Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini ada di mana-mana. Dari ponsel di tangan kita, sistem rekomendasi belanja, hingga mobil tanpa sopir dan chatbot yang bisa menulis seperti manusia. Namun, meskipun AI menjanjikan kemudahan hidup, sebuah jajak pendapat terbaru mengungkapkan kenyataan menarik: mayoritas orang tidak sepenuhnya mempercayainya.

Hanya sekitar 13% responden yang mengatakan mereka benar-benar percaya pada AI. Sisanya memilih bersikap waspada. Seorang pembaca LiveScience menggambarkannya dengan perbandingan yang puitis: “Saya mempercayai AI seperti pelaut mempercayai laut. Laut bisa membawa Anda jauh, tetapi juga bisa menenggelamkan Anda.”
Kenapa Banyak Orang Tidak Percaya AI?
Ketidakpercayaan ini sebenarnya bukan hal aneh. Seperti teknologi besar lainnya dalam sejarah, AI memunculkan campuran rasa kagum dan cemas.
Beberapa alasan utama keraguan masyarakat antara lain:
- Kurangnya transparansi
Banyak sistem AI, terutama yang berbasis machine learning, bekerja seperti “kotak hitam”. Kita tahu hasilnya, tapi tidak selalu bisa menjelaskan bagaimana keputusan itu dibuat. - Potensi penyalahgunaan
Dari penyebaran hoaks dengan deepfake, manipulasi opini publik, hingga kemungkinan penggunaan militer, AI sering dianggap pedang bermata dua. - Ancaman terhadap pekerjaan
Banyak orang khawatir AI akan menggantikan pekerjaan manusia, dari kasir supermarket hingga penulis, bahkan dokter. - Bias dan diskriminasi
AI hanya secerdas data yang melatihnya. Jika data bias, hasilnya juga bias. Sudah ada kasus AI yang memperkuat stereotip atau membuat keputusan diskriminatif.
Baca juga artikel tentang: Aplikasi Desain Logo dengan Dukungan AI Terbaik di Tahun 2025
Antara Optimisme dan Kecemasan
Meski banyak yang ragu, sebagian orang tetap optimis. AI bisa membawa manfaat luar biasa, misalnya:
- Kesehatan: membantu dokter membaca hasil scan lebih cepat dan akurat.
- Transportasi: mengurangi kecelakaan lewat mobil tanpa sopir.
- Lingkungan: memprediksi perubahan iklim dengan lebih detail.
- Kehidupan sehari-hari: dari asisten virtual hingga rekomendasi tontonan Netflix.
Namun, seperti laut yang luas dan tak terduga, AI juga punya sisi gelap. Rasa “antara kagum dan takut” ini adalah respons alami manusia saat menghadapi sesuatu yang begitu besar dan baru.
Sejarah Singkat: Ketakutan Lama terhadap Teknologi Baru
Fenomena ini bukan pertama kali terjadi. Dalam sejarah, hampir setiap teknologi revolusioner menimbulkan ketakutan:
- Listrik awalnya dianggap berbahaya dan banyak ditolak penggunaannya.
- Kereta api di abad ke-19 memicu kekhawatiran akan “merusak tubuh manusia” karena terlalu cepat.
- Internet awalnya diragukan dan dituduh berpotensi merusak tatanan sosial.
Namun, seiring waktu, masyarakat belajar menyesuaikan diri, menetapkan aturan, dan memanfaatkan teknologi itu untuk kebaikan. Pertanyaannya: apakah AI akan mengikuti jalur serupa?
“Kotak Hitam” yang Sulit Dipercaya
Salah satu sumber ketidakpercayaan terbesar adalah kurangnya pemahaman publik tentang cara kerja AI.
Misalnya, sebuah sistem AI bisa memprediksi siapa yang layak mendapatkan pinjaman bank. Tapi ketika ditanya “kenapa orang ini ditolak?”, jawaban yang muncul sering tidak jelas. Hal ini membuat orang merasa AI misterius dan tidak bisa dipercaya, seakan kita menyerahkan keputusan penting hidup kepada mesin tanpa penjelasan.
Inilah mengapa banyak ahli mendorong konsep “AI yang dapat dijelaskan” (explainable AI) sistem yang tidak hanya memberikan jawaban, tapi juga alasan yang mudah dipahami manusia.
Dilema Etika dan Regulasi
Selain persoalan teknis, ada juga masalah etika. Siapa yang bertanggung jawab jika AI membuat kesalahan? Produsen, pengguna, atau AI itu sendiri?
Bayangkan mobil tanpa sopir yang menabrak pejalan kaki. Siapa yang disalahkan?
- Perusahaan pembuat mobil?
- Programmer yang menulis kode?
- Atau algoritma yang membuat keputusan?
Pertanyaan-pertanyaan ini belum punya jawaban pasti. Karena itu, banyak negara mulai membahas regulasi AI, dari perlindungan data pribadi hingga larangan penggunaan untuk pengawasan massal.
AI Sebagai “Laut Modern”
Laut bisa menjadi jalur perdagangan, sumber makanan, dan jalan untuk menjelajahi dunia. Tapi laut juga bisa menenggelamkan kapal, menciptakan badai, atau menyesatkan navigasi.
AI pun demikian:
- Jika dikelola dengan baik, ia bisa membawa umat manusia pada kemajuan besar.
- Jika dibiarkan tanpa aturan, ia bisa menciptakan masalah sosial, politik, dan etika yang sulit diatasi.
Bagaimana Membina Kepercayaan Publik?
Agar AI benar-benar diterima masyarakat, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan:
- Transparansi
AI harus bisa menjelaskan cara kerjanya dengan bahasa yang bisa dimengerti orang awam. - Regulasi yang jelas
Pemerintah perlu membuat aturan tentang penggunaan AI, termasuk batasan agar tidak disalahgunakan. - Edukasi publik
Masyarakat perlu dibekali pemahaman dasar tentang AI, sehingga tidak hanya takut pada hal yang tidak mereka pahami. - Keterlibatan etika
Ilmuwan dan perusahaan teknologi harus selalu mempertimbangkan dampak sosial, bukan hanya keuntungan finansial.
Kita berada di persimpangan sejarah. AI adalah salah satu penemuan terbesar abad ini, mungkin setara dengan penemuan listrik atau internet. Ia bisa membawa kita menuju masa depan penuh inovasi, atau justru menimbulkan masalah baru jika salah arah.
Ketidakpercayaan publik terhadap AI bukanlah tanda penolakan, melainkan peringatan agar kita berhati-hati. Sama seperti pelaut yang tidak pernah meremehkan laut, kita pun harus mengembangkan AI dengan rasa hormat, tanggung jawab, dan kewaspadaan.
Karena pada akhirnya, AI hanyalah alat. Bagaimana ia digunakan, tergantung sepenuhnya pada manusia yang menciptakan dan mengendalikannya.
Baca juga artikel tentang: Neurosemiotika Digital: Bagaimana AI Bisa Membentuk Ulang Cara Manusia Menulis
REFERENSI:
Perez, Rachel Lee. 2025. The Real Jaws: The Attacks that Inspired the Movies. White Owl.
Poore, Elise. 2025. ‘I trust AI the way a sailor trusts the sea. It can carry you far, or it can drown you’: Poll results reveal majority do not trust AI. Live Science: https://www.livescience.com/technology/artificial-intelligence/i-trust-ai-the-way-a-sailor-trusts-the-sea-it-can-carry-you-far-or-it-can-drown-you-poll-results-reveal-majority-do-not-trust-ai diakses pada tanggal 7 September 2025.

