Apa Bedanya Otak Orang yang Suka Khawatir dan yang Selalu Berpikir Positif?

Apakah kamu termasuk orang yang selalu melihat sisi terang dari sebuah situasi? Atau justru cenderung khawatir akan skenario terburuk dari segala hal? Apa pun jawabannya, para ilmuwan kini menemukan bahwa cara otak kita memproses dunia sangat dipengaruhi oleh sudut pandang hidup kita. Apakah kita optimis atau pesimis.

Apakah kamu termasuk orang yang selalu melihat sisi terang dari sebuah situasi? Atau justru cenderung khawatir akan skenario terburuk dari segala hal? Apa pun jawabannya, para ilmuwan kini menemukan bahwa cara otak kita memproses dunia sangat dipengaruhi oleh sudut pandang hidup kita. Apakah kita optimis atau pesimis.

Penelitian terbaru dari Jepang mengungkap bahwa otak orang-orang optimis bekerja dengan cara yang cukup seragam dan terstruktur, sedangkan otak para pesimis justru menunjukkan pola aktivitas yang lebih acak dan penuh variasi. Dalam kata lain, optimis cenderung “kompak” dalam cara berpikirnya, sedangkan pesimis lebih bebas membayangkan kemungkinan buruk yang unik dan beragam.

Kebahagiaan dan Ketakutan Itu Punya Jalur Masing-Masing di Otak

Pernah dengar kutipan terkenal dari penulis Rusia, Leo Tolstoy? “Semua keluarga bahagia mirip satu sama lain, tetapi setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya sendiri.”
Kutipan ini sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana orang menangani masalah emosional dan sekarang, ilmu saraf menunjukkan hal serupa terjadi di otak manusia.

Tim ilmuwan dari Universitas Kobe di Jepang melakukan studi yang unik. Mereka mengajak 67 relawan untuk menjalani pemindaian otak (fMRI) sambil diminta membayangkan berbagai kejadian yang bisa terjadi pada diri mereka di masa depan, baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan.

Kemudian, para peneliti membandingkan aktivitas otak dari orang-orang yang cenderung optimis dan pesimis.

Optimis: Otaknya Konsisten dan Terarah

Hasil pemindaian menunjukkan bahwa para optimis cenderung memiliki pola aktivitas otak yang sangat mirip satu sama lain. Bagian-bagian tertentu dari otak mereka, seperti korteks prefrontal medial aktif secara konsisten ketika mereka membayangkan masa depan yang cerah.

Korteks prefrontal medial adalah bagian otak yang banyak berperan dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan penilaian terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, optimis menggunakan bagian otak yang sama dan efisien ketika membayangkan hal-hal baik yang mungkin terjadi.

Itulah mengapa para optimis lebih cenderung fokus pada peluang, harapan, dan jalan keluar. Otak mereka seperti punya “jalur cepat” untuk berpikir positif.

Pesimis: Otaknya Penuh Imajinasi Bencana

Sebaliknya, otak para pesimis menunjukkan pola yang jauh lebih bervariasi dan tak menentu. Mereka menggunakan bagian otak yang berbeda-beda saat membayangkan masa depan yang penuh kesulitan. Dengan kata lain, tidak ada pola tetap di otak para pesimis, mereka membayangkan ancaman dan bencana dalam berbagai bentuk dan sudut pandang.

Ini bisa jadi menjelaskan mengapa orang yang pesimis cenderung lebih mudah stres dan sulit menenangkan diri, karena otak mereka cenderung membayangkan skenario buruk yang lebih kompleks dan mendetail, bahkan ketika tidak ada ancaman nyata di depan mereka.

Apakah Ini Artinya Menjadi Optimis Itu Lebih Baik?

Tidak selalu.

Meskipun otak optimis terlihat “lebih teratur”, para ilmuwan tidak menyimpulkan bahwa pesimisme adalah sesuatu yang salah. Faktanya, pesimisme memiliki peran penting secara evolusioner.

Bayangkan manusia purba yang hidup di alam liar. Mereka yang waspada terhadap kemungkinan serangan binatang buas atau bahaya lingkungan mungkin punya peluang lebih tinggi untuk bertahan hidup. Dalam konteks modern, orang pesimis sering kali lebih berhati-hati dan lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk, misalnya saat membuat keputusan finansial atau menghadapi risiko kesehatan.

Namun, terlalu pesimis juga bisa membuat seseorang terjebak dalam lingkaran kekhawatiran yang tidak perlu, yang berpotensi mengganggu kualitas hidup dan kesehatan mental.

Pertanyaan besar yang muncul adalah: apakah kita bisa mengubah pola pikir dari pesimis menjadi lebih optimis? Ilmu psikologi dan neuroscience menunjukkan bahwa otak manusia cukup fleksibel untuk berubah, sebuah konsep yang disebut neuroplasticity.

Dengan latihan tertentu seperti berpikir positif secara sadar, menulis jurnal rasa syukur, atau terapi kognitif, seseorang bisa melatih otaknya untuk mulai membentuk “jalur baru” dalam cara memproses peristiwa.

Studi ini menunjukkan bahwa optimisme bukan hanya soal kepribadian, tapi juga bisa berakar dari kebiasaan berpikir dan cara otak merespons pengalaman.

Mengetahui bahwa cara otak kita bekerja dipengaruhi oleh sikap kita terhadap hidup, memberi kita kekuatan untuk melakukan perubahan. Kita bisa belajar untuk:

  • Menyadari pola pikir negatif dan tidak langsung percaya pada semuanya.
  • Melatih otak untuk lebih fokus pada harapan dan kemungkinan baik.
  • Menggunakan rasa pesimis sebagai alat analisis risiko, bukan sebagai gaya hidup.

Intinya, tidak masalah apakah kamu lebih cenderung optimis atau pesimis. Keduanya punya kelebihan dan kekurangan. Tapi dengan memahami bagaimana otak kita memproses masa depan, kita bisa lebih sadar akan pikiran kita sendiri dan lebih bijak dalam merespons dunia di sekitar kita.

REFERENSI:

Luntz, Stephen. 2025. Optimists’ Brains Work The Same Way, While Pessimists Dream Up Their Own Disasters. IFL Science: https://www.iflscience.com/optimists-brains-work-the-same-way-while-pessimists-dream-up-their-own-disasters-80094 di akses pada tanggal 26 Juli 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top