Senyum Bukan Tandanya Senang! Ini Dia Fakta Senyuman Seseorang Berdasarkan Eksperimen

Bagikan Artikel ini di:

Pernahkan kalian mendengar bahwa “senyum adalah sedekah”?. Ya memang benar guys kalau yang namanya sedekah bukan hanya berupa harta atau uang saja. Senyum ini merupakan sedekah yang paling mudah untuk kita lakukan. Kita hanya perlu sedikit energi melakukannya.

Hanya dengan menarik sedikit wajah dan bibir sehingga menciptakan sebuah senyuman yang manis dan indah adalah sedekah.

Senyum

Ilustrasi Orang Tersenyum. Sumber: Kompas.com

Secara fisiologi, senyum merupakan ekspresi wajah yang terjadi akibat bergeraknya atau timbulnya suatu gerakan di bibir atau kedua ujungnya, atau pula di sekitar mata. Kebanyakan orang tersenyum untuk memperlihatkan kebahagian dan rasa senang.

Memang senyum itu datang dari rasa kebahagiaan atau kesengajaan karena adanya sesuatu yang membuat dia tersenyum, bertambah raut wajahnya dengan menjadi lebih cantik daripada wajah biasa saja atau ketika marah.

Eits jangan berpikir kalau orang tersenyum itu tandanya bahagia. Nyatanya banyak orang yang sering tersenyum, tapi memiliki hati yang luka. Dengan artian dia tidak bahagia. Hal ini juga dilakukan oleh seorang peneliti yang menemukan 16 jenis senyuman, tapi hanya 6 jenis senyum saja yang berhubungan dengan bahagia.

Ternyata senyuman yang benar-benar menandakan kebahagian adalah senyuman Duchenne. Ketika kita melakukan senyum jenis ini, bagian dari otot wajah diaktifkan pada waktu yang bersamaan.

Fakta Tentang Senyum Duchenne

Kalian tahu patung Monalisa yang dilukis oleh Leonardo Da Vinci yang mashur itu? Ternyata kamu juga bisa loh tersenyum lebih indah dari Monalisa. Bagaimana caranya? Ya dengan melaukan senyum Duchenne.

Senyum manis

Ilustrasi Senyum. Sumber: Tribunnews

Senyum Duchenne ini merujuk pada Duchene de Bolougne, seorang pakar fisiologi dari Prancis yang menjadi penemu senyum pertama pada abad ke-18. Menurutnya, senyuman yang paling baik adalah senyum yang melibatkan otot di sekitar mata. Cirinya adalah mata yang mengkerut.

Jenis senyum yang satu ini dipercaya memiliki efek yang positif terhadap orang lain. Orang dengan senyuman ini punya kebahagian atas hidup yang lebih baik. Mereka yang sering melakukan senyuman ini juga dipercaya bisa hidup tujuh tahun lebih lama ketimbang mereka yang tidak mau senyum dengan gigi terlihat dan mata mengkerut.

Lalu sih arti sebenarnya dari senyuman-senyuman manusia itu? Para peneliti dari Brighton and Sussex Medical School di Inggris baru-baru ini memberikan penjelasannya.

Dr. Harry Witchell dan rekan-rekannya telah melaukan penelitan mengenai senyuman manusia yang bertujuan untuk mengetahui apakah para relawan cenderung tersenyum dalam suatu kondisi atau kejadian, dan mengapa hal itu terjadi.

“Menurut beberapa peneliti, senyum yang tulus itu mencerminkan keadaan batin dari keceriaan atau hiburan. Ini yang akan kita cari tahu,” ucap Dr. Witchel dalam forum European Conference on Cognitive Ergonomics.

Para peneliti ini mengamati data dari 44 peserta yang sehat, 26 diantaranya adalah perempuan dengan usia 18-35 tahun.

Setiap peserta duduk dalam suatu ruangan dan ditinggalkan sendiri dengan sebuah computer. Nah wajah mereka ini akan direkam dengan menggunakan suatu perangkat lunak pengenal wajah khusus.

Setiap peserta juga harus menjawab kuis yang pertanyaannya cukup sulit yang ditampilkan di komputer dengan batas jawaban 175 detik. Dengan tingkat kesulitan yang tinggi serta durasi waktu yang pendek, para peneliti melihat ternyata para peserta tersebut sering memberikan ekspresi wajah yang salah.

Setelah itu, para peneliti itu menilai hubungan antara suasana hati para peserta dan waktu dimana mereka tersenyum dengan melakukan pendekatan dua arah.

