Bayangkan hidup dalam kondisi dimana listrik hanya menyala beberapa jam dalam sehari. Bayangkan pula aktivitas masyarakat, bisnis, dan layanan publik yang bergantung penuh pada listrik, harus terhenti selama sisa waktu. Itulah kenyataan yang telah dialami oleh masyarakat Libya selama lebih dari satu dekade.
Krisis listrik di Libya bukan sekadar cerita tentang lampu yang padam. Penyebab utamanya mencerminkan masalah energi yang lebih luas: ketergantungan pada bahan bakar fosil, infrastruktur listrik yang menua, kapasitas pembangkit yang tidak memadai, serta tantangan dalam distribusi energi ke seluruh negara. Pada tahun 2023, kekurangan listrik Libya meningkat hingga mencapai 32,5 persen dan diperkirakan masih terus berlanjut hingga tahun 2024.
Namun ada secercah harapan melalui sebuah pendekatan energi masa depan yang semakin dilirik di seluruh dunia. Pendekatan itu adalah sistem energi terbarukan hibrida atau Hybrid Renewable Energy System yang disingkat HRES. Sebuah penelitian terbaru oleh Yasser Fathi Nassar dan rekan lain yang diterbitkan dalam Journal of Energy Storage tahun 2025 menunjukkan bahwa sistem ini dapat menjadi solusi praktis dan berkelanjutan bagi Libya.
Penelitian tersebut mendalami bagaimana kombinasi energi surya, angin, dan pembangkit tenaga air dengan metode pumped hydro storage dapat menutupi seluruh kekurangan listrik di jaringan publik negara itu.
Baca juga artikel tentang: Kendaraan Listrik: Seberapa Besar Dampaknya Bagi Lingkungan?
Mengapa Energi Terbarukan Saja Tidak Cukup
Selama ini, banyak negara berupaya mengganti pembangkit listrik berbahan fosil dengan energi terbarukan. Namun dalam praktiknya, sumber energi seperti matahari dan angin sangat bergantung pada kondisi alam. Ketika cuaca tidak mendukung, listrik yang dihasilkan bisa turun drastis. Permasalahan ini berpotensi menambah beban bagi sistem listrik yang sudah rapuh.
Inilah alasan mengapa energi terbarukan perlu dipasangkan dengan sistem penyimpanan yang efektif. Energi yang dihasilkan pada saat melimpah dapat disimpan dan digunakan kembali ketika kebutuhan meningkat. Pumped hydro storage atau PHS merupakan salah satu teknologi penyimpanan paling efisien yang ada saat ini.
Teknologi PHS bekerja dengan memompa air ke reservoir yang lebih tinggi saat kelebihan listrik tersedia. Ketika listrik dibutuhkan kembali, air tersebut dialirkan ke turbin untuk menghasilkan listrik. Sistem ini mirip dengan baterai raksasa berbasis air.
Merancang Kombinasi Energi yang Tepat untuk Libya
Penelitian Nassar menggunakan peta potensi energi di Libya dan merancang komposisi HRES yang paling optimal. Komposisi yang diusulkan adalah penggunaan 1853 megawatt tenaga angin, 6000 megawatt panel surya fotovoltaik, dan sistem pumped hydro storage.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa kombinasi tersebut mampu menghasilkan sekitar dua belas juta megawatt jam listrik setiap tahunnya. Jumlah ini bukan hanya mencukupi seluruh defisit listrik Libya yang mencapai lebih dari sembilan juta megawatt jam, tetapi juga memberi ruang cadangan untuk kebutuhan masa depan.
Sebagian besar energi sekitar 41 persen akan langsung digunakan oleh masyarakat dan industri. Sisanya disimpan dalam reservoir untuk kemudian dikeluarkan kembali saat terjadi peningkatan permintaan atau pemadaman mendadak.
Ada sedikit energi yang hilang selama proses penyimpanan dan pemompaan sekitar 19 persen. Namun tingkat efisiensi alat yang mencapai rata rata 90 persen membuat kerugian energi ini masih dapat diterima.
