Ketika Kecerdasan Buatan Salah Mengenal: Kisah Kontroversi Ilmuwan yang Dituduh sebagai Pembunuh

Alexander Tsvetkov yang merupakan seorang ahli biologi dari Institut Biologi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, telah dihukum penjara selama 10 bulan karena terlibat dalam kasus pembunuhan yang melibatkan sistem kecerdasan buatan.

blank

Seorang ilmuwan adalah individu yang secara profesional terlibat dalam metode ilmiah untuk memahami alam semesta atau bidang spesifik tertentu, seperti fisika, biologi, kimia, atau ilmu komputer. Mereka menggunakan observasi, penelitian, pengujian hipotesis, dan analisis data untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang fenomena yang ada di dunia ini.

Ilmuwan mencari pengetahuan baru, menganalisis masalah, dan menyajikan temuan mereka melalui publikasi ilmiah. Mereka sering bekerja di laboratorium, lapangan, atau bahkan di lingkungan kantor atau organisasi. Kehadiran ilmuwan sangat beragam, mulai dari astronomi hingga psikologi, mencerminkan keberagaman pengetahuan manusia tentang dunia dan upaya kolaboratif untuk memajukan ilmu pengetahuan.

Keahlian ilmiah mereka mendukung kemajuan ilmiah, teknologis, dan bahkan kemasyarakatan. Ilmuwan berusaha untuk memecahkan masalah kompleks, menggali misteri alam semesta, dan mengidentifikasi pola atau prinsip yang melandasi fenomena alam atau industri tertentu. Melalui metode penelitian yang terarah dan teruji, ilmuwan berperan penting dalam memperluas pengetahuan manusia dan mengatasi tantangan global yang kompleks.

Lalu apakah ada kontorversi ilmuwan yang pernah dituduh sebagai pembunuh?

Dikutip dari detik.com, Alexander Tsvetkov yang merupakan seorang ahli biologi dari Institut Biologi Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, telah dihukum penjara selama 10 bulan karena terlibat dalam kasus pembunuhan yang melibatkan sistem kecerdasan buatan. Tsvetkov ditangkap setelah kunjungan bisnisnya ke Krasnoyarsk pada bulan Februari 2023. Sistem kecerdasan buatan secara kontroversial mengidentifikasinya sebagai pelaku serangkaian pembunuhan yang terjadi lebih dari dua puluh tahun yang lalu, khususnya insiden di Moskow pada bulan Agustus 2002, yang menewaskan setidaknya dua orang.

Bukti utama dalam kasus ini adalah kesamaan sebesar 55% antara wajah Tsvetkov dan gambar sketsa yang dibuat oleh seorang saksi puluhan tahun yang lalu. Meskipun banyak ilmuwan memberikan bukti alibi yang mengabaikan keterlibatan Tsvetkov, pihak yang memiliki otoritas sepertinya mengabaikannya. Ini menyebabkan Tsvetkov dijatuhi hukuman 10 bulan penjara, meskipun keluarganya berupaya keras untuk membuktikan keberadaan alibi yang kuat.

Individu yang mengakui sebagai kaki tangan Tsvetkov memberikan kesaksian yang membingungkan. Klaim bahwa Tsvetkov pernah menjadi tunawisma, mengonsumsi alkohol, dan merokok setengah bungkus rokok sehari disanggah oleh fakta bahwa ilmuwan tersebut bukan tunawisma, tidak mengonsumsi alkohol, dan tidak pernah merokok karena masalah kesehatan.

Meskipun kaki tangan mengklaim mengenali Tsvetkov dengan tato cincin di jari dan pola Celtic di tangan, keluarga ilmuwan bersikeras bahwa Tsvetkov tidak pernah memiliki tato tersebut. Kontroversi seputar kasus ini mencapai puncaknya ketika kampanye pembebasan untuk Tsvetkov mendapat dukungan luas dan berspekulasi tentang kemungkinan intervensi dari Vladimir Putin.

blank

Akhirnya, pada awal Desember 2023, setelah berbulan-bulan kontroversi, Tsvetkov dibebaskan. Meskipun pembebasannya, dakwaan resmi terhadapnya tetap ada tanpa pencabutan formal.

Kasus Alexander Tsvetkov telah menjadi berita utama di Rusia selama berbulan-bulan, dan setelah kampanye yang meminta pembebasannya, serta rumor intervensi Vladimir Putin sendiri. Putin diduga berkomentar bahwa “kecerdasan buatan adalah topik yang kompleks, dan jika ada kegagalan di bidang ini, mereka perlu dianalisis dan kesimpulan yang tepat diambil”.

REFERENSI:

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *