Selama puluhan tahun, ilmuwan tahu Matahari terus-menerus melepaskan angin Matahari, aliran partikel bermuatan listrik (terutama proton dan elektron) yang ditiupkan ke seluruh Tata Surya. Dampaknya terasa sampai ke Bumi: ia bisa menimbulkan aurora yang cantik, tetapi juga dapat mengganggu satelit, komunikasi radio, GPS, bahkan jaringan listrik.
Supaya bisa meramalkan efek-efek ini, kita perlu tahu bagaimana angin Matahari terbentuk di sumbernya. Di sinilah foto terdekat dari wahana Parker Solar Probe jadi sangat penting: Parker memotret langsung area asal angin di korona (atmosfer luar Matahari), bukan hanya melihat “jejaknya” setelah berubah jauh ketika sampai di sekitar Bumi.
Korona & Angin Matahari, Versi Singkat dan Jelas
- Korona adalah selimut terluar Matahari yang terdiri dari plasma, gas yang begitu panas hingga atom-atomnya terurai menjadi partikel bermuatan. Korona ini sangat tipis tetapi suhunya ekstrem (jauh lebih panas daripada permukaan Matahari/fotosfer). Mengapa korona bisa lebih panas dari permukaan? Itulah “teka-teki pemanasan korona”, salah satu pertanyaan besar dalam fisika Matahari.
- Angin Matahari ialah arus partikel bermuatan yang lolos dari korona dan melesat ke ruang angkasa. Kecepatannya bisa lebih dari 1,6 juta km/jam. Kadang-kadang korona juga “meledakkan” gumpalan besar plasma dan medan magnet yang disebut CME (coronal mass ejection). Jika gumpalan ini mengarah ke Bumi, ia dapat memicu badai geomagnetik, peristiwa yang mengganggu teknologi sekaligus memunculkan aurora kuat.
Foto Parker menangkap struktur halus di korona, seperti gelombang, serat, dan aliran plasma tempat angin Matahari mulai terbentuk.
Bagaimana Parker Bisa Sedekat Itu Tanpa “Gosong”?
- Parker Solar Probe melintas hingga 6,1 juta km dari permukaan Matahari sangat dekat dalam skala Tata Surya.
- Wahana ini dilindungi perisai panas komposit karbon (disebut Thermal Protection System) yang selalu diarahkan ke Matahari. Perisai ini menahan panas luar yang bisa melampaui 1.000°C, sementara bagian dalam wahana tetap sekitar suhu ruang sehingga instrumen tetap aman bekerja.
- Kamera Parker tidak diarahkan tepat ke Matahari. Untuk mencegah sensor “terpanggang” oleh cahaya yang terlalu kuat, Parker memotret ke samping. Sudut pandang ini justru ideal untuk menangkap korona dan aliran angin Matahari bagian yang ingin kita pelajari.
Intinya, berkat kombinasi rekayasa termal, perisai panas, dan cara pandang kamera yang tepat, Parker bisa “mendekati” Matahari dan merekam asal-usul angin Matahari tanpa merusak alat-alatnya.
Baca juga artikel tentang: NASA Meluncurkan Wahana Antariksa Europa Clipper ke Satelit Jupiter
Kamera & Sensor: “Melihat” dan “Merasakan” Sekaligus
Instrumen utama untuk memotret korona bernama WISPR (Wide-field Imager for Solar Probe). Gampangnya, WISPR merekam cahaya yang dipantulkan/dihamburkan partikel di korona. Dari pantulan samar ini, pola angin Matahari muncul seperti asap tipis yang mengalir.
Yang dicari bukan cuma gambar cantik. Pola visual, seberapa terang-redup, arah aliran, dan perubahannya seiring waktu dikaitkan dengan besaran fisika: sepadat apa partikel (kerapatan), seberapa “berombak” alirannya (turbulensi), dan seberapa cepat partikel dipercepat menjauh dari Matahari.
Bersamaan itu, instrumen lain di Parker menyentuh datanya langsung: menghitung partikel yang lewat, mengukur medan listrik dan medan magnet, serta gelombang plasma (riak energi di gas bermuatan). Gabungan “melihat + merasakan” ini membuat data Parker sangat kuat, ibarat menonton badai sekaligus mengukur anginnya, suhunya, dan tekanannya pada waktu yang sama.
Kenapa Harus Sedekat Itu?
Banyak proses kunci terjadi sangat dekat ke Matahari dan dalam skala mikro (dunia kecilnya fisika plasma). Jika kita hanya mengukur dari orbit Bumi, sinyal-sinyal halus itu sudah bercampur dan berubah sepanjang perjalanan.
