Mengenal Kebencian Melalui Sains

Ilustrasi Kebencian

Otak manusia mempunyai kemampuan untuk merasakan berbagai emosi, salah satunya adalah rasa benci. Emosi kebencian yang kuat dapat mendorong manusia untuk menghancurkan sumber kebencian tersebut. Bagaimana sains memandang kebencian ini?

Kebencian (dalam bahasa Inggris, merujuk kepada hatred), adalah emosi negatif dalam diri manusia terhadap suatu objek. Orang yang menyimpan rasa benci ini memandang objek tersebut sebagai sesuatu yang buruk, tidak mempunyai moral, berbahaya, atau perpaduan dari segala hal tersebut (Staub, 2003). Kebencian adalah emosi alamiah dari diri manusia. Alasan manusia membenci suatu objek memang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor.

Salah satu faktornya adalah mekanisme survival, dalam hal ini, kebencian berperan sebagai insting manusia untuk menyelamatkan diri dari ancaman yang masuk dalam kehidupannya. Kebencian mempunyai hubungan yang kuat dengan hubungan antara diri manusia itu sendiri, riwayat pribadi, dan menimbulkan efek pada kepribadian, perasaan, ide, kepercayaan dan identitas. Peneliti tingkah laku manusia, Patrick Wanis, mengungkapkan bahwa ketika manusia merasa terancam dengan kehadiran akan sesuatu atau seseorang yang dianggap sebagai sosok “asing”, secara insting manusia akan mencari perlindungan ke dalam kelompoknya. Upaya ini adalah wujud dari mekanisme survival. Kebencian ini, dengan kata lain, bisa disebabkan oleh “cinta” dan “agresi”. Manusia akan melindungi hal-hal yang dianggap sejalan dengannya (in-group) dan cenderung melakukan tindakan agresi pada hal-hal yang dianggap berbeda (out-group), berbahaya dan mengancam kelangsungan diri dan kelompoknya.

Selain mekanisme survival atas ancaman pihak luar, kebencian dapat lahir karena “projeksi”. Dalam istilah psikologi klinis, “projeksi” ini adalah penggambaran kebencian orang lain yang sebenarnya terdapat dalam orang itu sendiri. Contohnya, pernah kah Anda mendengar seorang siswa populer di sekolah, mempunyai wajah rupawan, pintar, berprestasi, akan tetapi mendapat banyak omongan tidak mengenakkan dari orang-orang sekitarnya? Hal ini, secara sederhana, terjadi karena para pembenci tidak mempunyai nilai lebih yang dimiliki oleh orang yang mereka benci.

Setelah agresi terhadap objek yang dibenci berlangsung, apakah kebencian berhenti begitu saja? Ternyata tidak. Sekali tindakan kebencian itu dilakukan, justru rasa benci itu berkembang. Karakter dari rasa benci itu adalah kebutuhan untuk semakin mencederai korban secara terus-menerus, sampai korban kehilangan nilai moral dan kemanusiaan di mata pembenci. Pembenci akan sering menanamkan rasa benci itu melalui ujaran kebencian, propaganda, dan segala upaya untuk mengajak orang yang lebih banyak untuk menambah jumlah pembenci objek tersebut. Tidak jarang, tindakan kekerasan juga dilakukan untuk menyingkirkan secara fisik korban tersebut. Sejarah banyak mencatat penghapusan secara paksa etnis di dunia, dan beberapa kasus kekerasan di lingkungan masyarakat yang berujung pada hilangnya nyawa korban.

Ilustrasi Pengungsi Rohingya, Myanmar. Foto oleh Fred Dufour (Getty Images, AFP)

Rasa benci juga bisa menjadi sesuatu yang sangat personal. Kita tentu saja pernah mengalami beberapa hal yang tidak mengenakkan yang dilakukan oleh seseorang kepada kita. Perasaan negatif yang ditimbulkan oleh trauma masa lalu turut berkontribusi dalam memicu perasaan benci. Dalam sebuah observasi, sebuah gagasan otomatis yang terdapat pada sistem otak manusia banyak berperan dalam menciptakan permasalahan emosional. Terdapat dua faktor yang membiaskan atau melebih-lebihkan interpretasi pemikiran kita dalam menerima sebuah informasi.

  1. Manusia berpeluang besar mengalami distorsi kognitif, sehingga semua informasi yang kita terima menjadi hal yang tidak sebenarnya, sehingga hal ini berpengaruh kepada bagaimana seseorang menerjemahkan sesuatu yang terjadi pada dirinya. Contohnya, orang yang mempunyai kecenderungan pemarah, akan memandang hal yang terjadi di lingkungannya dengan cara yang egosentris. Kecenderungan ini menimbulkan pertanyaan seperti “Mengapa hal ini terjadi pada saya?” dan terkadang menimbulkan asumsi berlebihan terhadap orang lain, contohnya dengan pertanyaan, “Teman-teman saya tidak pernah ada untuk saya”
  2. Faktor kedua yaitu kecenderungan untuk menerjemahkan peristiwa yang terjadi dengan kepercayaan pribadi kita dan asumsi yang didapatkan berdasarkan pengalaman yang didapat sebelumnya. Hal ini juga berkaitan dengan pertanyaan kepada diri sendiri yang sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak tentu terjadi, seperti “saya tidak dihargai orang lain” serta beberapa pengandaian yang sebenarnya tidak diperlukan, seperti “jika saya tidak ikut A, maka saya akan terkucilkan”.

Faktor kepercayaan ini lama-lama akan tertanam dalam diri dan pada akhirnya akan membentuk kepribadian manusia. Lalu, apakah ada cara untuk mengecilkan rasa benci di dalam diri manusia? Tentu saja ada. Berikut ini adalah beberapa cara menurut ilmu Psikologi untuk mengecilkan (atau bahkan menghilangkan) rasa benci.

  1. Selalu mencari kebenaran informasi yang diterima.
  2. Memaklumi proses yang terjadi di kehidupan orang di sekitar, sebab semua orang terlahir dengan keadaan yang baik, akan tetapi berada di lingkungan dan perjalanan hidup yang berbeda dengan diri kita.
  3. Mengendalikan diri apabila emosi menguasai.
  4. Memaklumi diri sendiri dan menghargai proses yang ditempuh diri dalam perjalan hidup.
  5. Apabila tidak sanggup melakukan beberapa hal di atas, Anda bisa menjauh sejenak untuk menjernihkan pikiran agar Anda tetap bisa berpikir tenang menyaring informasi terhadap lingkungan tersebut.

Rasa benci merupakan reaksi naluriah otak yang bermula dari rasa tidak suka. Tentu saja, sebagai manusia yang dianugerahi kemampuan untuk beremosi, rasa benci merupakan suatu hal yang alamiah dan tidak dapat dihindari. Akan tetapi, rasa benci dapat dikendalikan, atau bahkan dikecilkan. Selamat mencoba!

Sumber:

  1. John Kim (2017) How to Not Hate People, Available at: https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-angry-therapist/201701/how-not-hate-people (Diakses  24 November 2019).
  2. Jose I.N., et al. (2013) ‘The Psychology of Hatred ‘, The Open Criminology Journal, 6(1874-9178/13 ), pp. 10-17.
  3. Allison A. (2017) The Psychology of Hate, Available at: https://www.psychologytoday.com/us/blog/nurturing-self-compassion/201703/the-psychology-hate (Diakses 20 November 2019).

Menulis Sebagai Alternatif Mengurangi Depresi

Menulis sebagai alternatif mengurangi depresi

Depresi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang mudah menyerang manusia dari berbagai rentang umur, usia dan gender. Kondisi medis ini berwujud perasaan sedih, namun berdampak negatif terhadap pikiran manusia, sehingga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Depresi sangat mempengaruhi kemampuan berpikir, di antaranya kemampuan berkonsentrasi, nafsu makan, dan juga berpengaruh pada jam tidur.

Depresi dan kesedihan adalah dua hal yang berbeda. Depresi dirasakan setiap hari dan berlangsung selama atau lebih dari dua minggu. Depresi mengganggu produktivitas hidup penderitanya, karena depresi dapat menyebabkan kinerja turun dalam karir, peran dalam keluarga, atau bahkan menyebabkan penderitanya pada kehilangan minat pada hal-hal yang disukai.

Terdapat banyak faktor penyebab depresi. Trauma masa lalu, penyalahgunaan obat-obatan terlarang serta minuman beralkohol, efek samping penggunaan obat dan beberapa penyakit juga berpotensi menyebabkan depresi. Gangguan ini menjadi perhatian di berbagai negara, sehingga diterapkan beberapa kebijakan kesehatan masyarakat untuk menangani khusus depresi, seperti konseling dan pengobatan khusus. Orang dengan gejala depresi sangat disarankan untuk segera mencari pertolongan dengan mengunjungi psikiater yang berada di jangkauan wilayah masing-masing.

Emosi yang tidak tersalurkan melalui tutur kata juga dapat menumpuk dan menimbulkan stres pada diri manusia. Dalam beberapa kasus, penderita depresi memerlukan teman untuk sekedar mencurahkan emosinya dan mendengarkan dengan baik mengenai keadannya.

Potensi depresi dapat dikurangi dengan mengenal emosi diri masing-masing, salah satunya dengan menulis. Dalam penelitian yang dilakukan oleh tim National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine, Amerika Serikat, di antara empat puluh orang yang didiagnosis menderita gangguan depresi berat (Major Depressive Disorder, disingkat MDD) diuji dengan beberapa kuisioner dan menjalani waktu menulis sepanjang dua puluh menit ketika menginjak hari kedua hingga keempat. Dalam penelitian ini, peserta diminta untuk menuliskan pemikiran mengenai hal yang terjadi, perasaan mereka serta cara mereka mengatur keseharian mereka. Secara singkat, peneliti menerapkan aktivitas menulis sebagai media alternatif mengurangi depresi para peserta.

Hasil signifikan menunjukkan bahwa penderita depresi berat dalam penelitian tersebut mengalami penurunan tingkat depresi yang mereka alami. Menulis, terutama menulis ekspresif dalam penelitian ini, berkontribusi mengurangi tumpukan emosi dan stres yang dialami oleh penderita depresi, sehingga mereka dapat menata tindakan yang mereka lakukan untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari mereka. Menulis juga telah saran psikiater sebagai media alternatif untuk mengurangi diagnosis depresi bagi pasien.

Salah satu contoh menulis untuk melampiaskan emosi ini adalah pada latihan yang disebut “Cognitive Writing Example”, yaitu latihan menulis untuk mengenali emosi. Menulis dalam hal ini tidak hanya sekedar meluapkan emosi, tetapi juga mengenali berbagai prasangka negatif untuk mengatasi kecemasan dalam diri penulis. Salah satu contoh tulisan tersebut adalah sebagai berikut:

Depresiku sangat buruk sampai aku tidak bisa bergaul dengan orang lain. Akan tetapi, aku harus menelepon temanku. Temanku akan berpikir bahwa aku adalah teman yang jahat karena tidak menjawab panggilannya. Aku sangat malas dan lemah karena bahkan tidak bisa menelepon temanku.

Cognitive Writing ini mempunyai beberapa unsur untuk menyaring emosi yang tertuang. Yang pertama, keyakinan irasional yang ditandai dengan kata “harus”. Penderita tidak bisa memutuskan, menelepon teman adalah hal yang merupakan sebuah keharusan atau keinginan. Berikutnya, adalah pelabelan terhadap diri sendiri. Kata-kata “Aku jahat, lemah, malas” adalah pelabelan sendiri terkait dengan depresi yang dideritanya. Penderita merasa tidak berguna dengan memvonis diri sendiri dengan label negatif. Selain itu, pemikiran negatif yang sering timbul ke dalam diri sendiri juga direfleksikan dengan pemikiran yang seolah-olah membaca pikiran orang lain (“temanku akan berpikir bahwa…”). Penderita akan percaya bahwa orang lain akan berpikiran negatif sama seperti dirinya. Dengan mengenali ketiga unsur kecil ini, diharapkan penderita depresi dapat lebih mengenali pemikirannya sehingga cara ini dapat membantu mengurangi kecemasan pada diri penderita.

Bagi Anda yang perlu aktivitas untuk meminimalisir stres, menulis dapat dilakukan sebagai sarana penyaluran emosi untuk lebih mengenali diri sendiri. Anda dapat menulis di selembar kertas atau buku, kemudian menuliskan pemikiran Anda mengenai hal-hal yang terjadi pada diri Anda. Apabila sudah terbiasa menulis, Anda juga bisa mempublikasikan tulisan Anda dalam bentuk posting blog, atau bahkan buku. Selain sebagai sarana mengenali diri sendiri, menulis juga dapat membuat Anda produktif dan menghasilkan karya. Selamat mencoba!

Referensi:

  1. Ackerman, Courtney. 2018. 83 Benefits of Journaling for Depression, Anxiety, and Stress. PositivePsychology.com. Tautan: https://positivepsychology.com/benefits-of-journaling/#research-journaling. Diakses tanggal 13 Oktober 2019.
  2. Krpan, Katherine M et al. “An everyday activity as a treatment for depression: the benefits of expressive writing for people diagnosed with major depressive disorder.” Journal of affective disorders vol. 150,3 (2013): 1148-51. doi:10.1016/j.jad.2013.05.065
  3. Cognitive Diary Example, https://www.excelatlife.com/cbttraining/12.htm