Peran Berbahaya Karbon Dioksida di Stratosfer

Tahukah kalian bahwa Karbon dioksida atau zat asam arang (rumus kimia: CO2) adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua […]

blank
blank

Tahukah kalian bahwa Karbon dioksida atau zat asam arang (rumus kimia: CO2) adalah sejenis senyawa kimia yang terdiri dari dua atom oksigen yang terikat secara kovalen dengan sebuah atom karbon. Ia berbentuk gas pada keadaan temperatur dan tekanan standar dan hadir di atmosfer bumi. Rata-rata konsentrasi karbon dioksida di atmosfer bumi pada Maret 2022 adalah 417 ppm berdasarkan volume, dibandingkan dengan konsentrasi pra-industri 280 ppm.

Karbon dioksida adalah gas rumah kaca yang penting karena ia menyerap gelombang inframerah dengan kuat. Karbon dioksida dihasilkan oleh semua hewan, tumbuh-tumbuhan, fungi, dan mikroorganisme pada proses respirasi dan digunakan oleh tumbuhan pada proses fotosintesis. Oleh karena itu, karbon dioksida merupakan komponen penting dalam siklus karbon. Karbon dioksida juga dihasilkan dari hasil samping pembakaran bahan bakar fosil. Karbon dioksida anorganik dikeluarkan dari gunung berapi dan proses geotermal lainnya seperti pada mata air panas.

Karbon dioksida tidak mempunyai bentuk cair pada tekanan di bawah 5,1 atm namun langsung menjadi padat pada temperatur di bawah -78 °C. Dalam bentuk padat, karbon dioksida umumnya disebut sebagai es kering. CO2 adalah oksida asam. Larutan CO2 mengubah warna lakmus dari biru menjadi merah muda.

“Ini merupakan konfirmasi lebih lanjut bahwa emisi karbon harus lebih cepat dikendalikan untuk mencegah dampak paling menyiksa dari perubahan iklim,” ujar penulis riset Brian Soden, seorang profesor ilmu atmosfer di Universitas Miami. Dalam ilmu terkait perubahan iklim, ada yang namanya pemaksaan radiasi di mana jumlah panas yang masuk ke Bumi dengan yang keluar berbeda. Bila yang masuk lebih banyak, maka akan berdampak pada pemanasan global.

Sampai saat ini, yang terjadi adalah lebih banyak panas yang masuk daripada keluar, dan dipercaya akan terus seperti itu secara konstan. Apalagi, para ilmuwan menemukan bahwa pemaksaan radiasi meningkat sekitar 25% di setiap penggandaan CO2. Sementara itu, bila dibandingkan dengan zaman pra industri, maka telah terjadi peningkatan sebanyak 10%. Dengan kata lain, Bumi tampaknya telah memanas lebih cepat dari yang pernah ada. “Peningkatan CO2 di masa depan akan memberikan efek pemanasan yang lebih ganas pada iklim dari peningkatan yang pernah terjadi,” ujar penulis utama Haozhe He di Universitas Miami.

Ia juga menambahkan bahwa pemahaman baru ini memiliki impilkasi yang signifikan terhadap penafsiran masa lalu dan masa depan perubahan iklim. Ini juga menyiratkan bahwa tingginya iklim CO2 mungkin lebih sensitif dari iklim CO2 yang rendah.

REFERENSI:

Carbon Dioxide Concentration”Climate Change: Vital Signs of the Planet (dalam bahasa Inggris). NASA.

Eggleton T (2013). A Short Introduction to Climate Change (dalam bahasa Inggris). Cambridge University Press. hlm. 52. ISBN 9781107618763.

“Carbon dioxide: IDLH Documentation”. National Institute for Occupational Safety and Health.

 “Phase change data for Carbon dioxide”. National Institute of Standards and Technology.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *