Atacama Dilanda Badai Salju Langka: Ketika Gurun Terkering di Dunia Berubah Putih

Gurun Atacama di Chili, yang dikenal sebagai salah satu tempat terkering di dunia, baru-baru ini menghadapi fenomena yang sangat langka—badai […]

Gurun Atacama di Chili, yang dikenal sebagai salah satu tempat terkering di dunia, baru-baru ini menghadapi fenomena yang sangat langka—badai salju. Peristiwa ini tidak hanya mengubah lanskap gurun yang biasanya gersang menjadi putih, tetapi juga berdampak signifikan pada operasional salah satu teleskop radio paling canggih di dunia, Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA).

Mari kita telusuri lebih lanjut bagaimana peristiwa langka ini terjadi, dampaknya terhadap observatorium astronomi, serta apa yang dapat kita pelajari dari kejadian ini.


Fenomena Langka di Gurun Atacama

Pada 25 Juni 2025, Gurun Atacama yang terletak di dataran tinggi Pegunungan Andes di Chili mengalami hujan salju yang sangat jarang terjadi. Menurut laporan dari NASA, fenomena ini bahkan berhasil diabadikan oleh satelit Terra milik mereka. Citra satelit menunjukkan hamparan salju yang menutupi bagian gurun tersebut—sesuatu yang sangat jarang terlihat dalam dekade terakhir.

Gurun Atacama dikenal sebagai salah satu tempat paling kering di dunia karena lokasinya yang unik. Pegunungan Andes menciptakan efek bayangan hujan yang menghalangi presipitasi dari Samudra Pasifik, sementara arus dingin Humboldt dari barat juga membatasi pembentukan awan. Kombinasi faktor-faktor ini menjadikan curah hujan dan salju sebagai fenomena yang hampir mustahil terjadi di wilayah ini.


Penyebab Fenomena Hujan Salju

Para ahli meteorologi percaya bahwa hujan salju langka ini disebabkan oleh fenomena atmosfer yang dikenal sebagai “cutoff low.” Menurut Chris Dolce dari Weather.com, “cutoff low” terjadi ketika sistem tekanan rendah di atmosfer terpisah dari aliran jet utama dan menjadi terjebak untuk sementara waktu. Dalam kasus ini, sistem tekanan rendah tersebut berada di lepas pantai barat Amerika Selatan selama beberapa hari sebelum akhirnya bergerak ke arah timur menuju Chili pada 24 Juni. Meskipun melemah, sistem ini masih membawa cukup banyak kelembapan untuk menyebabkan hujan salju.


Dampak pada Observatorium ALMA

Hujan salju ini memberikan dampak langsung pada ALMA, sebuah observatorium radio astronomi yang berlokasi di Dataran Tinggi Chajnantor, lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut. ALMA terdiri dari 66 antena besar yang digunakan untuk mengamati gelombang radio dari luar angkasa. Ketika badai salju melanda, tim operasional ALMA terpaksa memposisikan ulang antena-antena tersebut untuk mencegah penumpukan salju yang dapat merusak peralatan sensitif.

Operasional observatorium sempat terhenti sementara akibat badai ini. Namun, berkat intensitas sinar matahari yang tinggi di kawasan tersebut—Atacama dikenal sebagai salah satu tempat dengan tingkat radiasi matahari tertinggi di dunia—salju cepat mencair. Hal ini memungkinkan ALMA untuk segera melanjutkan operasionalnya.


Kondisi Observatorium Lain di Atacama

Selain ALMA, beberapa observatorium lain juga terdampak oleh fenomena cuaca ini. Teleskop Southern Astrophysical Research (SOAR), yang terletak sekitar 850 kilometer dari ALMA, mengalami gangguan akibat hujan salju. Namun, dampaknya tidak separah yang dialami oleh ALMA.

Sementara itu, Observatorium Vera C. Rubin, yang baru saja dibangun di kawasan Atacama, dilaporkan tidak mengalami gangguan sama sekali. Hal ini mungkin disebabkan oleh lokasinya yang lebih terlindungi atau desain infrastrukturnya yang lebih siap menghadapi kondisi cuaca ekstrem.


Implikasi untuk Masa Depan

Meski salju mulai mencair dan situasi kembali normal pada pertengahan Juli, peristiwa ini menimbulkan pertanyaan penting tentang perubahan pola cuaca di wilayah tersebut. Hujan salju adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi di Gurun Atacama, tetapi fenomena ini menunjukkan bahwa presipitasi mungkin menjadi lebih umum di masa depan. Hal ini tentu saja dapat memengaruhi daya tarik kawasan ini bagi para astronom.

Gurun Atacama selama ini menjadi lokasi favorit untuk penelitian astronomi karena kondisi lingkungannya yang kering dan minim polusi cahaya. Namun, jika pola cuaca berubah dan presipitasi menjadi lebih sering terjadi, para ilmuwan mungkin perlu mempertimbangkan kembali strategi mereka dalam membangun dan mengoperasikan observatorium di wilayah tersebut.


Kesimpulan

Hujan salju langka di Gurun Atacama adalah pengingat akan betapa dinamisnya iklim Bumi dan bagaimana perubahan kecil dalam pola cuaca dapat memiliki dampak besar pada infrastruktur manusia. Bagi komunitas ilmiah, peristiwa ini adalah pelajaran penting tentang pentingnya merancang fasilitas penelitian yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan.

Meskipun demikian, Gurun Atacama tetap menjadi salah satu lokasi terbaik di dunia untuk eksplorasi astronomi. Dengan teknologi canggih seperti ALMA dan observatorium lainnya, ilmuwan terus menjelajahi misteri alam semesta kita—sekalipun menghadapi tantangan dari alam itu sendiri.

Dengan segala keunikannya, Gurun Atacama sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah salah satu tempat paling luar biasa di planet ini—tempat di mana ilmu pengetahuan bertemu dengan keajaiban alam.

Referensi

  1. NASA Earth Observatory — Dokumentasi citra satelit Terra yang merekam hujan salju langka di Gurun Atacama pada 25 Juni 2025; 2025; diakses 29 Desember 2025.
  2. Weather.com — Analisis meteorologi tentang fenomena atmosfer cutoff low yang memicu badai salju langka di Chili utara; 2025; diakses 29 Desember 2025.
  3. ALMA Observatory (ESO/NRAO/NAOJ) — Pernyataan resmi mengenai gangguan operasional ALMA akibat badai salju di Dataran Tinggi Chajnantor; 2025; diakses 29 Desember 2025.
  4. Live Science — Laporan dampak cuaca ekstrem di Gurun Atacama terhadap teleskop radio dan observatorium astronomi; 2025; diakses 29 Desember 2025.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top