Kesepian dalam Perspektif Sains

Kesepian merupakan sensasi emosional yang timbul saat seseorang merasa teramat sendirian, tersisih, atau tidak merasa terkoneksi dalam hubungan sosial yang memadai. Sensasi ini bisa dirasakan meskipun individu tersebut berada di antara kerumunan orang lain, karena kesepian sebenarnya melibatkan perasaan batin akan kekurangan hubungan yang berarti atau perasaan kepemilikan akan suatu tempat atau ikatan yang substansial dalam suatu lingkungan sosial.

blank

Kesepian merupakan sensasi emosional yang timbul saat seseorang merasa teramat sendirian, tersisih, atau tidak merasa terkoneksi dalam hubungan sosial yang memadai. Sensasi ini bisa dirasakan meskipun individu tersebut berada di antara kerumunan orang lain, karena kesepian sebenarnya melibatkan perasaan batin akan kekurangan hubungan yang berarti atau perasaan kepemilikan akan suatu tempat atau ikatan yang substansial dalam suatu lingkungan sosial.

Kesepian mencakup aspek psikologis, sosial, dan terkadang juga fisik. Dimensi psikologis berkaitan dengan dampak emosional seperti stres, kecemasan, dan depresi yang bisa ditimbulkan oleh kesepian. Sisi sosial dari kesepian muncul ketika seseorang merasakan dirinya terputus dari jejaring sosial yang biasanya memberikan dukungan.
Secara fisik, kesepian juga berpengaruh pada kesehatan fisik karena adanya korelasi antara kesejahteraan emosional dan kesehatan tubuh seseorang. Penting untuk diwaspadai karena kesepian tidak hanya berdampak secara psikologis, namun juga melibatkan aspek-aspek sosial serta dapat mepnegaruhi kondisi fisik seseorang secara keseluruhan. Upaya untuk menyadari implikasi kesepian yang luas sangatlah penting dalam menjaga kesehatan secara menyeluruh.

Kesepian tidak sekadar merujuk pada ketiadaan kehadiran fisik di tengah kelompok orang, tetapi lebih pada kurangnya kemampuan untuk menjalin hubungan yang bermakna dengan orang lain. Kesepian adalah suatu kondisi yang penting untuk diselesaikan sebab kondisi kesepian yang terus-menerus dapat membawa dampak negatif signifikan terhadap kesejahteraan fisik dan mental seseorang. Dibutuhkan upaya untuk membangun hubungan yang kuat, merawat jaringan hubungan sosial, dan dalam beberapa kasus, mencari bantuan dari ahli kesehatan jiwa guna mengatasi perasaan kesepian tersebut.

Dimensi kesepian tidak hanya berkaitan dengan ketiadaan saja, melainkan juga dengan kegagalan dalam menyambut arti dan makna di balik hubungan sosial yang dimiliki seseorang. Kehadiran fisik seringkali bukan jaminan dari kebersamaan yang bermakna, lebih tepat merujuk pada pertemuan yang memenuhi kebutuhan emosional dan psikologis individu. Penanganan terhadap kesepian menjadi penting dikarenakan gejala kronis dari kondisi ini mampu merusak kesehatan mental psikis secara signifikan, bisa memberi dampak pada performa dan kualitas hidup seseorang secara keseluruhan. Oleh karena itu, langkah-langkah seperti membangun relasi yang kokoh, merawat hubungan sosial yang ada dengan teliti, serta meminta support dari profesional terlatih di bidang kesehatan mental, dapat berperan dalam membantu menangani persoalan kesepian.

Dirangkum dalam Ann Behav Med Journal 2010, kesepian adalah “STATE OF MIND” bahwa kebutuhan sosial seseorang tidak terpenuhi oleh kuantitas atau kualitas hubungan sosial seseorang. Di dunia modern, kesepian lebih dari kontak sosial saja namun ke kualitas kontak sosial.

Apakah bisa kita sendiri tapi tidak kesepian?

Yup, ada individu yang dapat merasa aman dan nyaman meski sedang sendirian, sementara ada yang merasa kesepian meskipun dikelilingi oleh keramaian. Hal ini dikarenakan kesepian adalah pengalaman psikologis yang dapat dipengaruhi oleh faktor genetik, asuhan (nurture), dan lingkungan. Menurut penelitian Neuropsychopharmacology pada tahun 2017, sekitar 14-27% dari kecenderungan kesepian dapat diwarisi secara genetik. Di sisi lain, sebanyak 73-86% sisanya dipengaruhi oleh lingkungan dan pengalaman pribadi. Dengan kata lain, persepsi kesepian bisa dipengaruhi oleh kombinasi faktor turunan genetik individual dan lingkungan di sekitarnya.

Berbagai penelitian mencatat bahwa kesepian dapat dibagi menjadi beberapa jenis, termasuk kesepian sosial yang berkaitan dengan keinginan untuk memiliki hubungan sosial yang luas, kesepian budaya yang sering dialami oleh individu yang tinggal di luar negeri, jauh dari negara asal mereka, dan kesepian emosional yang berkaitan dengan hubungan dalam keluarga, romansa, atau persahabatan. Menurut Profesor Patrick Hill, hampir semua dari kita setidaknya pernah merasakan kesepian beberapa kali selama hidup kita, karena pengalaman kesepian sangat bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi yang berbeda.

Studi Psychology and Aging 2023 menyarankan pentingnya memberikan nilai dan makna pada aktivitas sehari-hari yang sederhana, seperti berkebun, menyambut keluarga, atau mengajar. Tujuannya adalah untuk menghargai dan merasa bangga dengan kegiatan positif tersebut sebagai upaya untuk melindungi diri dari perasaan kesepian. Jika saat ini kalian kesepian dan membaca artikel ini, ingatlah bahwa kalian tidak sendiri, Chin up dan Bangkit!

REFERENSI:

  • Hill, P.L, dkk. 2023. Do Associations Between Sense of Purpose, Social Support, and Loneliness Differ Across The Adult Lifespan?. Psychology and Aging.
  • Gao, J, dkk. 2017. Genome-Wide Association Study of Loneliness Demonstrates a Role for Common Variation. Neuropsychopharmacology, 42(4), pp. 811-8-21.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *