Alam semesta selalu menyimpan misteri yang memikat para ilmuwan untuk terus menggali dan memahami asal-usulnya. Salah satu terobosan terbaru dalam dunia astronomi adalah penemuan bukti keberadaan bintang raksasa yang disebut “mirip dinosaurus” di galaksi GS 3073, sekitar 12,7 miliar tahun cahaya dari Bumi. Penemuan ini, yang dilakukan dengan bantuan teleskop luar angkasa James Webb (JWST), memberikan wawasan baru tentang bagaimana bintang-bintang raksasa ini mungkin telah memainkan peran penting dalam membentuk galaksi awal dan menciptakan lubang hitam supermasif.
Jejak Bintang Raksasa di Galaksi GS 3073
Penelitian yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal Letters mengungkapkan bahwa bintang-bintang ini diperkirakan memiliki massa 10.000 kali lipat lebih besar dari Matahari. Berdasarkan jaraknya dari Bumi, galaksi GS 3073 diperkirakan terbentuk hanya 1,1 miliar tahun setelah terjadinya Big Bang. Para peneliti mendeteksi ketidakseimbangan kimia di galaksi tersebut, yaitu adanya kelebihan nitrogen dibandingkan dengan oksigen. Ketidakseimbangan ini hanya dapat dijelaskan jika di dalam galaksi tersebut pernah ada bintang-bintang raksasa dengan massa antara 1.000 hingga 10.000 kali massa Matahari.
Seorang anggota tim peneliti, Devesh Nandal dari Center for Astrophysics (CfA), Harvard dan Smithsonian, menjelaskan bahwa “kelimpahan kimia bertindak seperti sidik jari kosmik, dan pola di GS 3073 tidak seperti yang dapat dihasilkan oleh bintang biasa. Nitrogen ekstrem ini hanya cocok dengan satu jenis sumber yang kita ketahui—bintang primordial yang ribuan kali lebih besar dari Matahari kita.”
Menguak Misteri Lubang Hitam Supermasif
Penemuan ini sangat penting karena dapat menjawab teka-teki lama tentang keberadaan lubang hitam supermasif yang muncul kurang dari satu miliar tahun setelah Big Bang. Sebelumnya, para ilmuwan kesulitan memahami bagaimana lubang hitam sebesar itu bisa terbentuk dalam waktu yang relatif singkat. Lubang hitam biasanya terbentuk dari runtuhnya bintang-bintang besar, namun bintang biasa membutuhkan waktu lebih lama untuk menghasilkan lubang hitam dengan massa sebesar itu.
Pada tahun 2022, sebuah tim peneliti lain memprediksi kemungkinan adanya bintang-bintang raksasa yang terbentuk dari aliran gas dingin yang kacau di alam semesta awal. Bintang-bintang ini diperkirakan mampu menciptakan lubang hitam supermasif atau quasar dalam rentang waktu sekitar satu miliar tahun. Penelitian terbaru yang dilakukan terhadap GS 3073 kini memberikan bukti nyata akan keberadaan bintang-bintang tersebut.
Proses Evolusi Bintang Raksasa
Untuk memahami bagaimana bintang-bintang ini menghasilkan ketidakseimbangan nitrogen-oksigen yang terdeteksi di GS 3073, para peneliti membuat model evolusi bintang dengan berbagai massa. Mereka menemukan bahwa hanya bintang dengan massa antara 1.000 hingga 10.000 kali massa Matahari yang dapat menghasilkan rasio nitrogen terhadap oksigen setinggi itu.
Prosesnya dimulai ketika bintang raksasa membakar helium di inti mereka dan menghasilkan karbon. Karbon ini kemudian bergerak ke lapisan luar bintang, di mana hidrogen sedang dipanaskan. Melalui siklus karbon/nitrogen/oksigen (CNO), karbon ini bergabung dengan hidrogen untuk menghasilkan nitrogen. Arus konveksi menyebarkan nitrogen ini ke seluruh bagian bintang, sebelum akhirnya nitrogen dilepaskan ke galaksi sebagai bagian dari tanda kimianya.
