Air untuk Masa Depan: Pelajaran dari Ethiopia tentang Kekuatan Solusi Berbasis Alam

Air adalah nadi kehidupan bagi kota besar mana pun di dunia. Di Addis Ababa, ibu kota Ethiopia yang padat dan […]

Air adalah nadi kehidupan bagi kota besar mana pun di dunia. Di Addis Ababa, ibu kota Ethiopia yang padat dan terus berkembang, air bukan hanya kebutuhan dasar, tetapi juga simbol masa depan: apakah kota ini akan bertahan menghadapi krisis iklim atau tenggelam dalam kekeringan.

Sumber air utama kota ini berasal dari dua wilayah tangkapan air kecil Gefersa dan Legedadi, yang terletak di hulu Sungai Akaki. Dari sinilah jutaan liter air dipompa setiap hari untuk memenuhi kebutuhan jutaan warga kota. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, wilayah ini menghadapi dua ancaman besar: perubahan penggunaan lahan dan perubahan iklim.

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2025 di Journal of Hydrology: Regional Studies oleh Yared Bayissa dan timnya, berupaya menjawab pertanyaan penting: bisakah alam sendiri menjadi solusi?

Baca juga artikel tentang: Snowball Earth: Tragedi Iklim Terbesar yang Membentuk Kehidupan

Kota yang Tumbuh, Hutan yang Hilang

Addis Ababa adalah kota yang sedang tumbuh cepat. Antara tahun 2012 dan 2042, laju urbanisasi di wilayah ini melonjak tajam. Dalam studi ini, para peneliti menemukan perluasan besar-besaran pemukiman dan lahan terbangun, sementara hutan dan vegetasi alami terus menurun.

Kehilangan tutupan hutan bukan sekadar masalah estetika. Hutan berperan penting dalam menjaga siklus air, menahan air hujan agar tidak langsung mengalir ke sungai, menyimpan air di tanah, dan mencegah erosi. Ketika hutan digantikan oleh beton, air hujan justru mengalir cepat, menyebabkan banjir di musim hujan dan kekeringan panjang di musim kemarau.

Dengan kondisi seperti ini, waduk Gefersa dan Legedadi yang menjadi sumber air utama kota semakin tertekan. Air permukaan berkurang, sedangkan permintaan air meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pembangunan.

Ketika Musim Tak Lagi Sama

Perubahan iklim memperparah situasi tersebut. Berdasarkan simulasi dalam penelitian ini, musim kering di Ethiopia akan menjadi lebih kering, dan musim basah akan menjadi lebih basah. Pola curah hujan yang ekstrem ini mempersulit perencanaan pengelolaan air.

Di masa depan, waduk mungkin akan kebanjiran di satu musim, namun kekeringan parah di musim berikutnya. Ketidakpastian ini membuat sistem penyediaan air menjadi rentan, bukan hanya bagi rumah tangga, tetapi juga bagi pertanian dan industri yang bergantung pada pasokan air stabil.

Solusi dari Alam: Nature-Based Solutions (NbS)

Alih-alih mengandalkan infrastruktur besar seperti bendungan beton atau saluran air raksasa, para peneliti mengeksplorasi solusi berbasis alam atau Nature-based Solutions (NbS).

Konsep ini sederhana tapi kuat: gunakan kekuatan alam untuk memperbaiki alam itu sendiri. Dalam konteks air, NbS bisa berupa:

  • Restorasi hutan dan vegetasi alami di daerah tangkapan air.
  • Pembuatan lahan basah buatan untuk menampung air hujan dan menyaring polutan.
  • Penerapan pertanian ramah air seperti contour farming atau mulching yang menjaga kelembapan tanah.
  • Penghijauan kota yang mengurangi limpasan air dan panas permukaan.

Dengan menggabungkan pendekatan-pendekatan tersebut ke dalam model hidrologi, tim peneliti menemukan bahwa NbS secara signifikan dapat meningkatkan ketersediaan air permukaan, terutama pada musim kering.

Artinya, dengan menanam pohon di tempat yang tepat dan menjaga vegetasi alami, Addis Ababa bisa memperpanjang “umur” waduknya tanpa harus selalu membangun infrastruktur baru yang mahal.

Simulasi untuk Masa Depan

Dalam studinya, Bayissa dan timnya menggunakan data dari tiga titik waktu (2012, 2022, dan proyeksi 2042) untuk memetakan perubahan penggunaan lahan dan dampaknya terhadap air. Mereka juga mengembangkan berbagai skenario iklim menggunakan kombinasi data curah hujan dan suhu pada berbagai persentil (5%, 50%, 95%).

Kurva durasi aliran dan sedimentasi pada dua daerah aliran sungai (Gefersa dan Legedadi) yang membandingkan kondisi dasar dengan skenario perubahan iklim basah-dingin (WetCold SSP4.5 dan SSP5.5).

Hasilnya jelas: tanpa intervensi berbasis alam, wilayah tangkapan air akan kehilangan kemampuan alaminya untuk menahan dan menyimpan air. Sebaliknya, ketika NbS diterapkan, wilayah tersebut mampu menahan lebih banyak air di tanah, mengurangi limpasan, dan memperlambat sedimentasi di waduk.

Selain itu, penerapan NbS membantu mendukung pertanian di musim kering dengan memperbaiki kualitas tanah dan mempertahankan kelembapan. Ini berarti petani di sekitar Addis Ababa dapat tetap menanam bahkan ketika hujan tak menentu.

Pelajaran dari Alam

Penelitian ini menunjukkan satu hal penting: alam bukan musuh yang perlu dikendalikan, melainkan sekutu yang perlu diberdayakan.
Selama ini, solusi pembangunan sering kali mengabaikan fungsi-fungsi alami ekosistem. Kita menebang hutan untuk membangun kota, lalu menghabiskan miliaran dolar untuk membuat sistem air buatan yang menggantikan fungsi hutan yang kita rusak sendiri.

Padahal, solusi berbasis alam menawarkan pendekatan yang lebih murah, lebih berkelanjutan, dan lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Sebagai contoh, menanam kembali vegetasi di daerah tangkapan air tidak hanya memperbaiki siklus air, tapi juga meningkatkan keanekaragaman hayati, menyerap karbon, dan menciptakan lapangan kerja hijau bagi masyarakat sekitar.

Harapan untuk Addis Ababa dan Dunia

Addis Ababa hanyalah satu contoh kota di dunia yang sedang berjuang antara pembangunan cepat dan krisis lingkungan. Dari Jakarta hingga Nairobi, masalahnya serupa: kota tumbuh, alam menyusut, dan air menjadi langka.

Pendekatan seperti yang dilakukan di Gefersa dan Legedadi bisa menjadi model global. Para peneliti menekankan bahwa metode mereka dapat diterapkan di wilayah lain selama tersedia data yang baik dan konsisten tentang curah hujan, tutupan lahan, dan kualitas air.

Dengan dukungan kebijakan yang tepat, kota-kota di Afrika dan dunia bisa beralih dari solusi “abu-abu” berbasis beton menuju solusi “hijau” berbasis alam.

Menyatukan Ilmu dan Kebijakan

Salah satu pesan terpenting dari penelitian ini adalah kebutuhan untuk menjembatani ilmu pengetahuan dan kebijakan publik. Data ilmiah yang dihasilkan dari model NbS bisa menjadi dasar perencanaan kota dan tata kelola air yang adaptif terhadap iklim.

Namun, implementasi nyata di lapangan memerlukan komitmen politik, pendanaan, dan partisipasi masyarakat. Karena pada akhirnya, keberhasilan NbS tidak hanya bergantung pada model komputer atau simulasi curah hujan, tetapi pada tindakan kolektif masyarakat untuk melindungi sumber airnya sendiri.

Ketika krisis air menjadi ancaman global, Ethiopia memberikan contoh bahwa solusi bisa datang dari tempat yang sederhana. Dari pepohonan, lahan basah, dan tanah yang hidup. Penelitian Bayissa dan rekan-rekannya menegaskan satu pesan kuat: alam adalah teknologi terbaik yang kita miliki untuk menghadapi perubahan iklim.

Baca juga artikel tentang: Peñico: Kota Perdagangan 3.500 Tahun Lalu yang Hancur oleh Perubahan Iklim

REFERENSI:

Bayissa, Yared dkk. 2025. Evaluating the potential of Nature-based solutions to mitigate land use and climate change impacts on the hydrology of the Gefersa and Legedadi watersheds in Ethiopia. Journal of Hydrology: Regional Studies 57, 102130.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top