Perubahan iklim sudah menjadi salah satu isu lingkungan terbesar di abad ini. Survei di berbagai negara menunjukkan bahwa mayoritas orang percaya bahwa perubahan iklim itu nyata dan disebabkan oleh aktivitas manusia—misalnya pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan polusi industri—tetapi kenyataannya banyak orang tetap tidak mengambil tindakan nyata untuk mengatasi dampaknya. Mengemudi lebih sedikit, makan lebih sedikit daging, mendukung energi terbarukan, atau bahkan menandatangani petisi perubahan kebijakan—semuanya tetap belum menjadi perilaku luas meskipun kesadaran sudah tinggi. Mengapa hal ini terjadi? Tim peneliti dari Annenberg School for Communication, Annenberg Public Policy Center, dan School of Arts & Sciences di University of Pennsylvania berusaha menjawab pertanyaan ini melalui sebuah studi luas yang membandingkan banyak strategi berbeda untuk melihat mana yang benar-benar memotivasi tindakan manusia terhadap perubahan iklim.
Memahami Hambatan Psikologis terhadap Tindakan
Dalam studi tersebut, tim peneliti melakukan identifikasi tiga hambatan utama yang sering membuat orang tetap pasif meskipun mereka tahu perubahan iklim itu penting. Hambatan pertama adalah relevansi—orang sering kesulitan melihat mengapa perubahan iklim itu penting bagi mereka atau orang yang mereka kenal, sehingga kurang termotivasi untuk bertindak. Hambatan kedua adalah kurangnya berpikir tentang masa depan (future thinking)—banyak orang lebih fokus pada kebutuhan dan kenyamanan saat ini daripada memikirkan konsekuensi jangka panjang dari pilihan mereka. Hambatan ketiga adalah response efficacy, keyakinan bahwa tindakan mereka benar-benar memiliki dampak; sering kali orang merasa bahwa tindakan kecil mereka tidak akan membuat perbedaan besar, sehingga mereka tidak berusaha.
Istilah response efficacy ini mengacu pada seberapa kuat seseorang percaya bahwa tindakan tertentu akan menghasilkan hasil yang diinginkan. Dalam konteks perubahan iklim, jika seseorang tidak yakin bahwa mengurangi penggunaan mobil atau beralih ke makanan berkelanjutan akan membantu mengurangi emisi, mereka cenderung tidak melakukan tindakan tersebut.
“Intervention Tournament”: Menguji Banyak Strategi Sekaligus
Alih-alih menguji satu pesan atau strategi satu per satu seperti yang dilakukan banyak penelitian lain, tim Penn menjalankan sebuah “intervention tournament”—metode inovatif yang menyerupai kompetisi antar intervensi—di mana 17 strategi berbeda diuji secara bersamaan pada hampir 7.624 orang dewasa di Amerika Serikat. Pendekatan ini memungkinkan tim membandingkan mana yang paling efektif dalam memotivasi niat orang untuk bertindak, berbagi informasi, atau mendukung aksi kolektif.
Istilah intervensi di sini berarti suatu bentuk pesan atau aktivitas yang dirancang untuk mengubah cara orang berpikir atau berperilaku, seperti tugas berpikir tentang masa depan, atau menulis surat kepada generasi mendatang.
Strategi yang Paling Efektif: Membantu Orang Membayangkan Masa Depan
Hasil studi menunjukkan bahwa dua strategi yang menargetkan berpikir tentang masa depan memiliki dampak paling besar dalam memotivasi niat orang untuk bertindak. Strategi pertama mendorong peserta untuk membayangkan diri mereka mengalami masa depan negatif yang bisa terjadi jika perubahan iklim tidak diatasi. Ketika orang membayangkan secara pribadi akibat buruk dari perubahan iklim—seperti bencana alam yang mempengaruhi keluarga mereka sendiri—hal ini membuat isu tersebut terasa lebih nyata dan mendesak. Strategi kedua, yang sama-sama kuat, adalah meminta peserta untuk menulis surat yang ditujukan untuk dibaca oleh anak atau cucu mereka di masa depan. Langkah ini membantu mereka membentuk hubungan emosional dan personal dengan dampak iklim di masa depan sehingga meningkatkan niat mereka melakukan tindakan baik secara individual maupun kolektif.
