angkasa, namun dengan kecepatan yang relatif lambat. Kecepatan angin lambat ini hanya berkisar sekitar dua belas hingga empat belas kilometer per detik. Namun yang mengejutkan adalah ditemukannya komponen gas CO yang bergerak jauh lebih cepat, mencapai enam belas hingga dua puluh tiga kilometer per detik. Komponen cepat ini tampaknya merupakan gas yang telah terdorong oleh aliran keluar bipolar yang lebih muda dan lebih kuat.
Dengan mempelajari arah aliran gas CO, para ilmuwan juga dapat mengetahui orientasi nebula tersebut terhadap bidang langit. Misalnya, pada nebula K3 45, K3 58, dan M1 7, aliran gas bipolar tampak miring sekitar enam puluh lima derajat. Sementara lengan aliran nebula tampak mengarah ke barat laut atau timur laut tergantung objeknya. Orientasi ini membantu para ilmuwan mengetahui bagaimana aliran gas terbentuk dan seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk menciptakannya.
Menariknya, kecepatan aliran gas bipolar ini sangat bervariasi, tetapi studi ini menemukan bahwa kecepatannya berkisar antara delapan belas hingga tiga puluh satu kilometer per detik. Kecepatan ini jauh lebih tinggi dibandingkan angin bintang yang memproduksi gas molekul pada awalnya, menunjukkan bahwa terdapat mekanisme tambahan yang mendorong gas tersebut, kemungkinan besar berupa semburan atau jet yang diproduksi oleh bintang pusat atau oleh pasangan bintang jika nebula tersebut memiliki bintang ganda.
Selain itu, studi ini juga membandingkan hasil pengamatan CO dari ALMA dengan pengukuran sebelumnya. Secara umum, data terbaru ini konsisten dengan pengukuran lama, namun terdapat pengecualian pada nebula M2 48. Pada objek ini, kolom gas CO ditemukan jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya, meningkat hingga nilai total sekitar sembilan koma tiga kali sepuluh pangkat enam belas. Hal ini menunjukkan bahwa nebula tersebut mungkin mengalami fase pelepasan massa yang lebih kuat atau memiliki proses unik yang belum dipahami sepenuhnya.
Salah satu implikasi paling penting dari studi ini adalah pemahaman baru tentang bagaimana nebula planeter mendapatkan bentuknya. Selama ini, para ilmuwan menduga bahwa bentuk aneh nebula planeter terbentuk akibat angin bintang yang berubah perubahan selama fase kematian bintang. Namun penelitian baru ini memperlihatkan bahwa interaksi antara angin lambat dari fase awal dan aliran cepat dari fase akhir menciptakan struktur berlapis yang membentuk pola bipolar atau multipolar.
Gas molekul yang tetap berada di pusat nebula memberi petunjuk tentang kondisi lingkungan di sekitar bintang induknya. Sementara itu, aliran gas cepat di bagian luar memberikan jejak tentang peristiwa yang terjadi kemudian. Dengan memahami keduanya, para ilmuwan bisa merekonstruksi sejarah pembentukan nebula, layaknya membaca arsip kehidupan sebuah bintang.
Penelitian ini juga menunjukkan betapa pentingnya ALMA dalam memahami kehidupan bintang. Sebagai salah satu teleskop radio paling sensitif di dunia, ALMA mampu melihat detail yang tidak bisa ditangkap oleh teleskop optik. Dengan melihat gas molekul, bukan cahaya nebula saja, para ilmuwan dapat memahami proses fisika yang bekerja di balik cahaya indah tersebut.
Hasil penelitian ini memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana bintang seperti Matahari akan mengakhiri hidupnya beberapa miliar tahun dari sekarang. Nebula planeter bukan sekadar karya seni kosmik, tetapi juga catatan sejarah tentang perubahan angin bintang, pelepasan massa, dan interaksi gas di sekitarnya. Setiap pola dan setiap aliran gas menyimpan cerita tentang evolusi bintang yang sangat kompleks.
Melalui pengamatan mendalam terhadap lima nebula planeter ini, para ilmuwan kini memiliki gambaran yang lebih jelas tentang bagaimana bentuk bentuk luar biasa tersebut lahir. Dengan alat seperti ALMA, kita semakin dekat memahami bagaimana bintang mati meninggalkan jejak yang begitu indah di angkasa. Nebula planeter mungkin menjadi tanda berakhirnya kehidupan sebuah bintang, tetapi bagi ilmu pengetahuan, mereka adalah awal dari pemahaman yang lebih dalam mengenai alam semesta.
Baca juga artikel tentang: Astronom Temukan Lubang Hitam Raksasa Di Cosmic Horseshoe
REFERENSI:
Schmidt, DR dkk. 2025. ALMA Observations of CO in Five Planetary Nebulae: Insights into Nebular Shaping. The Astrophysical Journal 992 (1), 98.

