Para peneliti terus menemukan bukti bahwa Bulan bukan sekadar bola batu yang sunyi. Bulan memiliki riwayat geologi yang jauh lebih dramatis daripada yang selama ini dibayangkan. Salah satu temuan terbaru menunjukkan bahwa permukaannya pernah mengalami peristiwa ledakan raksasa yang sanggup membentuk ngarai selebar Grand Canyon di Amerika Utara. Temuan ini dipublikasikan oleh David A Kring, Danielle P Kallenborn, dan Gareth S Collins dalam jurnal Nature Communications pada tahun dua ribu dua puluh lima. Penelitian tersebut mengungkap dua ngarai besar di sekitar cekungan benturan Schrödinger yang berada di sisi selatan Bulan. Kedua struktur raksasa ini terbentuk akibat lontaran material batuan berenergi sangat tinggi yang dipaksa keluar ketika sebuah asteroid atau komet menghantam Bulan di masa purba.
Para peneliti menggambarkan proses terbentuknya ngarai tersebut sebagai rangkaian peristiwa yang terjadi sangat cepat namun sangat dahsyat. Ketika sebuah objek besar menghantam Bulan dengan kecepatan luar biasa, energi tumbukan tidak hanya menciptakan cekungan kedalaman puluhan kilometer. Energi tersebut juga melontarkan batuan dari bawah permukaan dengan tenaga yang cukup untuk menghancurkan kerak Bulan di tempat lain. Batuan yang terlempar tidak hanya jatuh kembali secara acak. Arus puing tersebut memiliki arah aliran yang teratur dan cukup kuat untuk mengikis permukaan Bulan. Proses erosi ini menciptakan dua lembah yang sangat luas dan dalam, sehingga ukurannya dapat disamakan dengan Grand Canyon di Bumi. Yang mengejutkan para peneliti adalah kecepatan proses tersebut. Pemodelan menunjukkan bahwa ngarai sebesar itu dapat terbentuk dalam waktu kurang dari sepuluh menit setelah tumbukan terjadi.
Baca juga artikel tentang: Inkathazo: Galaksi Radio Raksasa Berukuran 32 Kali Lebih Besar Dari Galaksi Bima Sakti
Para peneliti menggunakan pemetaan fotogeologi untuk menelusuri bentuk ngarai dan sebaran material yang terlempar. Pemetaan fotogeologi adalah teknik yang menggabungkan foto permukaan Bulan dengan analisis geometri topografi untuk mengungkap proses yang terjadi di masa lalu. Melalui metode ini peneliti dapat menelusuri arah aliran puing tumbukan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pola sebaran material tidak simetris. Ketidaksimetrisan ini memberi petunjuk bahwa objek yang menghantam Bulan masuk dari arah tertentu, sehingga proses penggalian cekungan dan lontaran material lebih kuat pada satu sisi dibanding sisi lainnya.
Arah aliran puing juga membantu peneliti menghitung kecepatan batuan yang terlontar. Kecepatan tersebut sangat tinggi sehingga batuan mampu menempuh jarak puluhan kilometer sebelum kembali menghantam permukaan Bulan dan mulai mengikis wilayah baru. Proses ini mirip dengan aliran lahar atau arus piroklastik di gunung berapi Bumi, namun berlangsung pada skala energi yang jauh lebih besar. Kecepatan tumbukan kembali dari batuan yang melayang inilah yang berhasil mengukir ngarai raksasa tersebut.

Para ilmuwan juga menghitung energi yang dibutuhkan untuk membentuk ngarai dengan ukuran sebesar itu. Perhitungan menunjukkan bahwa peristiwa tersebut adalah salah satu tumbukan paling besar yang pernah dialami Bulan dalam fase akhir pembentukannya. Energi tumbukan mencapai nilai yang cukup untuk mengubah pemandangan permukaan Bulan secara permanen. Cekungan Schrödinger sendiri telah lama dianggap sebagai salah satu struktur benturan terbesar dan termuda di Bulan. Penemuan ngarai raksasa ini memperkuat bukti bahwa cekungan tersebut menjadi pusat peristiwa geologi yang sangat kompleks.
Penelitian ini memberikan dampak penting bagi pemahaman tentang wilayah selatan Bulan yang akan dikunjungi oleh para astronot dalam program Artemis. Salah satu tujuan utama program Artemis adalah mengeksplorasi permukaan yang berusia lebih dari empat miliar tahun. Wilayah ini memiliki lapisan batuan yang belum banyak berubah sejak awal terbentuknya Bulan. Namun keberadaan ngarai dan arus puing yang terlempar dari pusat cekungan Schrödinger dapat menutupi atau mengganggu sebagian dari lapisan tua tersebut. Peneliti menunjukkan bahwa sebagian besar puing justru terlontar menjauhi kutub selatan. Hal ini berarti lapisan batuan purba di sekitar lokasi pendaratan Artemis kemungkinan masih terlindungi dan dapat dipelajari secara langsung oleh para astronot.
Temuan ini menjadi kabar baik bagi para ahli geologi bulan. Lapisan batuan berusia miliaran tahun memberikan informasi tentang kondisi awal Tata Surya. Lapisan tersebut juga memberi petunjuk tentang bagaimana Bulan terbentuk setelah tabrakan besar yang melibatkan proto Bumi. Jika wilayah tersebut tidak banyak tertutup oleh puing muda dari peristiwa benturan Schrödinger, maka penelitian langsung di lapangan dapat menghasilkan data geologi yang sangat bernilai.
Penelitian ini juga memperkaya pemahaman tentang bagaimana benturan besar membentuk permukaan planet dan satelit. Banyak planet dan bulan di Tata Surya menampilkan cekungan benturan raksasa. Namun jarang ada bukti yang menunjukkan bahwa lontaran material dari cekungan tersebut mampu membentuk struktur topografi baru sejauh puluhan kilometer dari titik tumbukan. Fenomena serupa mungkin terjadi di Mars, Merkurius, atau satelit lain, tetapi jejaknya tidak mudah ditemukan. Bulan memberikan contoh yang sangat jelas karena tidak memiliki atmosfer, tidak memiliki cuaca, dan tidak memiliki aktivitas tektonik besar yang dapat menghapus jejak masa lalu.
Kemampuan untuk memetakan ngarai tersebut menunjukkan betapa detailnya data permukaan Bulan saat ini. Citra resolusi tinggi dari wahana seperti Lunar Reconnaissance Orbiter memungkinkan ilmuwan mempelajari bentuk topografi secara sangat akurat. Data inilah yang membuat para peneliti dapat menganalisis arah aliran puing, kedalaman lembah, dan struktur dinding ngarai.
Penelitian ini menghadirkan gambaran baru tentang betapa dinamisnya sejarah Bulan. Meskipun tampak tenang dengan permukaan kelabu yang lapang, Bulan pernah menjadi tempat yang penuh gejolak. Ledakan tumbukan yang menghasilkan ngarai sebesar Grand Canyon menunjukkan bahwa Bulan menyimpan kisah kekerasan masa lalu yang masih meninggalkan bekas jelas hingga kini. Kisah inilah yang akan ditelusuri lebih dalam oleh para astronot dan ilmuwan dalam dekade mendatang.
Baca juga artikel tentang: NASA Mengungkap Prototipe Teleskop Canggih untuk Deteksi Gelombang Gravitasi
REFERENSI:
Kring, David A dkk. 2025. Grand canyons on the Moon. Nature Communications 16 (1), 1146.