Tidak Hanya Soal Energi, Tetapi Juga Soal Ekonomi dan Lingkungan
Solusi energi tidak dapat dipandang hanya dari sisi teknis. Penelitian ini juga menyoroti aspek ekonomi seperti nilai investasi, penghematan biaya bahan bakar, dan manfaat sosial.
Dengan menggunakan pendekatan analisis biaya menyeluruh, tim peneliti menemukan bahwa penerapan sistem terbarukan hibrida dapat memberikan keuntungan besar bagi negara. Sistem ini memiliki nilai bersih sekitar 19,9 miliar dolar Amerika Serikat dari penghematan bahan bakar dan efisiensi operasional.
Lebih dari itu, penerapan HRES dapat menekan emisi karbon dioksida hingga 11.624 kiloton. Pengurangan polusi ini menjadi sangat penting karena Libya merupakan negara yang kuat bergantung pada minyak dan gas. Beralih ke energi bersih tidak hanya meningkatkan kualitas udara, tetapi juga membantu Libya memenuhi komitmen lingkungan internasional.
Tingkat pengembalian investasi juga cukup menjanjikan. Waktu yang dibutuhkan untuk modal kembali sekitar tujuh setengah tahun. Setelahnya, seluruh produksi listrik akan menjadi keuntungan bagi negara.
Mengapa Model Ini Sangat Penting bagi Libya
Libya sebenarnya memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah. Sinar matahari bersinar hampir sepanjang tahun dan angin bertiup dengan kecepatan yang cukup tinggi di beberapa wilayah. Sayangnya, potensi besar ini belum dimanfaatkan secara menyeluruh.
Melalui strategi energi jangka panjang yang telah direncanakan hingga tahun 2050, pemerintah Libya menargetkan lebih dari 50 persen campuran energi nasional berasal dari sumber terbarukan. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah untuk mencapai target tersebut dengan cara yang realistis dan efisien.
Kunci keberhasilan transformasi energi ini meliputi:
• Investasi pada infrastruktur pembangkit dan penyimpanan
• Modernisasi jaringan listrik agar mampu mengatur distribusi energi terbarukan
• Kebijakan pemerintah yang mendukung percepatan adopsi teknologi ramah lingkungan
• Pelatihan tenaga kerja lokal untuk mengelola teknologi baru
Dengan langkah langkah tersebut, Libya dapat beralih dari negara yang kerap mengalami pemadaman listrik menjadi negara yang mandiri energi.
Belajar dari Libya untuk Dunia
Krisis energi bukan hanya masalah Libya. Banyak negara menghadapi tantangan serupa akibat pertumbuhan konsumsi listrik, perubahan iklim, dan kebutuhan untuk meninggalkan bahan bakar fosil. Solusi yang ditawarkan studi ini menunjukkan bahwa teknologi energi terbarukan tidak harus bekerja sendiri.
Dengan pendekatan yang tepat, sumber energi surya, angin, dan air dapat saling melengkapi untuk menciptakan sistem energi yang kuat, bersih, dan berkelanjutan. Model HRES ini dapat diaplikasikan tidak hanya di wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara, tetapi juga di negara lain yang memiliki tantangan serupa.
Penelitian ini memberikan pesan yang sangat jelas. Masa depan energi harus mengedepankan fleksibilitas, keberlanjutan, dan stabilitas. Sistem energi terbarukan hibrida adalah salah satu cara paling menjanjikan untuk mencapainya.
Jika diterapkan dengan tepat, HRES dapat mengubah wajah sistem kelistrikan negara seperti Libya. Tidak hanya memastikan masyarakat mendapatkan listrik tanpa gangguan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan.
Langkah ini bukan sekadar solusi teknis, tetapi juga sebuah perjalanan menuju masa depan yang lebih mandiri, lebih bersih, dan lebih manusiawi bagi seluruh penduduk Libya dan dunia.
Baca juga artikel tentang: Teknologi Propulsi Listrik: Kunci Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa
REFERENSI:
Nassar, Yasser Fathi dkk. 2025. The role of hybrid renewable energy systems in covering power shortages in public electricity grid: An economic, environmental and technical optimization analysis. Journal of Energy Storage 108, 115224.