Dengan “menyentuh” korona, Parker mencoba menjawab tiga teka-teki besar:
- Pemanasan korona: kenapa korona bisa jauh lebih panas daripada permukaan Matahari?
- Percepatan partikel: bagaimana partikel bisa melaju sangat cepat hingga membentuk angin Matahari?
- Asal angin Matahari lambat: dari wilayah mana ia keluar dan mengapa sifatnya lebih berubah-ubah?
Jawaban tiga hal ini adalah pondasi untuk prakiraan cuaca antariksa yang lebih tepat.
Orbit Ekstrem & Rekor Kecepatan
Agar makin dekat ke Matahari di setiap lintasan (perihelion), Parker memakai “ketapel gravitasi” dari Venus, manuver yang meminjam tarikan gravitasi planet untuk mengubah jalur dan kecepatannya. Konsekuensinya, Parker memegang rekor sebagai benda buatan manusia tercepat, melaju ratusan ribu km/jam ketika menyapu dekat Matahari. Setiap perihelion, ia memotret lagi, mengukur lagi, dan menambahkan potongan puzzle baru tentang perilaku Matahari dalam kondisi berbeda.
Manfaat Nyata untuk Kita
- Peringatan dini badai Matahari. Dengan memahami pola sumber angin dan letupan korona, operator satelit bisa mengaktifkan mode aman sebelum badai menghantam.
- Menjaga sistem penting tetap andal. Jaringan listrik, navigasi pesawat, komunikasi laut/udara, hingga internet satelit sensitif terhadap gangguan geomagnetik, prediksi yang baik = risiko lebih kecil.
- Keselamatan awak antariksa. Misi ke Bulan/Mars butuh ramalan radiasi yang presisi supaya jadwal keluar wahana (EVA) bisa diatur pada waktu yang aman.
Apa yang Terlihat di Foto WISPR?
Di gambar WISPR, korona tampak sebagai lembaran tipis dan serat melengkung. Itu sebenarnya garis-garis medan magnet yang memandu aliran plasma. Dengan melacak perubahan kecerlangan dan bentuk, ilmuwan dapat membaca gelombang, turbulensi, dan pergeseran massa, proses yang membantu mempercepat partikel keluar dari Matahari.
Tantangan Ilmiah yang Masih PR
- Menghubungkan skala kecil ke skala besar. Bagaimana gelombang dan turbulensi mikro bersatu membentuk angin Matahari yang mengisi seluruh Tata Surya?
- Memetakan sumber angin lambat. Lebih dominan dari tepi lubang koronal, dari helmet streamers, atau dari magnetic reconnection (sambung-putusnya medan magnet)?
- Menyatukan semua observasi. Data “jarak dekat” Parker perlu dikawinkan dengan teleskop jarak jauh (di darat/angkasa) untuk melahirkan model cuaca antariksa generasi baru.
Intinya
Parker Solar Probe bukan sekadar “mendekat”. Ia mengubah cara kita memahami bintang yang menghidupi Bumi sekaligus menciptakan badai antariksa. Foto korona dari jarak 6,1 juta km ini adalah tonggak: pertama kalinya manusia melihat dan mengukur proses kelahiran angin Matahari di dalam atmosfer Matahari sendiri.
Semakin Parker mendekat di lintasan-lintasan berikutnya, semakin tajam pula “mata” kita membaca cuaca antariksa, membuat teknologi di Bumi lebih tangguh, dan membuka jalan misi manusia yang melangkah lebih jauh.
Baca juga artikel tentang: Dampak Misi DART NASA Mengubah Bentuk dan Orbit Bulan Asteroid secara Permanen
REFERENSI:
Carpineti, Alfredo. 2025. NASA Releases Closest Ever Images Of The Sun, Snapped As Probe Travels Through Its Atmosphere. IFL Science: https://www.iflscience.com/nasa-releases-closest-ever-image-of-the-sun-snapped-as-probe-travels-through-its-atmosphere-80349 diakses pada tanggal 11 Agustus 2025.
Huang, Jia dkk. 2025. The Temperature Anisotropy and Helium Abundance Features of Alfvénic Slow Solar Wind Observed by Parker Solar Probe, Helios, and Wind Missions. The Astrophysical Journal Letters 986 (2), L28.
Pulupa, Marc dkk. 2025. Highly polarized type III storm observed with Parker Solar Probe. The Astrophysical Journal Letters 987 (2), L34.