Dari soal kuis tersebut, 12 nomor pertama terkait dengan suasana hati, seperti rasa bosan, tertarik, dan frustasi. Pada satu sisi, para peserta harus menilai pengalaman mereka masing-masing dengan pertanyaan ini. Sementara di sisi lainnya, para peneliti menggunakan perangkat pengenal wajah untuk melhat seberapa seringkah para peserta tersebut tersenyum.

Secara keseluruhan, para peserta tidak tersenyum ketika mereka sedang menjawab pertanyaan pada kuis. Sebaliknya, mereka ini cenderung tersenyum setelah menjawab pertanyan karena computer akan mengkonfirmasi apakah jawaban mereka benar atau salah.

Ilustrasi Nenek Tersenyum

Ilustrasi Nenek Tersenyum

Berdasarkan penelitian tersebut, tersenyum itu tidak didorong oleh kebahagiaan. Tapi terkait dengan keterlibatan subjektif yang bertindak seperti kondisi social untuk tersenyum, bahkan ketika bersosialisasi dengan computer sekalipun. Namun, yang paling menonjol adalah ketika para peserta tampak tersenyum paling sering ketika mereka mengetahui kalau mereka telah menjawab pertanyaan yang salah.

Dari penelitian ini, para peneliti menyimpulkan bahwa suasana hatilah yang tampaknya menjadi hubungan dengan seberapa sering seseorang tersenyum. Seseorang akan tersenyum ketika menemukan ketertarikan dengan sebuah kondisi atau keadaan sosial. Mereka sepakat bahwa senyum itu terkadang muncul sebagai reaksi sosial yang tidak diadari.

Jadi, senyum itu bisa dijelaskan oleh penilaian diri dari keterlibatan, bukan oleh peringkat kebahagiaan atau rasa frutasi.

Nah hal ini juga senada dengan seorang psikolog Universitas California bernama Alan Fridlund. Ia berpendapat bahwa sebagian besar dari senyuman itu cenderung untuk menyertai salam. Sebagian besar orang terbiasa berbohong dengan sopan tentang perasaan hati mereka yang sebenarnya. Mereka cenderung mengatakan kalau mereka baik-baik saja.

Patti Wood, Ma yang merupakan seorang ahli Bahasa tubuh asal Atlanta menyatakan bahwa senyum yang dimaksud dinamai Dupper’s Delight atau Duping Smile, yaitu senyuman kecil yang biasa muncul ketika seseorang berbuat curang, berbohong, menipu atau bahkan mengelabuhi.

Senyuman seperti ini juga mungkin terjadi karena kamu merasa kurang suka atau kurang cocok dengan seseorang. Dalam budaya Timur, emosi negative sering disembunyikan dengan senyuman seperti ini untuk menjaga harmoni sosial.

ilustrasi orang jepang tersenyum

Ilustrasi orang jepang tersenyum. Sumber: Baca

“Darimana saya berasal, Indonesia, kemarahan biasanya tidak dianggap dapat diterima secara sosial. Sebaliknya, orang cenderung banyak tersenyum ketika mereka marah,” ujar Zara Ambadar yang merupakan psikolok kognitif dari University of Pittsburgh.

Hal ini seperti menjelaskan kenapa di jepang kalau etika menyatakan bahwa emosi sebaiknya ditampilkan di depan umum. Tersenyum dengan ekspresi dan bentuk mata menjadikan penekanan yang lebih besar.

Bahkan perbedaan ini sampai kepada cara senyuman yang diketik dengan karakter, yaitu secara vertical dengan mulut datar dan mata yang menyempit, yang merupakan lawan dari mata bertitik dengan mulut melengkung. Ilustrinya digambarikan seperti ini ^_^, ketimbang :),.

Referensi:

[1] Muslimah. Sedekah Tak Sekedar Rupiah. https://muslimah.or.id/7165-sedekah-tak-sekedar-rupiah.html. Diakses pada 1 Oktober 2018.

[2] Nia Hidayati. Senyum Adalah Ibadah yang Paling Mudah. http://www.niahidayati.net/awali-dengan-senyuman.html. Diakses pada 1 Oktober 2018.

[3] Tempo. Senyuman Duchenne Lebih Indah Daripada Monalisa. https://gaya.tempo.co/read/564379/senyuman-duchenne-lebih-indah-daripada-monalisa. Diakses pada 1 Oktober 2018.

[4] Beritagar. Senyum Bukan Tanda Bahagia. https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/senyum-bukan-tanda-bahagia. Diakses pada 1Oktober 2018.

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Charles Hard Townes, Sang Multitalen Penemu Laser

Bagikan Artikel ini di:

Charles Hard Townes lahir di Greenville tahun 1915, dikenal sebagai penemu laser. Menjalankan pendidikan sarjana di Furman University, pendidikan Master di Duke University, dan gelar PhD di California Institute of Technology pada usia 24 tahun. Penelitiannya dalam sistem radar selama perang dunia 2 mendorongnya untuk meneliti laser. Mengajar di berbagai universitas termasuk Colombia University, MIT dan University of California Berkeley. Terlibat aktif dalam berbagai lembaga dan organisasi penasehat pemerintah bidang sains. Menerima berbagai penghargaan termasuk hadiah Nobel Fisika pada tahun 1964 atas kontribusinya dalam penelitian fundamental quantum electronic yang membawa kepada pengembangan maser dan laser. Dr. Charles Hard Townes meninggal pada 25 Januari 2015.

thumbnail_57148

Dr. Townes dan kakak iparnya, Dr. A.L. Schawlow berfoto bersama laser generasi pertama

Charles Hard Townes lahir di Greenville, Carolina Selatan pada 28 Juli 1915, anak dari Henry Keith Townes, seorang advokat, dan Ellen (Hard) Townes. Dia masuk sekolah negeri Greenville dan Furman University di Greenville, tempat dia menyelesaikan Sarjana Sains bidang Fisika dan Sarjana Seni bidang Bahasa Modern. Lulus dengan predikat summa cumlaude pada 1935 pada usia 19 tahun. Fisika telah memikat Townes sejak kelas pertama pada tahun kedua kuliahnya karena “Stuktur Logis yang Indah” dari Fisika. Townes juga tertarik pada sejarah alam selama di Furman, mengabdi sebagai curator di museum, dan selama musim panas bekerja sebagai kolektor untuk perkemahan biologi Furman. Selain itu, dia sibuk dengan aktivitas lain seperti tergabung dalam tim renang, koran kampus dan kelompok sepakbola.

Townes menyelesaikan S2 Master of Art bidang Fisika di Duke University pada 1936, dan selanjutnya masuk sekolah pascasarjana di California Institute of Technology tempat Townes menerima gelas PhD pada 1939 dengan disertasi tentang pemisahan isotop dan putaran nuklir.

Anggota staff teknis laboratorium Bell Telephone sejak tahun 1933 sampai 1947, Dr. Townes bekerja secara intens selama perang dunia II dalam mendesain sistem radar bom dan memiliki sejumlah paten yang berhubungan dengan teknologi ini. Dari sini Towner mengubah fokus kerjanya untuk mengaplikasikan teknologi microwave dari penelitian perang ke spektoskopi, yang dia ramalkan akan menjadi teknologi baru untuk mempelajari struktur atom dan molekul dan dasar baru untuk mengontrol gelombang elektromagnetik yang potensial.

Di Colombia University, tempat dimana dia ditunjuk sebagai dosen pada 1948, Dr. Townes melanjutkan penelitian dalam fisika microwave, khususnya mempelajari interaksi antara microwave dan molekul, dan menggunakan spektra microwave untuk mempelajari struktur molekul, atom dan nucleus. Pada 1951, Dr. Townes meyakini ide dari maser, dan beberapa bulan setelahnya dia dan mitra kerjanya mulai bekerja pada alat menggunakan gas ammonia sebagai media aktif. Pada awal 1954, penguatan dan generasi gelombang electromagnet pertama melalui rangsangan emisi diperoleh oleh Dr. Townes dan muridnya menamai alatnya “maser” yang merupakan akronim dari microwave amplification by stimulated emission of radiation. Pada 1958, Dr. Townes dan kakak iparnya, Dr. A.L. Schawlow, dalam beberapa waktu seorang Profesor di Stanford University, menunjukkan secara teoritis bahwa maser dapat digunakan untuk menjalankan daerah optik dan inframerah dan mengusulkan bahwa dapat dilakukan pada sistem yang spesifik. Hasil kerja ini menghasilkan tulisan bersama mereka dalam maser optik dan inframerah atau laser (light amplification by stimulated emission of radiation). Penelitian lain telah dilakukan di bidang optik nonlinear, astronomi radio dan astronomi inframerah. Dia dan asistennya mendeteksi molekul kompleks pertama pada ruang bintang-bintang dan pertama kali mengukur massa dari lubang hitam di pusat galaksi kita.

Setelah bergabung sebagai Associate Professor (lektor kepala) bidang Fisika tahun 1948 di Columbia University, Dr. Townes ditunjuk sebagai Profesor pada tahun 1950. Dia mengabdi sebagai Direktur Eksekutif dari Laboratorium Radiasi Columbia dari tahun 1950 sampai 1952 dan sebagai Ketua jurusan Fisika sejak tahun 1952 sampai 1955.

Sejak tahun 1959 sampai 1961, dia cuti dari Columbia University untuk mengabdi sebagai wakil presiden dan ketua Penelitian dari Institute for Defense Analyses di Washington D.C., sebuah organisasi non profit yang memberi nasehat kepada pemerintah Amerika Serikat dan dijalankan oleh sebelas kampus.

Pada tahun 1961, Dr. Townes ditunjuk sebagai dekan dan professor bidang fisika di Massachusetts Institute of Technology. Sebagai dekan dia mendapat tanggung jawab bersama rektor dalam membimbing pendidikan dan penelitian kampus secara umum. Pada tahun 1966, dia menjadi professor institute di MIT dan selanjutnya pada tahun yang sama mengundurkan diri dari jabatan dekan dengan maksud untuk kembali intensif meneliti, khususnya di University of California pada 1967. Dalam posisinya ini Dr. Townes berperan dalam mengajar, meneliti dan aktifitas lain pada beberapa kampus, walaupun dia sendiri berlokasi di kampus Berkeley.

Gambar 1 Dr. Charles S. Town (courtesy of http://www.nobelprize.org)

Selama 1955 dan 1956, Townes adalah seorang anggota Guggenheim dan pengajar Fullbright, pertama di University of Paris dan selanjutnya di University of Tokyo. Dea adalah pengajar nasional untuk Sigma Xi dan juga mengajar selama sesi musim panas di Universiy of Michigan dan di Sekolah internasional fisika Enrico Fermi Italia, mengabdi sebagai director coherent light selama semusim pada 1963. Pada musim gugur 1963 dia adalah pengajar Scott lectures di University of Toronto. Pada tahun 2002-2003 dia pengajar Karl Schwarzschild di Jerman dan pengajar Birla dan Schroedinger di India.

Selain hadiah Nobel, Dr. Townes juga menerima penghargaan Templeton, dalam kontribusinya memahami agama, dan sejumlah penghargaan lain sekitar 27 penghargaan dari berbagai kampus.

Dr. Townes telah mengabdi dalam sejumlah komite ilmiah dari agensi penasehat pemerintah dan telah aktif dalam beberapa komunitas professional. Termasuk anggota, dan wakil ketua dari komite penasehat bidang sains presiden Amerika Serikat, ketua komite penasehat pendaratan manusia ke bulan pertama, dan ketua komite departemen pertahanan dalam misil MX. Dia juga mengabdi sebagai dewan perusahaan General Motors dan Perkins Elmer.

Dr. Townes dan istrinya menikah tahun 1941 tinggal di 1988 San Antonio Avenue, Berkeley, California. Mereka memiliki empat putri, Linda Rosenwein, Ellen Anderson, Carla Kessler dan Holly Townes. Dr. Charles Hard Townes meninggal pada 27 Januari 2015.

Diterjemahkan dari:

  • http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/physics/laureates/1964/townes-bio.html
Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di:

Aturan 20 Jam – Bagaimana Menguasai Sesuatu, Apapun Itu

Bagikan Artikel ini di:

master-your-strength-quote

The major barrier to skill acquisition isn’t intellectual… it’s emotional.
Josh Kaufman

Rintangan utama dalam menguasai suatu keterampilan/keahlian baru bukanlah terletak pada keterbatasan intelektual….Tetapi semata-mata karena menyangkut perasaan
Josh Kaufman

 

 

Di era Internet of Things (IoT) saat ini, informasi dapat sangat cepat bergerak dari satu ujung dunia ke ujung dunia lainnya. Kita seakan-akan tidak memiliki waktu untuk mempelajari informasi baru dari arus informasi yang tidak dapat dibendung. Oleh karena itu, hal yang paling penting untuk dipelajari dan dikuasai adalah “teknik belajar cepat“. Bagaimana kita dapat mempelajari hal yang baru, menguasainya, dan menjadi ahli, tentu dengan proses yang cepat, se-efisien, dan se-efektif mungkin.

Sekalipun kita fokus di suatu bidang, misalkan di bidang kimia organik, setiap harinya telah disintesis senyawa kimia baru yang lebih sempurna dibanding sebelumnya. Senyawa kimia organik yang mungkin dulu kita kenal efektif untuk mengobati suatu penyakit, sekarang sudah ada senyawa kimia baru yang jauh lebih efektif lagi, dengan struktur kimia yang berbeda, dengan perlakuan yang berbeda, dan dengan metode sintesis yang berbeda.

Pada artikel ini akan dibahas mengenai “bagaimana belajar dan menguasai suatu hal baru, apapun itu, dengan teknik praktek selama 20 jam”. Artikel ini didasarkan pada penelitian Josh Kaufman yang dipresenasikan pada TEDx. John Kaufman adalah penulis dari buku bestseller internasional no 1 yang berjudul “The Personal MBA: master the Art of business” dan juga “The First 20 Hours; mastering the Toughest Part of Learning Anything“, selain itu beliau juga adalah seorang guru yoga.

Umumnya penelitian-penelitian tentang bagaimana menguasai sesuatu menyebutkan bahwa untuk dapat menguasai suatu keahlian baru dibutuhkan sekitar 10.000 jam. Teknik ini terkenal sebagai “aturan 10.000 jam”. Jadi jika kita ingin mempelajari sesuatu, menguasai hal tersebut, dan menjadi ahli, sehingga dapat menjadi orang top di bidang yang kita kuasai, dibutuhkan waktu selama 10.000 jam.

Namun pertanyaannya, apakah saat ini kita memiliki waktu 10.000 jam? Apakah kita tidak terlambat untuk memulainya di usia ke sekian dengan konsekuensi fokus di 10.000 jam terdepan? 10.000 jam setara dengan jam kerja (8 jam sehari) selama 5 tahun. Setelah mengetahui fakta yang didasarkan pada penelitian ini, biasanya banyak orang yang ciut nyalinya, “Saya tidak akan bisa mempelajari dan menguasai hal baru lagi”.

Aturan 10.000 jam didasarkan atas penelitian pada orang-orang yang ahli dan top dibidangnya, dilakukan oleh Profesor di Universitas Florida, beliau adalah K. Anders Ericsson. Profesor Ericsson meneliti atlet profesional, musisi tingkat dunia, master catur, dan ahli-ahli top dunia lainnya, tentang berapa lama waktu yang mereka butuhkan sampai bisa menjadi ahli. Profesor Ericsson menemukan fakta bahwa dengan semakin keras berlatih, dengan semakin lama berlatih, maka semakin baik kemampuan orang tersebut dalam bidang yang hendak dikuasainya, dan dibutuhkan waktu sekitar 10.000 jam untuk mencapai hal itu. Aturan 10.000 jam tersebut didukung oleh penulis terkenal tingkat dunia lainnya, yakni Malcolm Gladwell , dalam bukunya yang berjudul “Outliers:The Story of Success” . Terdapat bab khusus dalam buku tersebut yang menjelaskan mengenai aturan 10.000 jam. Berlatih dengan keras, berlatih dengan lama, dan kamu akan menjadi ahli, menempati posisi puncak di bidang yang kamu kuasai.

Pesan sebenarnya yang disampaikan oleh Prof. Ericsson adalah dibutuhkan waktu 10.000 jam untuk berada di puncak bidang yang sangat kompetitif (banyak pesaing), pada bidang yang sangat khusus. Kemudian setelah buku “The Outliers” diterbitkan tiba-tiba aturan 10.000 jam itu menjadi pakem untuk mempelajari suatu hal hingga menguasai. Jadi pesan yang awalnya dibutuhkan waktu 10.000 jam untuk menguasai bidang yang sangat kompetitif, menjadi 10.000 jam untuk menjadi ahli di suatu hal, menjadi 10.000 jam untuk menjadi bisa, menjadi 10.000 jam untuk mempelajari suatu hal.

Grafik pengaruh waktu terhadap kemampuan seseorang

  • Sebenarnya, berapa lama waktu yang dibutuhkan dari belajar sesuatu yang tidak tahu sama sekali hingga dapat menguasai hal tersebut?
  • Ingin menguasai bahasa baru?
  • Ingin menguasai teknik menggambar?
  • Ingin menguasai teknik memasak?
  • Ingin menguasai teknik berkuda?
  • Atau ingin menguasai apapun itu?

Hanya 20 jam.

Definisi menguasai yang dimaksud disini adalah dapat melakukan sesuatu dengan baik.

Nyatanya dibutuhkan 20 jam saja, yakni dengan fokus, berlatih dengan sungguh-sungguh untuk menerapkan apa yang dipelajari, kemudian kita akan terkejut, bahwa 20 jam kita bisa melakukan dengan baik apa yang telah kita pelajari. Jadi dengan belajar dan latihan selama 20 jam, maka kita dapat menguasai hal yang baru.

20 jam adalah 45 menit sehari selama 1 bulan. 20 jam tidaklah susah untuk dilakukan. Namun, 20 jam tersebut tidaklah dilakukan secara sembarangan. Terdapat 4 langkah mudah dan cerdas untuk menguasai sesuatu selama 20 jam;

1. Memecah keahlian yang hendak dikuasai menjadi keahlian-keahlian yang lebih kecil

Tentukan dengan tepat apa yang kita ingin kuasai ketika telah selesai belajar dan berlatih. Lihatlah keahlian tersebut, pecah menjadi potongan-potongan kecil, keahlian yang lebih kecil. Beberapa hal yang kita anggap suatu keahlian pada dasarnya adalah kumpulan dari beberapa keahlian, yang membutuhkan usaha dan waktu yang berbeda.

Semakin kita dapat memecah keahlian tersebut, semakin besar kemampuan kita untuk menentukan apa bagian dari keahlian itu yang dapat membantu saya dalam mengekspresikan diri? Setelah kita bisa memecah keahlian-keahlian kecil, maka pelajari keahlian kecil yang paling penting pertama kali, terus sedikit demi sedikit, hingga dapat menguasai suatu keahlian secara penuh dan utuh.

2. Belajar dengan mengevaluasi diri sendiri

Dalam mempelajari sesuatu, dapatkan 3 hingga 5 sumber tentang apa yang ingin dipelajari, dapat berupa buku, CD, kursus, dapat berupa apapun itu. Tetapi jangan jadikan alat tersebut untuk menunda berlatih. Tidak cukup hanya belajar saja, melainkan juga harus latihan.

Contohnya, anda telah mengumpulkan 20 sumber yang berupa buku tentang programming, kemudian anda berkata “Saya akan mulai belajar tentang programming ketika saya telah selesai membaca 20 buku”. Itu adalah penundaan. Yang harus kita lakukan adalah belajar dengan cukup kemudian dilatih, kemudian dievaluasi apa proses yang masih salah dari latihan tadi. Jadi belajar merupakan cara efektif untuk menjadi lebih baik, perhatikan ketika kita membuat kesalahan, evaluasi, kemudian kita melakukan sesuatu yang berbeda untuk memperbaiki sesuatu yang salah tersebut.

3. Buang penghalang untuk berlatih

Penghalang untuk berlatih dapat berupa televisi, internet, sosial media, dll. Semua hal tersebut dapat mengganggu pada saat kita duduk, belajar, dan berlatih. Semakin kita bisa membuang penghalang yang mengganggu, maka akan semakin sering kita untuk duduk belajar dan berlatih.

4. Jangan baper (bawa perasaan) ketika berproses menguasai suatu hal yang baru

Kebanyakan keahlian memiliki apa yang disebut dengan penghalang frustasi. Jadi sebelum kita dapat menguasai sesuatu, kita akan melewati fase-fase frustasi, dan banyak sekali orang yang tidak dapat melalui penghalang ini.

Ketika kita tahu bahwa kita masih bodoh dalam hal yang ingin kita kuasai padahal kita tidak suka terlihat bodoh, maka itu akan membuat kita frustasi. Takut ditertawai, dikritik, diejek, dan dihina orang karena terlihat bodoh adalah penghalang utama dari kita untuk menguasai sesuatu. Apapun yang hendak kita kuasai, pada dasarnya bukanlah penghalang intelektual, bukanlah susahnya proses belajar, tetapi adalah menyangkut perasaan, emosi. Kita takut, malu, dengan perasaan bodoh tidak melakukan sesuatu dengan baik dan benar. Jika kamu mengalami hal tersebut, maka kamu harus menonton video motivasi berikut:

Kesimpulan: Ya, kita dapat menguasai sesuatu, apapun itu, selama 20 jam (saja)!

Sumber:

Baca juga:

Bagaimana Cara Efektif Belajar FISIKA?

Nilai Artikel Ini
Bagikan Artikel ini di: