Osteoarthritis sering tampil sebagai penyakit yang banyak diremehkan karena masyarakat menganggapnya sekadar rasa nyeri pada lutut atau pinggul akibat usia. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Penyakit sendi kronis ini tidak hanya menyerang tubuh, tetapi juga memengaruhi kehidupan seseorang secara menyeluruh. Sebuah studi terbaru yang dilakukan pada tahun 2025 mengungkap hubungan kuat antara osteoarthritis, depresi, kecemasan, dan kualitas hidup. Temuan ini memberikan sudut pandang baru mengenai bagaimana kondisi mental memegang peran penting dalam perjalanan penyakit fisik kronis.
Studi yang dilakukan di Pakistan ini melibatkan tiga ratus pasien osteoarthritis yang menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan. Mereka mengikuti serangkaian evaluasi psikologis dan pengukuran kualitas hidup melalui instrumen yang sudah teruji secara internasional. Hasil penelitian ini menyoroti betapa besar pengaruh kondisi mental terhadap keseharian penderita osteoarthritis, bahkan lebih besar daripada yang banyak orang bayangkan.
Baca juga artikel tentang: Efek Psikologis dari Balasan Singkat: Ketika “Oke” Menjadi Sumber Stres Sosial Digital
Pasien osteoarthritis sering mengalami peradangan sendi yang menyebabkan rasa sakit, kekakuan, dan keterbatasan gerak. Kondisi ini membuat aktivitas harian menjadi lebih sulit, mulai dari berjalan di rumah hingga menaiki tangga. Ketika keterbatasan fisik berlangsung dalam jangka panjang, muncul rasa frustasi, kewalahan, dan akhirnya gejala kecemasan atau depresi. Studi ini menunjukkan bahwa dua kondisi mental tersebut bukan hanya efek samping, tetapi juga faktor yang memperparah penurunan kualitas hidup.
Para peneliti menemukan bahwa depresi memiliki hubungan paling kuat dengan rendahnya kualitas hidup pada penderita osteoarthritis. Angka yang muncul dari analisis statistik menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat depresi, semakin rendah skor kualitas hidup seseorang. Dengan kata lain, rasa sedih berkepanjangan, hilangnya motivasi, atau perasaan tidak berdaya dapat memperburuk persepsi seseorang mengenai kesehatannya sendiri, hingga membuat rasa sakit fisik terasa lebih mengganggu.
Kecemasan juga memainkan peran yang cukup besar. Pasien yang diliputi kekhawatiran mengenai kondisi tubuhnya, masa depan kehidupannya, atau kemampuan untuk tetap mandiri mengalami kualitas hidup yang lebih rendah dibandingkan mereka yang tingkat kecemasannya lebih ringan. Kekhawatiran ini tidak selalu berkaitan dengan rasa sakit itu sendiri, tetapi dengan ketidakpastian tentang kapan gejala akan kambuh atau apakah kondisi tersebut akan terus memburuk.
Hasil penelitian juga mengungkap bahwa perempuan mengalami depresi dan kecemasan lebih tinggi dibandingkan laki laki. Beberapa faktor dapat menjelaskan temuan ini. Perempuan cenderung memiliki harapan sosial yang lebih besar terkait peran keluarga dan rumah tangga. Ketika kemampuan fisik menurun, mereka mungkin merasa tidak mampu memenuhi tanggung jawab tersebut, sehingga lebih rentan mengalami tekanan emosional. Selain itu, perubahan hormonal sepanjang hidup perempuan juga dapat memengaruhi sensitivitas terhadap rasa nyeri dan respons emosional.
Usia menjadi faktor lain yang memperburuk situasi. Pasien yang lebih tua cenderung memiliki gejala osteoarthritis yang lebih parah dan durasi penyakit yang lebih lama. Perjalanan panjang dengan rasa sakit kronis membuat banyak orang merasa lelah secara mental. Mereka mungkin mulai kehilangan harapan untuk pulih, apalagi jika gejala terus berkembang meskipun sudah menjalani pengobatan. Kondisi ini memperbesar risiko munculnya depresi dan kecemasan seiring bertambahnya usia.
Penelitian ini menekankan pentingnya memasukkan pemeriksaan kesehatan mental ke dalam penanganan osteoarthritis. Selama ini dokter lebih fokus pada pengobatan fisik seperti obat antinyeri, fisioterapi, atau operasi penggantian sendi. Namun pendekatan tersebut tidak menyentuh akar persoalan yang dapat memperburuk kesejahteraan pasien. Ketika depresi dan kecemasan tidak ditangani, rasa sakit dapat terasa lebih intens, pemulihan menjadi lebih lambat, dan motivasi untuk menjalani terapi fisik menurun.
Pendekatan yang lebih efektif adalah menggabungkan perawatan fisik dan mental secara bersamaan. Konseling psikologis, terapi perilaku kognitif, atau edukasi kesehatan mental dapat membantu pasien memahami kondisi mereka lebih baik dan mengurangi beban emosional yang menyertainya. Ketika seseorang memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai apa yang terjadi pada tubuhnya, ia dapat mengelola rasa sakit dengan lebih efektif dan menjalani aktivitas harian dengan lebih percaya diri.
Selain itu, melibatkan keluarga juga terbukti membantu. Dukungan emosional dari orang terdekat dapat memudahkan pasien menghadapi ketidaknyamanan fisik dan mental. Ketika keluarga memahami bahwa perubahan suasana hati atau perilaku bukan disebabkan oleh kemauan pribadi, tetapi akibat penyakit yang sedang dialami, mereka dapat memberikan dukungan yang lebih tepat.

Peneliti merekomendasikan agar fasilitas kesehatan menerapkan skrining rutin untuk depresi dan kecemasan pada setiap pasien osteoarthritis. Pemeriksaan sederhana melalui kuesioner sudah cukup untuk mengidentifikasi siapa saja yang berisiko tinggi. Setelah itu tenaga kesehatan dapat mengambil langkah lanjutan untuk memberikan perawatan yang sesuai, baik berupa rujukan ke layanan psikologi maupun konseling singkat di tempat.
Penerapan pendekatan holistik ini dapat membawa perubahan besar dalam kualitas hidup para penderita osteoarthritis. Ketika kondisi mental tertangani dengan baik, pasien biasanya lebih bersemangat menjalani terapi, lebih aktif bergerak, dan lebih mampu mengelola rasa sakit. Pada tahap tertentu mereka bahkan bisa kembali menjalani aktivitas yang sebelumnya sulit dilakukan.
Penelitian ini membuka wawasan baru bahwa kesehatan mental dan fisik tidak dapat dipisahkan. Kedua aspek ini terus berinteraksi dan saling mempengaruhi. Osteoarthritis mungkin menyerang sendi, tetapi dampaknya menyebar ke seluruh aspek kehidupan. Penyakit ini mengingatkan bahwa tubuh manusia bekerja sebagai satu kesatuan. Ketika satu bagian terganggu, bagian lain ikut merasakan efeknya.
Studi ini memberikan pesan penting bahwa penanganan penyakit kronis memerlukan pendekatan menyeluruh. Dengan memperhatikan kesehatan mental sejak awal, tenaga medis dapat membantu pasien mencapai hasil perawatan yang lebih baik dan kualitas hidup yang lebih tinggi. Para peneliti berharap temuan ini dapat mendorong perubahan kebijakan kesehatan sehingga perawatan osteoarthritis tidak lagi berfokus pada tubuh saja, tetapi juga pada kesejahteraan emosional pasien.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kita Suka Mendengarkan Lagu Sedih Saat Galau? Jawaban dari Psikologi, Biologi, dan Ilmu Otak
REFERENSI:
Mashayekhi, Yashar dkk. 2025. Depression and Anxiety as Predictors of Quality of Life in Osteoarthritis Patients. Cureus 17 (10).