Proses ini berlangsung selama jutaan tahun hingga helium dalam bintang habis terbakar. Pada akhirnya, bintang-bintang ini runtuh menjadi lubang hitam besar dengan massa ribuan kali massa Matahari. Di galaksi GS 3073 sendiri, terdapat lubang hitam aktif yang diyakini sebagai sisa dari salah satu lubang hitam supermasif yang diciptakan oleh bintang raksasa tersebut.

Bukti Baru Evolusi Kosmik
Penelitian ini memberikan pandangan baru tentang evolusi bintang pada masa-masa awal alam semesta. Dengan mendeteksi pola kimia unik seperti rasio nitrogen-oksigen yang tinggi, para ilmuwan dapat melacak keberadaan bintang-bintang raksasa yang telah lama punah namun meninggalkan “fosil” berupa lubang hitam supermasif di alam semesta.
Keberadaan bintang-bintang raksasa ini juga mengubah cara kita memandang pembentukan galaksi awal dan evolusi kosmik secara keseluruhan. Para peneliti berharap untuk menemukan lebih banyak galaksi dengan pola kimia serupa guna memverifikasi hipotesis mereka dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang peran bintang-bintang raksasa dalam menciptakan struktur alam semesta seperti yang kita kenal sekarang.
Menyongsong Era Baru Penelitian Astronomi
Teleskop James Webb sekali lagi membuktikan kemampuannya sebagai alat revolusioner dalam penelitian astronomi modern. Dengan kemampuannya untuk mendeteksi cahaya inframerah dari objek-objek jauh di alam semesta, JWST membuka jendela baru untuk memahami masa lalu kosmik kita.
Penemuan bintang “mirip dinosaurus” di GS 3073 hanyalah awal dari banyak temuan menakjubkan lainnya yang mungkin akan terungkap di masa depan. Dengan semakin canggihnya teknologi dan berkembangnya pemahaman kita tentang alam semesta, siapa tahu misteri apa lagi yang menunggu untuk dipecahkan? Yang jelas, perjalanan manusia untuk memahami asal-usul dan evolusi alam semesta masih jauh dari kata selesai.
Penemuan bintang raksasa ini tidak hanya memberikan jawaban atas misteri lama tentang lubang hitam supermasif, tetapi juga membuka jalan bagi penelitian lebih lanjut tentang bagaimana alam semesta awal terbentuk dan berkembang. Dengan teknologi seperti JWST dan dedikasi para ilmuwan di seluruh dunia, kita terus mendekati pemahaman yang lebih utuh tentang tempat kita di alam semesta ini. Sungguh, perjalanan astronomi adalah perjalanan untuk memahami sejarah terbesar yang pernah ada—sejarah alam semesta itu sendiri.
Referensi
- Nandal, D., dkk. (2024). Chemical fingerprints of supermassive primordial stars in a z ≈ 6 galaxy. The Astrophysical Journal Letters, 963(2), L12.DOI: 10.3847/2041-8213/ad2f5e
- Woods, T. E., dkk. (2022). Formation of supermassive stars from cold chaotic accretion. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 512(2), 289–304.DOI: 10.1093/mnras/stac410
- Volonteri, M. (2010). Formation of supermassive black holes. Astronomy and Astrophysics Review, 18(3), 279–315.DOI: 10.1007/s00159-010-0029-x
- Bromm, V., & Larson, R. B. (2004). The first stars. Annual Review of Astronomy and Astrophysics, 42, 79–118.DOI: 10.1146/annurev.astro.42.053102.134034
- Center for Astrophysics | Harvard & Smithsonian (CfA). (2024). JWST reveals evidence of supermassive stars in the early universe.Diakses 2 Januari 2026
- NASA James Webb Space Telescope. (2024). Early galaxies and chemical evolution revealed by JWST.Diakses 2 Januari 2026
- Smithsonian Magazine. (2024). Webb telescope finds clues to colossal stars that birthed early black holes.Diakses 2 Januari 2026