Berpikir tentang masa depan dalam konteks ilmiah sering disebut future thinking, yaitu kemampuan mental untuk membayangkan skenario yang belum terjadi tetapi mungkin terjadi nanti. Dalam psikologi, berpikir semacam ini dapat meningkatkan motivasi karena menghubungkan tindakan saat ini dengan konsekuensi penting di kemudian hari.
Baca juga: Sains vs Sensasi: NASA Masih Peduli Perubahan Iklim atau Tidak?
Kedua intervensi ini tidak hanya membuat orang lebih siap melakukan perubahan perilaku, seperti mengurangi frekuensi berkendara, memilih makanan vegetarian, atau mendukung program energi terbarukan, tetapi juga membantu mereka merasa lebih bertanggung jawab secara emosional terhadap keluarga dan komunitas mereka di masa depan.
Menjelaskan Mengapa Isu Ini Penting bagi Kita
Intervensi yang menekankan mengapa perubahan iklim harus penting bagi seseorang dan orang yang mereka cintai—bagian dari tema relevansi—juga terbukti sangat efektif, khususnya dalam memotivasi orang untuk berbagi artikel berita dan petisi tentang perubahan iklim. Ketika pesan menghadirkan alasan yang personal dan sosial mengapa perubahan iklim relevan, orang lebih mungkin berbagi informasi itu dengan teman, keluarga, atau publik di media sosial.
Baca juga: Merancang Suaka Masa Depan: Strategi Konservasi Primata di Tengah Perubahan Iklim
Berbagi informasi ini penting karena aktivitas sosial seperti menyebarkan berita penting atau mengajak orang lain menandatangani petisi adalah salah satu bentuk aksi kolektif yang mendukung perubahan kebijakan atau budaya yang lebih luas. Jika orang tidak merasa isu itu relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari, motivasi untuk menyebarkan informasi itu sering hilang.
Strategi yang Kurang Efektif: Fokus pada Jejak Karbon Individu
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan dari studi ini adalah bahwa strategi yang banyak dipromosikan oleh organisasi lingkungan—yaitu menyediakan informasi cara mengurangi “jejak karbon” individu—ternyata tidak efektif dalam memotivasi tindakan nyata. Banyak kampanye global selama ini menekankan pentingnya menurunkan jejak karbon pribadi dengan menghitung jumlah emisi yang disumbang dari aktivitas sehari-hari seperti penggunaan listrik, transportasi, atau konsumsi makanan. Namun dalam penelitian ini, strategi semacam itu tidak meningkatkan niat orang untuk bertindak lebih dari sebelum mereka menerima pesan tersebut.
Istilah jejak karbon merujuk pada jumlah gas rumah kaca, khususnya karbon dioksida (CO₂), yang dilepaskan ke atmosfer sebagai akibat dari aktivitas seseorang. Ide di balik menyadari jejak karbon adalah agar orang merasa bertanggung jawab untuk menguranginya guna memperlambat pemanasan global.
Temuan ini menunjukkan bahwa menyajikan angka dan data teknis tentang jejak karbon kurang efektif secara emosional dibandingkan dengan pendekatan yang membuat isu itu terasa lebih pribadi, emosional, dan berkaitan dengan masa depan orang yang mereka sayangi.
Strategi Menengah: Gabungan Beberapa Tema
Beberapa strategi yang diuji menggabungkan lebih dari satu tema, seperti kombinasi antara relevansi, future thinking, dan response efficacy. Contohnya adalah strategi yang meminta peserta untuk membayangkan manfaat pribadi dalam jangka pendek dari tindakan pro-lingkungan yang bisa mereka lakukan dalam enam bulan ke depan, atau mengembangkan rencana rinci untuk mencapai tujuan individu atau kolektif. Strategi-strategi ini juga terbukti meningkatkan motivasi untuk bertindak, meskipun tidak sekuat dua pendekatan utama yang menekankan masa depan pribadi dan emosional.
Pentingnya Memahami Efektivitas Pesan
Salah satu hal utama yang disoroti peneliti adalah perbedaan besar antara apa yang orang pikir membuat perbedaan dan apa yang sebenarnya memotivasi tindakan. Mengetahui hal ini sangat penting bagi organisasi lingkungan, jurnalis, dan pembuat kebijakan yang mencoba mengomunikasikan isu perubahan iklim kepada publik. Jika strategi yang digunakan kurang efektif, maka kampanye dan sumber daya yang dikerahkan mungkin tidak memberi dampak yang diinginkan.

Menurut Michael Mann, salah satu peneliti utama, ada “kesenjangan besar antara tindakan yang orang pikir membuat perbedaan dan tindakan yang benar-benar membuat perbedaan dalam konteks aksi iklim.” Ia menyebut bahwa komunikator dan organisasi yang bergerak di bidang perubahan iklim bisa menjadi lebih efektif dengan menggabungkan temuan-temuan dari penelitian ini dan lainnya ke dalam strategi mereka.
Tantangan Masa Depan: Menghubungkan Niat dengan Perilaku Nyata
Penelitian ini memang menunjukkan peningkatan niat untuk bertindak, tetapi timi mencatat bahwa tujuan penting berikutnya adalah melihat apakah intervensi ini benar-benar mengubah perilaku nyata di dunia nyata—bukan hanya niat dalam studi atau respons survei. Mereka mencatat bahwa langkah selanjutnya adalah mengukur dampak pesan-pesan ini pada tindakan seperti donasi ke organisasi lingkungan, mendaftar program energi terbarukan, atau perubahan kebiasaan sehari-hari melalui pendekatan panjang (longitudinal) yang memantau perilaku dalam waktu nyata.
Tim juga ingin menerjemahkan temuan ini ke dalam alat interaktif daring, bekerja sama dengan museum atau jurnalis lingkungan untuk memperkenalkan strategi paling efektif melalui pameran atau aktivitas yang langsung melibatkan publik.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa cara kita memotivasi orang untuk bertindak terhadap perubahan iklim bisa lebih efektif jika didasarkan pada pemahaman ilmiah tentang psikologi dan komunikasi. Strategi yang paling kuat adalah yang membantu orang membayangkan masa depan mereka sendiri dan orang yang mereka cintai, atau yang menekankan mengapa isu itu penting secara pribadi dan sosial. Pendekatan ini jauh lebih efektif daripada sekadar menyajikan informasi tentang angka emisi atau jejak karbon individu—pendekatan yang selama ini umum digunakan tetapi ternyata kurang memotivasi tindakan.
Penelitian ini memberi wawasan penting bagi siapa pun yang ingin mengomunikasikan perubahan iklim, baik itu organisasi lingkungan, media, pembuat kebijakan, maupun individu yang ingin menginspirasi komunitasnya untuk bergerak. Fokus pada masa depan, relevansi pribadi, dan perasaan bahwa tindakan kita berarti—itulah yang tampaknya membuat perbedaan nyata dalam motivasi tindakan terhadap perubahan iklim.
Referensi
[1] https://penntoday.upenn.edu/news/annenberg-sas-what-behavioral-strategies-motivate-environmental-action, diakses pada 25 Januari 2026.
[2] https://voteearthnow.com/what-behavioral-strategies-motivate-environmental-action, diakses pada 25 Januari 2026.
[3] https://www.annenbergpublicpolicycenter.org/what-behavioral-strategies-motivate-environmental-action, diakses pada 25 Januari 2026.
[4] Alyssa H. Sinclair, Danielle Cosme, Kirsten Lydic, Diego A. Reinero, José Carreras-Tartak, Michael E. Mann, Emily B. Falk. Behavioral interventions motivate action to address climate change. Proceedings of the National Academy of Sciences, 2025; 122 (20) DOI: 10.1073/pnas.2426768122

