Seberapa Besar Paparan Radiasi Dari Reaktor Daya Eksperimental?

Bagikan Artikel ini di:

Sebagaimana telah diketahui, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) berencana untuk membangun Reaktor Daya Eksperimental (RDE) di kawasan Puspiptek Serpong. Ide ini muncul mengingat sulitnya untuk langsung membangun PLTN skala komersial di Indonesia. Sementara, tujuan utama dari program RDE adalah untuk mengembangkan kapabilitas nasional sebagai technology provider reaktor nuklir. Sehingga, alih-alih hanya sebagai pengguna, Indonesia juga bisa menjadi desainer, konstruktor, hingga operator sebuah PLTN [1].

Tentu saja program RDE hanya langkah awal, mengingat PLTN ini bersifat non komersial. Nantinya, RDE akan di-scale up ke daya yang lebih tinggi untuk keperluan komersial.

Gambar 1. Perencanaan Kawasan RDE

Rencana ini kedengaran bagus. Tapi mengapa dibangun di Puspiptek? Bukankah di sana pusat penelitian? Kan banyak orangnya? Selamat tidak nih? Nanti kena radiasinya bagaimana?

Baca juga: Kecelakaan Chernobyl Adalah Bukti Energi Nuklir Itu Selamat

Kalau seandainya ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu, mempertanyakan nasib penghuni Puspiptek dan penduduk Serpong bahkan Tangerang Selatan, maka BATAN sudah punya jawabannya. Riset yang dilakukan oleh para Peneliti di Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) BATAN ini berfokus pada pelepasan radioaktivitas dan dosis radiasi di sekitar kawasan RDE dan Kawasan Nuklir Serpong (KNS) mengasumsikan RDE telah dibangun dan beroperasi.

Perlu diketahui terlebih dahulu bahwa RDE mengadopsi teknologi high temperature gas-cooled reactor (HTGR). Teknologi ini terkategori reaktor nuklir Generasi IV (GenIV), yang merupakan teknologi reaktor maju dengan berbagai keunggulan dibandingkan reaktor konvensional saat ini. HTGR menggunakan moderator grafit dan pendingin helium, sehingga memiliki densitas daya rendah. Bahan bakar HTGR merupakan pebble bed, dimana bola grafit diisi oleh ribuan partikel bahan bakar TRISO. Bentuk bahan bakar pebble bed menjamin retensi produk fisi maksimal. Sehingga, pelepasan material radioaktif ke lingkungan dapat diminimalisir [2-3].

Gambar 2. Struktur Bahan Bakar Pebble Bed

Baca juga: Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir

Paparan radiasi lingkungan yang salah satu kontributornya adalah pelepasan material radioaktif merupakan pembahasan dari penelitian pertama, yang dilakukan oleh Pande Made Udiyani dkk [4]. Penelitian ini sebenarnya tidak hanya membahas tentang RDE, tetapi juga pelepasan dari Reaktor Serba Guna-G.A. Siwabessy, reaktor riset yang telah lama beroperasi di Kawasan Nuklir Serpong (KNS). Kalkulasi dosis radiasi yang diterima penduduk sekitar KNS (termasuk daerah Serpong dan Gunung Sindur) dari pelepasan sourceterm RSG-GAS dan RDE dibahas di sini.

Berdasarkan kalkulasi tersebut, diperoleh bahwa pelepasan radiasi dari RSG-GAS memberikan dosis radiasi yang diterima publik sebesar 9.31×10-4 mSv/tahun. Besar? Tentu saja tidak. Nilai Batas Dosis (NBD) yang ditetapkan Bapeten untuk dosis yang diterima oleh masyarakat sebesar 1 mSv/tahun. Artinya, dosis radiasi yang dilepaskan RSG-GAS tidak sampai seperseribunya [4]!

Tapi itu, kan, RSG-GAS. Bagaimana dengan RDE? Ternyata lebih rendah lagi. Dosis radiasi yang diterima publik dari RDE paling tinggi hanya 4.17×10-4 mSv/tahun, kurang dari setengah RSG-GAS. Hal ini bisa dipahami, mengingat daya termal RDE hanya sepertiga RSG-GAS, yakni 10 MW [4]. Jika ditotal, dosis tertinggi yang mungkin diterima oleh penduduk setempat adalah 6.16×10-3 mSv/tahun. Masih jauh lebih rendah daripada NBD yang ditetapkan Bapeten.

