Mengapa Lonjakan Harga Gas Masih Menghantui Transisi Energi Eropa

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara di dunia berupaya meninggalkan bahan bakar fosil dan beralih ke energi yang lebih bersih. […]

Dalam beberapa tahun terakhir, banyak negara di dunia berupaya meninggalkan bahan bakar fosil dan beralih ke energi yang lebih bersih. Langkah ini dilakukan untuk menekan emisi karbon dan memperlambat laju perubahan iklim. Di Eropa, usaha ini sudah berjalan cukup lama. Angka penggunaan listrik bebas karbon meningkat pesat dalam dua dekade terakhir. Panel surya, turbin angin, dan energi terbarukan lainnya menjadi bagian penting dalam sistem energi benua itu.

Namun, pada 2021–2022, harga gas alam melonjak tajam akibat ketegangan geopolitik dan terganggunya pasokan dari negara pemasok utama. Lonjakan tersebut memicu kenaikan harga listrik yang sangat memberatkan masyarakat. Kejadian ini mengingatkan kita bahwa meskipun energi terbarukan terus bertumbuh, sistem listrik Eropa ternyata masih rentan terhadap gejolak harga bahan bakar fosil.

Hubungan antara peningkatan porsi listrik rendah karbon di berbagai wilayah Eropa dan perubahan harga listrik serta gas dalam periode 2016–2021.

Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di Nature Sustainability pada 2025 menelusuri hubungan antara proses dekarbonisasi dan kerentanan harga listrik. Apakah semakin banyak energi terbarukan justru membuat harga listrik lebih tidak stabil ketika terjadi krisis pasokan gas? Atau sebaliknya, semakin bersih listrik suatu negara, semakin aman masyarakatnya dari lonjakan harga?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti mengembangkan ukuran khusus untuk menilai tingkat kerentanan setiap negara Eropa terhadap guncangan harga gas. Kemudian, mereka mengamati bagaimana gelombang kenaikan harga gas selama krisis energi terakhir mempengaruhi harga listrik di berbagai negara.

Baca juga artikel tentang: Kendaraan Listrik: Seberapa Besar Dampaknya Bagi Lingkungan?

Temuan mengejutkan sekaligus memberikan harapan baru

Pertama, negara-negara yang menjalankan dekarbonisasi listrik secara agresif ternyata tidak lebih rentan terhadap kenaikan harga gas. Artinya, usaha memperbanyak energi bersih bukanlah penyebab ketidakstabilan harga listrik. Justru, dalam banyak kasus, ketergantungan pada gas yang masih tersisa dalam sistem pembangkit listrik menjadi penyebab utama kenaikan harga tersebut.

Meski demikian, studi ini juga mencatat satu hal penting. Negara dengan porsi energi terbarukan yang bersifat tidak stabil atau bergantung pada cuaca, seperti angin dan matahari, cenderung sedikit lebih rentan dibandingkan negara yang memiliki kombinasi terbarukan dan pembangkit gas yang seimbang. Hal ini karena ketika angin melemah atau cuaca mendung berkepanjangan, pembangkit gas harus bekerja lebih keras untuk menutupi kekurangan listrik. Ketika harga gas sedang tinggi, dampaknya langsung terasa pada harga listrik.

Keadaan ini menunjukkan bahwa transformasi energi bukan hanya soal mengganti pembangkit listrik kotor dengan pembangkit bersih. Perlu ada strategi pendukung untuk memastikan pasokan tetap stabil sepanjang waktu. Penyimpanan energi dalam skala besar, seperti baterai raksasa atau pembangkit yang bisa menyimpan panas dan mengubahnya kembali menjadi listrik, menjadi teknologi yang semakin mendesak untuk dikembangkan.

Peneliti juga menyoroti tantangan kebijakan di tingkat Eropa. Selama ini pasar energi Eropa mengadopsi pendekatan harga yang seragam di berbagai negara, termasuk kebijakan batas harga gas yang berlaku untuk semua. Namun, studi ini menyimpulkan bahwa masing-masing negara memiliki karakter pasokan energi dan kerentanan yang berbeda. Karena itu, solusi satu aturan untuk seluruh negara tidak selalu efektif.

Negara dengan banyak tenaga angin di pesisir mungkin menghadapi tantangan berbeda dengan negara yang mengandalkan tenaga surya di wilayah selatan. Begitu pula negara yang masih sangat bergantung pada gas impor membutuhkan perlindungan lebih kuat ketika situasi geopolitik memburuk. Kebijakan yang lebih fleksibel dan mempertimbangkan kondisi unik setiap negara diyakini akan lebih mampu menjaga stabilitas harga listrik.

Hasil penelitian ini penting untuk menjaga kepercayaan publik dalam proses transisi energi. Lonjakan harga listrik pada 2021–2022 membuat banyak masyarakat mempertanyakan apakah energi hijau justru akan membuat hidup lebih mahal. Kekhawatiran ini bisa memperlambat dukungan terhadap kebijakan lingkungan dan menghambat investasi energi bersih.

Faktanya, penelitian ini menunjukkan bahwa tujuan mengurangi emisi gas rumah kaca tetap bisa dicapai tanpa mengorbankan stabilitas harga listrik. Dekarbonisasi bukanlah ancaman bagi keterjangkauan energi. Justru mempercepat transisi ke energi terbarukan dapat menjadi jalan keluar dari ketergantungan pada bahan bakar fosil yang harganya sulit diprediksi.

Krusial untuk dipahami bahwa masalah utama bukanlah energi terbarukan, tetapi sistem yang belum cukup siap mendukung transformasi besar ini. Tanpa inovasi dalam penyimpanan energi, peningkatan jaringan listrik, dan diversifikasi sumber energi, harga listrik akan tetap sensitif terhadap fluktuasi gas.

Selain itu, kerja sama regional dalam pengelolaan jaringan listrik dan ekspor-impor energi antarnegara menjadi kunci penting. Ketika satu negara mengalami kekurangan pasokan angin, negara tetangganya yang memiliki lebih banyak pasokan surya bisa membantu menyeimbangkan pasokan listrik secara kolektif.

Fluktuasi harga gas alam memengaruhi harga listrik per jam di lima negara Eropa serta proporsi teknologi pembangkit listrik yang digunakan sepanjang hari.

Penelitian ini juga memberikan peringatan penting bagi negara di luar Eropa yang baru memulai langkah dekarbonisasi. Jangan hanya menyalin strategi energi terbarukan, tetapi juga rencanakan bagaimana mengurangi ketergantungan pada gas selama masa transisi. Pembangunan sistem energi yang tahan krisis harus berjalan seiring dengan pengurangan emisi.

Bagi masyarakat, penting untuk memahami bahwa energi terbarukan tetap merupakan solusi terbaik dalam jangka panjang. Harga bahan bakar fosil akan selalu dipengaruhi oleh politik global, krisis ekonomi, dan kelangkaan sumber daya. Sementara tenaga surya dan angin tersedia secara gratis dari alam. Tantangan kita hanyalah bagaimana menangkap dan menyimpannya dengan teknologi yang semakin terjangkau.

Pada akhirnya, transisi energi adalah perjalanan panjang. Krisis energi yang sempat melanda Eropa telah memberi pelajaran mahal, tetapi juga memperkuat komitmen untuk tidak kembali pada ketergantungan fosil. Dengan kebijakan yang tepat dan teknologi yang terus berkembang, listrik bersih yang terjangkau dapat menjadi kenyataan yang dinikmati semua orang.

Studi ini menegaskan satu pesan utama. Dekarbonisasi tetap harus dilanjutkan. Bukan hanya demi lingkungan, tetapi juga demi kestabilan dan keamanan energi dalam jangka panjang. Energi masa depan bisa menjadi lebih bersih tanpa membuat dompet masyarakat semakin tipis.

Baca juga artikel tentang: Teknologi Propulsi Listrik: Kunci Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa

REFERENSI:

Bajo-Buenestado, Raul dkk. 2025. Decarbonization and electricity price vulnerability. Nature Sustainability 8 (2), 170-181.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top