Penerbangan selalu bergerak mengikuti perkembangan teknologi. Setiap alat baru yang masuk ke kokpit lahir dari kebutuhan besar untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi. Namun, kehadiran kecerdasan buatan atau AI memicu perasaan yang jauh lebih rumit bagi para pilot. Mereka tidak hanya melihat AI sebagai alat pendukung pekerjaan, tetapi juga mulai merasakannya sebagai kehadiran yang menyerupai manusia. Bahkan, sebagian pilot menilai AI memiliki sifat yang mengingatkan mereka pada ciri ciri sosiopatik, seperti kecenderungan mengambil keputusan tanpa empati atau kesan tidak peduli terhadap konteks emosional.
Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 oleh Giacomo Belloni dan Petru Lucian Curseu mencoba memahami bagaimana persepsi terhadap AI yang tampak seperti manusia mempengaruhi cara pilot memandang masa depan karier mereka. Studi ini berangkat dari gagasan bahwa manusia sering kali menilai teknologi dengan pola pikir yang sama seperti saat mereka menilai sesama manusia. Fenomena ini disebut antropomorfisme. Ketika alat atau sistem menunjukkan perilaku yang tampak mirip dengan perilaku manusia, otak manusia langsung menghubungkannya dengan karakter tertentu, baik positif maupun negatif.
Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital
Dalam konteks pilot, antropomorfisme memiliki dampak yang lebih besar. Teknologi telah lama menjadi bagian dari pekerjaan mereka. Namun AI berada pada level yang berbeda. Teknologi sebelumnya hanya memberikan bantuan teknis, sementara AI mulai menunjukkan kemampuan mengambil keputusan secara mandiri. Pilot pun tidak lagi melihat AI sebagai perpanjangan tangan manusia, tetapi sebagai sosok baru yang punya cara berpikir sendiri. Pemikiran inilah yang membuat studi ini sangat penting, karena persepsi pilot dapat memengaruhi bagaimana teknologi baru diterima di industri penerbangan.
Penelitian ini mengumpulkan data dari 363 pilot komersial. Setiap peserta diminta menilai sejauh mana mereka melihat sifat sifat seperti manusia dalam AI, termasuk ciri yang dianggap sosiopatik. Istilah sosiopatik dalam penelitian ini tidak merujuk pada gangguan klinis, tetapi pada karakteristik seperti kurangnya empati, kecenderungan mengambil keputusan yang kaku, atau kemampuan bertindak tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Dengan kata lain, AI yang tampak terlalu dingin, terlalu analitis, atau tidak terpengaruh oleh kondisi emosional manusia dapat dianggap memiliki karakteristik tersebut.
Hasilnya cukup menarik. Pilot yang menilai AI memiliki ciri ciri sosiopatik ternyata merasa lebih terancam secara karier. Mereka merasa bahwa AI seperti ini tidak hanya mengambil alih tugas teknis, tetapi juga berpotensi menggantikan peran mereka dalam pengambilan keputusan kritis. Persepsi ancaman ini muncul karena dua alasan. Pertama, AI dianggap semakin mandiri. Kedua, AI dinilai tidak selalu mempertimbangkan aspek kemanusiaan dalam proses penilaiannya. Ketika dua faktor ini bergabung, pilot merasa bahwa identitas profesional mereka ikut dipertaruhkan.

Namun tidak semua aspek penelitian ini bersifat negatif. Para peneliti juga menemukan bahwa peluang karier menjadi faktor penengah yang sangat penting. Pilot yang merasa memiliki prospek karier yang baik cenderung lebih optimis terhadap teknologi AI. Mereka melihat AI sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan kinerja dan keselamatan penerbangan. Dengan kata lain, rasa aman dalam pekerjaan membuat pilot lebih terbuka terhadap inovasi. Sebaliknya, pilot yang merasa masa depan karier mereka tidak stabil lebih mudah melihat AI sebagai ancaman.
Hal ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap AI tidak hanya dibentuk oleh kemampuan teknis AI itu sendiri, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan sosial para pilot. Ketika rasa aman berkurang, pikiran manusia menjadi lebih peka terhadap ancaman. Dalam kasus ini, AI yang terlihat terlalu mirip manusia memicu kecemasan yang lebih besar.
Selain itu, penelitian ini menemukan hubungan antara persepsi ancaman dan ekspektasi terhadap performa AI. Jika pilot menganggap AI berpotensi mengancam pekerjaan, mereka cenderung memiliki ekspektasi yang lebih rendah terhadap kemampuan AI untuk meningkatkan keselamatan dan kualitas penerbangan. Namun hubungan ini hanya muncul ketika pilot merasa peluang karier mereka terbatas. Ketika mereka yakin bahwa masa depan karier tetap cerah, persepsi ancaman tidak terlalu memengaruhi ekspektasi performa AI.
Temuan ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh psikologis dalam penerimaan teknologi. Di dunia penerbangan yang sangat mengandalkan keakuratan data dan logika, faktor emosional dan sosial tetap menjadi elemen penting. Teknologi, seberapa canggih pun bentuknya, tidak bisa dipisahkan dari manusia yang menggunakannya. Ketika pengguna merasa nyaman, teknologi akan diterima. Ketika pengguna merasa terancam, teknologi bisa ditolak meskipun manfaatnya besar.
Penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi industri penerbangan. Integrasi AI tidak boleh hanya berfokus pada efisiensi dan kemampuan teknis. Industri perlu memahami bagaimana karakteristik AI memengaruhi persepsi para pilot yang menjadi pengguna utamanya. Jika AI tampak terlalu dingin atau terlalu mandiri, pilot mungkin merasa tersisih. Sebaliknya, jika AI dirancang untuk menunjukkan isyarat yang lebih mudah dipahami manusia, penerimaan teknologi bisa meningkat.
Selain itu, penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi antara pengembang teknologi, maskapai penerbangan, dan pilot. Ketika pilot dilibatkan dalam proses pengembangan dan memahami batasan sekaligus potensi AI, mereka cenderung lebih percaya pada teknologi tersebut. Kepercayaan menjadi fondasi utama dalam industri yang bertumpu pada keselamatan seperti penerbangan.
Kesimpulan dari penelitian ini cukup jelas. AI yang terlihat memiliki sifat sifat sosiopatik dapat memicu rasa ancaman pada para pilot. Namun rasa ancaman tersebut bisa ditekan jika pilot merasa memiliki peluang karier yang baik dan memahami manfaat AI bagi tugas mereka. Teknologi bukan hanya soal kemampuan, tetapi juga tentang bagaimana manusia menilainya.
Dengan kata lain, masa depan penerbangan bukan hanya ditentukan oleh seberapa pintar AI berkembang, tetapi juga oleh seberapa baik industri memahami perasaan manusia yang bekerja berdampingan dengan teknologi tersebut.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak
REFERENSI:
Belloni, Giacomo & Curșeu, Petru Lucian. 2025. Anthropomorphic AI: Sociopathic AI Features as Predictors of Career Opportunities and Threats Perceived by Pilots in Commercial Aviation. The International Journal of Aerospace Psychology, 1-16.