Tabel 1. Dosis individual total dari pelepasan radioaktif RDE

Artinya, paparan radiasi ke lingkungan akibat lepasan radioaktif bisa dikatakan minim dan tidak penting untuk ditakuti.

Baca juga: Seberapa Besar Radiasi Yang Dilepaskan PLTN Ke Lingkungan?

Bagaimana dengan pekerja di kawasan Puspiptek? Bukankah ketika beroperasi, RDE akan memancarkan radiasi gamma? Nah, penelitian dari Amir Hamzah dkk berikut ini menjawabnya [5].

Cara termudah untuk menentukan apakah paparan radiasi dari reaktor selamat atau tidak untuk pekerja Puspiptek adalah dengan menghitung paparan radiasi pada pekerja di dalam kawasan RDE itu sendiri. Karena merekalah yang paling dekat dengan reaktor. Pertanyaannya, berapa dosis radiasi yang mereka terima?

Hasil kalkulasi tersebut ditampilkan pada grafik berikut.

Gambar 3. Distribusi dosis radiasi di teras reaktor, perisai biologis, dan area kerja RDE

Tampak bahwa di tengah teras reaktor (sumbu x = 0) dosis radiasi sangat tinggi melebihi 109 µSv/jam. Artinya, siapapun yang terkena paparan radiasi sebesar itu akan mati secara instan atau langsung. Namun, ketika melewati perisai biologis yang terbuat dari beton standar, dosis radiasi turun sangat drastis sehingga dosis radiasi yang diterima pekerja tepat di permukaan luar perisai biologis hanya 8 µSv/jam. Angka ini lebih rendah daripada NBD yang ditentukan oleh Bapeten untuk pekerja radiasi, yakni 10 µSv/jam. Pada jarak 7 m dari permukaan luar perisai biologis, dosisnya turun hingga kira-kira 1 µSv/jam. Lebih rendah lagi [5].

Dengan begitu rendahnya dosis radiasi di sekitar perisai biologis reaktor, bisa dikatakan tidak ada radiasi gamma dari reaktor yang sampai ke kawasan Puspiptek. Sehingga tidak akan ada potensi bahaya yang disebabkan oleh paparan radiasi dari operasi normal RDE.

Menilik dari dua penelitian ini, maka jelas bahwa kondisi operasional RDE tidak memberikan dampak kesehatan apa-apa pada masyarakat. Apalagi, memang tidak ada dampak radiasi yang bisa dideteksi pada dosis radiasi dibawah 100 mSv dalam waktu singkat [6-8]. Mengingat NBD yang ditetapkan Bapeten hanya 1 mSv/tahun untuk masyarakat, dan dosis tertinggi yang diterima masyarakat jauh lebih rendah dari itu, tidak ada kekhawatiran yang perlu dipikirkan oleh pekerja di kawasan Puspiptek apalagi penduduk Serpong.

Referensi:

  1. Topan Setiadipura et al. “Cooling passive safety features of Reaktor Daya Eksperimental,” AIP Conference Proceedings 1984, 020034 (2018).
  2. Andika Putra Dwijayanto dan Muhammad Subekti. “Preliminary Study of Temperature Homogenisation in Experimental Power Reactor Hot Gas Chamber.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022019 (2019).
  3. Ihda Husnayani dan Pande Made Udiyani. “Radionuclide Characteristics of RDE Spent Fuels.” Jurnal Teknologi Reaktor Nuklir, Vol. 20, No. 2, pp. 69-76 (2018).
  4. Pande Made Udiyani et al. “Atmospheric Dispersion Analysis for Expected Radiation Dose due to Normal Operation of RSG-GAS and RDE Reactors.” Atom Indonesia, Vol. 44, No. 3, pp. 115-121 (2018).
  5. Amir Hamzah et al. “Preliminary analysis of dose rates distribution of experimental power reactor 10 MW using MCNP.” Journal of Physics: Conference Series 1198, 022038 (2019).
  6. Wade Allison. Radiation and Reason. York: Wade Allison Publishing (2009).
  7. David Bodansky. Nuclear Energy: Principles, Practices, and Prospects 2nd Edition. New York: Springer-Verlag (2004).
  8. World Nuclear Association. Nuclear Radiation and Health Effects. (http://www.world-nuclear.org/information-library/safety-and-security/radiation-and-health/nuclear-radiation-and-health-effects.aspx), diakses 12 Juni 2019.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Mengganti Energi Nuklir Dengan Energi Terbarukan Bukanlah Ide Bagus—Setidaknya di Inggris dan Swedia

Bagikan Artikel ini di:

Perubahan iklim menjadi salah satu isu lingkungan yang paling disorot di abad 21. Pembakaran energi fosil secara besar-besaran sejak dimulainya Revolusi Industri telah menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer semakin bertambah. Alih-alih berkurang, pembakaran energi fosil semakin lama semakin bertambah seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk, yang meniscayakan peningkatan kebutuhan energi. Tercatat, pada tahun 2017, lebih dari 33 milyar ton CO2 dilepaskan ke atmosfer sebagai imbas konsumsi energi fosil [1]. Untuk menambah kabar buruk, tren selama sembilan tahun terakhir cenderung terus meningkat!

Gambar 1. Emisi Karbon Dunia 2009-2017 (sumber: BP Statistical Review of World Energy 2018)

Untuk mencegah dampak katastropik yang dapat disebabkan perubahan iklim, seruan revolusi energi menuju energi bersih pun banyak didengungkan. Namun, ada hal yang menggelikan dalam seruan revolusi ini: energi nuklir, sebagai energi yang tidak melepaskan emisi GRK, dikriminalisasi nyaris sama buruknya dengan energi fosil. Bahkan, laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) terbaru secara mengerikan melemparkan penyesatan-penyesatan terhadap energi nuklir [2]!

Baca juga Seberapa Besar Radiasi PLTN Yang Dilepaskan Ke Lingkungan?

Bias anti-nuklir ini sebenarnya mengherankan, karena justru berdasarkan analisis IPCC sendiri [3], energi nuklir adalah energi paling bersih, hanya melepaskan 12 g CO2 ekivalen/kWh listrik, setara dengan energi bayu. Lalu, kontras dengan pemahaman publik, energi nuklir adalah energi paling selamat sejauh ini. Hal ini disebabkan angka kematian per TWh energi nuklir paling rendah, yakni 0,04 kematian per TWh [4].

Kecenderungan irasional anti-nuklir telah menyebabkan sebagian negara memilih untuk phase-out energi nuklir dan berniat menggantinya dengan so-called “energi terbarukan”, yakni energi bayu dan energi surya. Mengganti PLTN dengan turbin angin dan panel surya. Walau sekilas ide ini terkesan menarik dan populer, tapi tidak meyakinkan berdasarkan matematika. Setidaknya, sebagaimana studi yang dilakukan di Inggris dan Swedia.

Tim Yeo, Ketua New Nuclear Watch Institute (NNWI), lembaga think-tank nuklir yang berbasis di Inggris, menyoroti ide untuk mempensiunkan PLTN-PLTN yang ada di Inggris Raya dan menggantinya dengan turbin angin plus gas alam [5]. Kenapa harus ada gas alam? Karena sifat alami turbin angin yang intermiten—angin tidak berembus 24 jam dalam sehari, sehingga waktu kosong itu harus diisi dengan pembangkit lain. Pembangkit apa? Ya gas alam itu, karena kemampuannya untuk ramp-up dan ramp-down yang cepat.

Tapi apakah itu pilihan yang tepat? NNWI menganalisis skenario emisi CO­2 di Inggris pada tahun 2030 dalam dua skenario. Pertama, ketika energi nuklir dipensiunkan total dari jaringan listrik pada tahun 2030. Hal ini memungkinkan terjadi, karena setengah dari kapasitas PLTN di Inggris akan memasuki masa pension pada tahun 2025. Jadi, listrik di Inggris hanya berasal dari energi bayu dan gas alam saja. Pada skenario ini, energi bayu diasumsikan memiliki daya terpasang 30 GWe [5].

Baca juga Benarkah Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar

Skenario kedua, energi nuklir tidak dipensiunkan melainkan diganti dengan yang baru, baik itu Hinkley Point C, Wylfa Newydd dan lainnya. Sehingga, nuklir akan menjadi bauran listrik bersama-sama energi bayu dan gas alam. Namun, pada skenario ini, energi bayu hanya akan berkontribusi sebesar 25 GWe [5].

Dalam studi ini, NNWI menganalisis skenario mana yang paling murah harga listriknya dan emisi CO2 yang dihasilkan paling rendah. Hasil studi terkait emisi CO2 adalah sebagai berikut.

Gambar 2. Emisi CO2 antara skenario nuklir (kiri) dan pensiun nuklir (kanan)

Jelas sekali bahwa emisi CO2 jauh lebih banyak dihasilkan jika nuklir dipensiunkan. Apa pasal? Energi bayu tidak bisa berdiri sendiri, butuh backup pembangkit lain. Semakin tinggi bauran energi bayu, semakin tinggi pula bauran gas alam. Artinya, semakin besar polusi yang dihasilkan. Studi yang dilakukan Yeo menunjukkan bahwa emisi CO2 akan naik dai 51 g CO2/kWh pada skenario bauran nuklir menjadi 186 g CO2/kWh pada skenario nuklir pensiun. Emisinya naik 265% dari kondisi awal! [5]

Tidak hanya membuat emisi naik, tapi opsi pensiun nuklir juga menyebabkan harga listrik naik. Jika masih menggunakan nuklir, nilai levelised cost of electricity (LCOE) hanya sebesar GBP 82/MWh atau GBP 8,2 pence/kWh. Dirupiahkan, sekitar Rp 1.660/kWh, termasuk murah untuk Eropa Barat. Sementara, menggunakan opsi pensiun nuklir, LCOE naik menjadi GBP 95/MWh atau GBP 9,5 pence/kWh. Dirupiahkan, sekitar Rp 1.921/kWh [5].

Gambar 3. LCOE pada skenario pensiun nuklir (atas) dan nuklir (bawah)

Kenaikan tarif listrik ini mudah dipahami. Pertama, energi nuklir masih lebih murah daripada energi bayu, terlepas dari propaganda kalangan pro-“energi terbarukan”. Pasalnya, energi bayu tidak beroperasi setiap saat, sementara nuklir bisa beroperasi 24×7. Sehingga, load factor nuklir lebih tinggi.

Kedua, pada skenario pensiun nuklir, gas mengambil alih setengah dari kapasitas pembangkitan di Inggris. Harga gas alam yang mahal ketika dikonversi menjadi biaya bahan bakar akhirnya menjadi beban utama bagi jaringan listrik Inggris, seandainya skenario seperti ini terjadi.

Jadi jelas, mempensiunkan nuklir demi “energi terbarukan” bukan ide bagus di Inggris. Karena realitanya, energi bayu tetap membutuhkan energi fosil berupa gas alam sebagai backup.

Bagaimana di Swedia?

Pada tahun 2015 lalu, muncul wacana untuk menutup empat PLTN tertua di Swedia pada tahun 2020, termasuk pelarangan untuk membangun PLTN baru. Walau akhirnya wacana ini berubah pada tahun 2016, dengan diizinkannya dibangun hingga 10 PLTN baru untuk menggantikan PLTN yang ditutup, sebuah studi yang dilakukan F. Wagner dan E. Rachlew telah dipublikasikan pada tahun yang sama, untuk menilai skenario apabila energi nuklir di Swedia diganti dengan energi bayu [6].

Studi ini mengasumsikan energi nuklir diganti sebagian dan sepenuhnya oleh energi bayu, sembari menganalisis apakah energi hidro bisa menyesuaikan pembangkitan listrik dari energi bayu yang bersifat intermiten. Basisnya adalah data beban kelistrikan pada tahun 2013, yang didominasi oleh energi nuklir dan hidro. Pembangkitan energi hidro diasumsikan tetap, sehingga yang dinaikkan adalah bauran energi bayu terhadap nuklir [6].

Gambar 4. Beban listrik Swedia standar

Hasilnya, ketika energi nuklir dipangkas setengahnya, kapasitas energi bayu harus dinaikkan lebih dari dua kali lipat, dari 4,47 GWe pada saat itu menjadi 11,2 GWe [6]. Pada kondisi ini, dibutuhkan sedikit backup energi karena keterbatasan pembangkitan hidro. Backup ini kemungkinan besar adalah gas alam, yang seperti dinyatakan sebelumnya, dapat ramp up dan ramp down dengan cepat menyesuaikan kebutuhan jaringan listrik.

Gambar 5. Beban listrik Swedia dengan nuklir dipangkas setengahnya. Backup daya mulai digunakan.

Ketika nuklir dipangkas habis, kapasitas energi bayu harus ditingkatkan menjadi 22,3 GWe. Kondisi ini membutuhkan backup daya sebesar 8,6 GWe yang memiliki faktor kapasitas dan keekonomisan rendah [6]. Lagi-lagi yang digunakan pasti gas alam. Backup daya juga harus ada demi ‘menghaluskan’ gradien daya yang tajam, akibat sifat intermiten energi bayu.

Gambar 6. Beban listrik Swedia dengan nuklir dihilangkan. Penggunaan backup daya lebih tinggi lagi untuk mengompensasi sifat intermiten energi bayu.

Backup daya menggunakan gas alam bersifat kontraproduktif dengan usaha memitigasi perubahan iklim. Pasalnya, emisi spesifik listrik Swedia naik dari 23 g CO2/kWh menjadi 34 g CO2/kWh, naik 50% [6]. Tidak sebesar kenaikan di Inggris, tapi cukup signifikan dibandingkan emisi pada awalnya.

Baca juga Mengenal Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Untuk mengganti energi nuklir berkapasitas 9 GWe di Swedia, dibutuhkan 22,3 GWe energi bayu dan 8,6 GWe pembangkit gas alam. Ditambah lagi, instalasi energi bayu sebesar itu lebih besar dua kali lipat daripada kapasitas terpasang energi bayu dan surya per kapita di Jerman pada tahun 2016. Mengingat Jerman mengalami kenaikan tarif listrik karena penggunaan energi bayu dan surya, bisa dibayangkan kenaikan tarif listrik di Swedia dengan kapasitas spesifik dua kali lipatnya.

Jadi, di Swedia pun bukan ide bagus untuk mengganti energi nuklir dengan energi bayu.

Kedua studi ini menyoroti hal yang sama, bahwa so-called “energi terbarukan” tidak bisa berdiri sendiri untuk menggantikan energi fosil. Pasti harus dibarengi dengan penggunaan energi fosil. Padahal, penggunaan energi fosil justru bertentangan dengan usaha untuk mitigasi perubahan iklim. Alih-alih mereduksi emisi karbon, yang ada justru membuatnya meningkat!

Mengganti energi nuklir dengan so-called “energi terbarukan” tidak pernah berimbas baik dan bertentangan dengan fundamental mitigasi perubahan iklim, yakni memangkas emisi karbon. Justru, energi nuklir telah terbukti secara historis berdampak positif pada mitigasi perubahan iklim dan mencegah kematian jutaan manusia akibat polusi energi fosil [7]. Bias anti-nuklir yang melandasi tindakan irasional ini harus segera dihentikan. Kebijakan energi harus dibuat berdasarkan sains, bukan bias irasional.

 

Referensi

  1. British Petroleum. BP Statistical Review of World Energy June 2018. London: BP.
  2. Michael Shellenberger. Anti-Nuclear Bias of UN and IPCC Is Rooted In Cold War Fears of Atomic and Population Bombs. (https://www.forbes.com/sites/michaelshellenberger/2018/10/09/anti-nuclear-bias-of-u-n-ipcc-is-rooted-in-cold-war-fears-of-atomic-and-population-bombs/#60efd4f65dd6). Diakses 10 Oktober 2018.
  3. Intergovernmental Panel on Climate Change Working Group III. 2014. Mitigation of Climate Change, Annex III: Technology – specific cost and performance parameter. Cambridge: Cambridge University Press.
  4. Brian Wang. Update of Death per Terawatt hour by Energy Source. (https://www.nextbigfuture.com/2016/06/update-of-death-per-terawatt-hour-by.html). Diakses 10 Oktober 2018.
  5. The New Nuclear Watch Institute. 2018. The False Economy of Abandoning Nuclear Power: Techno-Zealotry and the Transition Fuel Narrative. London: NNWI.
  6. F. Wagner dan E. Rachlew. 2016. Study on a hypothetical replacement of nuclear electricity by wind power in Sweden. European Physical Journal Plus 131: 173.
  7. R Andika Putra Dwijayanto. Mengukur Dampak Iklim Dari Pemanfaatan Energi Nuklir. (https://warstek.com/2018/06/11/nukliriklim). Diakses 11 Oktober 2018.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Meluruskan Salah Kaprah tentang Membaca Kapasitas Terpasang dalam Membangun Pembangkit Listrik

Bagikan Artikel ini di:

Listrik bisa dikatakan telah menjadi kebutuhan dasar manusia pada abad 21. Dengan isu perubahan iklim yang terus memanas, negara-negara di dunia harus mulai mempertimbangkan ulang strategi pemenuhan energi mereka. Energi fosil harus sesegera mungkin disubstitusi dengan energi bersih [1].

Dinamika transisi menuju energi bersih diwarnai hal-hal menarik. Salah satunya adalah perdebatan terkait moda energi yang paling cepat untuk melakukan transisi dari energi fosil ke energi bersih. Kalangan pro-energi terbarukan mengklaim bahwa transisi menggunakan energi terbarukan lebih cepat dan efektif daripada menggunakan energi nuklir. Alasannya, karena energi terbarukan (energi surya dan bayu) memiliki biaya instalasi lebih murah, sehingga daya terpasang pun lebih besar daripada nuklir yang dianggap memiliki biaya instalasi lebih mahal.

Benarkah pandangan ini? Hati-hati, jangan tertipu dengan kapasitas terpasang. Membaca kapasitas pembangkitan listrik tidak cukup dengan membaca kapasitas terpasang (nameplate capacity) saja. Namun, banyak pihak pembuat kebijakan sering salah kaprah mengenai nameplate capacity.

Baca juga Thorium, Bahan Bakar Nuklir Masa Depan

Nameplate capacity hanya menjelaskan daya maksimum yang mampu dibangkitkan oleh sebuah pembangkit listrik. Jika sebuah pembangkit listrik memiliki nameplate capacity sebesar 100 MWe, maka daya maksimum yang mampu dibangkitkan adalah 100 MWe. Demikian pula angka-angka nameplate capacity lain [2].

Namun, apakah pembangkit tersebut dapat terus menerus dengan daya 100 MWe? Tidak. Ada yang namanya faktor kapasitas, yakni perbandingan antara daya yang mampu dibangkitkan dalam waktu tertentu dibandingkan dengan daya maksimal yang secara teoretis mampu dibangkitkan dalam rentang waktu yang sama.

Dengan adanya faktor kapasitas, dua buah pembangkit berdaya sama belum tentu mampu membangkitkan listrik dalam jumlah yang sama dalam rentang waktu tertentu, katakanlah setahun. Lagi-lagi tergantung pada faktor kapasitasnya.

Baca juga Mengukur Sustainabilitas Energi Nuklir Dengan Uranium dan Thorium Domestik

Awal bulan ini, Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia, Herman Darnel Ibrahim, melemparkan pernyataan yang perlu dikritisi dan dikaji ulang. Herman mengatakan bahwasanya, dengan investasi Rp 500 trilyun hanya bisa membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan daya 5.000 MWe. Sementara, nilai investasi yang sama bisa digunakan untuk 20.000 MWe Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan 30.000 MWe Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) [3].

Ada dua kekeliruan dalam pernyataan ini. Pertama, 5.000 MWe PLTN itu tidak rasional, karena implikasinya, biaya pembangunan PLTN tersebut sangatlah mahal melebihi biaya pembangunan PLTN di Amerika Serikat. Padahal estimasi pembangunan PLTN di Indonesia jelas lebih murah dari negara-negara Barat, jauh dibawah estimasi Herman [4], kapasitas yang lebih rasional adalah sekitar 14.000 MWe PLTN [5].

Kedua, ini merupakan contoh kekeliruan membaca nameplate capacity. Karena biarpun hanya 14.000 MWe, belum tentu daya listrik yang dibangkitkan lebih sedikit. Khususnya selama lifetime operasional pembangkit listrik.

PLTN memiliki faktor kapasitas tinggi, hingga 90% lebih. Sementara, PLTU dan PLTGU hanya memiliki faktor kapasitas berkisar 60%. Waktu kosong dari pembangkitan listrik ini utamanya karena PLTU dan PLTGU membutuhkan waktu perawatan lebih banyak daripada PLTN. Dari segi usia pakai, desain PLTN mampu digunakan hingga 60 tahun, sementara PLTU dan PLTGU paling banter hanya 40 tahun.

Maka, sepanjang usia pakai, listrik yang mampu dibangkitkan masing-masing pembangkit adalah sebagai berikut.

Jelas sekali bahwa selama usia pakai, PLTN mampu membangkitkan listrik paling banyak. Padahal nameplate capacity PLTN justru yang paling rendah,

Hal sama juga berlaku untuk perbandingan antara energi terbarukan dengan energi nuklir terkait mana yang paling cepat dalam transisi menuju energi bersih. Menggunakan standar investasi di Amerika Serikat, barangkali memang energi terbarukan bisa lebih banyak dibangun. Tapi apakah itu setara dengan daya yang mampu dibangkitkan?

Sejak tahun 2007-2016, investasi di energi terbarukan mencapai USD 2 trilyun, dengan USD 1,1 trilyun untuk energi surya dan sisanya energi bayu. Namun nyatanya, pada tahun 2016, energi bayu dan surya hanya menyumbangkan bauran masing-masing 3,9% dan 1,3% pembangkitan listrik dunia [8].

Baca juga Mengenal Lebih Dekat Reaktor Daya Eksperimental, Reaktor Nuklir Desain Anak Negeri

Coba nilai investasi tersebut kita hitung ulang dengan standar tertentu. Patokan tetap pada pembangkitan listrik tahun 2016, yakni sebesar 24.353 TWh [6]. Estimasi nilai investasi dilandaskan pada data US EIA [7], yakni untuk PLTN sebesar USD 5.945/kW, PLTS sebesar USD 2.534/kW dan PLTB sebesar USD 1.877/kW. Nilai faktor kapasitas untuk nuklir, surya dan bayu masing-masing 80%, 13% dan 22,7% [9,10]. Proporsi investasi untuk energi bayu dan surya sama seperti di paragraf sebelumnya.

Dari asumsi-asumsi di atas, didapatkan hasil sebagaimana ditunjukkan dalam tabel berikut.

Nameplate capacity nuklir jelas sekali lebih rendah daripada energi bayu dan surya. Kurang dari setengah dari gabungan kedua moda energi tersebut. Namun, secara riil, energi nuklir mampu membangkitkan listrik hampir dua kali lipat energi bayu dan surya digabung sekaligus. Mengapa? Sekali lagi karena adanya faktor kapasitas. Energi nuklir mampu beroperasi terus menerus nyaris sepanjang waktu dalam setahun. Sementara, energi bayu dan surya hanya beroperasi ketika angin berembus dan matahari bersinar. Wajar jika energi nuklir memiliki faktor kapasitas tinggi sementara energi terbarukan rendah.

Jadi, merupakan anggapan yang sangat keliru jika nameplate capacity menjadi patokan kecepatan transisi energi. Hal ini dikarenakan apa yang tertera belum tentu sama dengan realita. Jangan tertipu nameplate capacity, tapi pastikan juga faktor kapasitasnya.

Referensi

  1. George Erickson. 2013. Unintended Consequences: The Lie That Killed Millions and Accelerated Climate Change. Minnesota: Tundra Cub.
  2. Andika Putra Dwijayanto. 2016. Let’s Run The Numbers: Menguji Klaim Antara Energi Nuklir dan Energi Terbarukan. Bogor.
  3. DEN: Pembangunan PLTN Tak Akan Terjadi Sampai 2050. (http://ekbis.rmol.co/read/2018/05/04/338453/DEN:-Pembangunan-PLTN-Tak-Akan-Terjadi-Sampai-2050). Diakses pada 15 Mei 2018.
  4. Andika Putra Dwijayanto. Apa Benar Nuklir Mahal? Tanggapan Untuk Arcandra Tahar. (https://warstek.com/2018/04/21/listriknuklir/). Diakses pada 15 Mei 2018.
  5. Andika Putra Dwijayanto. Moral Case for Nuclear Power: Tanggapan Untuk DEN dan METI. (http://andhika-dwijayanto.blogspot.co.id/2018/05/moral-case-for-nuclear-power-tanggapan.html). Diakses pada 15 Mei 2018.
  6. Global Energy Statistical Yearbook 2017. (https://yearbook.enerdata.net/electricity/world-electricity-production-statistics.html). Diakses pada 14 Mei 2018.
  7. US Energy Information Administration. 2016. Capital Cost Estimate for Utility Scale Electricity Generating Plants. Washington: US DOE.
  8. Michael Shellenberger. We Don’t Need Solar And Wind To Save The Climate—And It’s A Good Thing, Too. (https://www.forbes.com/sites/michaelshellenberger/2018/05/08/we-dont-need-solar-and-wind-to-save-the-climate-and-its-a-good-thing-too/#ce83afde4de1). Diakses pada 14 Mei 2018.
  9. World Nuclear Association. 2017. World Nuclear Performance Report 2017. London: WNA.
  10. World Nuclear Association. Renewable Energy and Electricity. (http://www.world-nuclear.org/information-library/energy-and-the-environment/renewable-energy-and-electricity.aspx). Diakses 15 Mei 2018.
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: